Born Again To Love You

Born Again To Love You
Bertemu dengan Kakek dan Nenekku di Lasem



   Para pria ingin membantu menjawab tapi bingung ingin menjawab apa. Maka aku mencoba menjawab sendiri.


   “Sebenarnya, aku adalah ….” Jawabku. Baru saja aku ingin jujur menjawab, makanan pesanan kami datang. Ahhh, kami terselamatkan! Segera aku berpamitan undur diri dari hadapan buyut-buyutku dan segera makan.


                                                          ***


    Setelah makan, kami berjalan-jalan di kota Lasem bersama-sama. Kota kecil ini penuh dengan banyak kenangan.


   Sore harinya saat para pria sedang berjalan-jalan mencoba melihat peluang bisnis, aku dan Lie Kun Lian berjalan


berdua. Lie Kun Lian ditugaskan suamiku untuk menemaniku.


   Tak jauh dari tempat kami berpijak, ada keributan kecil dimana ada seorang bapak melindungi anaknya yang tidak sengaja menjatuhkan dagangan buah di nampan milik pedangang orang Tionghoa. Aku menghampirinya, Lie Kun Lian panik melihatku berlari begitu saja meninggalkannya. Lie Kun Lian mengejarku.


   Ternyata bapak dari anak itu adalah kakek buyutku dari kakekku. Dan anak kecil itu adalah kakekku. Pedagang itu meminta pertanggungjawaban kakek buyutku atas apa yang dilakukan kakekku. Aku merasa kesal dengan pedagang itu.


“Berapa yang harus dibayar, Tuan? Jangan karena uang, Anda bertindak semena-mena terhadap anak  kecil!” marahku pada pedagang itu.


“Siapa kamu?! Datang-datang langsung marah-marah!” kata pedagang itu juga marah.


    Tuan Wang, Gouw Boen San, Han Kai Li dan Wu Jiang melihat ada kerumunan keributan. Mereka melihat Rahayu sedang berdebat dengan pedagang di Lasem. Segera mereka menghampiriku.


“Rahayu, sudah.. Sudah! Ayo kita pergi!” ajak Lie Kun Lian.


“Tidak bisa, Koh Lie. Aku senang meladeni orang seperti ini!” bisikku kesal.


“Kamu pribumi berani sekali sama kita?!” sentak istri pedagang itu.


“Nyonya, mau Tionghoa mau pribumi, sama sama manusianya. Status Anda Tionghoa itu hanya penggolongan


status karena orang Belanda. Jangan Anda merasa derajat Anda lebih tinggi, Anda bisa seenaknya merendahkan orang pribumi. Semua penduduk Tionghoa, pribumi, Arab, India dan Pakistan memiliki hak dan kedudukan yang sama di negeri ini, Nyonya. Jika Anda merasa orang Tionghoa berkedudukan tinggi, aku mau lihat, apakah kalau Anda pulang ke Tiongkok akan diakui oleh kaisar Tiongkok?” sentakku.


“Kamu?! Berani sama saya?!!” marah nyonya pedagang itu.


   Tuan Gouw menghampiriku dan memelukku. Sedangkan tuan Wang menghampiri pedagang itu.


“Ada apa ini?” Tanya tuan Wang.


“Anda Tuan Wang dari Semarang?” Tanya tuan pedagang itu.


“Iya, betul sekali!”


“Tuan Wang, pribumi ini sudah keterlaluan sekali menghina kami!” cetus istri pedagang.


“Pribumi? Pribumi yang mana? Wanita ini maksud Tuan?” Tanya tuan Wang. Tuan pedangan menganggukan


kepala.


“Wanita ini bermarga Oey. Dia adalah istri tuan Gouw. Mereka datang bersamaku dari Semarang. Yang


dikatakan nyonya Gouw sangatlah benar menurutku. Tidak seharusnya kami kaum pendatang dari negeri Tiongkok merendahkan kaum pribumi. Saya sangat menghormati kaum pribumi” jelas tuan Wang membuat suami istri pedagang itu merasa terpukul dengan kata-katanya.


“Ngomong-ngomong berapa yang harus dibayar tuan Oey sebagai biaya ganti rugi? Aku akan membayar


semuanya!” kata tuan Wang santai. Kemudian Wu Jiang mengeluarkan uang dan memberikan sejumlah uang kepada suami istri pedagang itu tanpa berkata apa-apa. Sedangkan suami istri pedagang itu menerima dengan malu.


   Kami semua berjalan pergi meninggalkan pedagang itu dan berhenti di tempat sepi. Kakek buyutku yang melihat kejadian ini merasa bersalah dan segan. Dia memarahi kakekku karena kakek buyutku merasa kakekku penyebab masalah ini.


“A Thay, kamu harus meminta maaf atas apa yang terjadi. Semua ini karena ulahmu!” marah kakek buyutku.


“Tuan Oey, ini bukan salah A Thay. A Thay seperti itu karena hanya sebagai anak tertua, dia ingin melindungi Oey Lien. A Thay anak yang sangat baik. Dia sangat menyayangi adik-adiknya. Kelak A Thay yang akan menjaga Oey Chuan, Oey Chen dan Oey Lien. Kelak A Thay akan menjadi orang yang sukses dan berhasil. Namanya akan dikenal dan dihargai orang hingga keturunan-keturunannya” kataku sambil menatap A Thay dan aku mengingat Kung-Kungku yang sudah berumur 90 tahun sedang berbincang denganku diatas kasur rumah sakit.


   “Maaf, siapa Anda? Bagaimana Anda bisa mengenal nama anak-anakku. Terlebih marga mu sama dengan marga keluarga kami!” Tanya nenek buyutku.


“Dia adalah cicitmu kelak, Tuan! Dia datang dari masa depan!” celetuk Wu Jiang pelan ke telinga kakek


buyutku.


“Tuan bercanda kan?!” Tanya kakek buyutku sambil tertawa.


“A Thay suka bermain di kali, memancing ikan dan berenang kan. A Thay suka makan cumi-cumi” cetusku. Kakek dan nenekku buyutku kaget mendengar ceritaku.


“Darimana Anda tau semua itu, Nyonya?” Tanya nenek buyutku.


“Kung-Kung-ku suka menceritakan masa kecilnya. Sekarang Kung-Kung-ku sudah berumur 90 tahun. Namanya Oey Gwan Thay. Lahir 9 Mei tahun 1931. Aku adalah cucu pertama nya, aku lahir tahun 1988. Sedangkan ayahku adalah Oey Liong Gwan lahir tahun 1960” jawabku yang membuat kakek dan nenek buyutku terdiam.


“Khung Thai, Kung-Khung akan memiliki perusahaan jasa angkutan bis. Kung-Kung Thay punya banyak bis. Usahanya sangatlah sukses hingga namanya masyur dimana-mana. Keluarga kami keturunan Kung-Kung Thay sangat dihormati orang. Kung-Kung adalah orang yang sangat hebat dan kuat” ceritaku.


“Lalu, bagaimana kamu bisa sampai kesini?” Tanya nenek buyutku.


“Aku terjebak disini dan gak bisa pulang, Pho-Thai!” ceritaku sedih.


“Maukah kamu bermalam di tempat kami menginap? Aku ingin mendengar cerita cicitku dan anak-anaknya. Aku ingin mendengar kabar anak-anakku dimasa depan” ajak nenek buyutku.


“Dengan senang hati, Nyonya!” jawab tuan Wang.


                                                          ***


   Malam harinya setelah kami mandi dan membersihkan diri, Kung-Kung mencariku ke kamarku. Kung-Kung menggandengku mengajakku ke kamar Kung-Thai dan Pho-Thai. Aku mengajak tuan Gouw menemaniku.


   “Khung-Thai, Pho-Thai, terima kasih sudah mengajakku menginap disini. Aku senang bisa bertemu dengan leluhurku” kataku.


“Ceritakanlah apa yang terjadi pada keluarga kami dimasa depan” pinta Pho-Thai.


“Kung-Khung punya sakit jantung. Tapi saat tua, Khung-Khung selalu bercerita tentang masa kecilnya


sambil berbaring di kasur rumah sakit. Dia bilang waktu kecil dia suka makan cumi-cumi dimasak hitam. Waktu kecil Khung-Khung suka bermain di kali” ceritaku sambil menitikan air mata merindukan Khung-Khung ku yang sudah tua.


“Khung-Khung kesepian di hari tua. Anak-anaknya berada di Amerika semua. Sedangkan papahku dan nenekku


sudah lebih dulu menghadap Tuhan. Khung-Khung sendirian di hari tua. Kedua adik laki-lakinya juga terlebih dulu menghadap Tuhan. Sisa adik wanita nya yang masih hidup menemani Khung-Khung. Tapi keponakan-keponakan dari adik-adik laki-lakinya sangat memperhatikannya. Khung-Khung orang yang sangat menyayangi dan perhatian dengan orang lain. Saat aku di opname sakit demam berdarah, setiap hari Khung-Khung meneleponku dan bertanya keadaanku. Aku tau betul dia ingin mengunjungiku, tapi Khung-Khung sudah tidak bisa duduk apalagi berjalan” ceritaku yang semakin menangis. Pho-Taiku yang duduk disampingku ikut menangis dan menggenggam tanganku.


“Khung-Khung pernah cerita, pertama kali ada bus di negara ini waktu dia usia 7 tahun. Pada tahun 1980 an,


Khung-Khung memulai usaha otomotif. Pada tahun 1996 usaha Khung-Khung bangkrut tapi tidak sampai jatuh miskin. Pada tahun 2000 an, nama usaha Khung-Khung sudah dikenal dimana-mana. Diluar kota, orang-orang sangat mengagumi usaha Khung-Khung. Sekarang tahun 2021, Khung-Khung sudah berumur 90 tahun dan setiap aku ngobrol dengan Khung-Khung dia selalu menangis” lanjut ceritaku.


   Malam itu kami berbincang-bincang sampai malam. Aku meminta Pho-Taiku untuk tidur bertiga dengan Khung-Khung dan suamiku.


                                                          ***


   Setelah aku menidurkan Khung-Khung ku, aku izin pada Gouw Boen San untuk keluar kamar sendirian untuk menikmati udara malam.


   Saat aku duduk diluar kamar sendirian, Lie Kun Lian keluar dari kamar dan duduk disebelahku.


   Sejenak kami menatap langit bersama. Dalam keheningan aku mengajaknya berbincang-bincang.


“Judi, aku mengenalmu, jauh sebelum mengenal Charles. Tapi kenapa kamu ingin memisahkan aku dan Charles.


Kenapa hubungan kita jadi rusak. Gak bisa kita baikan lagi? Aku sangat menyanyangimu sebagai temanku. Aku pengen kita sahabatan selamanya. Aku ga peduli kamu orang seperti apa. Aku pengen …..” curhatku sedih sambil menatap bintang dan menitikan air mata. Lie Kun Lian menatapku sedih.


“Apa dimasa depan aku adalah orang brengsek?” Tanya Lie Kun Lian sedikit bercanda.


“Orang lain bilang kamu begitu, tapi buat aku kamu tetep sahabat yang baik. Aku gak pernah anggep kamu brengsek” kataku


“Koh, janji sama aku. Mulai sekarang dan selamanya, juga dikehidupan berikutnya, kita adalah sahabat selamanya.


Jangan pernah kita berpisah. Ingat janji kita!” pintaku.


“Iya, aku janji! Jawab Lie Kun Lian dengan senyuman lembutnya.


   Dibalik jendela, Gouw Boen San mendengarkan semua pembicaraanku bersama Lie Kun Lian. Merasa terabaikan, Boen San keluar dan duduk disebelahku.


“Kelak, dikehidupan berikutnya, kita bertiga akan memiliki hubungan ikatan yang sangat kuat. Apapun


permasalahan kita kelak, kita tidak akan terpisahkan. Hati kita tetap saling memikirkan” celetuk Gouw Boen San tiba-tiba dari belakang sambil duduk disebelahku.


“Ngomong-ngomong, dimasa depan, pakai celana harus memamerkan pahanya hingga setinggi itu ya?” canda Lie


Kun Lian.


“Kamu melihat paha istriku?” kesal Gouw Boen San.


“Aku tidak melihat! Istrimu sendiri yang memamerkan!” jawab Lie Kun Lian bercanda.


   Tuan Wang  mengintip dari balik jendela kamarnya. “Mungkin aku tidak akan pernah bisa bersama Rahayu” gumam tuan Wang sendirian.


“Aku akan berusaha mendapatkan hati Rahayu” lanjut tuan Wang Cheng Hai.