
Charles terbangun dari pingsannya. Dia tersadar dan pelan-pelan membuka mata.
“Rose?” panggil Charles.
“Istri Anda keadaannya semakin memburuk tadi malam saat Anda pingsan” jawab seorang perawat yang kebetulan merawat pasien sebelah Charles.
“Apa yang terjadi, Sus?” Tanya Charles penasaran.
“Semalam Anda pingsan dan terjatuh. Anda tidak sadarkan diri cukup lama” jawab suster.
Charles berpikir bahwa yang terjadi barusan bukanlah sekedar mimpi tapi itu benar-benar terjadi.
“Rose.. Bangun! Kamu sudah kembali kan?!” panggil Charles.
Aku tidak menunjukan respon. Aku tetap dalam kondisi kritisku.
***
Kembali ke tempat jiwa Rose berada. Keadaanku disanapun tidak membaik. Aku masih dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.
Tuan Wang mengajak tuan Gouw berbincang-bincang di taman. Lie Kun Lian, Wu Jiang dan Han Kai Lie juga ikut mengikuti tuan mereka.
“Rahayu yang sekarang sebenarnya adalah Rose. Rose adalah reinkarnasi istrimu dimasa depan. Kemarin siang dia mengungkapkan jati dirinya. Awalnya aku tidak percaya. Tapi dia menceritakan masa depan begitu meyakinkan. Aku masih sedikit ragu. Hingga kedatangan suaminya dimasa depan kemari membuatku benar-benar percaya” kata tuan Wang.
“Rahayu berasal dari tahun 2021. Dia melintasi waktu ke tahun 1941 karena tuan Gouw sendiri yang membawanya. Rose lahir tahun 1988. Sejak kecil dia selalu bermimpi tentang tuan Gouw. Dia tidak pernah memimpikan aku, tuan Wang, Han Kai Li bahkan tuan Wu Jiang. Dalam hidupnya, Rose hanya mencintai 1 pria, yaitu tuan Gouw. Bahkan sampai dikehidupan berikutnya dia hanya mencintai Charles yang adalah reinkarnasi tuan Gouw.
Rose bercerita tentang masa depan begitu indah dan menyenangkan. Tidak ada prajurit Belanda lagi. Tapi dia berkata, akan ada orang Jepang yang menjajah Indonesia. Tahun depan, nama Negara kita Hindia Belanda akan berubah menjadi Indonesia. Tahun depan Jepang akan menjajah Indonesia dengan sangat kejam.
Masalah ini sebaiknya kita rahasiakan. Tidak boleh ada yang tahu bahwa Rose dari masa depan. Kedatangannya juga memberitahu kita bahwa Negara kita dijajah Belanda dan Jepang” tambah Lie Kun Lian.
“Cintanya pada tuan Gouw yang menyatukan mereka di tahun ini” kata Han Kai Li.
Tuan Wang merasa layu dan sedih mendengar kenyataan dari Lie Kun Lian.
***
Aku terbangun dari pingsanku yang panjang. Saat kubuka mataku, kulihat aku sedang dikamar tuan Wang.
“Charles?” panggilku. Tapi tak ada 1 orangpun di kamar.
Aku keluar kamar dan memanggil-manggil Charles tapi tidak kutemukan suamiku. Pelayan rumah tuan Wang melihatku dan menenangkanku tapi aku tidak menggubrisnya.
Aku terus berjalan cepat mencari dan memanggil-manggil Charles.
Para pria yang sedang berbincang-bincang tadi mendengarku panik mencari Charles.
Tuan Wang yang mendengar suaraku bergegas berlari menghampiriku. Sedangkan 4 pria lainnya bingung melihat tuan Wang yang gerak cepat mencariku. Tuan Gouw curiga dengan dengan tuan Wang, maka dari itu tuan Gouw berlari juga mengikuti tuan Wang menghampiriku.
“Rose… Rose… Tenanglah!” kata tuan Wang sambil memegangku menenangkanku. Tuan Gouw tiba dan melihatku sedang bercengkrama dengan tuan Wang. Hatinya sedih dan perih.
“Tuan Wang, dimana suamiku, Charles? Kenapa aku masih disini?” kataku sambil melepas tangan tuan Wang.
Aku melihat tuan Gouw dan menghampirinya. Tuan Gouw langsung memelukku dan berkata, “Aku juga suamimu. Charles sudah kembali ke tahun 2021. Aku yang akan bertanggung jawab penuh atas hidupmu disini. Aku yang akan menjagamu dan melindungimu”. Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukan suamiku, tuan Gouw. Lie
Kun Lian, Han Kai Li dan Wu Jiang yang baru saja datang melihatku berpelukan merasa tenang.
“Aku mau pulang kerumahmu, tuan Gouw…” kataku lirih.
Tuan Wang semakin sedih mendengarku seakan-akan tidak menganggapnya.
***
Malam harinya tuan Wang duduk di kursi grand piano. Sambil memainkan piano, dia mengingat kejadian kemarin siang di depan taman yang sekarang disebut taman Srigunting.
Dia berpikir lagi bahwa Rahayu dan dirinya tidak akan pernah bersatu baik dimasa sekarang atau dimasa depan. Pada akhirnya, tuan Wang menyerah untuk mendapatkan Rahayu.
***
Aku dan tuan Gouw berjalan-jalan lagi malam itu di jalan Djornatan Semarang. Tuan Gouw menggandeng tanganku dan terus berjalan.
“Tuan…” kataku membuka pembicaraan.
“Jangan panggil aku tuan lagi.. Panggil aku seperti kamu memanggil Charles.. Mulai sekarang anggap aku sebagai Charles” potong tuan Gouw.
“Sayang…” panggilku.
“Begitukah kamu memanggil Charles?” Tanya tuan Gouw.
“Iya..” jawabku.
“Mesra sekali kalian. Aneh! Kenapa aku cemburu dengan diriku sendiri dimasa depan?!” kata tuan Gouw.
Tuan Gouw merangkulku sambil berjalan. Disana kami berbincang-bincang tentang masa depan. Bercerita tentang Zefanya dan Zeline.
“Bagaimana anak kita dimasa depan?” Tanya Gouw Boen San.
“Waktu kita masih pacaran, aku pernah bilang, kalau nanti kita sudah menikah, aku mau punya 2 anak. Yang pertama anak laki-laki dan anak ke 2 adalah perempuan. Dan akhirnya setelah kita menikah, kita punya 2 anak, yang laki-laki bernama Zefanya. Sekarang sudah berumur 12 tahun dan yang perempuan bernama Zeline dan dia sudah berumur 9 tahun” ceritaku.
“Pasti anakku tampan dan cantik!” khayal Boen San.
“Tentu saja anakku tampan dan cantik. Anak laki-lakiku adalah idola cewek-cewek. Dia tampan. Model berbakat pula!” kataku.
“Apa itu cewek-cewek?” Tanya Boen San.
“Cewek adalah perempuan. Bahasa gaul anak jaman modern” jawabku sambil tertawa.
“Aku ingin sekali memiliki anak dikehidupan ini” ucap serius Gouw Boen San.
“Suamiku, kita gak tahu rencana Tuhan apa. Kalau belum waktunya kita punya anak, kita nggak akan punya anak. Kalau sudah waktunya kita punya anak, aku akan mengandung anakmu” jawabku sambil membelai rambut Gouw Boen San.
“Kalau begitu, ayo kita ke kelenteng. Kita minta sama Dewi Gwan Im anak” ajak suamiku penuh semangat.
“Sayang, aku gak ke kelenteng, tapi aku ke gereja” jawabku.
Kami terdiam sejenak. Kemudian kami mengganti topik pembicaraan.
“Ceritakan padaku, tahun 2021 seperti apa” kata Gouw Boen San.
“Emmm.. Dimasa depan akan ada banyak teknologi canggih. Ada mobil, motor, mesin cuci, pendingin ruangan
yang kita sebut AC, ada televisi, pemutar music, pemutar video, telepon genggam yang kita sebut Handphone”.
“Rahayu, apakah kamu bahagia denganku dimasa depan?” Tanya Gouw Boen San serius.
“Entah Gouw Boen San ataupun Charles. Kalian adalah orang dengan jiwa yang sama. Hanya saja beda waktu kalian hidup. Aku mencintai Charles, sama juga aku mencintai Gouw Boen San. Aku bahagia dengan Charles, sama juga aku bahagia dengan Gouw Boen San. Aku mencintaimu selamanya. Gak peduli 50 tahun, 100 tahun atau 1000 tahun. Yang aku mau cuma hidup sama kamu” kataku sambil menggenggam tangan suamiku.
“Apakah kamu akan tahu, kapan kamu akan kembali ke masa depan?”
“Aku tidak tahu. Aku terjebak disini. Aku tidak tahu cara kembali. Jadi, aku harus menikmati keadaan ini”
***
Kembali ke masa depan. Kondisiku sedang buruk. Charles khawatir dengan keadaanku. Keadaannya kusut dan tidak karuan. Charles khawatir anak-anak akan terpukul dengan keadaan kritisku.
***
Malam itu aku masih bersama Gouw Boen San aku mendengar suara Charles memanggilku. Aku bertanya pada Gouw Boen San saat jalan berdua dengannya di jalan Djornatan, “Sayang, apakah kamu memanggilku mengajakku pulang?”. Gouw Boen San menjawab tidak.
Samar-samar aku melihat sekelilingku berubah perlahan. “Sayang, kenapa rumah-rumahnya bangunannya seperti modern? Ini Semarang Plaza dan ada banyak toko. Ini kan jalan Kyai Haji Agus Salim?” tanyaku disamping Gouw Boen San tapi dia tidak mendengarku.
“Tuan Gouw Boen San…” panggilku lirih. Tiba-tiba aku lemas dan menutup mata sudah tidak sadarkan diri.
Aku menghilang dalam sekejap. Gouw Boen San kebingungan mencariku. Dia kesana kemari dan tidak menemukanku.
***
Aku membuka mataku. Kulihat aku berada di ruangan ICU. Selang ventilator oksigen yang menutup mulutku aku lepas pelan-pelan. Kabel yang menempel di dadaku untuk memantau dari Patient Monitor aku lepas. Suara yang asalnya tut,, tut,, tut,, berubah menjadi tuuuuuuuuuuuuutttt.. Suster dan Mantri jaga di ruang ICU segera berlari menghampiriku. Dikiranya aku meninggal tapi yang mereka lihat aku sehat dan melepas oksigenku.
“Bu, ibu sudah bangun?” Tanya seorang dokter yang bertanggung jawab merawatku. Aku diam tak menjawab dokter itu.
“Ibu bisa mendengar suara saya?” Tanya dokter itu lagi.
“Biar saja cek keadaan ibu dulu ya?” lanjut dokter bicara.
Seseorang Mantri keluar kamar ICU dan memanggil Charles.
“Bapak Charles!” panggil Mantri itu.
Charles mendengar dengan penuh kekhawatiran. Dia pikir aku sudah tidak terselamatkan. Dia berjalan menuju Mantri dengan kekhawatiran.
“Pagi, Pak! Keadaan ibu Rose sekarang sudah sadar. Saat ini ibu Rose sedang diperiksa oleh Pak Dokter” kata Mantri.
“Mas, saya boleh masuk melihat keadaan istri saya kan?” Tanya Charles.
“Boleh, Pak!” jawab Mantri itu.
Charles segera masuk ke kamar dimana aku berbaring. Dia menatap mataku yang pelan-pelan terbuka sambil menggenggam telapak tanganku.
“Kamu Charles atau Gouw Boen San?” kataku saat melihat Charles.
“Sayang, kamu sudah sadar?” kata Charles khawatir masih memegang tanganku.
“Gimana keadaan istri saya?” Tanya Charles.
“Saat ini keadaannya sehat semua. Nanti kita lakukan pemeriksaan menyeluruh ya?”
***
Siang hari besoknya saat matahari sangat panas, Charles menjemputku pulang dari rumah sakit. Dokter bilang keadaanku sudah sangat sehat, maka dokter mengijinkanku pulang.
“Aneh ya?! Hasil medica check upnya bagus semua. Padahal semalam kondisimu buruk”
“Kondisiku buruk?” tanyaku heran.
“Saat aku tertidur di sebelahmu, tiba-tiba aku menemuimu seperti jaman masa lampau. Disana aku melihat pria yang mirip denganku dan Judi” kata Charles.
Aku kaget mendengar cerita Charles. Seakan-akan tidak percaya apa yang sudah aku lalui.
“Kamu menemui pria yang mirip denganku dan Judi?” tanyaku penasaran sekali.
“Iya. Ada Harry juga disana. Ini benar-benar aneh!” kata Charles.
Aku diam sebentar dan berusaha mengingat apa yang terjadi. “Sayang, aku bermimpi. Aku sedang ada di jaman sekitar tahun 1942’an. Disana aku bermimpi bertemu denganmu. Tapi suatu saat ada petir menyambar dan aku melihat ada 2 dirimu” ceritaku sepotong.
“Aku juga bermimpi yang sama denganmu. Mimpi tentang petir dan kamu. Jangan-jangan yang kamu lihat dan yang
aku lihat adalah mimpi yang sama?!” celetuk Charles.
Aku merasa merindukan masa-masa bersama Gouw Boen San tapi aku samar-samar tidak bisa mengingat siapa orang itu.
“Sayang, rasanya aku pengen jalan-jalan di kelenteng Sam Po Kong”. Kataku.
“Ayo! Kebetulan besok aku weekend. Besok kita pergi sama anak-anak ya? Hari ini kita nikmatin waktu kumpul sama anak-anak. Kamu sudah koma lama dan anak-anak kangen sama kamu” kata Charles.
***
Malam harinya Charles mengajakku pergi makan bersama anak-anak di restoran Eden di Semarang atas. Ini adalah tempat favoritku. Aku suka melihat pemandangan kota Semarang dari resto Eden. Seperti melihat bintang berkelip dari halaman belakang resto Eden.
Anak-anak bahagia sekali bertemu lagi denganku. Kami makan bersama dan setelah itu kami mengobrol banyak.
Tak lama setelah selesai makan, aku berjalan pelan-pelan ke halaman belakang resto Eden sendirian dan memandang lampu-lampu kota Semarang. Ada perasaan tidak enak. Rasa sedih karena merindukan seseorang yang sangat dalam tapi aku tidak tahu merindukan siapa. Air mata menetes begitu saja tanpa ada ekspresi di wajahku. “Mi, ayo kita pulang!”, ajak Charles. Aku melihat Charles dan dia bertanya, “Kenapa kamu menangis?”. Aku tidak mengerti maksudnya. “Aku? Menangis?” tanyaku bingung. Charles diam dan tersenyum tipis lalu mengusap air mataku. Dia menggandeng tanganku dan mengajakku pulang.
***
Keesokan paginya, aku melakukan rutinitasku seperti biasa. Aku memasak dan mencuci baju. Aku bercanda dengan Zefanya dan Zeline di kamar, juga ada Charles yang menemaniku.
“Mi, katanya hari ini mau jalan-jalan ke kelenteng Sam Po Kong?” Tanya Charles sambil bermain Handphonedan duduk bersandar di tembok beralaskan bantal.
“Oh iya ya? Tapi aku kok kepengen ke Kota Lama dulu ya, Pi?” jawabku.
“Ya udah tho! Yok, sekarang jalan!” ajak Charles.
***
Kami berjalan-jalan ke Kota Lama. Entah kenapa, aku baru saja ketempat ini kemarin bersama Charles, tapi bukan Charles suamiku melainkan Charles yang lain. Aku merasa tempat ini berbeda dengan yang aku lihat kemarin.
Rasa sakit merindukan tapi tidak tahu siapa yang aku rindukan itu. Aku menutup mataku dan tiba-tiba saja aku menangis tersedu-sedu. Tanganku gemetaran dan irama nafasku tidak beraturan. Aku menangis tanpa memikirkan Charles dan anak-anak. Charles kaget melihatku menangis tiba-tiba.
“Sayang, kamu kenapa?” Tanya Charles khawatir. Aku tidak menjawab dan tetap menangis.
“Papi, Mami kenapa?” Tanya Zeline khawatir.
“Papi juga ga tau Sayang. Sudah biarin aja Mami nangis” jawab Charles.
***
Aku berhenti menangis dan hanya menatap ke jendela. Sampai pada akhirnya setengah jam kemudian kami tiba di Kelenteng Sam Poo Kong.
Ada perasaan aneh saat disini. Aku menangis dalam hati, merindukan seseorang yang tidak aku tau. Merindukan seseorang yang tidak bersama kita rasanya sangat sakit. Dadaku terasa sesak. Aku menelan rasa sakit itu sendiri dan memaksakan diri untuk tetap berjalan menyusuri kompleks kelenteng itu.
Zefanya dan Zeline antusias menikmati waktu bersamaku. Kami berfoto-foto bersama di beberapa spot. Aku mengajak Charles dan anak-anak jalan menjelajahi seluruh wilayah Kelenteng Sam Poo Kong tapi mereka menolak dengan alasan ingin makan di food court pintu masuk gerbang Kelenteng Sam Poo Kong.
Aku berjalan sendirian menyusuri setiap sudut Kelenteng Sam Poo Kong. Sampai pada akhirnya aku tiba di makam Nyai Kyai Tumpeng. Tempat itu sangat sepi. Seperti bangsal yang hampir mirip dengan tempat dimana ketiga mayat yang mengejarku di mimpiku kala itu. Aku menuju ke depan makam itu dan berkata dalam hatiku kepada Nyai Kyai Tumpeng, “Apa yang sedang terjadi dalam hidupku saat ini? Rasanya sakit sekali dalam hatiku. Tolong bantu aku menyelesaikan semua ini!”.
Tak jauh dari situ, tepat disebelah dekat makam Nyai Kyai Tumpeng ada sebuah kapal-kapalan yang dipinggirnya terdapat pohon beringin yang tidak terlalu besar. Pelan-pelan aku naik ke kapal itu dan mengucapkan “Permisi” karena hendak naik kapal-kapalan itu.
Aku berjalan pelan menghampiri pohon beringin itu. Aku menyentuh lembut pohon beringin itu. Tiba-tiba mataku
terbelalak dan aku melihat banyak hal. Flashbackaku melihat kejadian semua yang aku alami saat aku kembali ke masa lalu. Aku mulai menangis dan merindukan Gouw Boen San.
Tak sanggup menahan rasa sakit dan rindu ini, aku lemas dan jatuh terduduk di bawah pohon itu. “Jadi semua yang aku alami selama ini adalah nyata? Bukan sekedar mimpi. Jadi aku benar-benar bertemu Gouw Boen San?” kataku bergumam.
Segera aku berdiri dan memegang pohon itu dan berjalan ke belakang pohon itu. Aku merasakan tubuhku sangat ringan kemudian aku jatuh lemas dan tubuhku menghilang pelan-pelan di kaki pohon besar itu.