
Kami berdua kembali ke rumah tuan Wang Cheng Hai siang sekitar jam 10 pagi.
Wu Jiang yang sedang duduk di teras rumah kaget melihat mobil tentara Jepang tiba di rumah Wang Cheng Hai. Kebetulan Wang Cheng Hai berjalan menuju teras menghampiri Wu Jiang.
Sebelum turun, Lie Hong Yi berpesan padaku, “Jangan katakan pada siapapun bahwa namaku adalah Lie Hong Yi. Selama aku dijaman ini, namaku adalah Tadashi Kazuo. Jadi supaya identitasku tidak ketahuan panggil aku Tuan Tadashi. Ingat, Tuan ya?!” pinta Lie Hong Yi.
Tadashi turun dari mobil. Wang Cheng Hai kaget karena ada tentara Jepang datang kerumahnya. Tadashi membukakan pintu mobil untukku.
Ketika aku turun, mata Wang Cheng Hai melotot. Segera dia berjalan cepat menghampiriku dan meraih tanganku dan memelukku kencang. “Kamu tidak apa-apa?!” Tanya Wang Cheng Hai khawatir.
Lie Hong Yi marah cemburu dan mengeluarkan pistol. Pistol itu ditodongkan pada Wang Cheng Hai. “今その女性を手放す!” (Lepaskan wanita itu sekarang juga?!) kata Lie Hong Yi dalam bahasa Jepang marah dan tatapan matanya penuh amarah.
Aku kaget dan melotot pada Lie Hong Yi. Tidak percaya pada Lie Hong Yi yang bisa menodongkan pistol. “Apa yang kamu lakukan? Jangan main-main dengan pistol!” marahku.
Lie Hong Yi mengangkat pistol itu ke atas dan menembakannya ke langit. “Aku tidak pernah main-main!” jawabnya marah dan tatapan matanya masih penuh emosi.
Seketika aku ketakutan dengan Lie Hong Yi. Aku bertanya-tanya pada hatiku. Semalem dia lembut dan perhatian, hari ini dia menakutkan. Aku dan dia saling menatap dengan tajam tanpa bisa berkata apa-apa.
Wang Cheng Hai yang melihat Lie Hong Yi dan aku saling menatap berhadapan, tiba-tiba datang menghalangi tatapan kami dan berdiri di depanku menghadap Lie Hong Yi.
“Apa tujuan Anda kemari, Tuan?” Tanya Wang Cheng Hai melindungiku.
“Tujuanku adalah melindunginya!” jawab Lie Hong Yi.
“Melindungi dari apa? Rahayu disini akan aman. Tidak akan ada yang menyakitinya karena aku akan menikahinya” jawab Wang Cheng Hai.
“Apa maksudmu, Tuan Wang?” jawabku penasaran.
“Rahayu, aku harus pergi bekerja. Bisa kita berbicara sebentar?” pinta Lie Hong Yi.
“Baik, Tuan Tadashi!” jawabku menurut.
“Berhenti, Rahayu! Jangan kamu menurut dengan dia. Para tentara Jepang telah membunuh Gouw Boen San dan Lie Kun Lian!” kata Wang Cheng Hai marah dengan nada keras sambil menatap Lie Hong Yi.
“Tuan Wang, apa maksud Tuan Wang? Lie Kun Lian meninggal?” tanyaku kaget dan penasaran sambil menatap tuan Wang Cheng Hai. Tuan Wang diam dan tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana.
“Jawab, Tuan! Tuan Wang bohong kan?!” kataku sambil menarik kerah baju Wang Cheng Hai.
“Kenapa diam saja?! Jawab!!!” kata ku mulai memukuli dadanya dengan tangan kananku dan kemudian menangis didada Wang Cheng Hai.
meninggalkanmu. Aku janji!”.
Wang Cheng Hai kaget melihatku dipeluk erat Lie Hong Yi. “Lepaskan, Rahayu!” sentak Wang Cheng Hai.
“Gouw Boen San berkata, bila sesuatu terjadi padanya, ia memintaku bertanggung jawab pada Rahayu!” lanjut kata tuan Wang Cheng Hai.
Lie Hong Yi dengan mata merah berair mengeluarkan pistol lagi dan menodongkan pada Wang Cheng Hai. “Aku tau apa rencanamu! Jangan pernah sekalipun kamu menyentuh tubuh Rahayu! Baik dimasa depan atau sekarang, niatmu pada Rahayu tidak pernah tulus dan baik!” kata Lie Hong Yi yang masih memeluk kepalaku. “Rahayu boleh tinggal dirumahmu tapi tidak untuk menjadi istrimu!” marah Lie Hong Yi dengan suara keras.
“Memang kamu siapa?!” Tanya tuan Wang Cheng Hai juga marah. Aku berbisik pada Lie Hong Yi, “Lao Gong, biarkan saja! Jangan jawab dia. Simpan senjatamu. Tenang saja, aku tidak akan menikahinya. Aku adalah milikmu sepenuhnya sekarang. Tapi hatiku perlu waktu untukku dan Gouw Boen San. Ingatlah pesan biksu tadi malam katamu, kematian hanya sekali. Jangan sampai terjadi sesuatu pada kita! Kita harus pulang ke masa depan” kataku berbisik pelan sambil masih sedikit menangis dalam pelukan Lie Hong Yi. Lie Hong Yi menyimpan senjatanya dan melepas pelukanku.
“Tuan Wang, tolong antarkan aku ke kuburan Gouw Boen San dan Lie Kun Lian!” pintaku lembut dan masih bersedih.
***
Setengah jam kemudian kami tiba di Bong China milik Gouw Boen San. Makam kuno yang pernah aku lihat di mimpiku saat aku masih kecil. Makam besar yang bentuknya melingkar dibagian belakangnya. Tak jauh dari situ ada makam Lie Kun Lian juga.
Aku mendekati makam suamiku dan aku lemas tak berdaya di depan makam Gouw Boen San. Aku menutupi mukaku dan menangis sesenggukan sambil gemeteran. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa menangis.
“Setelah kamu meninggalkan Gouw Boen San pagi itu. Sepanjang hari Gouw Boen San terlihat layu. Dia tidak banyak bicara. Bahkan Han Kai Li mengajak bercanda, Gouw Boen San diam melamun. Han Kai Li bilang, Gouw Boen San sangat berbeda dengan yang dulu sejak mengenalmu. Sore harinya aku melihat dia bersembunyi di balik tembok dan menangis merindukanmu. Aku mendengar dia memukuli tembok sambil berkata, Rahayu aku minta maaf. Aku sangat merindukan dan mencintaimu. Dia bilang menyesal selama ini sudah memperlakukanmu sangat buruk. Aku melihatnya memukuli tembok berkali-kali hingga tangannya terluka.
Malam harinya Gouw Boen San tidak bisa tidur memikirkanmu. Han Kai Li berniat menghibur Gouw Boen San, tapi Han Kai Li mabuk dan menabrak tentara Jepang. Gouw Boen San berniat melindungi Han Kai Li, tapi Gouw Boen San dipukuli tentara Jepang dan mati ditembak oleh tentara Jepang itu” cerita Wang Cheng Hai yang membuatku makin menangis.
“Lalu, dimana Han Kai Li?” tanyaku. “Kabur!” jawab Wang Cheng Hai tegas.
“Keesokan paginya setelah Gouw Boen San meninggal, aku menyuruh orang memberi tahu Lie Kun Lian bahwa Gouw Boen San meninggal. Lie Kun Lian pulang ke Semarang dan membuat perhitungan dengan Han Kai Li. Ia sangat terpukul mendengar kematian Gouw Boen San. Mereka bertengkar hebat dan saling pukul memukul. Lie Kun Lian memukuli wajah Han Kai Li berkali-kali sambil menangis. Pertengkaran mereka diketahui tentara Jepang. Dari jauh tentara Jepang langsung menembak mati Lie Kun Lian. Sedangkan Han Kai Li berhasil selamat dan melarikan diri. Tak lama Wu Jiang datang setelah mendengar seorang menjerit-jerit dipintu memberi tahu Lie Kun Lian dan Han Kai Li bertengkar di jalan. Wu Jiang segera menyusul. Setibanya disana, Wu Jiang membawa tubuh Lie Kun Lian ke rumah sakit tapi tidak tertolong. Lie Kun Lian tewas saat perjalanan” lanjut cerita Wang Cheng Hai.
Aku mengingat memori semua yang pernah aku alami bersama Gouw Boen San dan Lie Kun Lian. Aku menangis terus dan aku tidak tahu bagaimana cara berhenti menangis. Air mata terus mengalir. Aku memikirkan Gouw Boen San.
Tak sanggup menahan kesedihan aku berdiri dan menjerit, “Gouw Boen San, bangun! Aku tidak mau kamu mati! Aku masih ingin sama kamu. Bangun, Ko! Ayo kita pulang! Ayo!” kataku menangis sambil menggeruk tanah kuburan lalu membuangnya.
Lie Hong Yi yang melihatku seperti itu berlari menghampiriku dan menarikku. “Rose! Stop! Jangan seperti ini! Ini
takdir!” kata Lie Hong Yi sambil menarik pundakku dari belakang.
Tak kuat menahan semuanya, seketika aku pingsan di pelukan Lie Hong Yi. “Lao Po! Bangun, Sayang! Lao Po!” kata Lie Hong Yi memanggil.
“Rose? Lao Po?” kata Wang Cheng Hai penasaran. Lie Hong Yi mengangkatku dan hendak membawaku ke mobilnya tapi Wang Cheng Hai menghadang. “Siapa kamu sebenarnya?” Tanya Wang Cheng Hai marah. Lie Hong Yi tidak menjawab dan terus berjalan. “Bawa dia kerumahku!” kata Wang Cheng Hai.