Born Again To Love You

Born Again To Love You
Charles menemuiku di Masa Lampau



Malam harinya ketika kita mau tidur, aku meminta Gouw Boen San untuk tidur sambil menggadeng tangannya. Gouw Boen San diam dan hanya mengganggukan kepala. Kupegang tangan kirinya sambil tersenyum kemudian akutertidur.


   15 menit berlalu aku tertidur pulas, Boen San masih terjaga sambil memperhatikan wajahku.


“Apa yang sudah kamu lakukan untuk membuatku terdiam beberapa hari ini?” kata Gouw Boen San yang masih memperhatikan wajahku.


   “Zefanya… Zeline… Zefanya… Zeline… Mami kangen kalian…” gigauku sambil tertidur malam itu.


   Tiba-tiba aku terbangun kaget dan kulihat wajah Gouw Boen San di dekat wajahku. Tanpa kusadari aku memeluk Gouw Boen San, menangis dan memeluknya sambil berkata, “Koh Charles, anak-anak kita…”


   Aku seketika terdiam dari tangisku, membuka mataku dan menyadari bahwa yang kupeluk adalah Gouw Boen San. Kulepaskan pelukanku dan aku menghadap membelakangi suamiku.


   “Siapa Charles? Zefanya dan Zeline?” tanya suamiku curiga yang masih menghadap ke arahku dan memperhatikanku dengan nada marah.


“Aku ngantuk, Koh! Aku mau tidur lagi” jawabku.


                                                          ***


   Dipagi hari aku sedang mempersiapkan sarapan, Gouw Boen San masih tertidur pulas.


   Aku baru saja selesai mempersiapkan makanan, kemudian aku membuatkan secangkir teh untuk suamiku dan kubawa ke kamar.


   Ajudan tuan Wang Cheng Hai, Wu Jiang datang menjemputku ketika aku sedang duduk di kamar membawakan teh.


   “Selamat pagi, tuan Lie Kun Lian. Pagi ini, tuan Wang Cheng Hai memintaku untuk menjemput Nyonya Gouw. Tuan Wang ingin mengajak Nyonya Gouw ke suatu tempat. Ada urusan pekerjaan yang mengharuskan Nyonya Gouw ikut” kata Wu Jiang.


   “Tidak bisa! Istriku tidak boleh keluar rumah tanpaku!” kata Gouw Boen San sambil berjalan dari kamar menuju Wu Jiang.


“Maaf, Tuan. Tuan Gouw Boen San tidak diizinkan ikut. Jika tuan Gouw tidak mengizinkan nyonya Gouw, dengan terpaksa kami harus memutuskan segala kerjasama dikemudian hari. Entah itu kerjasama dengan tuan Bao Jia atau tuan Wang Cheng Hai” ancam Wu Jiang santai.


   Gouw Boen San diam sejenak dan berpikir. Lie Kun Lian datang dan meminta untuk mengawalku. “Kalau


tuan Gouw tidak diizinkan, izinkan aku seorang diri untuk mengawal nyonya kami!” celetuk Lie Kun Lian.


“Benar! Lie Kun Lian, kamu pergilah! Jaga istriku!” cetus Gouw Boen San.


“Maaf, itu juga tidak diizinkan, tuan Lie!” jawab Wu Jiang.


“Tuan Wu Jiang, jika suamiku tidak diizinkan menemaniku, aku akan coba menghargai keputusan tuan Wang. Tapi tolong hargai permintaan suamiku. Bukannya mencurigakan bila aku pergi dengan pria lain tanpa sepengetahuan suamiku. Aku tidak mau suamiku berpikir macam-macam kalau aku pergi dengan pria lain, tapi aku juga tidak bisa meminta suamiku ikut karena aku takut itu menghalangi pekerjaan tuan Wang, jadi tolong izinkan Lie Kun Lian ikut menemaniku!” jawabku.


“Baiklah! Tapi aku harus bilang apa pada tuan Wang jika tuan Lie Kun Lian ikut?!” khawatir Wu Jiang.


“Aku akan bertanggung jawab pada tuan Wang jika tuan Wang memarahimu!” jawabku.


   Tuan Wu Jiang membukakan pintu mobil mempersilakan aku masuk. Aku dan Lie Kun Lian duduk di belakang. Wu Jiang duduk di depan.


                                                ***


   20 menit kemudian kami tiba disuatu gedung Belanda kuno, Nederlands Handel Maatschappij. Tuan Wu Jiang mengajakku menemui tuan Wang di depan pintu utama.


   Saat aku memasuki gedung ini, aku teringat salah satu mimpi yang pernah kulihat dulu. Aku merasa takut tapi aku penasaran.


   “Kamu sudah datang? Ayo ikut aku menemui seseorang!” ajak tuan Wang Cheng Hai.


“Siapa?” tanyaku curiga.


“Kalau aku beri tahu sekarang, apakah kamu akan tau dia?” Tanya tuan Wang Cheng Hai.


   Aku yang  masih berpikir langsung digandeng dan dibawa masuk ke dalam. Lie Kun Lian kaget dan mengikutiku dengan cepat tapi ditahan oleh Wu Jiang. Tuan Wang membawaku ke lantai atas.


   Di atas aku bertemu dengan seorang pria Belanda sekitar umur 50 tahun dan seorang pria Tionghoa yang berumur sekitar 45 tahun bernama Han. Tuan Han adalah rekan bisnis terdekat tuan Wang.


   “Selamat pagi tuan Han and good morning Mr. Willem..” sapa tuan Wang saat masuk kedalam ruangan.


“Hello, Mr. Wang. Welcome to my office!” jawab Mr. Willem.


“Siapa wanita pribumi ini, Wang?!” Tanya tuan Han penasaran.


“Dia adalah Nyonya Gouw, istri dari tuan Gouw Boen San” jawab tuan Wang santai.


“Lantas apa yang membuatmu membawanya?!” Tanya tuan Han yang masih penasaran.


“Kemarin Mr. Edward berkunjung ke rumahku. Dia berkata sudah menyiapkan  tembakau…” cerita tuan Wang.


“Jadi kamu akan menjual rokok?” Tanya tuan Han.


“Hmmm.. Boleh juga.. Itu yang ingin aku bicarakan denganmu, Han” jawab tuan Wang.


“Menjual rokok? Akan kupikirkan!” jawab tuan Han.


“Kenapa dengan menjual rokok? Kalau bisa membangun pabrik rokok bukannya hal yang luar biasa? Banyak orang yang mau jadi pengusaha rokok. Banyak pabrik rokok besar di Indonesia yang menjadi konglomerat lho!” celetuk ku tanpa berpikir jernih.


“Indonesia?” Tanya tuan Han heran.


“Iya Indonesia! Ada perusahaan rokok terbesar di Indonesia yang membangun pabrik rokok di Amerika lho!” lanjutku mengacau.


“Dimana Indonesia yang kamu sebutkan?!” Tanya tuan Han.


“Kita kan tinggal di Indonesia sekarang, Tuan! Memangnya tuan gak pernah baca berita?” jawabku.


   Ketiga pria itu melihatku curiga. Aku terdiam sejenak. Aku lupa bahwa saat ini Indonesia masih menggunakan nama Hindia Belanda. Aku kaget dan menutup mulutku dengan kedua tanganku.


   “Aku rasa aku salah bicara! Lebih baik aku keluar tidak disini. Kalian lanjutkan pembicaraan kalian” kataku.


“Tuan Wang, aku keluar saja. Aku tunggu diluar. Anda jangan sungkan berbincang-bincang dengan tuan Han dan Mr. Edward. Aku mau menikmati pemandangan gedung ini” lanjutku.


   “Wait.. Could you mind to explain about Indonesia?” tahan Mr. Edward sedangkan aku sudah berjalan selangkah.


“I am verry sorry Mr. Edward. My mistake.. If you don’t mind, I want to enjoy the view of this building..” jawabku sambil keluar dan menunduk.


“Aku rasa dia bukan wanita pribumi biasa!” kata tuan Han.


“Ya, itu jawabanku kenapa membawanya kesini! Ada sesuatu yang berbeda dengan Rahayu. Dia seperti wanita berpendidikan tinggi tapi latar belakang keluarganya bukanlah keluarga bangsawan melainkan kelas rendahan” balas tuan Wang.


                                                          ***


   Aku berjalan keluar gedung. Aku melihat tuan Lie Kun Lian dan tuan Wu Jiang sedang berada di jembatan Mberok seberang gedung Nederlands Handel Maatschappij. Aku berjalan menghampiri Lie Kun Lian menuju jembatan Mberok.


   Lie Kun Lian menghampiriku khawatir. “Kenapa kamu keluar sendirian? Mana tuan Wang?” Tanya Lie Kun Lian penasaran.


“Akhirnya aku selamat!” jawabku mengelus dada.


“Selamat? Apa yang sebenarnya terjadi? Akan kuhajar tuan Wang jika sesuatu menimpamu!” kata Lie Kun Lian yang memutar badan ingin menghampiri tuan Wang dengan nada marah dan tangannya siap meninju tuan Wang.


“Eh.. eh.. Tuan Wang gak ngapa-ngapain aku!” kataku menahan sambil memegang tangan Lie Kun Lian.


“Aku selamat karena aku hampir ketahuan kalau aku dari masa depan!” lanjutku berbisik.


“Maksudnya?” Tanya Lie kun Lian penasaran.


   Aku izin kepada tuan Wu Jiang untuk pergi ke toilet dan minta tuan Lie Kun Lian menemaniku. Sebenarnya itu adalah alasan aku untuk menghindari tuan Wu Jiang.


   Sampai disuatu sudut dimana hanya ada aku dan Lie Kun Lian. Aku duduk berdua bersebelahan dengan Lie Kun Lian.


“Aku lupa bahwa negara ini belum berganti nama menjadi Indonesia, tapi masih pakai nama Hindia Belanda” Aku memulai pembicaraan.


“Indonesia?” Tanya A Lian penasaran.


“Iya. Aku baru ingat waktu berjalan keluar gedung kalau tahun 1942 dimana Jepang mulai menjajah, disitulah nama Hindia Belanda berubah menjadi Indonesia” lanjutku.


“Kamu sepertinya tahu masa depan yang akan terjadi?!” Tanya A Lian penasaran.


“Sekarang kamu mau percaya kalau aku dari masa depan?!” tanyaku. Lie Kun Lian hanya terdiam cuek.


“Bagaimana kamu bisa kemasa ini?” Tanya Lie Kun Lian penasaran.


“Sejak kecil, sekitar umur 3 tahun, aku selalu bermimpi tentang tuan Gouw menyiksaku. Aku melihat banyak hal dimimpiku. Bahkan aku melihat rumah tuan Gouw tapi aku tidak melihat wajah tuan Gouw. Dalam mimpiku, aku selalu melihat tuan Gouw. Sampai pada waktunya aku dewasa, ada mimpi yang sangat menakutkan. Aku melihat mayat yang keluar dari peti mati. Mayat itu menghampiriku dan membawaku ke alamnya. Mayat itu adalah tuan Gouw. Ya, aku kira itu adalah mimpi. Ternyata mayat tuan Gouw yang membawaku kesini. Tapi sebelumnya setiap ke bangunan kuno, aku merasa jiwaku seperti terlepas. Aku tidak tahu lagi, apakah ini mimpi atau kenyataan. Aku hanya ingin pulang dan berkumpul bersama anak-anakku” Jelasku.


Tuan Lie Kun Lian hanya terdiam mendengarkan.


    “Tahun depan Jepang akan menduduki Indonesia dan menjajah dengan sangat kejam. Banyak dari kita yang akan disiksa dan dibunuh dengan sangat keji. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia akan merdeka setelah Jepang menyerah. Jepang dijatuhi bom atom oleh Amerika di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan di kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Presiden Soekarno akan memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Jepang terlalu jahat. Bukan hanya Indonesia yang dijajah. China dan Korea pun ikut dijajah dengan keji. Setelah Indonesia merdeka, Indonesia masih akan dijajah Belanda. Belanda akan angkat kaki berhenti menjajah Indonesia pada tahun 1949. Tahun 1950 adalah revolusi Indonesia. Tahun itu adalah tahun dimana orang Indonesia merubah penampilan mereka seperti penampilanku dimasa depan tahun 2021. Dimasa depan akan ada televisi. Ada handphone atau kamu lebih mengerti dengan sebutan telepon genggam. Surat pos


tidak begitu berlaku di masa depan. Karena handphone, dunia serasa dalam genggaman tanganmu. Kamu bisa belajar semua ilmu dan mencari tahu tentang penasaranmu lewat jaringan internet di handphone. Kamu bisa mengim pesan dan langsung segera membalasnya lewat handphone. Tidak perlu menunggu beberapa hari


menerima balasan surat. Pesan yang kamu tulis dan kirim langsung sampai saat itu juga. Dan hanya dalam 1 menit, kamu akan menerima balasan suratmu. Bahkan kalau kamu rindu dengan orang yang kamu cintai yang jauh dari matamu, kamu cukup video call. Lewat handphone, kamu bisa melihat wajahnya sedang apa dan dimana dan dia bisa melihatmu juga saat itu. Luar biasa kan?” ceritaku mengalihkan topik pembicaraan.


“Sangat luar biasa. Kalau begitu aku harus bertahan di masa penjajahan Jepang agar bisa merasakan menggunakan handphone!” kata Lie Kun Lian yang senang mendengarkan ceritaku.


“Oh ya, siapa Judi Lie?!” lanjut Lie Kun Lian.


“Entahlah! Mungkin keturunanmu yang akan bereinkarnasi dari rohmu” jawabku.


“Jadi aku akan mati sebelum menikmati handphone?!” canda A Lian.


“Bagaimana aku dimasa depan?” lanjutnya penasaran.


“Dimasa depan kamu adalah sahabat Charles Gouw, suamiku. Dimasa depan kamu diam-diam menyukaiku” jawabku.


“Dari awal aku bertemu denganmu aku sudah menyukaimu. Kamu yang bukan dirimu dimasa depan! Diam-diam aku menyukaimu dibelakang tuan Gouw” kata Lie Kun Lian.


“Rahayu, bagaimana pertama kali aku bertemu denganmu dimasa depan?!” Tanya tuan Lie.


“Emm.. Coba aku ingat ingat.. Pertama kali aku kenalan denganmu itu karena aku dikenalkan oleh sahabat suamiku yang lain yang tak lain adalah tuan Han Kai Li dimasa depan” jawabku.


“Lalu, bagaimana aku dimasa lalu sebelum diriku ini?” tanyaku penasaran.


“Kamu dan aku pernah saling menyukai. Kita selalu saling berbagi kesedihan saat tuan Gouw menyiksa mu..” jawab Lie Kun Lian.


“Tuan Gouw sering memperkosamu dan setiap kali kamu berusaha kabur, anak buah tuan Gouw menangkapmu” cerita Lie Kun Lian.


“Aku melihatnya. Semua ingatan itu masih membekas diingatanku sampai kehidupanku berikutnya. Saat aku kecil aku selalu memimpikannya”


“Tapi tuan Lie, maaf sekali karena aku tidak memiliki rasa untukmu. Di hatiku hanya ada tuan Gouw” cetusku.


“Selamanya aku akan mengganggap kamu sahabatku. Aku akan selalu menyayangimu sebagai sahabatku sampai dikehidupan berikutnya! Aku janji batin kita akan tetap terikat sampai dikehidupan berikutnya!” lanjutku.


“Ceritakanlah bagaimana kehidupanmu dimasa depan?” kata Lie Kun Lian mengalihkan pembicaraan.


“Emm… Dimasa depan aku adalah seorang istri dari Charles Gouw dan ibu 2 orang anak.. Zefanya dan Zeline.. Ayahku bermarga Oei, ibuku bermarga Tan. Aku merindukan kedua anakku..” ceritaku sedih sambil menunduk dan menitikan air mata.


“Sudah.. Jangan dilanjutkan lagi.. Gak seharusnya aku tanya seperti itu!” kata Lie Kun Lian.


“Ngomong-ngomong, kenapa dimasa depan namaku kenapa Judi Lie bukan nama Tionghoa?” lanjut Lie Kun Lian.


“Setelah orde baru, orang Tionghoa dilarang menggunakan nama Tionghoa, jadi kami semua menggunakan nama


barat” jawabku.


   Dari kejauhan tuan Wang menemukan kami berdua. Tuan Wang berjalan berdua dengan Wu Jiang menghampiri kami.


“Tuan Lie, berjanjilah denganku selamanya kita akan menjadi sahabat baik dimasa sekarang maupun dimasa depan?” pintaku lembut.


“Aku janji. Aku akan membawa ikatan persahabatan hingga dikehidupanku selanjutnya” jawab Lie Kun Lian.


   Tuan Wang tiba didekatku. Dia hendak mengajakku berjalan-jalan berdua. Tapi aku menolak. Aku meminta mengajak tuan Lie Kun Lian dan tuan Wu Jiang untuk ikut bersama  kami.


   “Rahayu.. Apakah kamu ada tempat yang ingin kamu datangi?” Tanya tuan Wang.


“Hmmm.. Andai aku bisa ke Lasem..” jawabku.


“Lasem? Ada perlu apa kamu kesana?” Tanya tuan Wang penasaran.


“Ga ada, Tuan. Bagaimana kalau kita jalan-jalan berkeliling di kota Semarang?!” ajak Tuan Wang.


“Lie Kun Lian.. Wu Jiang.. Bisakah kalian tinggalkan kami berdua? Ada yang perlu aku bicarakan dengan Rahayu..” lanjut tuan Wang.


   Setelah Lie Kun Lian dan Wu Jiang meninggalkan kami berdua, tuan Wang mulai berbicara serius denganku.


   “Rahayu.. Jujurlah kepadaku.. Siapa kamu sebenarnya?” Tanya tuan Wang.


“Maksud tuan apa?” kataku berpura-berpura tidak tahu sambil berdiri dan hendak meninggalkan tuan Wang.


“Indonesia?! Dari mana kamu tahu tentang Indonesia?!” tanyanya kepadaku sambil memegang tanganku.


“Aku baca berita, Tuan!” jawabku.


“Bukan itu maksudku.. Kamu tau nama Hindia Belanda akan menjadi Indonesia tahun depan. Bagaimana kamu bisa mengetahui itu?!” Tanya tuan Wang lebih jelas.


“Apakah kamu mata-mata? Atau ….?” Tanya tuan Wang lebih menekanku.


“Bukan semuanya, Tuan! Sebenarnya.. Sebenarnya… Aku.. Aku dari masa depan, Tuan?!” jawabku ketakutan.


“Masa depan? Apa kamu sedang berbohong menutupi kebenaran?”


“Tidak, Tuan! Yang aku katakan adalah benar! Kalau kalau Tuan tidak percaya kepadaku, tuan bisa membawaku ke gereja di dekat Spiegel situ. Aku bisa bersumpah dengan apa yang aku bilang!”


“Baiklah, aku akan membawamu berkeliling ke kota Semarang. Ceritakanlah semua tentang kota Semarang di masa depan” pinta tuan Wang yang masih sedikit percaya.


    Aku masuk kedalam mobil tuan Wang dan berjalan ke Heerenstraat atau kota HollandSemarang.


   “Tuan, kota Semarang sekarang dengan kota Semarang dimasa depan sangatlah berbeda” ceritaku saat dimobil tuan Wang.


Tuan Wang mendengarkanku dengan sedikit senyuman di wajahnya seakan-akan dia ragu untuk percaya ceritaku.


“Kenapa Anda tersenyum, Tuan?” kataku yang duduk disebelah tuan Wang.


“Siapa yang akan percaya dengan cerita seperti itu?” jawab tuan Wang.


   Hampir mendekati gereja Blenduk, aku meminta supir untuk berhenti. Aku turun dan melihat gereja ini.


“Protestanche Kerk?” Tanya tuan Wang.


“Apa itu?” tanyaku balik


“Begitulah orang menyebutnya” jawab tuan Wang.


“Dimasa depan jarang orang modern berbicara bahasa Belanda. Hanya kakek-kakek dan nenek-nenek yang masih menyebut sesuatu dengan bahasa Belanda. Dimasa depan gereja ini disebut dengan gereja Blenduk. Dimasa depan bahasa Inggris akan menjadi bahasa internasional” ceritaku.


“Tuan Wang, boleh aku berjalan-jalan dikota lama? Aku ingin melihat gedung Marba dan gedung Spiegel” lanjutku.


“Kota lama? Apa maksudnya?” Tanya tuan Wang penasaran.


“Dimasa depan, Heerenstraatakan mejadi sejarah dan orang akan menyebutnya kota lama. Kota Semarang akan menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah. Dan dikota ini akan ada banyak sekali orang keturunan Tionghoa” ceritaku sambil berjalan kaki menuju ke gedung Spiegel.


   Tuan Wang menarik tanganku yang berjalan didepannya tepat di depan taman yang sekarang disebut taman Srigunting Semarang.


“Apakah dimasa depan aku akan menjadi suamimu?” Tanya tuan Wang sambil menatap tajam mataku dan masih menggenggam tanganku.


Aku terdiam dan tak tahu harus menjawab apa.


“Harry…” jawabku.


“Harry?” Tanya tuan Wang.


“Dimasa depan namamu adalah Harry. Dimasa depan aku dan tuan Wang akan menjadi sahabat seperti kakak adik. Tapi hubungan kita berubah saat kita saling menyukai. Sejak itu hubungan kita rusak dan kita berpisah” jawabku menunduk sedih mengingat sosok Harry dimasa depan.


“Kamu bohong ya?” Tanya tuan Wang.


“Tadi tuan bertanya seakan-akan percaya. Setelah aku menjawab, dikira bohong. Lebih baik aku diam saja bukan?” kataku sambil melepas genggaman tangan tuan Wang dan meninggalkannya. Tapi tuan Wang berjalan mengikutiku.


   Aku berjalan ke toko tuan Spiegel. Aku berhenti dan bercerita kepada tuan Wang bahwa kelak toko Spiegel akan menjadi café yang sangat indah dan besar.


   Tiba-tiba langit menjadi mendung. Langit mulai gelap. Supir tuan Wang menjemput kami di depan toko tuan Spiegel. Tuan Wang membawa kami pulang ke rumahnya.


                                                ***


   Setibanya di rumah tuan Wang. Kami bergegas masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu terlihat suamiku sedang menungguku bersama  Han Kai Li.


   Langit semakin gelap tapi hujan tak kunjung turun. Petir mulai menyambar menakutkan.


   Beberapa kali petir menyambar disekitar luar rumah. Sedangkan kami semua berkumpul di ruang tamu. Aku, tuan Boen San, tuan Wang, tuan Han Kai Li, tuan Lie Kun Lian dan tuan Wu Jiang.


                                                ***


   Dilain tempat, suamiku Charles sedang duduk tertidur disebelahku di rumah sakit yang berbaring tak sadarkan diri sambil menggenggam tanganku terlihat gelisah. Tiba tiba pingsan dan terjatuh di rumah sakit.


                                                ***


   Kembali ke jaman dulu, saat kilat menyambar depan jendela ruang tamu, suaranya sangat keras hingga membuat kami ketakutan.


Charles muncul secara tiba-tiba di depan kami semua saat kami memejamkan mata ketakutan dengan suara petir tadi.


   Saat kami membuka mata, betapa kagetnya kami ada orang asing dengan baju modern berdiri ditengah-tengah kami.


   “Charles?!” kataku kaget.


“Rose?!” kata Charles.


“Kenapa kamu disini?” Tanya Charles penasaran.


“Harusnya aku yang tanya kok kamu bisa sampe sini gimana caranya? Bawa aku pulang!” jawabku panik.


   Tuan Gouw Boen San melihatku dan Charles saling bergandengan tangan. Terlebih tuan Gouw melihat Charles kaget karena memiliki wajah yang sama persis. Tuan Gouw menghampiriku dan melepaskan gandenganku.


   “Siapa dia?” Tanya tuan Gouw marah.


“Dia Charles! Suamiku dimasa depan! Dia adalah reinkarnasimu kelak!” jawabku.


“Bohong!” sentak tuan Gouw marah.


“Sayang, ayo kita cari cara pulang ke rumah. Anak-anak pasti kesepian tanpa kita!” Pintaku dengan agresif.


“Pegang tanganku. Jangan pernah lepaskan!” jawab Charles.


“Lepaskan tangan Rahayu!” sentak tuan Gouw yang hendak menghampiriku tetapi ditahan oleh Lie Kun Lian.


“Jangan, Tuan! Biarkan Rose kembali ke masa depan. Tempatnya bukan disini!” kata Lie Kun Lian.


“Apa maksudmu?!” kata tuan Gouw penasaran sambil menatap tajam mata Lie Kun Lian.


“Rahayu adalah wanita dari masa depan. Dia harus kembali ketempat asalnya!” jawab tuan Wang.


“Judi, kok kamu disini? Benny! Kamu juga ada disini?” Tanya Charles kepada Lie Kun Lian.


“Judi? Siapa kamu sebenarnya” Tanya Gouw Boen San penasaran dan marah.


“Siapa kamu? Kenapa wajah kita sama?” Tanya Charles kepada Gouw Boen San penasaran.


“Aku bukan, Judi. Aku adalah Lie Kun Lian. Judi adalah reinkarnasiku dimasa depan. Dia adalah Gouw Boen San, kamu adalah reinkarnasi Gouw Boen San dimasa depan. Benny adalah reinkarnasi Han Kai Li dimasa depan. Rose terjebak dimasa lalu dan tidak tahu caranya kembali kemasa depan, Charles” jelas Lie Kun Lian.


   Tiba-tiba kilat menyambar lagi. Charles menghilang. Sedangkan aku hanya jatuh pingsan tak sadarkan diri.