Born Again To Love You

Born Again To Love You
Tuan Gouw Boen San Tewas



   Beberapa jam kemudian, sekitar jam 10, aku tiba di stasiun kota Blora. Aku berjalan berdua bersama Lie Kun Lian menuju rumahku yang aku tidak ingat. Tapi Lie Kun Lian ingat rumah itu.


   Tampak kumpulan tentara Jepang sedangberjalan saat kami berjalan berdua disekitar semak-semak. Lie Kun Lian menarik tanganku untuk bersembunyi. Tapi seorang tentara Jepang berperawakan tinggi,kurus dan matanya yang sipit melihat kami dan dia mengejar kami.


   Lie Kun Lian berlari kencang dan tanpa diasadari, dia melepas tanganku dan meninggalkanku jauh. Sedangkan seorang tentara itu menangkapku dan membekap mulutku dan dia menyembunyikanku.


   Setelah berlari cukup jauh, barulah Lie KunLian menyadari kehilanganku. Dia kembali dan mencariku tapi tidak menemukanku.


   Salah satu prajurit yang tadi membekapku menyuruhku untuk diam dan tidak bersuara sama sekali sambil melototi keduamataku. Dengan nada bicara bahasa Indonesia yang fasih tapi logat campuran China dan Jepang, dia memintaku menunggu disini dan jangan bergerak. Kemudian dia meninggalkanku.


   Lie Kun Lian yang berlari-lari mencariku akhirnya ketahuan oleh para tentara itu. Beberapa tentara yang melihat Lie Kun Lian mengangkat senjata dan ingin menembak Lie Kun Lian. Tapi untung saja,salah seorang prajurit yang menyelamatkanku berdiri tepat di depan senjata para prajurit itu. Tentara-tentara Jepang itupun menurunkan senjata mereka.


“Aku kenal pria itu.Tolong lepaskanlah dia! Dia adalah temanku” kata salah satu tentara Jepang itu.


“Bagaimana kamu bisa mengenalnya? Kamu selama ini hanya menemani tuan Ichiro disampingnya, bagaimana kamu bisa mengenal salah satu penduduk disini?” Tanya tentara yang lain.


“Dia pria keturunanTiong Hoa bernama Lie Kun Lian. Aku mengenalnya saat aku membeli buah-buahan dan dia membantuku membawakannya” jawab tentara Jepang itu.


“Tadashi Kazuo!”sentak tentara itu.


“Kalau kau berani menyentuhnya, aku akan membunuhmu!” jawab tentara yang bernama Tadashi Kazuo.


“Kalian pergi dulu. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Lie Kun Lian” kata Tadashi Kazuo.


   Setelah para tentara Jepang itu pergi, Tadashi mulai berbicara pada Lie Kun Lian. “Kamu mau kemana? Biar aku yang mengantarkan!” kata Tadashi.


“Tunggu, kamu siapa? Aku bahkan tidak pernah mengenalmu apalagi bertemu denganmu tapi bagaimana kamu


bisa tahu namaku?” Tanya Lie Kun Lian.


“Kamu tidak perlu tau siapa aku dan mencari tau tentang bagaimana aku mengenalmu. Ayahku adalah orang


Jepang dan ibuku adalah orang Cina. Aku ditugaskan di Indonesia. Sudah, tidak perlu banyak bicara. Rahayu sedang menunggumu!” jawab Tadashi Kazuo.


“Kamu bahkan tau Rahayu. Sekarang Rahayu dimana?!” Tanya Lie Kun Lian penasaran.


   Tadashi diam tak menggubris Lie Kun Lian dan pergi meninggalkan Lie Kun Lian dan kemudian berjalan menghampiriku.


“Rahayu, kamu baik-baik saja?!” kata Lie Kun Lian yang setelah melihatku berlari menghampiriku.


   “Kalian cepatlah tiba di rumah orang tua Rahayu. Nanti aku akan menjemput kalian disana dan membawa kalian pulang ke rumah Wang Cheng Hai” kata Tadashi Kazuo.


“Kamu mencurigakan sekali! Siapa kamu sebenarnya?” Tanya Lie Kun Lian marah.


“Kamu tidak perlu tahu siapa aku?!” jawab Tadashi ketus sambil mengernyitkan dahinya.


   Lie Kun Lian menarik seragam bagian lengan Tadashi dan memukul wajahnya.


“Apa yang kamu lakukan?!” kata Tadashi dalam bahasa Hong Kong.


“Aku sudah menolong kamu tapi ini balasanmu. Kalau bukan karena Rose, aku tidak akan menolongmu tadi!” lanjut Tadashi keceplosan  .


“Rose?!! Kamu tau nama asli Rahayu?!” Siapa kamu sebenarnya?” Tanya Lie Kun Lian semakin penasaran.


   Tadashi mengeluarkan pistol dan menodongkan ke dahi Lie Kun Lian. Aku yang masih ketakutan segera menghampiri Tadashi dan berdiri tepat di depan Lie Kun Lian. “Jangan tembak Lie Kun Lian!” kataku membelakangi Lie Kun Lian dan berdiri menghadap Tadashi Kazuo sehingga pistol hampir menempel di dahiku.


“Kamu?! Kamu tidak berubah sama sekali!” kata Tadashi marah padaku yang kemudian menurunkan pistolnya dan meninggalkanku dan Lie Kun Lian.


                                                          ***


    Setengah jam kemudian kami tiba di rumah orang tuaku. Rumah joglo dengan halaman luas dan bangsal terbuka disamping kanan kirinya dengan 4 tiang.


“Kulonuwun!” kata Lie Kun Lian dalam bahasa Jawa.


“A Lian, aku tidak bisa mengingat apa-apa. Bagaimana aku bisa ngobrol dengan keluargaku?” tanyaku sembari menunggu orang tuaku keluar rumah.


   Dari dalam rumah ada seorang wanita Jawa elegan yang keluar menyambutku.


“Nak, kowe wes muleh?!” katanya antara senang dan sedih melihatku.


“Pak’eeeee.. Anakmu wes muleh, Pak?!” lanjut ibu ini.


“Kok kowe muleh karo wong liyo? Bojomu endi, Nduk?” Tanya ibu.


“Saya orang kepercayaannya tuan Gouw Boen San. Saya ditugaskan untuk menjaga Rahayu, Bu” jawab Lie Kun Lian.


“Siapa namamu, Nak?” Tanya ibu itu.


“Nama saya Lie Kun Lian. Panggil saja A Lian, Bu” jawab Lie Kun Lian.


   Tak lama bapak tua sekitar umur 55 tahunan keluar dan menyambutku.


“Bu, anak’e dewe wes muleh, Bu?!” Tanya nya seakan-akan tidak percaya kehadiranku.


“Nduk, ayo mlebu yok!” ajak ibuku masuk.


                                                          ***


      Hari menjelang petang, aku membantu ibuku masak dan menyiapkan makan malam setelah aku mandi sore. Kata ibuku, dia menyiapkan makanan kesukaanku. Aku sering memasak itu katanya, tapi aku tidak ingat sama sekali.


   Waktu menunjukan sholat maghrib. Dari kejauhan, bapak mengajakku sholat bersama ibuku. Tapi aku bilang pada bapakku bahwa aku tidak bisa sholat. Bapakku menolehkan kepalanya ke ibuku yang juga mendengarku berbicara.


“Yo iku anake dewe, Bu! Mosok anake tonggone?!” jawab Bapak.


“Tadi ya Rahayu aneh, Pak! Biasane dia suka makan sego lodeh, iki jarene gak doyan sayur lodeh! Aku ngeroso aneh!” balas ibu.


“Wes, Bu! Ora usah mikir aneh-aneh! Mungkin nde’e wes biasa mangan enak lali panganane wong cilik. Wes lah, kene sholat wong 2 wae!” sahut Bapak.


                                                          ***


   Malam hari nya aku tidak bisa tidur, aku memikirkan tuan Gouw Boen San sedang apa dan dimana. Aku keluar kamar dan berjalan-jalan. Aku melihat Lie Kun Lian sedang duduk di bangsal. Aku menghampirinya. Kita mengobrol-ngobrol malam itu. Setidaknya Lie Kun Lian bisa menghiburku malam ini.


                                                          ***


   Dilain tempat, Gouw Boen San malam itu pergi bersama Han Kai Lie berdua.


   Malam itu Gouw Boen San merasa kesepian tanpa Rahayu. Han Kai Li berinisiatif menghibur tuan Gouw Boen San dan mengajaknya jalan-jalan dan minum-minum.


   Hari semakin larut, Han Kai Lie cukup mabuk setelah banyak minum. Tak sengaja dia menabrak tentara yang Jepang sedang bertugas. Gouw Boen San yang sadar dan tidak mabuk sama sekali meminta maaf pada para tentara itu. Diantara para tentara itu ada Tadashi Kazuo yang baru tiba dari Blora.


   Tadashi Kazuo tidak ingin ikut campur masalah tuan Gouw Boen San. Dia menepi dan menyenderkan punggungnya di tembok. Salah satu kakinya ditekuk dan ditempelkan di tembok. Kemudian dia mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menghisapnya setelah dia menyalakan apinya.


   Gouw Boen San, ini adalah takdirmu, aku tidak bisa membantumu,kata Tadashi Kazuo dalam hati setelah dia menghisap rokok dan kemudian mengeluarkannya setelah bergumam.


   Para tentara itu hendak memukuli Han Kai Li tapi Gouw Boen San menolongnya. Gouw Boen San dipukuli habis-habisan malam itu. Sedangkan Han Kai Li kabur meninggalkan Gouw Boen San.


“Tolong, jangan pukuli aku. Aku berjanji pada istriku akan menjemputnya!” kata Gouw Boen San.


“Istri? Selama hidupmu, kamu tidak pernah menjaga Rahayu dengan benar. Dan sekarang kamu bilang seakan-akan kamu mencintainya?” kata Tadashi Kazuo dan mendekat ke Gouw Boen San.


“Siapa kamu? Mengapa kamu mengenal Rahayu?!” Tanya Gouw Boen San.


Tadashi berpamitan dengan para tentara yang lain dan meninggalkan Gouw Boen San dipukuli. Sampai lemas dan berdarah-darah, akhirnya salah satu tentara Jepang itu menembak Gouw Boen San.


   Han Kai Lie berlari pulang ke rumah tuan Wang Cheng Hai dan mengabari tuan Wang Cheng Hai.


   Wang Cheng Hai yang hendak tidur segera keluar kamar setelah mendengar Han Kai Li menjerit ketakutan. Begitu juga dengan Wu Jiang yang sedang duduk di teras rumah.


   “Tuan Wang, tuan Gouw Boen San dipukuli oleh para tentara Jepang itu!” kata Han Kai Li menangis ketakutan.


“Kenapa bisa tuan Gouw Boen San bisa sampai dipukuli tentara Jepang?” Tanya Wang Cheng Hai panik dan agak marah.


“Aku mabuk dan tidak sengaja menabrak tentara Jepang. Mereka marah padaku, tetapi tuan Gouw membantuku tetapi malah dia yang dipukuli.


“Wu Jiang, siapkan mobil, kita kesana sekarang!”


   Tuan Wang Cheng Hai, Wu Jiang dan Han Kai Li pergi menuju tempat kejadian.


   Sekitar 15 menit, mereka tiba di tempat kejadian. Segera tuan Wang Cheng Hai turun setelah Han Kai Li dan Wu Jiang turun. Mereka menemukan Gouw Boen San sudah tidak bernyawa. Han Kai Li menangis terisak-isak di depan mayat Gouw Boen San.


“Segera kirim surat untuk Lie Kun Lian dan kabari tuan Gouw Boen San sudah meninggal” kata tuan Wang Cheng Hai pada Wu Jiang.


                                                ***


   Keesokan paginya, ada seseorang pria Jawa yang datang dari Semarang mencari Lie Kun Lian. Pria itu membawa surat untuk Lie Kun Lian dari Wang Cheng Hai. “Tuan Lie, ada surat dari tuan Wang..” kata pria Jawa itu.


   Lie Kun Lian segera membuka surat itu dan membacanya. Dia lemas dan sedih mendengar sahabat yang paling dia sayangi meninggal. Sahabat sejak mereka kecil. Bermain bersama hingga mereka dewasa. Dia berlari meninggalkan kediaman orang tua Rahayu. Lie Kun Lian berlari sambil menangis seperti anak kecil masih memegangi surat berisi kematian Gouw Boen San. Sampai pada di tengah sawah, dia lelah berlari. Dia menangis sekencang-kencangnya. Dia menjerit.


   Merasa sakit hati pada Han Kai Li, dan menduga kematian Gouw Boen San dikarenakan Han Kai Li, Lie Kun Lian berencana kembali ke Semarang dan ingin meninggalkan Rahayu di rumah orangtuanya.


   Lie Kun Lian kembali ke rumahku dan aku mencari-cari Lie Kun Lian pagi itu, tapi aku tidak tahu dia dimana.


   Saat aku hendak keluar rumah, aku berdiri di depan rumahku dan Lie Kun Lian datang. Dia berlari kencang dan nafasnya terengah-engah. “Kamu pagi-pagi sudah pergi kemana? Aku mencarimu kemana-mana!” marah dan khawatirku pada Lie Kun Lian.


   Lie Kun Lian berhenti berlari di depanku. Masih terengah-engah kemudian dia memelukku kencang dan terdiam. “A Lian, kamu kenapa?” tanyaku khawatir. Lie Kun Lian hanya diam saja tanpa expresi dan sepatah kata apapun.


   Dia melepas pelukanku dan menatap mataku tajam sambil membelai lembut pipiku. Dan mengakhirinya dengan membelai lembut rambutku. Sikapnya membuatku kebingungan dan tidak bisa berkata-kata.


   Tak jauh dari rumahku, Tadashi Kazuo sedang memperhatikan kami. Tanpa ekspresi dia hanya melihat sampai Lie Kun Lian membawa ku ke dalam rumah. Kemudian Tadashi Kazuo menunduk dan pergi meninggalkanku. Entah apa yang dipikirkan Tadashi saat itu.


                                                          ***


   Siang harinya, saat bapak dan ibu sedang tidur siang, aku dan Lie Kun Lian duduk agak berjauhan di bangsal. Kami berbincang-bincang.


“Rahayu?” kata Lie Kun Lian memulai pembicaraan.


“Iya, Ko!” jawabku.


“Bagaimana tentang masa depan?” Tanya Lie Kun Lian.


“Kamu ngomong apa tho, Ko? Masa depan apa? Aku ga ngerti!” jawabku.


Lie Kun Lian mendekati Rahayu. “Rahayu, dengar aku ngomong yaa?!” kata Lie Kun Lian sambil memegang kedua tanganku.


“Rahayu.. Sebenarnya kamu adalah Rose. Tempatmu bukanlah disini. Kamu berasal dari masa depan. Aku tidak tahu kenapa kamu bisa sampai di jaman ini. Akupun tidak tahu caranya memulangkanmu. Kamu pernah bilang bahwa Gouw Boen San adalah suamimu dimasa lalu. Dimasa depan suamimu adalah Charles. Aku, Lie Kun Lian dimasa depan adalah Judi Lie, sahabatmu dan Charles. Kamu sudah 1 tahun lebih disini. Awalnya aku gak percaya dengan ceritamu tentang masa depan. Sekalipun aku mengancammu ingin membunuhmu waktu itu, kamu tetap bercerita tentang masa depan. Kamu bercerita tentang handphone, televisi dan masih banyak hal. Kamu


bercerita padaku tentang aku dimasa depan. Rasanya hidupku luar biasa bertemu denganmu. Rahayu.. Terima kasih yaa.. Di kehidupanku ini, aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu. Ingat janji kita ya, dikehidupan berikutnya kita adalah sahabat!” kata Lie Kun Lian.


   Tiba-tiba saja aku mulai teringat banyak hal yang telah lama tidak bisa aku ingat selama disini. Aku menangis mendengar semua ucapan Lie Kun Lian. Pikiranku sangat kacau. Semua memoriku yang kembali tiba-tiba berputar dan rasanya terbang di pikiranku. Aku tidak kuat menahan sakit kepalaku dan akhirnya aku jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


   Lie Kun Lian menggendongku ke kemarku dan membiarkanku di kasur. Sementara aku masih tidak sadarkan diri, dia menuliskan surat untukku dan dia letakan di meja dekat kasurku. Ini terakhir kalinya aku bertemu dengan Lie Kun Lian.