Born Again To Love You

Born Again To Love You
Sifat Asli Wang Cheng Hai



   Setengah jam kemudian kami sudah tiba di rumah. Lie Hong Yi yang sedari tadi duduk dibelakang memegangiku, menggendongku masuk ke dalam rumah Wang Cheng Hai. Wu Jiang memandu jalan menuju kamarku. Wu Jiang berdiri menunggu di kamarku. Mengawasiku dan Lie Hong Yi. Si Mbok pelayan rumah melihatku pingsan dan digendong oleh Lie Hong Yi.


   Mbok masuk kamarku dan menanyakan pada Wu Jiang tentang aku. Saat itu Lie Hong Yi sedang berkata-kata padaku untuk membangunkanku. Dia mendengar semua pembicaraan Lie Hong Yi padaku. “Nduk, syukur ada laki-laki yang bisa sayang sama kamu kayak gini!” gumamnya terharu.


   “Lao Po! Bangun! Kamu sudah lama pingsan. Bangun, Sayang! Kamu harus kuat. Kita harus segera mengakhiri ini dan kita akan pulang bersama” kata Lie Hong Yi pelan.


   Pelan-pelan mataku terbuka. Kulihat wajah Lie Hong diatas wajahku dan tersenyum. “Kamu sudah bangun? Kamu harus kuat! Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Kita akan jalani ini sama-sama” kata Lie Hong Yi sambil membelai lembut pipiku.


   Wu Jiang yang melihatku terbangun keluar dan memberi tahu tuan Wang Cheng Hai. Wang Cheng Hai segera masuk dan menyuruh si mbok memasakan bubur ayam untukku.


   “Lepaskan tanganmu dari Rahayu!” sentak Wang Cheng Hai yang baru saja masuk kamar. Lie Hong Yi melihat Wang Cheng Hai dengan santai lalu mengabaikannya begitu saja. Dan kembali tersenyum menatapku.


   “Lao Po, aku harus menghadap tuan Ichiro. Kamu jangan sedih lagi. Kamu harus kuat! Aku harus kembali bekerja. Saat aku senggang, aku akan mengunjungimu. Aku akan mengirimi surat. Disini tidak ada LINE atau WhatsApp atau Instagram atau Facebook. Aku pasti akan sangat merindukanmu. Tunggu aku ya? Saat kita bertemu lagi, aku akan memberikanmu banyak cinta, pelukan dan cium untuk melepas semua rasa rinduku padamu!” kata Lie Hong Yi dengan penuh senyum. Ciuman lembutnya mendarat di dahiku. “Wo ai ini” katanya kemudian pergi.


   Lie Hong Yi mendekati Wang Cheng Hai yang sedari tadi memperhatikan kami. “Jaga Rahayu! Dia milikku bukan milikmu. Hubunganmu dan dia hanya sebatas teman. Jadi jagalah hubungan itu!” bisik Lie Hong Yi yang mendekatkan kepalanya ke kepala Wang Cheng Hai kemudian meninggalkan Wang Cheng Hai.


   Wang Cheng Hai mendekatiku. “Kamu sudah tidak apa-apa?” Tanya Wang Cheng Hai. “Aku sudah menyiapkan bubur ayam untukmu. Kita makan dulu ya..?” lanjut kata Wang Cheng Hai.


“Tuan Wang, aku gak sakit parah kok. Hehehe. Tapi terima kasih ya, Tuan Wang?!” jawabku.


“Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan. Aku mendapat mandat dari Gouw Boen San untuk menjagamu.


“Aku panggil ‘Koko’ saja ya?” kataku.


“Aku tidak mau! Maukah kamu menikah denganku? Besok kita adakan  upacara Sangjit” ajak Wang Cheng Hai.


“Menikah? Tuan, maaf sekali. Aku sedang berduka atas meninggalnya suamiku” jawabku menolak secara halus.


“Justru karena ini mandat dari suamimu makanya harus segera dilaksanakan! Aku akan memberikan segala fasilitas dan kekayaan untukmu apabila kamu mau menikah denganku…” paksa tuan Wang Cheng Hai.


“Tuan, tolong..! Aku saat ini butuh waktu untuk menenangkan diriku!” kataku memotong pembicaraannya.


“Rahayu, sudah lama aku menyukaimu. Aku ingin memilikimu sejak lama. Sampai kapan aku harus menunggumu?” tuan Wang Cheng Hai masih memaksaku sambil memegangi tanganku.


“Baiklah, aku akan menikah denganmu” kataku layu sambil memikirkan Lie Hong Yi.


“Baiklah! Besok kita akan menyiapkan upacara Sangjit. Siapa pria Jepang itu?” kata tuan Wang tegas dengan sedikit marah. Aku teringat pesan Lie Hong Yi bahwa namanya disini adalah Tadashi Kazuo.


“Namanya Tadashi Kazuo”


“Bagaimana bisa kamu mengenalnya apalagi bersamanya?”


   Aku tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan hatiku sangat sakit dengan sikap tuan Wang Cheng Hai. Rasanya aku ingin marah tapi aku tidak bisa. Tiba-tiba aku terpikirkan ide untuk menyakitinya.


“Aku sering tidur dengan tuan Tadashi di hotel. Kami sering melakukan hubungan suami istri dengannya. Dan aku ingin punya anak darinya” jawabku menantang.


‘Plaaakkkk!’ tampar tuan Wang Cheng Hai.


“Kamu pasti tidak akan sudi menikahi wanita kotor sepertiku! Aku sangat menikmati berhubungan suami istri dengannya” kataku sambil memegang pipi kananku yang baru saja ditampar oleh tuan wang Cheng Hai.


“Diam!!! Aku tetap akan menikahimu dan membuatmu melahirkan anak-anakku bukan anaknya! Jika kamu mengandung anak Jepang itu, aku akan membuatmu keguguran!!” marah tuan Wang Cheng Hai sambil berteriak.


   Hatiku tiba-tiba merasakan kesakitan yang luar biasa. Air mata menetes dipipiku tanpa expresi sedih. Hanya Gouw Boen San dan Lie Hong Yi yang ada di pikiranku saat ini.


   Masih duduk diatas kasur sambil meluruskan kakiku, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Tiba-tiba saja aku menangis terisak-isak sambil gemetaran dan aku susah menarik nafas dengan benar. Dadaku terasa sakit dan sesak sekali. Tulangku seperti rapuh. Hatiku hancur rasanya. Badanku terasa lemas.


   Semua memori tentang Gouw Boen San berputar dikepalaku. Aku teringat saat Gouw Boen San menciumku. Saat aku, Gouw Boen San dan Lie Kun Lian tertawa bertiga di Lasem. Aku merindukan mereka. Sangat merindukan mereka.


   Si Mbok mengantarkan bubur ayam ke kamarku dan melihatku menangis.


“Nyonya, maaf Mbok lancang tadi mendengar semua percakapan tentara Jepang tadi dan tuan Wang Cheng Hai. Besok Nyonya akan segera dinikahi tuan Wang. Nyonya yakin dengan keputusan Nyonya? Ikuti kata hati Nyonya” kata si Mbok pelan yang duduk di depanku.


“Aku tidak mau menikah dengan tuan Wang Cheng Hai, Mbok. Kalau disuruh memilih, aku memilih menikah dengan tentara Jepang itu” jawabku.


“Tentara Jepang yang tadi maksud Nyonya?” Tanya mbok penasaran.


“Iya, Mbok!”


“Siapa nama tentara itu?” Tanya si Mbok..


“Namanya Tadashi Kazuo, Mbok!”


“Mbok akan bantu Nyonya sebisa mungkin mengabari tuan Tadashi untuk membawa pergi Nyonya bersamanya”


“Benar, Mbok??? Makasih, Mbok!” jawabku dengan wajah haru dan senang.


                                                          ***


   Lie Hong Yi yang sudah di depan pintu gerbang kantor tuan Ichiro turun dari mobil. Tiba-tiba kepalanya sakit. Perasaannya tidak enak. Seperti mual tapi dadanya terasa sesak. “Apa yang terjadi padaku? Apakah aku kecapaian? Atau aku akan kembali ke masa depan? Besok aku harus kembali ke rumah Wang Cheng Hai dan membawa Rose pergi bersamaku sebelum akhirnya aku pulang” kata Lie Hong Yi bergumam.


                                                          ***


   Siang harinya  aku sendirian di rumah. Wang Cheng Hai pergi bersama Wu Jiang mengurus upacara Sangjit dan pernikahan. Mereka memintaku untuk menungguku di rumah. Aku duduk di kursi piano sendirian sambil menatap kaca patri jendela sambil bermandikan cahaya matahari. Hatiku terasa sangat sedih. Aku kesepian. Seakan-akan tidak ada seseorangpun bersamaku. Kutekan tuts piano dan memainkan sebuah lagu.


   Tiba-tiba aku teringat dengan mimpi ini. Mimpi dimana perasaanku sangat sedih dan hatiku sesak. Ada sesuatu yang hilang, begitu perasaanku saat ini, sama persis dengan yang aku mimpikan waktu aku kecil. Aku merasa seorang diri, sendirian dan tanpa siapapun.


   Suara mobil jeep terdengar masuk ke dalam rumah Wang Cheng Hai. Ternyata Lie Hong Yi datang menemuiku sendirian.


“Lao Po, kamu tidak apa-apa kan? Tadi kepalaku sakit, hatiku juga sakit. Dada ku sesak” kata Lie Hong Yi sambil menggandeng tangan Rose dan menatap kedua mata Rose penuh kekhawatiran.


“Tadi hatiku juga sakit dan dadaku sesak. Aku menerima pinangan tuan Wang Cheng Hai. Besok akan diadakan upacara Sangjit” kataku sedih.


“Apa??! Dimana Wang Cheng Hai sekarang? Akan aku bunuh dengan kedua tanganku sendiri!” marah Lie Hong Yi berdiri dan hendak mencari Wang Cheng Hai.


“Lao Gong! Jangan marah! Bawa aku pergi dari sini. Aku tidak mau menikah dengannya tapi aku sudah berjanji padanya untuk menikah dengannya!” kataku sambil memeluk Lie Hong Yi dari belakang.


“Rose, dengarkan aku. Aku akan melakukan segala cara agar kamu tidak menikah dengan Wang Cheng Hai. Aku akan berusaha membawamu pergi meninggalkan tempat ini. Kamu harus percaya padaku bahwa aku sangat mencintaimu. Aku bersumpah atas nama Tuhan bahwa aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menjagamu dengan nyawaku. Aku janji! Apapun yang terjadi, kamu harus percaya padaku!” kata Lie Hong Yi sambil memelukku erat.


   Aku menangis takut berpisah dengan Lie Hong Yi tapi aku bahagia dan tersenyum dengan janjinya. Dia adalah satu-satunya pria yang membuatku tertawa dan menangis sekaligus.


   “Lao Po, aku tidak bisa membawamu pergi sekarang. Aku harus mencari cara tempat untuk menyembunyikanmu. Hotel bukanlah tempat yang aman. Besok pagi aku akan menyelinap ke kamarmu dan membawamu pergi.


                                                          ***


   Dilain pihak Wang Cheng Hai ke kantor tuan Ichiro setelah menyelesaikan urusan upacara Sangjit dan pernikahan besok. Wu Jiang mencari tahu titik kelemahan tuan Ichiro yang gila uang dan suka menghina Lie Hong Yi. Segeralah mereka membuat perjanjian antara tuan Ichiro dan tuan Wang Cheng Hai untuk membunuh Tadashi Kazuo. Wang Cheng Hai berinisiatif menyingkirkan Tadashi Kazuo agar dia bisa menikahi Rahayu.