Born Again To Love You

Born Again To Love You
Tahun 1941 Berlalu Dan Aku Masih di Tahun 1942



   Hari ini 11 Januari 1942, pertama kali bangsa Jepang masuk ke Indonesia. Pada tahun ini pula, nama Hindia Belanda berubah menjadi Indonesia.


   2 bulan sebelum Jepang masuk kepulau Jawa, aku dan Gouw Boen San menikmati hari-hari berdua bersama. Setahun berlalu sejak kedatanganku di dimensi ini, ingatanku tentang Charles, Zefanya dan Zeline mulai memudar. Tidak banyak yang aku ingat tentang masa depan.


   Setiap pagi aku bangun dan pergi jalan-jalan berdua dengan Gouw Boen San. Siang harinya aku di rumah menunggu Gouw Boen San, sementara suamiku pergi bekerja. Kadang tuan Wang memintaku ke rumahnya untuk


memasakan makanan untuknya. Malam harinya, sepulangnya Gouw Boen San kerja, aku dan suamiku pergi berjalan-jalan sebentar.


                                                          ***


   2 bulan kemudian, awal bulan Maret, Jepang masuk kepulau Jawa. Tanggal 8 Maret, Pemerintah Kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia di dudukin oleh Jepang.


   Dengan sangat kejam, Jepang menjajah Indonesia. Banyak dari kami yang tewas terbunuh. Banyak dari kami yang tertipu oleh sikap Jepang. Awalnya kami menyambut Jepang. Karena Jepang berhasil mengusir orang Belanda. Tapi kami salah. Mereka awalnya bermanis lidah tapi pahit dibelakang.


   Banyak pribumi yang dipaksa kerja rodi. Mereka tidak tanggung-tanggung menebas leher orang Indonesia dengan pedang panjang yang sangat tajam yang mereka sebut dengan Katana.


                                                ***


   Suatu kali aku hendak berjalan-jalan ke pasar Johar sendirian dengan menggunakan Baju Kurung dan kebaya. Mendekati terminal bus, Aku melihat beberapa tempat yang tiba-tiba berubah menjadi era modern. Jalan raya


dipenuhi mobil-mobil mewah dan motor-motor. Aku-pun melihat hotel Metro. Aku yang hampir saja tidak mengingat masa depan, seperti orang berhalusinasi dimasa lalu.


   Ditengah jalan seberang terminal bus dekat pasar Johar tiba-tiba aku ketakutan dan menangis. Jantungku berdetak kencang. Aku melihat sekitarku berubah-ubah dari era modern berubah menjadi era penjajahan, dari era penjajahan kembali ke era modern. Terminal bus tiba-tiba berubah menjadi hotel Metro. Aku pusing. Tiba-tiba saja aku jatuh pingsan tak sadarkan diri. Aku terjatuh dan menghilang di era penjajahan. Beruntunglah saat di era modern, aku terjatuh saat lampu lalu lintas baru saja berganti sehingga aku tidak tertabrak.


   Mobil di depanku yang berjalan ke arahku tiba-tiba berhenti mendadak. Seorang pria muda keluar dari mobil sendirian dan menggendongku ke mobilnya dan membawaku ke rumah sakit Telogorejo.


   Saat di rumah sakit, pria itu menghubungi Charles. Belum juga Charles datang, aku siuman terlebih dahulu dan pria yang tadi menolongku masih duduk menemaniku.


   “Lie Kun Lian? Kok aku di rumah sakit? Kenapa kamu pake baju aneh gak seperti biasanya?” tanyaku.


“Lie Kun Lian??!” Tanya Judi penasaran.


“Lie Kun Lian, Gouw Boen San mana? Apa kamu disuruh Gouw Boen San lagi buat jagain aku?” lanjutku tanyaku.


   Aku mencoba duduk dan melihat kaki Judi. Judi menggunakan sepatu kets.


“Kamu siapa?” tanyaku ketakutan.


 “Kamu bukan Lie Kun Lian kan?!” lanjutku menyentak ketakutan.


   Judi memegangi tanganku dengan lembut saat aku berusaha memberontak. Pasien yang lain menatapku. Salah satu orang yang menjaga pasien lain memanggil suster.


“Rose! Ini aku Judi!” jawab Judi tegas.


“Sudah kuduga kamu bukan A Lian! Lepaskan aku! Kamu gak punya hak untuk menjaga ku. Hanya Lie Kun Lian


yang berhak menjagaku. Itu perintah Gouw Boen San!” marahku sambil menatap mata Judi dengan mata lebar.


   Tiba-tiba Charles datang dan memegangiku. Charles kaget melihatku dan memelukku kencang.


“Gouw Boen San, dia bukan Lie Kun Lian. Maafin aku sama pria lain. Dia bilang, dia adalah Judi bukan A Lian!” kataku.


“Siapa kamu? Kamu Rahayu?” Tanya Gouw Boen San menatapku dengan nada sedikit menyentak.


“Charles, jangan keras sama istrimu!” kata Judi menenangkan Charles.


“Charles?” tanyaku heran.


“Jawab aku! Kamu Rahayu?” sentak Charles.


“Kamu bukan Gouw Boen San? Baju mu sama anehnya seperti pria ini! Lepaskan aku!” kataku sambil menunjuk


Judi.


“Rahayu! Aku Gouw Boen San! Ya Aku Gouw Boen San. Pria ini benar Lie Kun Lian” jelas Charles.


“Kalau kamu Gouw Boen San, dimana Han Kai Li? Han Kai Li selalu bersamamu” tanyaku ragu.


“Han Kai Li sedang pergi beli buah!” alibi Gouw Boen San.


“Kenapa bangunan Belanda ini berbeda dengan rumah sakit yang lain?” tanyaku heran.


“Gouw Boen San, bisa kita bicara sebentar diluar?” pinta Judi memaksa.


“Rahayu, kamu tunggu disini yaa? Aku bicara dulu dengan Lie Kun Lian” kata Charles sambil memakaikan jaket parasut berawarna peach pink milikku


   “Charles, jelaske, iki maksude piye?!” Tanya Judi.


“Judi, Rose wes mbalek!” kata Charles bahagia sambil memeluk Judi.


“Kuwe nek ngomong sing jelas tho! Lanang - wedok ora cetho kabeh!” cetus Judi.


“Poko’e, kuwe ngaku dadi Lie Kun Lian sek. Benny kandani kon dadi Han Kai Li sek. Aku Gouw Boen San. Rahayu iku Rose. Wes ngono! Bojoku iku bar muleh teko dimensi masa lalu!” jelas singkat Charles.


“Ayo menjero sek! Rose mesti ijeh syok iki!” ajak Charles.


   Saat aku didalam kamar, sedangkan Charles dan Judi berbincang-bincang, aku melihat orang-orang sedang memegang handphone dan menonton televisi. Aku masih belum sadar juga bahwa aku sudah pulang ke tempat seharusnya aku berada.


   “Gouw Boen San, benda apa itu yang dipegang orang-orang?” tanyaku heran pada Gouw Boen San yang sedang masuk kamar dan berjalan menujuku.


“Oh itu. Itu telepon genggam kita bilangnya handphone!” jawab Charles. Sedangkan Judi merasa aneh dengan pertanyaanku.


“Kenapa di dalam rumah sakit ada bioskop?” tanyaku masih keheranan.


“Itu adalah televisi” kata Charles.


   Tiba-tiba kepalaku sakit sekali. Aku meminta Charles menutup tirai kamar agar tidak dilihat pasien lain karena kepalaku sangat sakit.


Charles dan Judi khawatir. Badanku mulai menghilang. Judi kaget melihatku dan melotot.


“Heh, Les! Awake bojomu kok ngene?!” Tanya Judi kaget ketakutan.


“Rose! Rose!” Panggil Charles.


“Boen San, kepalaku sangat sakit!” kataku kesakitan sambil memejamkan mata sangat kencang.


   Saat sakit kepalaku mulai berkurang, aku membuka mata. Kulihat aku sudah tidur di kasur pasien di era kolonial dengan baju pasien era modern. Sedangkan di era modern aku menghilang tanpa jejak di depan mata Charles dan Judi. Judi kaget dan ketakutan. Sedangkan Charles lemas layu melihatku menghilang.


   “Charles, heh! Ojo medeni aku! Iku ndek mau tenan bojomu opo ora? Kok ngilang ujuk-ujuk?!” (Charles, hey! Jangan nakutin aku! Itu tadi beneran istrimu apa bukan? Kok tiba-tiba menghilang?) Tanya Judi.


“Bojoku mesti mbalek era kolonial penjajahan Belanda!” jawab Charles layu.


“Kuwe ojo ngapusi!” (Kamu jangan bohong!)


“Seminggu yang lalu aku ketemu Rose sing posisi ne masih koma neng rumah sakit. Tapi aku ndelok Rose ning nggon liyane iku sehat! Aku kaget ono kuwe bek Budi. Parahe aku yo kaget ndelok awakku dewe. Jebule aku reinkarnasine Gouw Boen San. Kuwe reinkarnasi ne Lie Kun Lian. Benny reinkarnasine Han Kai Li. Neng kono yo ono Harry barang. Tenan aku kaget’e puwooolll. Jebule aku melintasi waktu ke masa penjajahan Belanda” jelas Charles.


“Wes angel iki urusane!! Terus Rose mulehe piye? Mosok sampe kuwe tuo bojomu ilang? Anak-anakmu piye?” jawab Judi.


                                                     ***


   Saat aku membuka mataku, kulihat semuanya berbeda dengan sebelumnya. Tidak ada Gouw Boen San dan juga Lie Kun Lian. Aku sendirian. Bangunan rumah sakit berbeda dengan yang kulihat tadi.


   “Sus, aku dimana?” tanyaku penasaran.


“Anda sedang berada di Poliklinik Lang Tjhwan Tiong Hoa Ie Wan” jawab suster. Poliklinik Lang Tjhwan Tiong Hoa Ie Wan adalah nama rumah sakit Telogorejo pada tahun tersebut.


                                                          ***


   Malam harinya, Gouw Boen San, Wang Cheng Hai, Lie Kun Lian, Han Kai Li dan Wu Jiang menemukanku.


   Gouw Boen San yang melihatku dari luar kamar segera menghampiriku dan memelukku.


“Kamu kenapa? Aku seharian khawatir mencarimu kemana-mana!” kata Gouw Boen San.


“Justru aku mencarimu yang hilang entah kemana. Tadi siang kamu dan Lie Kun Lian pakai baju aneh banget.


Kamu menemaniku tapi saat aku kesakitan dan saat membuka mataku, kalian berdua menghilang. Aku melihat orang-orang aneh semua tadi siang. Bioskop pun ada di kamar rumah sakit. Aneh kan?” ceritaku.


“Justru bajumu yang sekarang aneh. Baju apa yang kamu pakai ini. Tadi siang aku ….” Bantah Gouw Boen San tiba-tiba dipotong Lie Kun Lian.


   Lie Kun Lian menarik Gouw Boen San keluar kamar dan menjelaskan kecurigaannya.


“Tuan, aku pikir, Rahayu kembali ke masa depan dan kembali kemasa sekarang. Aku curiga dia sudah lupa tentang jati dirinya dari masa depan”.


   Gouw Boen San masuk ke kamar menemuiku.


“Rose?” panggil Gouw Boen San.


“Kamu dari tadi manggil aku Rose terus! Kamu lupa siapa namaku? Tadi Lie Kun Lian juga bilang kalo dia itu Judi. A Lian manggil kamu Charles. Sebenarnya kalian kenapa sih hari ini aneh banget!”


   Lie Kun Lian berbisik pada Gouw Boen San. “Ternyata benar kataku!”


“Kenapa kalian berbisik?” Tanyaku.


“Lie Kun Lian menyuruhku untuk membawamu pulang kerumah” jawab Gouw Boen San.


“Bagaimana kalau sementara kamu tinggal dirumahku dulu sampai keadaanmu membaik?” tawar Wang Cheng Hai.


   Gouw Boen San menatap Lie Kun Lian sambil mengerutkan alis berpikir.


“Baiklah! Untuk sementara izinkan kami tinggal di rumahmu sampai keadaan Rahayu membaik” jawab Gouw Boen


San.


“Aku ga mau! Aku mau pulang!” kataku.


“Tapi aku harus kerja. Siapa yang jaga kamu nanti? Kalau kamu di rumah tuan Wang Cheng Hai, ada pembantu yang akan membantumu” kata Gouw Boen San.


   Aku diam sejenak dan berpikir. Tak lama aku menganggukan kepala seraya mengiyakan.


   Aku berjalan dari kamarku dan keluar rumah sakit dengan mengenakan jaket parasut yang Charles pakaikan tadi. Orang-orang yang berpapasan denganku melihatku aneh.


   Tuan Wang Cheng Hai membawaku pulang ke rumah besarnya. Setibanya aku dirumah tuan Wang. Aku melepas jaketku. Kuletakan jaketku dilantai. Terdengar suara benda keras terbentur lantai.


Aku penasaran dengan benda apa di jaketku itu. Aku membuka saku jaketku dan aku menemukan sebuah handphone seperti yang aku lihat tadi siang di rumah sakit.


   Aku keluar kamar dan mencari Gouw Boen San. Gouw Boen San sedang berbincang-bincang dengan tuan Wang Cheng Hai, Lie Kun Lian, Han Kai Li dan Wu Jiang tentang kepergianku siang tadi.


“Gouw Boen San, apa aku mengganggu?” tanyaku tiba-tiba setibanya di ruangan.


“Ada apa, Rahayu?” Tanya tuan Wang Cheng Hai.


“Apakah benda ini milikmu, Gouw Boen San?” Tanya ku sambil mengangkat dan menggoyangkan handphoneku.


“Apa itu?” Tanya tuan Wang Cheng Hai.


Aku berjalan menuju tuan Wang dan memberikan handphoneku. Lie Kun Lian melihat benda itu dan memikirkan apa nama benda ini sambil mengingat-ingat ceritaku tentang masa depan kala itu.


“Oh ya, itu handphonemilik tuan Gouw Boen San” sahut Lie Kun Lian.


“Hand adalah tangan. Phoneadalah telepon. Jadi ini adalah telepon genggam. Ini adalah alat komunikasi tanpa kabel” jelas Lie Kun Lian.


“Oh ya aku mengerti” kata tuan Wang Cheng Hai.


“Maaf aku kembali ke kamar lagi ya. Kepalaku masih sedikit sakit” kataku.


   Tuan Wang Cheng Hai memberikan handphoneku kepada Gouw Boen San. Tuan Gouw Boen San melihat-lihat handphoneku. Dia kaget dengan teknologi handphone android. Hanya menyentuh sudah bisa berubah gambar. Gouw Boen San membuka galeri handphoneku dan melihat-lihat fotoku bersama Charles dan anak-anak. Tak hanya itu, dia melihat foto Charles dan Judi.


“Apakah itu telepon di masa depan yang pernah diceritakan oleh Rahayu?” Tanya Han Kai Li.


“Sepertinya iya. Tapi benda ini luar biasa. Persis seperti yang diceritakan Rahayu. Dunia seperti dalam genggaman tangan” jawab Lie Kun Lian.


“Seperti inikah kita dimasa depan, A Lian!” cetus Gouw Boen San sambil menunjukan foto mereka pada Lie Kun Lian.


“Ini foto anak-anakku dimasa depan” sambil menggeser slide foto di handphone.


“Tunjukan padaku foto-foto itu. Aku ingin lihat masa depan seperti apa!” pinta tuan Gouw Boen San.


   Sejak itu Gouw Boen San menyimpan handphoneku.


                                                          ***


   Keesokan harinya saat tuan Wang Cheng Hai sedang bekerja. Gouw Boen San mengajakku ke rumah orang tuanya di kota Welahan. Kami pergi hanya berdua. Aku meminta tidak menggunakan mobil. Hanya menggunakan


kereta api.


   Kami tiba di kota Kudus dan ke kota Welahan menggunakan dokar.


Selama perjalanan, Gouw Boen San benar-benar menjagaku. Dia menggandeng tanganku terus.


   Setibanya di kota Welahan, kami berjalan di sebuah gang seperti lorong sempit. Sampai akhirnya di kanan jalan ada sebuah rumah kecil tanpa halaman rumah. Rumah dengan pohon besar disampingnya.


   Kami tiba di rumah itu. Banyak tetangga kami yang menyambut kami dengan begitu bahagia. Gouw Boen San berhenti di depan rumah menyapa tetangga yang menyambutnya. Tapi dia menyuruhku masuk dan mencari ibunya.


   Aku berjalan masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba aku teringat pernah  mengalami ini sebelumnya. Aku terdiam dan mencoba mengingat. Benar saja, aku melihatnya dalam mimpiku saat aku masih kecil.


   Dari dalam rumah, ibu Gouw Boen San menggunakan Baju Kurung dengan rambut dikonde datang menyambutku dengan ramah dan mengandeng lenganku membawaku masuk ke dalam rumah.


   Entah kenapa aku merasa sayang sekali dengan ibu mertuaku. Aku ingin menjaga dan merawatnya.


   Tak lama, Gouw Boen San masuk dan menyapa ibunya. Pertama kali aku melihat Gouw Boen San sebagai dirinya bukan sebagai Charles. Dan aku mencintainya sebagai apa adanya dia.


   “Menantuku, maaf sekali mama belum menyiapkan makanan untuk kalian. Kalian tunggu sebentar ya. Mama akan memasakan kalian sesuatu yang sangat enak” kata mama mertuaku.


“Ma, jangan merasa sungkan. Aku akan membantu mama memasak”. Dan kami memasak. Gouw Boen San pun ikut membantu mamanya memasak. Hari itu aku sangat bahagia menikmati kehidupanku sebagai istri tuan Gouw Boen San. Dikehidupanku dimasa depan, aku mencintai suamiku juga karena dia memiliki hati yang tulus. Sebenarnya aku mencintai 2 orang yang sama. Hanya saja berbeda zaman. Mereka berdua sama-sama keras tapi hatinya tulus mencintai walau lidah mereka tidak bisa mengungkapkan kata cinta.


                                                          ***


   Keesokan harinya kami berdua berjalan kaki bersama dan bergandengan. Kami menuju ke kelenteng Hian Thian Siang Tee di Welahan. Aku menemani tuan Gouw Boen San untuk sembayang disana. Selagi tuan Gouw sembayang, aku berjalan-jalan di dalam kelenteng melihat-lihat.


   Setelah beberapa menit suamiku sembayang, dia menghampiriku dan mengajakku pergi jalan-jalan di kota Welahan.


   Sambil berjalan santai, aku bertanya padanya, “Suamiku, tadi kamu sembayang tentang apa?”.


   Dia menjawab, “Aku meminta kepada Dewa untuk dikehidupan nanti, aku dan kamu akan menjadi pasangan suami-istri lagi. Kita menjadi keluarga yang bahagia dengan anak-anak yang tampan dan cantik. Istriku, aku minta maaf selama ini sudah berlaku kasar padamu. Kalau Dewa memberikanku kesempatan lagi menjadi istrimu, aku akan memperlakukanmu dengan baik dan mencintaimu sepenuh hatiku”.


   Aku menangis mendengarnya berkata seperti itu. Aku hanya menjawabnya, “I love you.. I love you so much!”. Gouw Boen San bertanya mengenai artinya. “Aku mencintaimu. Aku sangat-sangat mencintaimu”, jawabku.


   “Istriku, tunggu sebentar. Aku akan kesana membeli buah” kata Gouw Boen San kemudian meninggalkanku di seberang jalan. Aku tidak memperhatikan jalan dan berjalan dengan santai. Dari belakangku ada seorang pemuda mengendarai sepeda sangat kencang dan menabrakku.


   Aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Kepalaku berdarah terbentur batu. Gouw Boen San kaget dan segera menggendongku dan membawaku ke rumah temannya yang bisa mengobati orang sakit.


   Malam harinya aku tersadar dari apa yang terjadi dan aku mulai tidak mengingat banyak hal.