Born Again To Love You

Born Again To Love You
Tahun 1943. Masuknya Tentara Jepang



   Sekian lama kami tinggal di rumah besar tuan Wang Cheng Hai, kami memutuskan untuk pulang kembali ke rumah kami dan meninggalkan rumah besar tuan Wang Cheng Hai.


   Malam hari kami berkumpul untuk berpamitan dengan tuan Wang. Mendengar itu tuan Wang yang sudah terbiasa bersama kami merasa sedih.


   “Tuan Wang, sudah terlalu lama kami disini. Kalau terlalu lama kami disini, bukankah tidak pantas kami menumpang terlalu lama. Melihat keadaan Rahayu sudah membaik, sebaiknya kami kembali ke rumah kami”. Mulai percakapan Gouw Boen San.


“Buat aku, kalian disini itu sangatlah sebentar. Andai kalian bisa lebih lama disini. Tapi kalau itu keinginan kalian, apa boleh buat. Aku hanya bisa mengijinkan dan tidak bisa memaksa” jawab tuan Wang.


“Terima kasih, Tuan Wang untuk bantuan Anda selama ini. Terima kasih atas segala perhatian Anda kepada istriku dan aku. Tanpa Anda, kami tidak tahu harus bagaimana”. Balas Gouw Boen San.


“Tuan Wang Cheng Hai, terima kasih atas bantuan dan perhatian Anda selama ini!” kata ku.


“Walaupun kalian sudah pulang, tapi kalian harus tetap sering main ke rumahku. Kalau kalian membutuhkan sesuatu, jangan ragu meminta tolong padaku!” kata tuan Wang Cheng Hai.


                                                   ***


   Pagi hari sekitar pukul jam 9, kami berpamitan pada tuan Wang Cheng Hai yang berdiri di teras rumah hendak


mengantar kepergian kami.


   Setelah bersalaman, kami berjalan menuju pagar rumah. Tiba-tiba opsir Bao Jia datang dan memberi kabar bahwa sebaiknya kami bersembunyi. Banyak tentara Jepang berkeliling. Banyak wanita muda yang ditangkap dan dijadikan Jugun Ianfu.


   Baru saja sekitar 5 menit opsir Bao Jia keluar memberikan informasi, ada 5 tentara Jepang beserta pemimpin pasukan mereka memaksa masuk ke rumah tuan Wang Cheng Hai. Kami yang duduk dan ada yang berdiri di teras karena ketakutan tiba-tiba berdiri panic ketakutan.


   “Apa benar ini kediaman Tuan Wang Cheng Hai?” kata pemimpin tentara Jepang itu yang berlagak sombong.


Aku melihat salah satu tentara Jepang itu. Wajahnya tampan dan dia sedikit menunduk.


   Dengan sedikit berani tuan Wang Cheng Hai maju dan menjawab pertanyaan pemimpin itu.


“Benar, saya Wang Cheng Hai!”


“Sebaiknya kamu menghadap ke kantor pusat untuk bertemu dengan atasan kami!” kata pemimpin tentara Jepang itu.


“Aku melihat sesuatu yang berbeda disini! Sangat menarik!” lanjut kata pemimpin tentara itu sambil menatap tajam mataku dan senyum sinis.


“Baiklah! Besok aku minta kamu dan kamu menghadap ke atasanku! Kata orang Jepang itu sambil menunjuk Wang Cheng Hai dan Gouw Boen San.


                                                          ***


   Malam harinya kami berkumpul lagi untuk merencanakan sesuatu yang tidak aku ketahui. Diam-diam dibelakangku, Wang Cheng Hai dan Gouw Boen San berdiskusi untuk menyembunyikanku.


“Gouw Boen San, aku merasa pemimpin Jepang tadi punya niat tidak baik pada Rahayu!” ucap tuan Wang


Cheng Hai.


   Gouw Boen San diam dan memikirkan kata-kata tuan Wang Cheng Hai.


“Lie Kun Lian, selama ini aku sudah terlalu percaya sama kamu. Bereskan bajumu. Pergilah! Bawa istriku pergi pulang ke kampung halamannya. Jaga istriku dari Nipon-Nipon itu! Lindungi istriku!” kata Gouw Boen San.


“Gouw Boen San! Tidak pantas bila Rahayu pergi bersamaku” kata Lie Kun Lian.


   Gouw Boen San memberikan handphoneku dengan wajah sedih.


“Handphone ini adalah milikmu. Barang ini yang kamu bawa dari masa depan. Tempatmu seharusnya bukan


disini, tapi dimasa depan. Kamu pergilah pulang. Bersembunyilah kamu di rumah ayah ibumu. Aku janji akan menjemputmu secepatnya. Tunggu aku ya?!” kata Gouw Boen San sambil mengusap air matanya seakan-akan dia tahu itu kali terakhir bersamaku.


                                                   ***


   Keesokan paginya sekitar pukul 4 subuh, aku dan Lie Kun Lian pergi meninggalkan kediaman Tuan Wang Cheng Hai. Itu terakhir kalinya aku melihat Gouw Boen San.


   Aku berjalan mendekati pagar rumah dengan Lie Kun Lian. Kutengok kebelakang, suamiku, Gouw Boen San sedang melambaikan tangan kepadaku dengan wajah penuh senyum.


   Aku berlari kedalam rumah dan menghampiri Gouw Boen San. Aku menyandarkan pipi kiriku ke dadanya dan memeluknya sangat kencang sambil menangis. Aku tau dia berpura-pura senang saat itu, padahal


dalam hati kecilnya dia menangis. Dia melepaskan pelukanku dan memegang lembut pipiku sambil berkata, “Pergilah dengan selamat. Kalau Indonesia sudah selesai dijajah Jepang, pulanglah kemari. Aku akan menjemputmu disana!”


   Lie Kun Lian masuk ke dalam dan memegang kedua pundakku lembut dan menarikku pelan mundur dan mengajakku meninggalkan Gouw Boen San.


                                                          ***


   Sekitar jam setengah 6 pagi, saat kami hendak naik kereta api, kami melihat beberapa tentara Jepang sedang patrol. Lie Kun Lian membawaku menjauh bersembunyi dari para tentara Jepang itu.


   Setelah para tentara pergi, sambil memegang pergelangan tanganku, Lie Kun Lian dengan cepat membawaku masuk ke dalam kereta api. Dan syukurlah kami masuk dalam kereta api dengan aman dan selamat.


   Kami duduk di kursi tengah. Aku duduk di sebelah jendela. Dan Lie Kun Lian duduk di sebelahku. Aku terdiam memandang jendela sambil memikirkan Gouw Boen San. Tiba-tiba aku teringat tentang handphone yang diberikan oleh Gouw Boen San.


   Aku mengambil dari tasku dan melihat benda aneh itu. Aku membolak-balik. Aku merasa seperti pernah melihat benda ini. Ada 1 bulatan di belakang handphone. Iseng saja aku menekan tombol itu. Dan benar saja, layar handphone terbuka dan menyala.


   Aku menekan layar handphone itu dan melihat-lihat. Sebuah kejanggalan mulai terasa saat aku melihat wallpaper


handphone itu. Ada gambar dimana aku bersama Gouw Boen San dan 2 anak kecil. Semakin penasaran aku, semakin aku buka lagi setiap bagian di handphone itu.


   Betapa terkejutnya aku saat aku membuka gallery foto. Aku melihat banyak sekali fotoku dengan Gouw Boen San dan foto anak-anak. Tapi latar belakang tempatnya berbeda dengan zaman sekarang.


“A Lian, siapa ini?” tanyaku penasaran.


“Itu adalah kamu dengan Charles” Jawab Lie Kun Lian.


“Charles? Kamu ini kenapa cerita aneh. Aku bahkan tidak mengenal Charles, bagaimana aku bisa bersama dia” jawabku sedikit tertawa mendengar jawaban Lie Kun Lian yang menurutku lelucon.


“Rahayu, dengarkan aku! Kamu adalah Rose! Wanita dari masa depan. Aku tidak tahu bagaimana caranya kamu bisa sampai ke masa ini. Tapi kamu disini sudah setahun. Akupun tidak tahu kamu kenapa bisa tidak ingat tentang siapa dirimu sebenarnya” Jelas Lie Kun Lian.


“A Lian, stop! Kalau kamu tidak tahu bagaimana aku bisa datang ke masa ini, bagaimana kamu bisa tau kalau aku dari masa depan. Itu sudah nggak masuk akal!” Bantahku.


“Kamu selalu cerita tentang masa depan seperti apa. Tentang handphone, televisi, mesin pendingin ruangan dan beberapa teknologi canggih dimasa depan. Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi entah apa yang membuatku percaya setiap kata-katamu. Saat aku menyatakan cinta padamu, kamu menolakku dan memintaku menjadi sahabatmu baik di kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Sampai suatu kali hujan lebat turun. Petir menggelegar. Tiba-tiba lampu mati dan ditengah-tengah kami datanglah seseorang yang mirip sekali dengan Gouw Boen San. Dan lampu menyala. Aku melihat ada 2 tuan Gouw Boen San. Tapi tuan Gouw Boen San yang baru datang itu menggunakan baju yang berbeda dengan kami. Dia memelukmu kencang dan mengajakmu pulang. Dia bilang katanya anak-anak menunggumu. Aku bisa melihat kalian sangat mencintai dimasa depan. Saat Charles hendak membawamu pulang. Tuan Gouw marah dan memisahkan kalian. Dan aku melarang tuan Gouw mengganggu kalian. Pada akhirnya, kilat menyambar kencang disekitar rumah dan Charles menghilang dan kamu  pingsan”.


   Aku terdiam mendengarkan cerita Lie Kun Lian. Dan kembali melihat isi gallery di handphone. Aku melihat foto-foto Zefanya dan Zeline. Aku melihat foto berdua dengan Charles terlihat begitu mesra.


   Setelah merasa bosan melihat handphone, aku menyimpan handphoneku dan melihat ke jendela.