Born Again To Love You

Born Again To Love You
Bercerita Tentang Masa Depan yang Belum Aku Lalui



Semalaman kami mengobrol. Lie Hong Yi yang asalnya galak, ketus, menakutkan dan menyebalkan, malam ini terasa sangat nyaman, lembut dan sopan.


   “Lao Gong, apakah dimasa depan aku adalah istri yang menyebalkan dan cerewet?” tanyaku memulai obrolan.


“Sangat cerewet dan banyak ngomel!” jawab Lie Hong Yi.


“Tahun berapa kita bertemu pertama kali?” tanyaku.


“Sabtu, 9 Juli 2022, kamu mengirimiku pesan bahwa kamu mau ke Australia karena ada urusan penting disana. Kamu bertanya, apakah kamu mau bertemu denganku. Aku menjawab tidak mau. Tapi kamu meminta bantuanku jika saat kamu di Sydney butuh sesuatu, kamu akan menghubungiku. Lalu aku mengiyakan.


Senin, 11 Juli 2022, kamu kirim pesan bahwa kamu sudah tiba di Paddington, Sydney. Kamu memberi tahu


hotel dimana kamu menginap dan nomor kamarmu. Tentu saja aku penasaran denganmu. Aku yang penasaran denganmu membalas chatmu dan menanyakan kegiatanmu hari itu di Sydney. Kamu bilang akan pergi pagi itu jalan-jalan di sekitar Sydney. Segera aku bersiap-siap, tapi temanku, Lin Xuan meneleponku mengajakku pergi. Saat itu aku berpikiran bahwa aku ingin mengerjaimu. Aku menyuruh Lin Xuan mengikutimu dan menggodamu. Apakah kamu akan jatuh cinta dengannya atau tidak.


Tak lama kami berdua tiba di hotel tempat kamu menginap. Aku melihat kamu hendak keluar hotel lalu aku bersembunyi. Lin Xuan dengan penampilan tampan dan gagah juga mewah berpura-pura menabrakmu. Lalu berpura-pura meminta maaf.


Kamu berdiri di depan hotel menunggu taksi, tapi Lin Xuan berhenti di depanmu dengan mobil mahalnya. Dia


menawarkan tumpangan untukmu tapi kamu menolaknya. Dan kamu naik taksi yang barusan berhenti di belakang mobil Lin Xuan. Aku berlari dan masuk ke kursi belakang mobil Lin Xuan dan kami mengikutimu. Sepanjang perjalanan Lin Xuan penasaran dengan kamu. Aku bercerita padanya bahwa aku berkenalan denganmu dan aku jatuh cinta padamu saat melihat fotomu pertama kali. Lin Xuan bilang katanya kamu sepertinya wanita yang tidak mudah tergoda pria.


Sampai pada akhirnya kamu tiba di Circular Quay. Kamu berjalan-jalan disana sendirian. Aku pikir kamu ada urusan mendesak di Australia. Tapi aku tau kamu hanya membohongiku kamu supaya bertemu denganku” cerita Lie Hong Yi yang duduk di sebelahku.


“Oh ya?! Lanjutkan ceritanya!” kataku serius mendengarkan Lie Hong Yi.


“Saat kamu berjalan sendirian, kamu pergi membeli makanan, Lin Xuan datang menghampirimu dan ingin mentraktirmu tapi kamu malah marah dan mengusir Lin Xuan. Lin Xuan bilang dia seperti dianggap pria cabul olehmu dan tak mau bermain-main lagi.


Setelah kamu makan, kamu berjalan lagi sendirian dan kamu ditabrak anak kecil yang sedang berlarian dengan temannya. Anak kecil itu terjatuh dan menangis. Padahal kamu juga terjatuh dan terluka. Tapi kamu malah menolong anak itu dan kamu meminta maaf pada orang tuanya. Dasar bodoh! Dia yang salah tapi kamu yang meminta maaf. Kamu selalu minta maaf pada siapapun entah kamu salah atau benar. Orang tua anak itu memaki-makimu, tapi kamu terus meminta maaf. Lin Xuan dan aku yang bersembunyi di belakangmu merasa kasihan padamu. Entah apa yang ada di pikiranku, aku segera menghampirimu dan memelukmu dan memarahi orang tua anak itu. Aku bilang bahwa anaknya yang salah. Berlari-lari sendiri kemudian menabrak orang dan yang disalahkan adalah istri saya” lanjut cerita Lie Hong Yi.


“Istriku? Kamu dari awal sudah menyebutku sebagai istrimu? Apakah kamu memperlakukan semua wanita sebagai istrimu?” tanyaku sebal.


Lie Hong Yi diam tidak menjawab dan hanya melanjutkan ceritanya.


“Saat aku memelukmu, kamu kaget melihatku. Kamu langsung mengenaliku. Aku masih ingat betul wajahmu saat


itu. Sangat bahagia, penuh senyum tapi tiba-tiba kamu meneteskan air mata sambil tersenyum. Bagaimana bisa sebuah wajah mempunyai 2 emosi? Wajah atas bersedih dan wajah bawahnya tersenyum. Aku tidak bisa memahamimu. Lalu kamu bilang, di dunia ini hanya Lie Hong Yi yang bisa membuatku tertawa dan menagis saat bersamaan. Expresi wajahmu sangat berbeda saat bertemu dengan Lin Xuan.


Lin Xuan mendatangiku saat sedang bersamamu. Kamu marah-marah karena merasa diikuti olehnya dari tadi di hotel. Lalu Lin Xuan bilang bahwa disuruh olehku untuk mengerjaimu. Saat itu kamu marah dan meninggalkanku.


Aku mengejarmu tapi kamu terus marah. Kamu pulang ke hotel dan aku mengejarmu ke hotel. Aku menunggumu


di lobi hotel cukup lama. Lin Xuan pulang. Hanya aku sendirian di hotel. Sore harinya kamu hendak meninggalkan hotel. Kamu melihatku sedang duduk di loby tapi kamu mengabaikanku dan tetap berjalan keluar hotel. Aku yang melihatmu segera berdiri dan menghampirimu. Aku menarik tanganmu dan membawamu ke mobilku. Aku membukakan pintu mobil dan memaksamu masuk ke dalam mobilku. Aku membawamu pergi ke Darling Harbour. Sore itu kita berjalan-jalan. Kamu kelihatan cantik waktu itu. Malamnya itu kita duduk dipinggir laut berdua. Malam itu juga aku menyatakan cinta padamu. Aku bilang padamu bahwa aku menyukaimu. Dengan wajah haru kamu menatap kedua mataku. Aku mengecup bibirmu dan kamu masih menatap tajam kedua mataku. Aku mencium dengan lembut bibirmu. Kamu memejamkan mata dan kita berciuman cukup lama. Setelah itu aku memelukmu erat. Aku anggap kita berpacaran tanpa kamu berkata bahwa kamu mencintaiku. Aku percaya kamu mencintaiku karena kamu berjuang sejauh ini mengejarku hingga ke Sydney.


Aku bahagia saat kamu di Australia menemaniku. Saat aku bekerja, kamu menemaniku, memasakan makanan


untukku, merawatku.


Pada hari Kamis aku mengajakmu candle light dinner di Infinity di Sydney Tower. Malam itu aku melamarmu secara resmi sebagai istriku. Dan kamu menerima lamaranku. Kamu ingin menikah denganku saat Zefanya dan Zeline menerimaku sebagai papa nya. Jadi, kuputuskan untuk tinggal di Indonesia beberapa waktu. Hari Minggu kita berdua berangkat ke Indonesia dan aku membeli rumah mewah di Semarang. 1 tahun kemudian kita menikah. Kita sering pergi berempat ke Sydney dan kadang menemaniku pulang ke Hong Kong. Dan sekarang kamu hamil, kita tidak bisa kemana-kemana. Saat ini kita berempat sedang tinggal di Hong Kong. Kita berencana melahirkan anak kita di Hong Kong” cerita lengkap Lie Hong Yi.


   Aku mulai lelah tapi penasaran karena mendengarkan cerita Lie Hong Yi. Aku tiduran di bantal. Begitu juga dengan Lie Hong Yi tiduran di bantal sebelahku. Kami tiduran saling menatap dan aku masih ingin mendengarkan ceritanya. “Lalu bagaimana kamu bisa kesini?” Tanyaku penasaran.


tidak menemukanmu. Lalu aku terbangun dari mimpiku. Aku memikirkan mimpi itu berhari-hari. Akhirnya aku berdoa di kuil Wong Tai Sin di Hong Kong. Konon katanya, Kuil Wong Tai Sin dikenal sebagai tempat di mana setiap permohonan akan menjadi kenyataan.Saat keluar dari pintu, ada seorang biksu tua yang datang padaku dan dia berkata, apa yang kamu lihat adalah benar-benar terjadi. Pergilah, selamatkanlah istrimu. Jika tidak, istrimu yang sekarang tidak akan berumur panjang. Tidak perlu takut kematian. Ini sudah kehendak langit, kalian sudah ditakdirkan bersama hingga kalian berdua tua nanti. Kematian di masa lalu hanya sekali. Dimasa depan juga sekali. Pergunakan waktu dengan baik. Berhati-hatilah dengan apa yang kamu lakukan. Kesempatanmu hanya sekali. Malam harinya saat aku tertidur, aku sudah ada di jaman ini bersamamu” jawab Lie Hong Yi.


    “Jadi intinya kita berdua terjebak di masa lalu. Kamu dari masa depan yang lebih jauh daripada jamanku?” tanyaku.


“Sekarang apa yang sedang kamu alami di masamu?” Tanya Lie Hong Yi.


“Aku terlalu lelah bekerja lalu aku jatuh tidak sadarkan diri. Aku dirawat di rumah sakit cukup lama” jawabku.


“Tahun depan kita akan bertemu dan berpacaran” jawab Lie Hong Yi.


“Gak mungkin! Charles masih sehat dan dia masih hidup” jawabku.


“Aku lelah. Aku mau tidur!” kata Lie Hong Yi menutup obrolan ketus.


                                                          ***


   Keesokan paginya, aku masih terbangun dulu. Aku hendak ke toilet tapi kakiku masih terasa sakit. Aku berjalan pelan-pelan dan agak sedikit pincang. Tapi jarak toilet dan kasur agak jauh. Jadi aku terjatuh di lantai. Lie Hong Yi yang mendengar jeritanku langsung terbangun.


“Rose, kamu gak apa-apa? Kamu mau kemana? Harusnya kamu bangunin aku!” kata Lie Hong Yi yang masih emosi pagi.


“Aku mau kencing. Masa iya bangunin kamu?” jawabku sengak.


   Lie Hong Yi menggendongku dan membawaku ke kamar mandi. “Bisa kencing sendiri kan?” Tanya Lie Hong Yi serius.


“Bisa kok!” jawabku santai. Lie Hong Yi keluar kamar mandi dan menungguku di depan kamar mandi.


“Kalau sudah selesai, biar aku aja yang siram toiletnya. Kamu keluar kamar mandi dulu” kata Lie Hong Yi di depan pintu.


“Kamu sopan sekali jadi suamiku. Sudah tau kita suami istri, tapi kamu tidak menyentuhku, tapi kamu menghormati permintaanku” jawabku keras.


“Sudahlah cepat kencingnya. Atau kamu mau mandi sekarang? Bisa buka baju apa gak? Mau aku bantuin ga?” Tanya Lie Hong Yi.


“Ya sudah aku mandi aja sekalian!” jawabku.


“Kamu lagi apa? Sudah pake celana apa belom?” Tanya Lie Hong Yi.


“Sudah!”


   Lie Hong Yi membuka pintu terburu-buru dan segera dia membuka celananya dan kencing membelakangiku.


“Lie Hong Yi! Jorok kamu!” sentakku.


“Jorok apanya?! Aku ini kebelet pipis dari tadi. Kalau kamu malu diliat aku ya aku hargai, tapi aku sudah tidak ada malu denganmu. Lagian aku suamimu, sudah terbiasa hal seperti ini!” jawab Lie Hong Yi santai.


“Kamu bisa mandi sendiri apa ga? Kalau kesusahan kamu panggil aku!” lanjut katanya.


   20 menit kemudian aku selesai mandi. Aku memanggil Lie Hong Yi untuk membantuku berjalan keluar kamar mandi. Setelah itu gantian Lie Hong Yi mandi. Dan setelah itu kita check out dari kamar dan pergi sarapan berdua.