
Saat kubuka mataku, aku sedang tertidur di sebuah ruangan yang samar-samar pernah kulihat. Atap dengan genting tanpa enternit. Jendela jeruji besi seperti penjara di tembok atas kepalaku. Dari jendela itu cahaya pagi masuk kedalam kamar yang gelap tanpa lampu. Aku merasa seperti pernah mengalami ini. Kuingat ini terjadi dimimpiku saat aku masih usia 3 tahun.
Aku berpikir lagi, kenapa aku bisa disini. Aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Baju yang kukenakan juga berbeda dengan baju yang sebelumnya kupakai.
Aku duduk di tempat tidur dipan kayu jati kuno antik dan mengingat apa yang terjadi. Seorang pria membuka tirai kamar dan masuk. Wajahnya persis dengan mayat ketiga yang menarikku. Tapi setelah kuperhatikan cukup lama. Wajahnya sangat mirip dengan suamiku.Matanya begitu sipit dan kulitnya putih.
“Tuan Gouw Boen San!” panggil seorang anak buah pria berwajah mirip dengan sahabat suamiku.
“Ada apa, Lie Kun Lian?” tanya Gouw Boen San.
“Aku hanya mengingatkan kalau nanti ada pertemuan dengan opsir Bao Jia. Sebaiknya apa yang harus kita bawa, Tuan?” tanya Lie Kun Lian.
“Rahayu, bangun dan masakan sesuatu yang enak untuk opsir Bao Jia!” perintah Gouw Boen San dengan nada tinggi sambil menoleh ke samping seraya berbicara pada Rahayu yang ada dibelakangnya sedangkan badannya masih menghadap Lie Kun Lian.
Dalam hati aku bertanya-tanya, “Rahayu? Itu aku?”.
“Tuan, aku ada dimana?” tanyaku kebingungan.
“Memangnya dimana lagi kalau bukan dirumahku!!!” sentak Gouw Boen San. Lie Kun Lian menatapku
kasihan.
Aku bangun dan keluar kamar. Kulihat rumah Gouw Boen San kotor dan berantakan. Tembok dengan batu bata merah yang di cat putih. Atap hanyalah genting-genting saja. Aku berjalan melihat barang-barang yang sudah kuno menurutku. Tapi seorang pria menghadangku dan berkata, “Kamu bukannya segera masak, malah bingung sendiri!”.
“Tunggu! Maaf, hari ini tanggal berapa?” tanyaku masih kebingungan.
“Hari ini hari Selasa tanggal 11 Agustus1941” jawab Han Kai Li.
“Hari ini tahun 1941?” Aku kaget dan bingung.
“Kenapa kamu kaget? Sikapmu tidak seperti biasanya!” lanjut Han Kai Li
“Koh, sekarang aku dimana? Maksudku, aku ada di kota apa?” tanyaku masih penasaran.
“Baru pertama kali aku lihat kamu banyak bicara seperti ini. Biasanya kamu diam dan penuh ketakutan! Kita
ada di kota Semarang” kata Han Kai Li.
Disisi lain, dibalik tembok tak jauh dariku, Lie Kun Lian sedang menguping pembicaraanku dengan Han Kai Li. Lie Kun Lian memang orang yang paling dipercayai Goei Boen San, tapi aku curiga Lie Kun Lian punya maksud lain.
Setelah Han Kai Li pergi melanjutkan tugasnya, aku bergumam sendiri. Aku tak menyadari bahwa Lie Kun Lian diam-diam masih memperhatikanku dari balik tembok tanpa sepengetahuanku.
“Aku ini masih mimpi ya? Ini persis yang aku lihat di mimpiku waktu kecil”. Lalu aku menampar wajahku beberapa kali. Aku merasa kesakitan.
“Aku merasa kesakitan. Ini bukan mimpi. Aku benar-benar di tahun 1941. Bagaimana keadaan suamiku, Charles dan anak-anakku sekarang? Tuhan, aku mau pulang ke tahun 2021!” lanjutku bingung dan takut.
Lie Kun Lian yang memperhatikan dari tadi langsung menyergapku.
“Siapa kamu sebenarnya?!” tanya Lie Kun Lian dengan suara pelan sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tapi tangan kanannya memegang belati yang siap ditusukkan ke perutku.
“Aaa... Aaa... Akkkuuu.. Akuu Rahayu!” jawabku ketakutan.
“Bohong! Kamu bilang tadi sudah punya suami dan anak-anak?!” lanjut Lie Kun Lian marah.
“Sikapmu bukan seperti Rahayu seperti biasanya! Aku tau betul Rahayu seperti apa! Kamu bilang kamu dari tahun 2021?” tanya Lie Kun Lian penasaran.
“Kalau aku cerita kebenarannya, kamu tidak akan percaya. Aku sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi padaku! Aku memang dari tahun 2021. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sampai ditahun 1941” ceritaku bingung.
Aku menghela nafas dan melanjutkan ceritaku. “Tuanmu, Gouw Boen San adalah suamiku di masa depan. Tapi tuanmu sangat bengis, sangat berbeda dengan suamiku dimasa depan yang sangat mencintaiku”.
“Ceritamu tidak masuk akal! Kamu bohong supaya bisa kabur kan?!” marah Lie Kun Lian.
“Buat apa aku bohong! Apa kamu perlu bukti kalau aku dari masa depan?!” jawabku.
Tuan Gouw Boen San masuk ke dalam rumah. Lie Kun Lian menarikku keluar menghindari Gouw Boen San.
“Kita lanjut pembicaraan kita kapan-kapan!” bisik Lie Kun Lian.
“Rahayuuuuu! Panggil Tuan Gouw Boen San. Segera aku masuk ke dalam menemui suamiku dimasa lalu.
“Sudah jadi apa belum masakan untuk opsir Bao Jia?” belum Tuan.
Tuan Gouw Boen San menampar kerasku dan marah. Aku kaget dengan sikap kasarnya.
Aku diam dan menahan sakit hatiku. Aku bertanya-tanya dalam hatiku, apakah ini penyebabnya aku berkali-kali ingin kabur dari tempat ini?
“Kenapa diam saja?! Masih tidak mau masak?” sentak tuan Gouw Boen San.
Aku terdiam dan memperhatikan mata tuan Gouw Boen San. Aku begitu merindukan suamiku yang mencintaiku. Aku berjalan menuju tuan Gouw Boen San dan memeluknya erat. Kulingkarkan kedua tanganku di badannya. Kusandarkan kepalaku didadanya.
“Izinkan aku seperti ini sebentar, Tuan!” kataku saat tuan Gouw Boen San ingin melepas pelukanku. Aku menitikan air mataku merindukan suamiku. Tuan Gouw Boen San terdiam heran.
Sekitar 2 menit aku memeluknya, aku melepaskan badannya dan mengelap air mata di wajahku kemudian aku pergi memasak makanan untuk opsir Bao Jia tanpa melihat wajah Gouw Boen San. Tuan Gouw Boen San masih diam dan melihatku.
***
Malam harinya, aku sendirian di rumah menunggu suamiku. Gouw Boen San pergi bersama beberapa orang kepercayaannya, Lie Kun Lian, Han Kai Li dan beberapa orang kepercayaannya yang lain. Rasanya bosan sekali tidak ada Handphone, Laptop, Facebook, Instagram, Youtube. Apa bedanya aku sama anjing yang dikurung dalam kandang? Kenapa aku tidak bisa keluar? Aku harus mengambil hati tuan Gouw Boen San supaya dia mau mengajakku keluar rumah.
Aku masuk ke dalam kamar dan mencoba tertidur tapi aku merindukan suamiku dan anak-anakku. Aku melamun dan memandang atap rumah. Tak lama melamun, aku mulai kepanasan dikamar. “Panasnya!! Aku butuh AC! Aku pengen pakai daster. Tidur pakai kebaya dan jarik membuatku emosi kegerahan!” kataku jengkel.
***
Kembali ke tahun 2021, ragaku yang kutinggalkan ke tahun 1941 masih tidak sadarkan diri. Suamiku, Charlesmembawaku ke rumah sakit besar. Dokter bilang aku mengalami gangguan elektrolit.
***
Kembali lagi di tahun 1941. Aku bernyanyi sambil menghilangkan emosiku gerahku dan kebosananku. Aku bernyanyi lagu mandarin yang berjudul Ni Yao de Ai. Saat semangat bernyanyi dibagian reffrain, tuan Gouw Boen San tiba di rumah. Dari pintu pagar terdengar suaraku bernyanyi penuh semangat. Gouw Boen San berhenti dan terdiam. Ia menyuruh semua anak buahnya diam.
Gouw Boen San diam mendengarkanku bernyanyi. Tiba-tiba dia teringat saat aku memeluknya tadi siang. Dia juga mulai curiga bahwa aku bernyanyi dalam bahasa mandarin. Padahal yang dia tau, aku tidak bisa bahasa mandarin.
Gouw Boen San masuk ke dalam rumah dan mencariku. Diamenemukanku, matanya melotot melihatku tajam.
Ditampar lagi aku dan dia berkata, “Kamu tahu arti dari lagu itu?”. Tanpa berpikir panjang kujawab, “Aku tahu! Judulnya Ni Yao de Ai artinya Cinta Yang Kau Inginkan!”.
Praaakkk! Tamparnya lagi. “Dasar wanita pembohong! Kamu bilang kamu tidak bisa bahasa mandarin. Tapi kamu bernyanyi lagu mandarin!” katanya.
Aku bingung. Sebenarnya siapakah aku dan bagaimanakah aku dikehidupan lampau. Mungkin aku harus lebih hati-hati dalam berbicara dan bersikap. Sampai kapankah aku harus disini? Apa aku bisa bertahan disini tanpa Charles dan anak-anakku? Aku merindukan tangan suamiku dan suara anak-anakku.