Born Again To Love You

Born Again To Love You
Aku Kembali ke Tahun 1941



   Saat aku terbangun dan membuka mataku, aku sedang berada di komplek Kelenteng Sam Poo Kong. Berbeda dengan Kelenteng Sam Poo Kong sebelumnya yang aku lihat, Kelenteng Sam Poo Kong ini tidak begitu ramai dan tidak banyak bangunan baru. Masih sepi.


   Kaos dan hot pants yang aku kenakanpun masih menempel di badanku. Tetapi tasku jatuh tertinggal di bawah pohon beringin dekat makam Nyai Kyai Tumpeng.


   Aku bangun dan sangat ketakutan. Aku berdiri dan segera berlari. Kemudian berjalan sangat jauh meninggalkan Kelenteng Sam Poo Kong.


   Aku berdiri didepan pintu gerbang Kelenteng Sam Poo Kong. Kupejamkan mataku dan berusaha mengingat apa yang terjadi, tapi tidak banyak hal yang aku ingat.


   Sebuah mobil berhenti menghampiriku. Dari dalam mobil turunlah seorang pria tampan yang mengendarai mobil itu. “Nyonya Gouw, Anda mau kemana? Kenapa Anda berjalan sangat jauh dari rumah Anda? Dan kenapa Anda menggunakan baju seperti ini?” kata Opsir Bao Jia.


   Dengan sedikit kebingungan aku bertanya pada pria tampan berwajah oriental itu, “Maaf, Anda siapa?”.


   Opsir Bao Jia semakin bingung. Tak mau dilihat banyak orang karena aku menggunakan baju terbuka, Opsir Bao Jia segera menarik tanganku dan memaksa membawaku masuk ke dalam mobilnya.


   “Tuan, maaf, Anda siapa? Jangan kayak gini!” kataku yang berusaha menolak tapi opsir Bao Jia hanya diam dan memaksa. Sepanjang perjalanan dia berpikir aneh-aneh. Sesekali melirik pahaku yang terbuka. Dia berpikir bahwa tuan Gouw Boen San membuangku.


   Sesekali aku memecah keheningan ini. Dengan sedikit ketakutan, aku mulai berbicara dengannya. “Kenapa Semarang sangat berbeda ya?” tanyaku.


   Opsir Bao Jia kebingungan dengan pertanyaanku. “Beda? Sama saja, Nyonya!” jawab opsir Bao Jia sedikit aneh.


“Kenapa Anda berpakaian aneh seperti ini? Apakah Anda ada masalah dengan tuan Gouw?” Tanya opsir Bao Jia penasaran.


“Tuan Gouw? Siapa tuan Gouw” Tanyaku yang juga penasaran.


   Opsir Bao Jia kini tidak berpikir aku dan tuan Gouw sedang ada masalah. Tapi dia berpikir aku adalah wanita aneh.


“Tuan, kenapa tidak menjawab? Bisa minta tolong antarkan aku pulang nggak?” Tanyaku dengan suara pelan.


“Rumahku berada di perumahan Tanah Mas” lanjutku.


“Tanah Mas?” Tanya opsir Bao Jia bingung.


“Kenapa bertanya, Tuan? Anda tidak tau Tanah Mas dimana? Anda kan orang Semarang, seharusnya tau Tanah Mas dimana!” lanjutku menjelaskan dengan suara agak keras. Opsir Bao Jia yang berpikir aku aneh hanya diam dan menuju rumah tuan Wang Cheng Hai.


                                                          ***


   Hampir setengah jam aku bersama opsir Bao Jia. Dan kamipun tiba di rumah tuan Wang Cheng Hai. Kebetulan disana ada tuan Gouw Boen San, Lie Kun Lian, Han Kai Li dan Wu Jiang.


   Aku turun dari mobil dan mulai ketakutan melihat pria-pria itu.


Sedangkan pria-pria itu juga kebingungan melihatku menggunakan baju dari jaman modern terlebih aku hanya menggunakan hot pants.


   Masih ketakutan, aku berjalan pelan menghampiri mereka. Dalam pikiranku sangat kalut. Aku tidak bisa berpikir


jernih. Semua ini sangat aneh terjadi dalam hidupku. Sangat tidak masuk akal. Tadi saat aku di makam Kyai Nyai Tumpeng meminta untuk menyelesaikan semua hal yang terjadi dalam hidupku saat ini, tapi saat ini aku ketakutan sendiri dan ingin berlari. Seakan-akan tidak bisa menerima kenyataan.


  Gagap-gagap aku bertanya pada mereka, “Tuan-tuan, dimanakah Aku berada sekarang?”


“Kamu tidak ingat sama sekali?” Tanya tuan Wang Cheng Hai.


“ Apakah sekarang tahun 2021?”


“Sekarang tahun 1941” jawab Han Kai Li. Aku kaget mendengar jawaban itu dan aku semakin takut.


“Aku ada dimana sekarang?” tanyaku lagi yang masih tidak percaya semua ini terjadi.


“Kamu ada di rumah tuan Wang Cheng Hai” jawab Wu Jiang.


“Aku gak percaya sama kalian semua! Siapa kalian? Ini Cuma halusinasiku aja kan? Awalnya aku ke Kelenteng Sam Poo Kong sama suami dan anak-anakku. Terus aku pingsan dan bangun-bangun sudah ada disini. Ini Cuma mimpi. Kalian itu gak nyata. Dan ini gak mungkin tahun 1941. Sekarang itu tahun 2021 bukan 1941. Kalian itu


halusinasi atau cuma acting mau casting jadi artis apa gimana sih?!” kata-kataku mulai stress tidak kuat menerima kenyataan ini.


   Gouw Boen San menghampiriku dan memelukku pelan-pelan. “Sayang, tenang yaa?” kata Gouw Boen San.


“Charles, dengar! Kamu apa-apaan penampilanmu begini. Ayo kita pulang! Zefanya sama Zeline dimana? Kenapa kamu tinggalin sendirian? Gak usah macem-macem kayak gini deh! Anak-anak kita kasihan sendirian di rumah!” kataku kesal dan stress.


“Aku bukan Charles. Aku Gouw Boen San! Dengar ya, kamu berasal dari masa depan! Dan sekarang kamu kembali


lagi ke masa lalu setelah menghilang semalam. Hanya semalam kamu sudah melupakanku?” kata Gouw Boen San tegas.


“Jangan bercanda, Ko! Aku tuh asalnya di rawat di rumah sakit dan aku sudah sehat . Sudah boleh pulang


sama dokter. Terus aku jalan-jalan sama suami dan anak-anakku. Kita pergi makan semalem di restoran Eden. Keesokan harinya aku ke Kelenteng Sam Poo Kong. Aku bahkan tidak pernah mengenal Gouw Boen San” kataku menjelaskan semuanya.


   Aku terdiam sejenak. Bola mataku melirik ke atas dan aku berpikir. “Gouw Boen San…? Gouw Boen San… Gouw Boen San…” Kataku berulang-ulang berusaha mengingat seperti pernah mendengar.


“Gouw Boen San sepertinya aku pernah mengenalnya tapi dimana aku lupa. Gouw Boen San ……” tiba-tiba saja


aku teringat semua flashbacksaat aku memegang pohon beringin di dekat makam Nyai Kyai Tumpeng. Kepalaku berputar dan aku hampir jatuh sambil memegang kepalaku. Gouw Boen San segera memegangi lenganku.


“Gouw Boen San? Itukah kamu? Suamiku?” kataku lirih menatap tajam mata Gouw Boen San dan aku merasa sedih sambil memegang lembut pipi Gouw Boen San setelah mengingat flashbacksaat memegang pohon beringin dekat makam Kyai Nyai Tumpeng.


“Kamu sudah mengingatku?” Tanya Gouw Boen San senang.


“Aku minta maaf kalau aku tidak mengingatmu. Jadi selama ini, yang aku lihat dimimpiku itu benar ya?”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Gouw Boen San khawatir dan penasaran masih memegang tanganku.


   Lie Kun Lian datang menghampiri kami berdua dan menenangkan Gouw Boen San.


“Tuan Gouw, lebih baik kita pulang saja. Aku rasa kesehatan Rahayu sedang tidak bagus. Biarkan Rahayu berisitirahat dulu” kata Lie Kun Lian.


“Baiklah.. Ayo kita pulang!” ajak Gouw Boen San.


                                                          ***


   Aku tidur siang bersama Gouw Boen San. Tak terasa hari semakin petang. Sekitar jam 6 petang aku terbangun dan mandi.


  Tuan Gouw Boen San duduk di kasur setelah aku mandi dan aku hanya menggunakan kain penutup badanku saja. “Aku tunggu kamu di luar yaa. Kamu pakai baju dulu!” kata tuan Gouw Boen San.


   Aku sudah memakai baju. Aku keluar kamar menghampiri suamiku. Gouw Boen San sedang asyik mengobrol dengan Lie Kun Lian dan Han Kai Li. “Istriku, kemari! Duduklah!” kata Gouw Boen San penuh senyum menyambutku.


“Ceritakanlah, apa yang terjadi padamu sebenarnya!” kata Han Kai Li.


   Sambil duduk aku mulai bercerita. “Malam itu aku berjalan-jalan bersama tuan Gouw. Tiba-tiba aku mendengar suara Charles memanggilku beberapa kali. Saat itu kami sedang berada di jalan Djornatan. Dan jalan Djornatan pelan-pelan berubah menjadi jalan Kyai Haji Agus Salim. Aneh saja menurutku! Setelah itu aku jatuh tidak sadarkan diri. Aku tidak ingat apapun tentang perjalananku ke masa lalu. Aku pikir itu hanya sekedar mimpi.”


   “Jalan Djornatan menjadi jalan Kyai Haji Agus Salim?” celetuk Han Kai Li.


“Iya, semua bangunannya berubah menjadi modern!” jawabku.


   “Saat aku terbangun, aku sedang berbaring di ruang ICU. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi padaku sebelumnya” lanjutku.


“Ruang ICU?! Dimana itu?” Tanya Lie Kun Lian.


“Ruang ICU itu salah satu ruangan di rumah sakit. Ruang ICU atau Intensive Care Unit merupakan ruangan yang melayani perawatan pasien kritis dewasa” jawabku.


Saat Charles dan anak-anak pergi membeli makanan dekat pintu masuk Kelenteng Sam Poo Kong, aku berjalan ke makam Kyai Nyai Tumpeng sendirian. Lalu aku pergi ke sebelah makam. Disana ada replica kapal dengan pohon besar ditengahnya.


   Aku memegang pohon besar itu dan aku melihat kejadian-kejadian bersama tuan Gouw Boen San. Seketika itu aku teringat semuanya. Aku memegang pohon itu lagi dan aku terjatuh tidak sadarkan diri. Saat aku membuka mataku, aku sudah berada di masa lalu dilokasi yang sama yaitu di makam Kyai Nyai Tumpeng”


“Jadi kamu sempat tidak mengingat kami?” kata Han Kai Li penasaran.


“Ya.. Awalnya aku berpikir itu adalah mimpiku seperti biasanya” jawabku.


“Yang kamu alami benar-benar tidak masuk akal” jawab Lie Kun Lian.


“Betul” jawabku.


“Baiklah! Kita lupakan saja kejadian ini. Yang penting, kita masih bisa bertemu lagi sekarang” kata tuan Gouw Boen San menutup cerita.


   “Tuan Gouw, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?” tanyaku mulai mengganti topic pembicaraan.


“Katakanlah!” jawab suamiku.


“Aku ingin ke kota Lasem!” pintaku sedikit manja pada suamiku.


“Besok aku akan coba minta tolong pada tuan Wang Cheng Hai” jawab Gouw Boen San setelah berpikir lama.


“Tapi apa tujuanmu ke kota Lasem?” Tanya Han Kai Li.


“Aku ingin bertemu nenekku saat masih kecil di Lasem” jawabku.


                                                          ***


   Keesokan paginya Gouw Boen San pergi ke rumah Wang Cheng Hai dan meminta izin untuk mengantarkanku ke Lasem.


   Wang Cheng Hai menanyakan tujuannya ke Lasem. Dan setelah mengetahui tujuannya untuk menyenangkan hati Rahayu, tuan Wang Cheng Hai setuju dengan syarat ia ikut pergi bersama Rahayu dan Gouw Boen San ke Lasem.


                                                          ***


   Pagi hari cerah, sekitar jam 9, Wang Cheng Hai bersama dengan Wu Jiang menjemputku dan Gouw Boen San. Tuan Wang Cheng Hai mengajak Lie Kun Lian dan Han Kai Li untuk ikut pergi bersama.


   Aku semobil dengan tuan Wang Cheng Hai, Gouw Boen San dan Lie Kun Lian yang mengendarai. Sedangkan Wu Jiang semobil dengan Han Kai Li.


   Wu Jiang bertanya pada Han Kai Li yang duduk semobil dengannya. Sedikit  ragu mempercayai Rahayu, maka Wu Jiang bertanya pada Han Kai Li.


“Tuan Han, menurutmu, apakah kamu percaya dengan perkataan Rahayu bahwa dia berasal dari masa depan?” Tanya Wu Jiang.


“Bukti sudah di depan mata, masih tidak percaya?” jawab Han Kai Li.


“Petir menyambar keras. Bahkan tuan Gouw Boen San di masa depan pun datang didepan mata kita, masa iya kita ga percaya?” lanjut Han Kai Li.


“Sulit dipercaya kalau kita melihat hal seperti ini” kata Wu Jiang.


“Kalau dipikir-pikir, memang Rahayu yang dulu dan Rahayu yang sekarang sangat berbeda. Kalau aku tidak salah, pernah sekali waktu dia bertanya padaku tentang waktu. Dia menanyakan waktu itu tanggal dan tahun berapa ketika dia bangun tidur. Tepatnya sehari sebelum bertemu dengan tuan Bao Jia”


“Ya sudah, kita lihat saja apa yang akan dilakukan orang dari masa depan itu” kata Wu Jiang.


“Lie Kun Lian bercerita kepadaku bahwa Rahayu bercerita banyak tentang masa depan. Katanya masa depan teknologi sangat canggih. Tidak ada Belanda menjajah kita” cerita Han Kai Li.


“Tahun depan Jepang akan menjajah Hindia Belanda. Oh ya, dia juga bercerita kalau tahun depan nama


Hindia Belanda akan berubah menjadi Indonesia. Aku sangat penasaran akan masa depan seperti apa” lanjut Han Kai Li.


“Semoga saat itu aku masih hidup!” cetus Wu Jiang.


“Di masa depan, saat teknologi bermunculan, aku, tuan Gouw, tuan Wang dan Lie Kun Lian sudah terlahir kembali dan dewasa. Itu artinya usia kita dikehidupan ini tidaklah lama. Rahayu terlahir tahun 1988.  Sedangkan aku, tuan Gouw, tuan Wang dan Lie Kun Lian lebih tua dari Rahayu”


“Lantas, bagaimana aku dimasa depan?” Tanya Wu Jiang.


“Rahayu tidak bercerita tentangmu” jawab A Li.


                                                          ***


   Siang harinya, sekitar jam 12 siang kami tiba di Lasem. Aku merasa sangat lapar. Tuan Gouw Boen San yang duduk disebelahku bertanya, “Kamu kenapa?” dan aku menjawab kalau aku lapar.


    Tuan Wang Cheng Hai yang mendengar itu, meminta A Lian mencari rumah makan dekat sini.


   Tak jauh dari lokasi kita, ada sebuah rumah makan milik orang Tiong Hoa yang menjual makanan non-halal. Wang Cheng Hai meminta agar kita menuju kesana.


   Kami turun dari mobil dan duduk memesan makanan. Dari dalam ada gadis kecil berusia 8 tahun yang sangat cantik keluar. Tiba-tiba gadis itu menabrak seorang anak laki-laki yang tampan dan tinggi berusia 10 tahun.


   “Ko, maaf aku menabrakmu” kata gadis itu.


“Tidak apa-apa. Siapa namamu?” kata anak laki-laki itu.


“Namaku Lie Hua. Chen Lie Hua! Namamu siapa, Ko?” Tanya balik anak perempuan itu.


“Namaku Oei Gwan Thay” jawab anak laki-laki itu.


   Kedua anak itu yang sedang berbincang di belakangku membuatku kaget. Aku sedih dan menatap kedua anak itu sambil berdiri.


“Kenapa, Rahayu?” Tanya tuan Wang.


“Mereka adalah Kung Kung dan Pho Pho-ku kelak! Karena mereka, aku ada” jawabku sedih.


   Aku menghampiri mereka dan mengelus pipi anak perempuan itu sambil menitikan air mata.


“Bolehkah aku memelukmu anak cantik?” anak perempuan itu melihat wajah sedihku dan menganggukan kepalanya.


   Aku memeluk dan menitikan air mata. Aku memeluknya dan memikirkan Pho Pho-ku yang sudah meninggal lama. Aku merindukan Pho Pho-ku.


   Tiba-tiba ibu anak perempuan itu keluar rumah dan melihat orang asing memeluk anaknya.


“Kamu siapa memeluk anakku?” Tanya Pho Thai-ku atau nenek buyutku dari pihak nenek.


   Para pria yang pergi bersamaku khawatir bila saja Pho Thai memarahiku karena memeluk Pho-Pho begitu saja.


“Namaku Rosalind Oey” Jawabku sambil menatap sedih wajah Pho Thai dan mengingat Pho Thai yang sudah tua renta duduk di kursi roda menggendongku yang masih balita usia 5 bulan.


   Pho Thai dari kakekku menghampiriku. “Gadis muda, benarkah margamu Oey? Tapi wajahmu tidak seperti orang Tionghoa pada umumnya” kata Pho Tai dari Kakekku.


“Benar aku bermarga Oey, Nyonya. Apakah nyonya menginap di Lasem atau langsung pulang ke Juwana?” tanyaku.


“Nona, bagaimana Anda bisa tahu kalo kami dari Juwana?” Tanya Kung Thai dari kakekku.


“Aah.. Anu.. Emmm..”