Born Again To Love You

Born Again To Love You
Awal Kehidupanku Disini Dimulai



Pagi harinya aku terbangun. Gouw Boen San sudah menungguku di meja makan. Ternyata opsir Bao Jia meminta bertemu denganku karena masakanku yang katanya enak. Gouw Boen San menyuruhku menggunakan gaun yang indah dan berdandan yang cantik.


   Setengah jam lebih aku bersiap-siap. Aku keluar rumah dan tuan Gouw Boen San sudah menungguku di dalam delman. Saat aku keluar pintu rumah, tuan Gouw Boen San takjub melihatku. Dia terdiam dan melihatku terus.


   Tuan Gouw Boen San masih diam saat duduk di delman bersebelahan denganku. Tidak seperti kemarin tatap matanya kelihatan begitu bengis. Lie Kun Lian dan Han Kai Li duduk di depanku dan tuan Gouw Boen San.


                                                          ***


   Setibanya di sebuah restauran mewah bergaya arsitektur Belanda, tuan Gouw Boen San yang terlihat tampan saat itu dengan setelan jas berwarna hitam tiba-tiba menggandeng tanganku. Tangannya terasa hangat seperti tangan suamiku yang kurindukan. Aku menggenggam erat tangan tuan Gouw Boen San sebagai pelampiasan rinduku pada suamiku. Dia menggandengku masuk ke dalam restauran itu. Lie Kun Lian dan Han Kai Li ikut masuk berjalan di belakangku.


    Di dalam aku melihat  restauran dengan meja bundar yang besar dengan kursi 10 orang per meja. Dari kejauhan, opsir Bao Jia mengangkat tangannya dan melambai ke arah kami berempat.


   Gouw Boen San melepaskan genggaman tanganku dan merangkulku mengajak kesana. Hatiku semakin terasa hangat ditengah ketakutanku di alam yang tidak pernah kudatangi.


   Sesampainya di meja opsir Bao Jia. Tuan Gouw Boen San segera mengenalkanku padanya.


“Halo, opsir Bao Jia! Sudah menunggu lama? Perkenalkan ini istriku, Rahayu!” kata Gouw Boen San.


“Rahayu... Nama yang cantik sesuai orangnya. Pintar memasak pula! Aku sangat menyukai masakanmu!” balas opsir Bao Jia yang tampan, berkulit putih, tinggi dan berbadan atletis sambil berdiri dan menjabat tanganku.


   Senyumnya yang mempesona membuat semua wanita tergoda. Tapi sayang, aku tidak bisa merasakan kehangatan dan kebaikan hati opsir Bao Jia karena aku sudah terlanjur merasakan kehangatan dari tuan Gouw Boen San.


   “Oh yaaa.. Perkenalkan sahabatku, Wang Cheng Hai. Dia sudah berumur 25 tahun, banyak uang tapi belum menikah” kata opsir Bao Jia sambil tertawa.


“Wang Cheng Hai adalah pemilik perusahaan Wang. Tuan Wang memiliki beberapa usaha di Semarang dan luar kota” lanjut opsir Bao Jia.


“Wah, aku tidak menyangka bisa berkenalan dengan orang hebat pebisnis hebatseperti Anda!” sahut Gouw Boen San semangat dan bahagia.


   Wang Cheng Hai mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku tapi aku tidak membalasnya dan membuang mukaku jauh dari tatapannya. Pria tinggi tidak terlalu kurus dan bermata sipit ini menatapku dengan tersenyum dan menyimpan tangannya kembali.


   Tuan Gouw Boen San duduk karena dipersilakan duduk oleh opsir Bao Jia. Akupun duduk disebelah kiri suamiku. Lie Kun Lian duduk di sebelah kananku. Dan disebelahnya ada Han Kai Li. Sebelah kanan Han Kai Li adalah kursi kosong. Kemudian disebelahnya ada Wu Jiang, orang kepercayaanWang Cheng Hai. Disebelah Wu Jiang ada Wang Cheng Hai yang dari tadi duduk masih melihatku.


   Lie Kun Lian yang menyadari sikap Wang Cheng Hai segera mengalihkan perhatian pria tampan, berkulit putih, berbadan tinggi atletis itu. Lie Kun Lian memberikan segelas air putih untukku sambil melihat Wang Cheng Hai sinis.


    Saat opsir Bao Jia dan tuan Gouw Boen San masih berbincang-bincang, Wang Cheng Hai mengambil sikap yang menurutku cukup aneh.


“Tuan Gouw Boen San, apabila istrimu bisa memasakan makanan enak untuk opsir Bao Jia. Apakah kamu bersedia meminjamkan istrimu untuk memasak dirumahku?!” potong Wang Cheng Hai.


“Maaf?” tanya Gouw Boen San.


“Aku mau meminjam istrimu untuk memasak di rumahku!” tegas Wang Cheng Hai.


“Sebagai gantinya, aku akan memberikanmu 50 bal rokok. Bagaimana? Kurang? Atau mau yang lain?!” lanjut Wang Cheng Hai tidak menggubris kata-kata opsir Bao Jia.


“Tuan Wang Cheng Hai, tidak usah banyak-banyak. Yang penting istriku memasakan masakan yang enak untukmu, aku sudah senang!” jawab Gouw Boen San sungkan.


“Aku tidak mau!” sahutku ketus sambil menatap sinis Wang Cheng Hai.


“Bisa Anda jelaskan alasan menolak permintaanku?!” jawab Wang Cheng Hai sambil tertawa kecil.


“Kenapa harus meminjamku? Aku ini bukan istrimu! Aku adalah istri tuan Gouw Boen San” jawabku sedikit emosional.


“Diam!” sentak Gouw Boen San.


“Tuan Wang Cheng Hai, maafkan sikap istriku yang kurang ajar!” lanjut Gouw Boen San.


“Kurang ajar? Kurang ajar darimana? Kamu bukannya menjaga istrimu malah tunduk padanya!” bantahku.


“Tidak apa-apa. Baiklah! Besok pagi 1 hari istrimu harus tinggal dirumahku. Memasakan makanan-makanan untukku dari pagi sampai malam. Malam harinya setelah jam 7 kamu bisa menjemput istrimu” pinta Wang Cheng Hai.


                                                          ***


   Malam hari saat Gouw Boen San sedang minum-minum dan berbincang-bincang dengan anak buahnya, Lie Kun Lian mencoba memberi tahu sikap aneh Wang Cheng Hai.


“Tuan, tadi siang saat kita sedang di restauran, aku melihat sikap aneh tuan Wang Cheng Hai. Tatapan matanya tidak berhenti melihat istrimu. Aku curiga tuan Wang Cheng Hai menyukai istrimu” cerita Lie Kun Lian dengan suara pelan.


   Gouw Boen San diam dan memikirkan kata-kata Lie Kun Lian. Tiba-tiba terbayanglah Rahayu dalam pikirannya saat kejadian siang tadi di restoran.


                                                          ***


   Pagi benar aku terbangun. Sekitar jam 7. Aku bersiap-siap untuk ke rumah Wang Cheng Hai. Aku berdandan natural ala wanita modern dan menggunakan dress berwarna putih.


   Saat hendak berangkat diantar Lie Kun Lian, Gouw Boen San memanggilku saat aku berada di depan pintu pagar. Di depanrumah Gouw Boen San terlihat rapi. Dia menggunakan kemeja dan jas. Dasinya masih lurus menggelantung di lehernya.


   Aku memandang Gouw Boen San seperti memandang suamiku, Charles. Aku teringat dengan suamiku, Charles yang juga tidak bisa menggunakan dasi.  Aku kembali masuk ke dalam dan menghampiri Gouw Boen San. Sambil menitikan air mata, kupegang tali dasi itu dan dengan lembut kujalin tali dasi itu.


“Kenapa kamu menangis?!” kata Gouw Boen San menatapku tajam.


“Karena aku sangat mencintaimu” jawabku sambil mengusap pipi Gouw Boen San lembut dengan tangan kananku. Kemudian aku berjalan sendiri keluar setelah menjalin dasinya.


Dan raut wajah Gouw Boen San berubah haru.