Born Again To Love You

Born Again To Love You
Berawal dari mimpi yang berulang-ulang



Kala itu aku berusia 3 tahun. Aku memiliki sebuah ingatan yang cukup bagus walaupun tidak terlalu mengingat semua hal. Cukup teringat bila hal itu diulang-ulang beberapa kali.


   Setiap malam, aku bermimpi aneh. Mimpi yang tidak pernah kualami sebelumnya. Mimpi yang tidak pernah kulihat dan kurasakan. Kulihat diriku yang sudah dewasa.


   Waktu itu aku berlari menuju sebuah pagar pintu kayu jati besar. Pagar untuk keluar rumah. Aku berlari tanpa alas kaki di lantai kuno yang bersemen kotak-kotak berbentuk batu. Aku menggunakan kebaya dan  jarik. Rambutku di konde biasa ala jamannya.


   Hampir mendekati pintu. Beberapa pria bermata sipit dan berkulit putih memegangi kedua tanganku. 2 memegangi tanganku, 4 orang disampingnya membawa tongkat. Mereka menangkapku dan menarik tanganku membawaku masuk ke dalam sebuah kamar dengan jendela teralis jeruji besi dan atap genting. Yaa..


Kamar dimana tempat sehari-hari aku tinggal. Tuan mereka, Gouw Boen San, tidak pernah membiarkanku keluar rumah.


   Setiap hari aku dikurung di rumah. Aku hanya bekerja melayani tuan Gouw Boen San secara biologis. Bila aku menolak, tuan Boen San akan memperkosaku dan menyiksaku. Aku tak


tahan hidup tersiksa seperti ini. Itu yang membuatku ingin kabur meninggalkan gubuk rumah kuno orang Tionghoa kala itu.


   Mimpi itu menakutkan. Sangat menakutkan untuk anak seusia 3 tahun. Aku terbangun dan terdiam. Karena aku tidak tahu mimpi apa itu. Tapi mimpi itu selalu berulang-ulang setiap malam. Akupun tidak menceritakan kepada kedua orangtuaku.


   Suatu kali aku bermimpi, aku bebas dari rumah tuan Gouw Boen San. Aku keluar rumah. Kulihat depan rumah tuan Gouw Boen San dari atas sampai bawah tingginya kurang lebih 5 meter. Rumah dengan garis-garis kayu jati sebagai penghias di bagian atasnya. Dan pintu pagar kayu jati besar setinggi 2 setengah meter ada dibawahnya. Tampak besar bangunannya dari luar tapi kecil di dalam.Tembok dalam rumah itu terbuat dari bata merah yang di cat putih. Atap kamarnya hanya genting-genting tua. Di dalam kamar itu ada jendela berjeruji.


   Saat aku memasuki ruangan itu. Dari salah 1 jalan dari dalam rumah, ada seorang wanita tua bermata sipit dan berkulit putih. Rambutnya hitam bercampur putih dan dikonde. Wanita tua itu menggunakan Baju Kurung menyambutku. Dia mendekatiku dan memegang kedua tanganku dan tersenyum. Masih memegang tanganku. Wanita tua itu mengajakku masuk kedalam rumahnya. Dan akupun terbangun dari mimpiku.


   Ada 1 mimpi yang membuatku terkesan. Mimpi itu sangat mempengaruhi perasaan sedihku. Aku duduk di sebuah kursi piano besar. Piano itu dekat sekali dengan jendela dengan kaca besar. Setiap pagi aku duduk di kursi itu. Aku melamun sambil bermandikan cahaya pagi yang masuk lewat jendela itu. Aku duduk sendiri. Gaun putih agak kecoklatan sependek lutut aku kenakan. Gaun bertangan panjang dan menutup setengah leher. Seperti gaun yang dikenakan noni Belanda pada umumnya pada masa kolonial Belanda.


   Disamping ruangan tempat bermain piano, aku melihat samping ruangan itu, ada 1 ruangan yang terdapat meja makan dengan beberapa keramik Tiongkok. Rumah mewah bergaya  Belanda kuno ini sangat membekas di perasaanku hingga aku dewasa.


   Ada lagi mimpi yang setiap aku mulai bermimpi ini, aku selalu terbangun. Aku tidur di sebuah atap rumah. Persis di bawah genteng rumah. Aku bersembunyi disitu. Wajahku kotor. Begitu juga bajuku. Dan ada perasaan takut dari cahaya yang masuk ke dalam rumah menyinari wajahku dari sela-sela genteng. Yaa.. Aku takut sendirian saat itu. Aku tidak memiliki siapa-siapa. Aku sendirian.


   Dan mimpi yang terakhir, aku sedang berada di sentiong dan melihat sebuah bongpai kunodengan bagian belakang melingkar dan atasnya dipenuhi rumput. Dibawah kuburan itu banyak daun-daun kering berserakan. Dan disamping kuburan itu ada sebuah pohon pisang yang tingginya kira-kira 1 setengah meter dengan 1 buah daun yang masih kecil. Sayangnya, aku tidak melihat bagian depan kuburan itu. Aku tidak bisa membaca batu nisan kuburan itu. Hanya itu yang kulihat. Dan akupun terbangun.


   Itulah mimpi-mimpi yang sering kulihat saat usiaku 3 tahun. Dan saat bertambahnya waktu sebelum aku berusia 5 tahun, mimpi itu sudah tidak pernah muncul lagi.


   Menginjak SD, aku beberapa kali ketakutan setiap melihat lubang sempit. Pernah dengan sadar aku melihat sekilas ada cahaya berwarna-warni saat aku melihat lubang bawah kursi yang sempit  saat aku memasukan kepalaku ke bawah kursi. Aku ketakutan dan merasa pernah masuk kedalam lubang itu sendirian.