
Setibanya di rumah tuan Wang Cheng Hai, tuan besar itu menyambutku dengan ramah di depan pintu rumahnya. Telapak tangan kanannya menghadap ke atas di ulurkan ke arahku seraya meminta aku menggandeng tangannya. Tanpa wajah bahagia apalagi senyuman, telapak tanganku terbalik menghadap ke bawah kuberikannya dan dia menggandeng tanganku dengan lembut. Tuan Gouw Boen San melihat tanganku diletakan di atas telapak tangan tuan Wang Cheng Hai tanpa ekspresi wajah. Tiba-tiba Gouw Boen San teringat saat aku berkata aku mencintainya.
“Terima kasih sudah menerima undanganku, tuan Gouw Boen San. Suatu kehormatan tuan Gouw Boen San dan Nyonya Gouw mau datang kerumahku” kata tuan Wang Cheng Hai saat tiba di ruang tamunya yang mewah.
Aku berjalan pelan sendirian ke ruang sebelah. Kulihat sebuah Grand Piano. Dan disampingnya ada jendela kaca patri putih polos besar menjulang tinggi. Dan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan menyorot Grand Piano itu
beserta kursinya. Persis seperti yang aku lihat di mimpiku. Kemudian aku duduk di kursi Grand piano itu sambil menatap jendela patri itu. Aku melamun memikirkan suami dan anak-anakku.
Aku tersadar dari lamunku ketika tuan Wang Cheng Hai mendatangiku dan memintaku menulis daftar belanjaan yang harus dibeli oleh pembantunya. Dia menyodorkan kertas dan bolpoin.
Mulailah aku menulis daftar belanjaan dengan huruf tegak.
Tuan Wang Cheng Hai dan Gouw Boen San kaget melihat tulisanku dengan huruf tegak yang dijamannya menggunakan tulisan latin bersambung, sedangkangaya penulisanku modern.
Daftarbelanjaan:
1. Daging dada ayam satukilo
2. Jagung manis setengah kilo
3. Wortel setengah kilo
4. Daging kepiting setengah kilo
5. Bawang putih
6. Pala
7. Telur
8. Tepungtapioka
“Kenapa tulisanmu berbeda dengan orang lain. Kamu menulis dengan huruf tegak. Juga kamu menggunakan huruf ‘U’ sebagai pengganti ‘OE’. Darimana kamu belajar?” Tanya tuan Wang Cheng Hai.
“Tentu saja aku belajar di sekolah. Aku juga kuliah!” jawabku lantang tanpa memikirkan aku sedang berada di jaman apa.
“Kamu sekolah? Sejak kapan kamu sekolah?” Tanya Gouw Boen San.
Lie Kun Lian 2 meter disamping Gouw Boen San memperhatikanku. Tatapannya tajam menatapku mencurigakan.
Aku tersadar dari keadaanku setelah mendengar pertanyaan Gouw Boen San. Aku berpikir mencari jawaban tapi tuan Wang Cheng Hai memanggil pesuruhnya untuk berbelanja sendirian.
“Tunggu, Tuan! Bolehkah aku ikut untuk memilih kualitas barangnya?!” pintaku.
“Tidak usah pergi. Biar pelayanku saja” jawab tuan Wang Cheng Hai lembut dan tersenyum.
“Bagaimana aku bisa menyajikan makanan enak kalau kualitas bahannya saja aku tidak tahu?! Aku orang yang memperhatikan kualitas dan kebersihan makanan” bantahku lembut.
Tuan Wang Cheng Hai terdiam berpikir dan mengijinkan aku pergi bersama pelayan wanitanya.
Saat aku berjalan selangkah pergi, Gouw Boen San menarik tanganku lembut.
“Aku tidak akan membiarkan wanitaku pergi tanpa pengawalanku!” kata Gouw Boen San masih menggandeng tanganku dan menatapku tajam.
“Lie Kun Lian, kamu ikut dan temani istriku!” lanjut kata Gouw Boen San sambil menatapku tajam mengerikan.
Aku memegang pinggang Gouw Boen San dan mencium pipinya. “Aku cinta kamu, Koh!” kataku lembut kepada suamiku dan segera pergi meninggalkan Gouw Boen San. Dan Gouw Boen San menatapku tajam keheranan. Disisi lain, tuan Wang Cheng Hai yang barusan melihatku mencium pipi suamiku langsung menundukan kepala seakan-akan tidak ingin hal ini terjadi.
Sebuah mobil menungguku di depan. Supir membukakan pintu mobil belakang. Aku duduk di belakang dengan pelayan wanita tua tuan Wang Cheng Hai. Lie Kun Lian duduk di depan dengan supir.
Di mobil aku duduk dan menikmati pemandangan. Gedung-gedung tua bangunan Belanda masih terlihat megah. Jalanan tidak terlalu padat oleh kendaraan seperti jaman sekarang. Banyak pribumi berjalan kaki tanpa alas kaki.
Sambil menikmati pemandangan, pelayan wanita tua itu bertanya kepadaku. “Nyonya.. Nyonya nanti mau masak apa?”. Sambil tersenyum lembut aku menjawab, “Aku mau masak makanan favoritku. Sop jagung ayam kepiting, Mbok!”. Pelayan wanita tua itu bingung dengan jenis masakan yang akan kumasak.
Lie Kun Lian yang duduk di depan mendengar percakapanku dengan ibu pelayan ini. Dalam hatinya dia berkata, sebelumnya Rahayu tidak pernah memasak sop jagung ayam kepiting. Tapi itu makanan favoritnya? Aku merasa Rahayu berbeda dengan biasanya.
Setelah berbelanja di pasar. Saat perjalanan pulang, di mobil aku melihat beberapa orang pribumi memikul keranjang bambu menjual jajanan tradisional. Aku meminta pak supir untuk berhenti. Aku beli banyak jajanan tradisional.
Setelah beli banyak jajanan tradisional. Aku melihat seorang bapak tua berjualan memikul keranjang bambu lainnya. Aku meminta pak supir berhenti mendadak. Tapi bapak tua yang berjalan berlawan arah denganku terus berjalan ke arah belakangku. Mobil cukup jauh berhenti dari bapak tua itu. Aku meminta pak supir turun dan memberikan beberapa jajanan ke bapak tua itu.
Aku melihat agak jauh di depanku, ada seorang anak yang sedang duduk kelelahan setelah memikul keranjang bambu. Aku tidak tega melihatnya seperti itu karena merindukan kedua anakku. Aku turun dan pindah ke kursi supir. “Mau apa kamu duduk disini?!” tanya Lie Kun Lian penasaran. Aku diam dan menutup pintu. “Kamu tidak bisa menyetir mobil. Jangan macam-macam ya?!” marah Lie Kun Lian. Aku diam tak menggubris Lie Kun Lian lalu menyetir mobil dan menuju ke anak kecil itu. “Nyonya! Jangan, Nyonya!” kata ibu tua pelayan tuan Wang Cheng Hai ketakutan. Sedangkan pak supir tidak menyadarinya. Aku menyetir pelan menuju anak itu dan berhenti tepat disampingnya. Aku turun dari mobil dan membawa semua jajanan tradisional yang tadi kubeli.
“Halo, Nak! Kamu jualan apa?” aku jongkok dan menyapa lembut anak itu.
“Saya jualan buah srikaya, Nyonya” kata anak itu.
“Aku punya beberapa makanan. Ini semua buat kamu. Kamu makan yang banyak ya? Kamu harus jaga kesehatan!” kataku sambil membelai lembut kepalanya.
Aku kembali ke mobil dan meninggalkan anak itu. Aku kembali menyetir mobil dan berjalan mundur. Sedangkan pak supir berjalan kaki menuju ke arahku. Pak supir yang melihat mobilnya mundur segera kebingungan.
Mendekati pak supir akupun berhenti dan keluar dari mobil dan kembali ke kursi belakang. Lie Kun Lian makin curiga denganku.
“Maaf, Pak supir dan ibu pelayan. Bisakah kalian keluar mobil sebentar. Aku perlu berbicara dengan nyonya Rahayu” pinta Lie Kun Lian sopan sebelum mobil berjalan pulang.
“Siapa kamu sebenarnya? Aku tahu kamu bukan Rahayu! Rahayu tidak seperti ini!” tanya Lie Kun Lian ketus penasaran.
“Memangnya Rahayu itu orang yang seperti apa?!” jawabku santai.
“Jawab jujur, siapa kamu?!” kata Lie Kun Lian sambil menodongkan pistol kearahku.
“Kalau aku jujur, apakah kamu akan percaya dan tidak menembakku?” kataku ketakutan.
“Cepat jawab!” sentak Lie Kun Lian.
“Namaku Rose! Aku dari masa depan. Aku dari tahun 2021. Wajahku dan wajah Rahayu sama persis. Begitu juga wajah suamiku di masa depan dengan tuan Gouw Boen San juga sama persis” jawabku.
“Kamu bohong ya?!” sentak Lie Kun Lian.
“Aku berani bersumpah!” jawabku
“Buktikan kalau kamu memang dari masa depan!”
“Bukti? Aduh! Gimana ya?! Aku ga bisa buktiin apa-apa. Tapi aku bisa ceritain ke kamu masa depan itu seperti apa. Misalnya, tahun depan 1942 tanggal 11 Januari, orang Jepang akan datang ke Indonesia dan menjajah dengan kejam. Mereka sangat-sangat kejam. Beberapa wanita dijadikan Jugun Ianfu. Banyak orang Tionghoa terlebih pribumi yang akan dibunuh dengan keji. Beberapa orang Indonesia akan dipaksa kerja. Mereka menyebutnya Romusha. Jepang tidak hanya menjajah Indonesia. Tapi mereka juga menjajah negara lain juga membunuh penduduk negara lain. Cina, Korea, Malaysia dan Singapura jadi negara jajahan Jepang. Jepang akan menjajah Indonesia selama tiga setengah tahun. Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang akan dijatuhi bom atom oleh Amerika. Tanggal 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, tapi Indonesia akan tetap di jajah oleh Belanda sampai sekitar tahun 1962. Di masa depan semua akan serba canggih. Akan ada televisi, telepon genggam yang kita sebut handphone, pendingin ruangan yang kita sebut Air Conditioner, mesin cuci pakaian, mesin pendingin makanan yang kita sebut kulkas, mesin penghangat makanan yang kita sebut microwave. Pokoknya masih banyak! Mobil dimasa depan akan menggunakan air conditioner. Akan ada motor banyak yang memenuhi jalan raya. Dunia akan semudah dalam genggaman tanganmu kalau kamu punya handphone. Semua informasi dari berbagai belahan dunia, foto dan video-video dari negara lain bisa kita lihat di handphone”.
“Indonesia? Dimana itu?” tanya Lie Kun Lian penasaran.
“Di tahun ini, kita masih menggunakan nama Hindia Belanda. Tapi negara ini akan berubah nama menjadi Indonesia” jawabku.
“Menurutmu, apa aku akan percaya dengan semua cerita khayalanmu?!” tanya Lie Kun Lian meremehkan.
“Namaku Rose. Nama lengkapku Rosalind Oei. Aku lahir pada tanggal 14 September 1988. Ayahku bernama Oei Liong Gwan. Ibuku bernama Tan Hua Nio. Aku lahir di kota Lasem. Kakekku bernama Oei Gwan Thay. Tahun ini 1941, kakekku berusia 10 tahun. Kamu bisa cek di kota Lasem, siapa tahu ketemu sama kakekku. Suamiku bernama Charles Gouw. Anakku sulungku laki-laki bernama Zefanya Gouw dan anak bungsuku perempuan bernama Zeline Gouw. Oh ya, dan kamu, dimasa depan namamu adalah Agus Lie”.
***
Beberapa waktu kemudian aku tiba di rumah tuan Wang Cheng Hai. Aku segera diajak si Mbok itu ke dapur besar tuan Wang Cheng Hai. Aku bersiap-siap memasak dibantu oleh si Mbok.
***
Setengah jam kemudian masakanku sop jagung ayam sudah siap aku hidangkan di meja makan untuk tuan Wang Cheng Hai.
Aku menghampiri tuan Wang Cheng Hai dan memberi tahu bahwa makanan sudah siap. Tuan Wang Cheng Hai yang sedari tadi berada di ruang tamu pribadi bersama opsir Bao Jia, suamiku, Lie Kun Lian dan Wu Jiang mengajak mereka makan bersama di meja makan besarnya.
Aku berjalan di belakang mereka menuju ruang makan. Lagi-lagi kulihat piano besar didekat jendela besar itu. Langkahku teralihkan ke ruang piano. Jalanku pelan-pelan menuju piano. Aku duduk di kursi piano dan mulai memencet tuts piano memainkan sebuah lagu “Twinkle-Twinkle Little Stars” hingga selesai dengan wajah sedih.
Wang Cheng Hai yang tiba di meja makan sebelum aku memainkan piano, membukakan kursi makan untukku.
Dan ketika dia mendengarkanku bermain piano, Cheng Hai menghampiriku. Mata Gouw Boen San yang asalnya kaget melihatku bermain piano, tiba-tiba menatap tajam ke mata Wang Cheng Hai yang berjalan pelan menghampiriku. Dari belakang Boen San, Lie Kun Lian mendekati Boen San dan berbisik, “Tuan, aku semakin mencium kecurigaan pada tuan Wang Cheng Hai”.
Wang Cheng Hai tiba di sebelahku saat aku hampir selesai memainkan lagu. Tangan kanannya di ulurkan kepadaku seraya meminta tanganku untuk bergandengan dengannya. Dari belakang, Gouw Boen San menarik tanganku dan mengajakku duduk di meja makan tanpa memperdulikan tangan Wang Cheng Hai yang masih terbuka. Cheng Hai menggenggam tangannya dan tersenyum simpul dan kembali ke meja makan.
Gouw Boen San membukakan kursi makan untukku dan aku duduk diantara suamiku dan Lie Kun Lian. Aku hendak mengambilkan mangkok dan membagi sup tapi Lie Kun Lian melarangku dan dengan tegas menyuruhku untuk tetap duduk. Lie Kun Lian berdiri dan mengambilkan mangkok dan membagi supnya.
“Sup ini rasanya enak sekali! Aku sangat menyukainya. Sup ini apa namanya?” puji Wang Cheng Hai.
“Namanya sup jagung ayam kepiting. Ini makanan favoritku” jawabku.
“Favoritmu? Kalau begitu kamu harus sering-sering kemari dan masak sup ini disini. Kamu bisa makan sepuasmu kalau kamu mau” lanjut kata Wang Cheng Hai.
Gouw Boen San mendengarkan pembicaraan kami dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Lie Kun Lian.
Setelah makan, Wang Cheng Hai mengajak kami berjalan-jalan di halaman belakang rumahnya. Halaman
belakangnya sangat luas seperti kebun dengan macam-macam bunga. Aku berlari-lari di belakang rumah sangat bahagia. Seketika itu aku melupakan Charles, Zefanya dan Zeline. Aku melupakan kesedihanku beberapa hari di jaman ini. Tapi ada 1 yang kuingat dalam pikiranku, suamiku Gouw Boen San. Kulihat wajahnya yang sedang berbincang-bincang dengan Lie Kun Lian. Saat dia tertawa, matanya sangat sipit seperti orang memejamkan mata. Semakin hari aku semakin cinta dengan Gouw Boen San.
Salah satu pelayan pria berjalan menuju tuan Wang Cheng Hai dan membawa 2 orang pria. Yang satu orang Inggris dan satu lagi orang Tionghoa sebagai penerjemah.
Aku melihat dari kejauhan, pembicaraan mereka sangat serius. Aku pun berjalan mendekati mereka.
“Hallo, Mr. Edward. How are you! Kenalkan, ini adalah teman-temanku, Gouw Boen San dan Lie KunLian” kata tuan Wang Cheng Hai. Orang Tionghoa yang sedari tadi bersama Mr. Edward berbisik kepadanya menerjemahkan.
“Hallo, Mr. Gouw Boen San and Mr. Lie Kun Lian. Nice to meet you! Hallo, Mr. Bao Jia! How are you?” sapa Mr. Edward sambil bersalaman.
“Bagaimana , Mr. Edward?” tanya tuan Wang Cheng Hai.
“As you know. At this time tobacco is experiencing a crisis. I have prepared tobacco from China. But I hope, tobacco that I have prepared for you can be appreciated more and don't let this be known by Mr. Andi Chen. As you know, bring Andi Chen is a competitor of your business that is quite cunning and ambitious. If he knows something interesting you have while he doesn't have it, Andi Chen will justify everything to get it” kata Mr. Edward.
“Tuan Edward telah menyiapkan tembakau dari Cina. Dan tuan Edward meminta bayaran lebih” kata penerjemah yang menerjemahkan dengan tidak lengkap.
“Forgive my impudence, Mr. Edward. Where did you get a
translator that translates incomplete language like this? I think this man only
translates your words just a portion of your words” kata ku memotong
pembicaraan para pria ini.
“What do you mean, Madam?” tanya Mr. Edward kaget, heran dan
bingung.
“Tuan Wang Cheng Hai yang terhormat. Mr. Edward tadi berkata bahwa Mr. Edward telah menyiapkan tembakau dari China. Tapi Mr. Edward berharap untuk bisa lebih menghargai dan jangan sampai tuan Andi Chen mengetahui hal ini. Mr. Edward berkata bahwa tuan Andi Chen adalah pesaing Anda yang licik dan ambisius. Jika dia tahu sesuatu yang menarik dari yang Anda miliki, sementara dia tidak memilikinya, Andi Chen akan membenarkan segalanya untuk mendapatkannya” kata ku kepada tuan Wang Cheng Hai.
Tuan Wang Cheng Hai,suamiku dan Lie Kun Lian kaget mendengar aku berbicara bahasa inggris. Lie Kun Lian mulai mempercayai siapa aku. Sedangkan Gouw Boen San mulai curiga dengansikap istrinya sekarang yang berbeda dengan sebelumnya.
“Mrs. Gouw, thank you for helping me translate my words. Do you mind working for me as a translator?” Lanjut Mr. Edwad.
“I wonder if only I could accept it. But I as the wife of Mr. Gouw Boen San wanted to serve my husband. So sorry once I have to reject your offer. Hopefully you get a good and honest translator, Mr. Edward” jawabku.
“It's a pity if you refuse. But I will appreciate your decision. Mr. Gouw Boen San, you are very lucky to have a wife like this woman” jawab Mr. Edward.
Aku berbisik ke telinga suamiku dan menyampaikan kata-kata Mr. Edward. “Mr. Edward bilang katanyakamu beruntung memiliki istri sepertiku”. Gouw Boen San hanya terdiam tapimemikirkan kata-kata Mr. Edward.
“Thank you, Mr. Edward. I’m just an ordinary woman and there are still many shortcomings” jawabku.
***
Petang hari, kami pulang dari rumah tuan Wang.
Setibanya didepan pintu rumah, aku meraih telapak tangan Gouw Boen San. “Koh, aku pengen jalan-jalan berdua sama kamu sekarang boleh?” pintaku lembut. Tuan Gouw Boen San menganggukan kepala tanpa sepatahkatapun.
“A Lian? Ikut kami pergi!” ajak suamiku.
“Koh, aku pengen cuma kamu dan aku. Berdua!” sahutku.
Suamiku hanya menganggukan kepala dan pergi berjalan sendiri meninggalkanku. Aku mengejarnya dan meraih tangannya. Suamiku berhenti dan menatapku. Aku tersenyum dan menatapnya dan menggandeng tangan kanannya. Kucium telapak tangannya sambil melihat wajahnya.
“Aku cinta kamu!” kataku.
Malam itu kami berjalan-jalan. Suamiku hanya terdiam sepanjang jalan. Sedangkan aku bahagia melihat jalan-jalan malam itu. Semalaman aku tersenyum. Sambil tersenyum memandang bangunan-bangunan Belanda, diam-diam Gouw Boen San melihatku dan menatapku tajam tanpa ekspresi.
Tetesan air hujan turun menetes di pipiku.
“Koh, hujan! Ayo berteduh!” ajakku.
Gouw Boen San terdiam dan menarik tanganku mencari tempat berteduh.
Kami berdua berdiri di depan toko perhiasan Maurice Wolf Jewelier. Kulihat wajah suamiku basah. Aku mengambil sapu tangan di saku ku dan kubersihkan wajahnya sambil menatapnya. Matanya juga menatapku.
“Koh, terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan malam ini”. Lagi-lagi Gouw Boen San hanya terdiam.
Aku berdiri tegak
dan memulai pembicaraan lagi. “Koh, entah kenapa kita menjadi suami istri. Aku
percaya itu adalah takdir” kataku sambil fokus melihat hujan. Gouw Boen San
menoleh. Hanya melihatku dan mendengarkanku.
“Aku mencintaimu. Aku ingin mencintaimu seumur hidupku. Bahkan dikehidupan mendatang, aku ingin terus bersamamu mencintaimu. Aku ingin bahagia hidup sama kamu dan anak-anak kita kelak. Aku tidak peduli kamu siapa. Aku tidak peduli kamu kaya atau miskin. Aku Cuma pengen kamu di hidupku, baik sekarang atau kehidupanku di masa depan” lanjutku. Gouw Boen San terdiam.