
KRIIING! Bel sudah berbunyi menandakan jam pelajaran terakhir sudah selesai. Murid-murid berhamburan keluar dari dalam kelas dan berbondong-bondong pulang. Ciara berjalan dengan santai menuju ke Halte bus, tampak ada beberapa siswa lain yang juga sedang menunggu di halte itu.
Rencananya, Ciara dan Cakra sehabis pulang sekolah akan langsung ke rumah Gino. Cakra sempat mengajak Ciara untuk pergi bersama ke rumah Gino tapi Ciara menolaknya. Tak berapa lama kemudian bus datang dan murid-murid segera masuk kedalam bus.
Sementara itu ditempat lain, kini Cakra sedang menuju ke parkiran untuk mengambil motornya. Halaman sekolah tampak sepi, padahal baru 10 menit setelah bel pulang berbunyi tapi murid-murid sudah banyak yang pulang.
"Du Du Du Du" Cakra bersiul sambil memain-mainkan kunci motornya.
Cakra menaiki motornya dan menyalakan mesin motor, namun motornya tidak menyala. Cakra mengerutkan keningnya, Cakra turun dan memeriksa motor itu.
"Waduh, gue lupa isi bensin! Duh, gimana nih?" Cakra menggaruk kepalanya sambil melihat sekitar. Tiba-tiba seorang pengendara motor menghampiri Cakra.
"Woi Cakra!" Sapa Vino seraya membuka helmnya.
"Tumben belum pulang, kenapa tu motor?" tanya Vino.
"Gue lupa isi bensin, jadi motornya ngga nyala. Duh, gimana gue mau pulang? Masa jalan kaki?"
"Ya jalan kaki aja, biar lo tambah sehat"
Cakra menatap Vino lalu tersenyum, "Gue nebeng lu ya?"
"Yee lu mah, ayo naik! Eh, tapi gimana nanti motor lu?"
"Oya, bener juga"
Tak jauh dari parkiran, tampak Theo dan Devan sedang berjalan menuju ke parkiran. Cakra langsung memanggil kedua temannya itu dan berlari sambil melemparkan kunci motornya kepada Theo.
"Woi, gue titip motor gue ya!" Seru Cakra.
"Eh, kenapa dititipin ke kita? Lo mau kemana?" tanya Devan.
"Gue mau ke Korea!" kata Cakra asal, cowok itu langsung naik keatas motor Vino. Mereka segera pergi meninggalkan sekolah menuju ke rumah Gino.
Ternyata rumah Gino cukup dekat dari sekolah, tak sampai 5 menit Cakra dan Vino sampai di rumah Gino.
"Makasih Vin, untung ada lo"
"Sama-sama, gue duluan ya!"
Setelah Vino pergi, Cakra segera masuk kedalam rumah Gino dan mengetuk pintu. Tak berapa lama, seseorang membuka pintu itu. Namun saat pintu terbuka, Cakra tidak melihat siapapun.
"Lah, ini pintu kebuka tapi kok ngga ada orangnya?"
"Kak, ini lo aku dibawah!" kata Vano cemberut.
Cakra melihat kebawah, ada seorang anak kecil berdiri dibalik pintu, ia hanya setinggi lutut Cakra. Pantas saja Cakra tidak melihat anak itu.
"Eh, maaf ya dek. Kakak ngga liat tadi" Cakra terkekeh.
"Eh, kak Cakra ya?" tanya Vano sembari menyipitkan matanya melihat wajah Cakra.
"Lah, kok tahu nama kakak?"
"Masa kakak lupa, kan kita pernah ketemu pas di alun-alun itu lho"
Cakra membungkukkan badannya dan menyamakan wajahnya dengan wajah Vano sembari mencoba kembali mengingat, " Oya, bener!"
"Ayo kak masuk, udah ada kak Ciara sama kak Gino!" Vano mengandeng tangan Cakra dengan tangan mungilnya, Vano lalu membawa Cakra menuju ke ruang tamu tempat Gino dan Ciara berada.
"Kak Gino, temen kakak udah dateng!" seru Vano sehingga membuat Gino dan Ciara langsung menoleh.
"Hai, Ra" Sapa Cakra sambil tersenyum. Sementara saat melihat Gino, ia langsung memasang wajah jutek seolah-olah tidak peduli dengan laki-laki itu.
"No, Temen-temen kamu udah dateng ya?" Terdengar suara wanita dari arah dapur, tak jauh dari ruang tamu.
"Iya tante" kata Gino.
Seorang wanita berambut pendek pun keluar dari dapur sembari membawa sebuah nampan yang diatasnya ada berbagai cemilan.
"Ayo, nak, silahkan duduk" kata Devia saat melihat Cakra yang masih berdiri dengan Vano disampingnya.
Cakra menoleh, ia tersentak kaget saat melihat Devia yang tengah berjalan kearah mereka. Devia menghentikan langkahnya dan menatap Cakra tidak percaya. Cakra berjalan mundur dan langsung membuang muka dari wanita itu.
"Cakra" Devia maju satu langkah dan menatap Cakra lekat, ia tidak mungkin salah lihat, itu Cakra.
Gino yang melihat Devia dan Cakra saling bertatapan menjadi bingung, "Tante kenal sama Cakra?"
"Oh, iya, tante kenal"
"Ca, ayo duduk!" panggil Ciara, Cakra mengangguk dan segera duduk disamping Ciara.
Ciara menatap Cakra yang tampak gelisah, "Ca, kamu kenapa?"
"Gak pa pa, Ra" Cakra berusaha tetap tersenyum kepada Ciara.
Ciara menyipitkan matanya, sepertinya cowok itu berbohong. Sementara itu Devia sedang menaruh nampan berisi cemilan-cemilan itu di atas meja dan menatap Cakra sejenak. Ingin sekali rasanya Devia memeluk anaknya itu dan meminta maaf untuk semua kesalahan yang ia lakukan dulu. Devia menghela napas dan beranjak pergi dari ruang tamu. Namun sebelum benar-benar pergi, Devia kembali menoleh dan menatap putra nya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Maafin mama nak" lirih Devia.
Cakra menjadi sangat gelisah saat mengetahui Devia ada rumah Gino, tangannya terus gemetar dan pikirannya menjadi kacau saat memori-memori buruk itu kembali memenuhi pikirannya.
"Tunggu, tunggu, tadi Gino manggil Devia tante? Berarti ... Selingkuhan mama dulu itu pamannya Gino? Dan Vano itu .... DIA ADIK GUE?" batin Cakra, Cakra seakan tidak percaya dengan apa yang dirinya pikirkan baru saja. Ada kemungkinan jika Vano itu memang adiknya, dan bisa-bisanya selingkuhan Devia itu adalah pamannya Gino?!!!
"Woi, Cakra!" Celetuk Gino.
"Hah? Apaan?" Cakra kaget dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Lo ngapain bengong mulu, dibuka tu buku" Kata Gino.
"Sabar kali, udah kayak emak-emak aja" Guman Cakra pelan, namun Gino langsung kembali menoleh ke arah Cakra, sepertinya laki-laki itu mendengar ucapan Cakra.
Sementara itu Ciara sibuk membuka buku paket dan juga LKS untuk mencari materi mengenai teks prosedur.
"Nah! Ketemu nih!" Kata Ciara senang.
"Halaman berapa?" tanya Gino sambil membuka buku paketnya.
"Halaman 106"
Ciara membantu Cakra dan Gino untuk mencari materi-materi mengenai tugas mereka baik di buku paket, LKS, dan internet. Mungkin sekitar 2 jam mereka mengerjakan tugas itu sambil sesekali bersenda gurau dan mengobrol tentang guru-guru yang terkenal galak di sekolah mereka.
Tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 17.00, hujan perlahan mulai turun dengan deras. Cakra melihat dari balik jendela, lalu membereskan buku-bukunya yang berserakan di meja.
"Gue duluan ya" Pamit Cakra.
"Lah, kok udah pulang aja? Disini aja dulu" kata Ciara.
"Iya tuh, masih jam 5 juga" sahut Gino.
"Gue ada urusan, gue harus buru-buru nih, sorry ya"
Setelah Cakra membereskan buku-bukunya, ia pamit dengan Ciara dan Gino dan keluar dari rumah itu. Hujan masih deras diluar, Cakra melihat sekeliling, jalanan terlihat sepi dan kelihatannya tidak ada halte bus didekat rumah Gino.
"Aduh, gimana gue mau pulang?"
Pintu rumah kembali terbuka dan tampak Devia berjalan keluar menghampiri Cakra yang masih tengah kebingungan untuk pulang.
"Nak, pakai payung ini aja" kata Devia sehingga membuat cowok itu menoleh dan terkejut.
"Maaf, saya ngga perlu" tolak Cakra.
"Cakra, ini hujan deras lho, kamu juga ngga bawa motor gimana kamu mau pulang?" Tanya Devia yang khawatir dengan Cakra.
"Saya bisa jalan dari sini"
Cakra berbalik dan hendak pergi, namun Devia menarik tangan Cakra dan memberikan payung itu.
"Kamu bawa payung ini" kata Devia.
"Saya bilang, saya ngga perlu payung ini!" bentak Cakra. Ia menatap Devia dengan penuh kebencian.
"Saya tidak perlu bantuan dari anda!" Cakra melepaskan tangan Devia dengan kasar dan berjalan pergi meninggalkan rumah Gino.
Devia menatap sendu Cakra yang masih berjalan ditengah derasnya hujan sore itu. Hati Devia sangat sakit mendengar ucapan Cakra dan melihat anaknya kini sangat membenci dirinya.
Hujan sore itu semakin deras, namun nyatanya itu tak membuat semua rasa sakit dalam dada Cakra kunjung menghilang. Cakra tidak bisa menahan rasa takut dan gelisah terus menyelimuti dirinya sedari tadi, Cakra meletakkan kedua tangannya di telinga dan berusaha menenangkan diri.
"Woi, Lo ngapain hujan-hujanan di tengah jalan?" Seru seseorang dari kejauhan, ada seorang cewek dengan rambut Pixie Cut sedang memegang payung ditangannya dan menatap Cakra dengan bingung.
"Lo punya telinga atau ngga sih? Lo budek atau gimana?" Pekik Cewek itu.
"Lo bisa diem ngga sih?!" Cakra berbalik dan menatap kesal cewek dengan rambut Pixie Cut itu.
Cewek itu mendengus kesal dan berjalan mendekati Cakra, ia lalu memayungi cowok itu dan membawa Cakra ke sebuah Halte bus yang lumayan dekat dari tempat mereka berada.
"Lo itu ngapain sih ditengah jalan hujan-hujanan lagi, gila lo?"
"Terserah gue, ngapain lo yang sewot?" Cakra menatap sebal cewek itu.
Cewek itu melepaskan jaketnya dan memakaikan jaket itu kepada Cakra, Cakra terkejut dan menolak jaket dari cewek itu.
"Eh, eh, lo ngapain? Gue ngga butuh jaket lo" kata Cakra
"Pake aja, gue liat lo udah menggigil tuh. Udah ya, gue pergi. Nanti bentar lagi juga ada bus yang datang" Cewek itu kembali memakai payungnya dan berlalu pergi.
"Woi, bentar! Nama lo siapa?" Seru Cakra.
Cewek itu menoleh sebentar, "Gue Helen!"
Setelah menjawab pertanyaan Cakra gadis itu kembali melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Cakra yang masih duduk di halte bus.
.
.
Bersambung
Visual Karakter Helen:
Maaf kalo rambutnya bukan model Pixie ya, anggap aja lah Pixie Cut hehe 😅😅
Oya, jangan lupa like, vote dan komentar ya. makasih udah dukung karya ini bye bye .....