Between We

Between We
Bab 6



...Tidak semua orang memiliki masa lalu yang indah, ada yang yang berpura-pura bahagia untuk menutup semua masalahnya...


...Terkadang kenyataan berbanding terbalik dengan harapan, namun bukan berarti semuanya akan berjalan buruk bukan? Masalah tidak akan membuat kita semakin terpuruk, justru masalah itu yang akan membentuk kita menjadi lebih baik kedepannya 😊...


.......


.......


Kini Cakra dan Ciara duduk di bangku yang disediakan di tepi jalan alun-alun, Ciara terkejut saat mendengar cerita Cakra mengenai dirinya dan keluarganya. Ciara tidak menyangka Devia akan sejahat itu dengan keluarganya sendiri.


"Jadi, alasan kamu pindah ke New York karena masalah ini?" tanya Ciara hati-hati.


"Iya" jawab Cakra singkat. Dari sorot matanya ia tampak sedih, luka lama yang sudah lama ia kubur perlahan kembali memenuhi pikirannya.


Ciara mengelus kepala Cakra dan menatap cowok itu lekat, "Ca, aku tahu kalo ini sulit buat kamu. Tapi bukan berarti kamu harus terus-terusan sedih kan? Semuanya udah berlalu, kamu harus bisa menerima kenyataan Ca"


"Tapi semua itu ngga mudah Ra" Cakra menatap Ciara, matanya berkaca-kaca.


Ciara hanya tersenyum dan memeluk cowok itu. Cakra menyembunyikan wajahnya dibalik bahu Ciara dan menumpahkan semua air matanya. Rasa sakit, ketakutan, benci, marah semuanya menjadi satu. Satu-persatu memori itu kembali lagi membuat pikirannya kacau.


"Aku capek Ra, aku capek" lirih Cakra.


Ciara berusaha menenangkan Cakra, mungkin jika dia ada di posisi Cakra dia pasti juga akan merasa sangat sedih bahkan bisa sampai bunuh diri. Ciara mengusap air mata Cakra, jujur ia agak sedikit deg-degan karena jarak dia dengan Cakra sangat dekat saat ini. Jantungnya berdegup dengan kencang, namun ia berusaha untuk tetap cool.


"Udah jangan sedih lagi, bocil" Ciara tertawa melihat wajah Cakra yang lucu sehabis menangis.


"Bocil, bocil, heh aku 10 hari lebih tua dari kamu" Kata Cakra sebal.


"Udah nih ceritanya? Kalo gitu ayo kita main, liat tuh banyak wahana lho" ajak Ciara sambil menarik tangan Cakra.


"Aku masih capek Ra" tolak Cakra.


"Justru karena itu, makanya kita main. Nanti kalo kamu menang, aku bakal traktir deh"


"Beneran?" Cakra langsung berdiri dan menatap Ciara antusias.


"Yaudah ayo!"


"Giliran di traktir langsung mau, ya udah ayo keliling dulu"


Ciara berjalan mendahului Cakra sembari melihat-lihat wahana disekitar, Cakra tersenyum dan mengejar Ciara yang berjalan semakin menjauh.


"Jadi, mau main apa nih?" tanya Cakra.


"Hmmm, Ca ayo naik kuda-kudaan"


"Yaelah Ra, kita kan udah gede masa naik kuda-kudaan"


"Aaaa, ayo dong ya please"


Cakra hanya mengangguk, Ciara tersenyum senang dan menarik Cakra menuju ke wahana yang ditunjuknya tadi. Setelah membayar, mereka naik ke wahana itu, Ciara tampak sangat senang sambil sesekali mengambil foto saat menaiki kuda.


"Cakra, ngadep sini!" kata Ciara sambil mengangkat ponselnya keatas bersiap mengambil foto.


Cakra tersenyum sambil menjulurkan lidahnya kearah kamera, Ciara langsung menatap Cakra dengan tajam.


Cakra mengganti pose nya dengan dua jari sambil mengedipkan sebelah matanya. Ciara tertawa saat melihat foto dirinya dengan Cakra.


"Liat nih Ca, muka kamu udah kaya genderuwo aja" kata Ciara seraya menunjukkan foto tadi kepada Cakra yang ada dibelakangnya.


"Yee muka aku ganteng kayak gitu malah dibilang genderuwo, muka kamu tuh kayak kuntilanak"


"Ah!" Cakra merintih kesakitan saat Ciara memukul jidatnya, Cakra tersenyum tipis melihat kekonyolan gadis itu.


Setelah menaiki wahana tersebut, mereka lalu bermain capit boneka. Cakra dan Ciara berlomba siapa yang berhasil mengambil boneka dari dalam mesin itu akan di traktir.


"Yeah, liat ni Ca. Aku hampir ngambil bonekanya" kata Ciara, namun beberapa saat kemudian boneka yang berhasil ia ambil malah kembali terjatuh.


"Hahaha" Cakra tertawa terbahak-bahak.


Cakra berusaha mengambil boneka beruang dalam mesin itu, namun ia tidak berhasil justru yang ia dapat malah boneka katak, monyet, gorila dan ular. Tapi, lumayan kan udah dapat empat. Emang rezeki anak sholeh


Hingga akhirnya Ciara menyerah dan memukul mesin itu karena kesal dari tadi berhasil mengambil satupun boneka.


"Liat nih, aku dapat banyak boneka" pamer Cakra sambil tersenyum kemenangan


"Iya, iya, Pak Cakra"


"Mau satu ngga? Aku kasih nih"


"Ya udah aku mau yang gorila" kata Ciara sembari mengambil boneka gorila dari tangan Cakra.


"Eh, jangan lupa nanti traktir aku. Aku kan udah menang"


"Iya, nanti aku traktir besok disekolah"


"Lah kok disekolah? Ya sekarang lah"


"Terserah aku, duit-duit aku kok" Ciara menjulurkan lidahnya dan berlari menjauhi Cakra


"CIARA! JANGAN KABUR"


Mereka saling kejar-kejaran ditengah ramainya pengunjung di alun-alun. Malam itu adalah malam yang paling bahagia bagi Ciara maupun Cakra, untuk sekian lama mereka bisa kembali bersama seperti ini setelah bertahun-tahun tidak bertemu.


Setelah drama kejar-kejaran, Cakra kemudian mengantar Ciara pulang ke rumahnya. Sebelum masuk kedalam rumah, Cakra memanggil Ciara hingga membuat gadis itu menoleh.


"Ciara!" Panggil Cakra.


"Apa?" Ciara menoleh, menatap cowok itu.


"Ngga pa pa, cuma manggil doang"


"Makasih buat semuanya" kata Cakra lagi.


"Iya, sama-sama"


Ciara berbalik dan melanjutkan langkahnya, namun Cakra kembali memanggil dirinya.


"Ciara!"


"Apa lagi?"


"Jangan lupa nanti sebelum tidur doain aku buat tambah ganteng" Cakra tersenyum cengengesan.


Ciara menggelengkan kepalanya melihat sikap Cakra yang ada-ada saja. Cakra melambaikan tangan kepada Ciara dan berlalu pergi meninggalkan rumah gadis itu.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Cakra sampai di rumahnya. Ketika membuka pintu, cowok itu kaget melihat teman-temannya yang sedang asyik mengobrol di ruang tamu.


"Woi, kalian kok bisa ada disini? Ngga ngasih tahu gue lagi"


"Kita nginep ya" kata Devan.


"Eh, ngga boleh! Nanti rumah gue langsung roboh kalo kalian nginep"


"Kak, jangan diusir dong teman-temannya, kasian lho. Udah ngga pa pa, lagian kan masih ada beberapa kamar kok yang masih kosong" kata Celine.


"Eh, ngga usah repot-repot nyediain kamar, nanti kita bertiga tidur di kamar Cakra" ucap Vino dengan santai.


Cakra menatap tajam kearah tiga temannya, bisa-bisa dia ngga dapat tempat tidur kalo mereka semua tidur di kamarnya.


"Ya udah, ayo ke kamar gue"


Cakra segera menuju ke kamarnya di ikuti sobi-sobinya. Theo mengapit leher Cakra dan tersenyum melihat kearah Cakra.


"Gimana tadi sama Ciara? Seru ngga?"


Cakra menatap horor cowok bermata sipit itu dengan wajah cemberut, " Gimana sih, kemarin katanya bakal pergi bareng-bareng ke alun-alun. Lah ini malah ninggalin gue sendirian disana"


"Yee, itu rencana kita biar lo sama Ciara makin dekat" kata Vino


"Tapi gimana? Seru ngga?" tanya Devan.


"Seru banget sumpah" Cakra tersenyum antusias, ia jadi senyum-senyum sendiri saat mengingat ketika ia dan Ciara di alun-alun tadi.


"Ngga usah senyum-senyum, nanti ketindihan" kata Theo.


Theo, Vino, dan Devan langsung melompat ke atas tempat tidur Cakra dan dengan santainya mereka tiduran meski harus berdempetan.


"Woi, woi, turun! Gue mau tidur dimana cuy?" Kata Cakra sambil memukul kaki ketiga temannya.


"Ya lo gabung sama kita-kita" kata Vino.


"Heh, lo kira kira suami istri gitu tidur satu ranjang gitu? Oh, ngga bisa! Nanti keperawanan gue ternodai"


"Heh, ngga usah lebay. Tinggal naik trus tidur aja" kata Devan


Mereka saling bertengkar tentang tempat tidur sampai tengah malam, hingga akhirnya mereka tertidur lelap di atas kasur.


Bersambung ....


Haiii makasih ya bagi kalian yang udah support karya ini, jangan lupa like dan vote bye bye 👋✨