Between We

Between We
Bab 2



"Hai"


"Oh, Gino" ujar Ciara.


"Aku bawain ini buat kamu"


Gino memberikan sebuah paper bag kepada Ciara sembari tersenyum. Ciara menerima paper bag itu dengan senang.


"Makasih ya"


"Em, kalo gitu aku duluan ya" ujar Gino.


"Oh, ngga mau masuk dulu? Sekalian ngobrol gitu" ajak Ciara sembari membuka pintu rumah lebar-lebar.


"Lain kali ya, soalnya habis ini aku ada acara keluarga"


"Oh, gak pa pa. Hati-hati ya"


Gino mengangguk, ia melambaikan tangan kepada Ciara sebelum berlalu pergi. Gino adalah teman satu kelas Ciara, mereka bersekolah di SMA yang sama. Bisa dibilang mereka cukup akrab, karena kedekatan mereka banyak dari teman-teman di sekolah Ciara yang menganggap mereka berpacaran.


"Cih, cowok tadi siapa? Kok sampe ngasih hadiah gitu ke Ciara?" guman Cakra.


Tak jauh dari rumah Ciara, Cakra dan kawan-kawan nya ternyata melihat kejadian tadi. Tampak wajah Cakra yang kesal, seperti nya dia cemburu dengan kedekatan Ciara dan Gino.


"Itu cowok siapa? Pacarnya Ciara?" tanya Cakra.


"Bukan itu temen nya" sahut Theo.


"Temen ato temen" goda Devan.


"Eh udah diam kalian, udah kayak emak-emak aja" kata Vino yang kesal melihat tingkah Theo dan Devan.


"Ah, udahlah gue mau pulang aja!" Cakra berbalik dan hendak pergi, namun teman-teman nya menahan dia.


"Eh jangan pulang dulu!" Cegah Devan.


"Kan lu belum ketemu sama Ciara!" Ujar Vino sambil menarik tangan Cakra.


"Iya, bener tu. Minimal ketemu dulu lah, sapa kek. Kan dah lama kalian ngga ketemu, 10 tahun lho" kata Theo seraya menghalangi jalan Cakra.


"Eh udah lepasin! Kalian kira gue ayam gitu yg kalian pegangin terus!"


Cakra melepaskan dirinya dari teman-teman nya dan berjalan pergi. Hari ini mood nya benar-benar kacau, padahal ia sudah sangat antusias ingin bertemu dengan gadis itu kini dia malah melihat gadis itu dekat dengan cowok lain.


Cakra masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja meninggalkan kawasan perumahan tersebut. Sesampainya di rumah, Cakra segera ke kamar dan mengganti pakaiannya.


"Kenapa Kak? Kok mukanya cemberut gitu?" Tanya Celine, adik Cakra.


"Ngga pa pa"


"Gimana tadi di resepsi pernikahannya? Kakak ketemu sama kak Ciara?"


"Ah, udahlah! Ngga usah bahas tentang Ciara!"


"Lah, kenapa? Kan kakak sendiri yang bilang kemarin katanya kakak mau datang ke resepsi pernikahan kak Yuna biar bisa ketemu sama kak Ciara" kata Celine


"Ciara ngga datang" ujar Cakra kesal.


"Oh, pantesan"


"Kenapa?" Cakra menoleh kearah Celine.


"Yaa pantes kalau kak Cakra kelihatan kesel gitu"


"Bukan karena itu aja" Batin Cakra.


.......


.......


Beberapa hari kemudian...


Ciara duduk di balkon sambil melihat suasana pagi itu. Beberapa saat kemudian ibunya datang dan duduk di samping Ciara.


"Ra"


"Iya, mah?"


"Hari ini kita ke pantai yuk!" ajak Fia.


"Beneran?"


"Iya, masa mama bohong. Ayo kamu siap-siap, nanti jam 8 kita berangkat"


"Siap mah!"


Hingga jam menunjukkan pukul 08.00, Ciara dengan keluarganya berangkat ke pantai dengan menggunakan mobil. Perjalanan memakan waktu cukup lama, sekitar 1 jam.


Setelah sampai di Pantai Parangtritis, mereka memutuskan untuk sarapan di Restoran dekat pantai.


"Enak banget" ujar Ciara sambil melahap Cumi dan udang yang tadi ia pesan di Restoran tersebut.


Beberapa menit kemudian, seorang cowok masuk ke tempat maka tersebut dan mengambil tempat duduk tepat di samping tempat duduk Ciara dengan keluarganya.


"Mas nya mau pesan apa?" tanya pelayan restoran itu.


"Em, saya pesan Cappucino Cincau sama Lobster asam pedas" ujar laki-laki itu.


Suara laki-laki itu, sepertinya Ciara mengenalnya. Gadis itu menoleh dan melirik sebentar laki-laki yang duduk di meja sampingnya. Mata sipit, kulit putih, Curtain Haircut, kemeja coklat dan celana selutut. Mengapa style, perawakan dan gaya rambutnya bisa mirip dengan Cakra?


"Kayak kenal, tapi siapa ya?" guman Ciara.


"Ada apa mbak? Kok ngeliatin saya dari tadi?" Laki-laki itu tidak menoleh, ia hanya fokus dengan ponsel yang ia pegang. Sepertinya laki-laki itu menyadari bahwa Ciara dari tadi memperhatikannya.


"Oh, ngga pa pa mas"


Laki-laki itu menoleh setelah mendengar suara Ciara, tebak siapa laki-laki itu? YA BENAR CAKRA!


Cakra ikut terkejut saat mengetahui gadis yang di meja sampingnya adalah Ciara dan ternyata gadis itu tidak sendiri, ada keluarganya juga.


"Ciara?!"


Ciara menoleh, "Kok mas nya tahu nama saya?"


Setelah beberapa saat kedua nya saling bertatapan, Ciara menyadari sesuatu. Ia seperti familiar dengan wajah laki-laki itu, dan anehnya mengapa laki-laki itu bisa mengenal Ciara? Gadis itu berdiri dan mendekati laki-laki itu.


"KAMU CAKRA?"


"I-iya, aku Cakra"


"Astaga, aku sampe ngga kenal sama kamu. Wah kamu sekarang udah beda ya" ujar Ciara


"Kamu sendirian?" tanya Ciara.


"Eh, ngga. Ada temen-temen aku juga, aku lagi nunggu mereka" kata Cakra.


"Kamu mau gabung ngga sama aku? Kebetulan ada keluarga aku juga" ujar Ciara


"Emm, ya udah"


Ciara menarik tangan Cakra dan membawanya bergabung dengan dia dan keluarganya.


"Mah, Pah. Ini Cakra" ujar Ciara, sementara Cakra yang berdiri dibelakang Ciara tampak malu-malu.


"Cakra? Oh temen kamu yang waktu itu pindah ya?" ujar Tian, ayah Ciara


"Ayo nak, gabung aja! Ayo sini duduk" ujar Fia, ibu Ciara.


Cakra agak sedikit canggung, mungkin karena sudah lama ia tak bertemu dengan Ciara dan keluarganya. Padahal dulu laki-laki itu sangat akrab dengan keluarga Ciara.


Mereka saling berbincang-bincang. Tak lama kemudian, teman-teman Cakra datang ke restoran itu dan mencari Cakra.


"Eh si Cakra mana?" ujar Theo


"Itu bukannya Cakra ya?" Devan


"Eh, iya itu Cakra. Dia sama siapa tu? Kok rame banget meja nya" Theo


"Itu kan Ciara sama keluarganya!" Vino


"Lah, kok dia malah gabung sama keluarganya Ciara?" Devan


"Biarin aja, lagian ini kesempatan bagus buat dia. Bisa deket sama Ciara sekaligus keluarganya" Vino


"Dah yuk kita cari meja trus pesan makanan, dah lapar gue" ujar Theo


Ketiga cowok itu mengambil meja di dekat meja Cakra dan keluarganya Ciara. Ketika sedang asyik mengobrol, Cakra menyadari teman-temannya yang ternyata dari tadi melihat dirinya sedang berbincang-bincang dengan keluarga Ciara.


"Haloo" Devan melambaikan tangan nya kearah Cakra sambil tersenyum, cowok itu menjulurkan lidahnya mengejek Cakra.


"Kerja bagus bro!" kata Theo


"Lanjutkan, siapa tahu jodoh" ujar Vino sambil mengacungkan jempolnya.


"Yaelah, ini gara-gara kalian gue jadi kejebak disini sama keluarga Ciara. Awas kalian, tak jitak kepala kalian nanti!" batin Cakra.


Bersambung


Hai guys jangan lupa untuk vote dan like yaa, karena vote dan like dari kalian sangat berarti MAKASIH ❤️💐✨