Between We

Between We
Bab 3



Setelah selesai makan, orangtua Ciara dan Elly pergi duluan ke pantai dan menyisakan Ciara dengan Cakra di restoran itu untuk mengobrol berdua. Keduanya menjadi canggung, mungkin karena sudah lama tidak bertemu.


"Aduh, kok jadi diam-diaman gini, gue harus ngomong apa nih?" batin Cakra.


"Kok jadi canggung ya pas ketemu sama dia" batin Ciara.


Sementara itu teman-teman Cakra yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua juga merasa bingung melihat keduanya yang canggung satu sama lain.


"Yaelah malah jadi patung" ujar Devan sambil melirik Ciara dan Cakra bergantian.


"Si Cakra malah malu-malu kucing sama Ciara, giliran sama kita ngga tahu malu" guman Theo yang masih asyik menyantap es kelapa yang tadi ia pesan.


"Ya diajak ngomong kek, tanya kabar atau apa gitu" kata Vino.


Cakra mengalihkan pandangannya ke arah Ciara dan memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana.


"Udah lama ya kita ngga ketemu, gimana kabar kamu? Kamu sekarang sekolah dimana?" tanya Cakra.


"Iya sih, udah lama ya. 10 tahun yang lalu, haha. Sekarang aku sekolah di SMA 2 Yogyakarta" jawab Ciara.


"Oh, berarti kamu satu sekolah dong sama Theo, Devan, Vino?"


"Iya, kami satu sekolah cuma beda kelas aja"


"Kamu kemarin kok ngga datang di resepsi pernikahan kak Yuna?" tanya Cakra lagi.


"Aku lagi ngga enak badan, jadi aku ngga datang hehe" ujar Ciara sembari tersenyum.


Tiba-tiba senyum Ciara menghilang, ia seperti teringat sesuatu. Gadis itu kembali menatap Cakra.


"Eh, kamu yang waktu itu nabrak aku di jalan kan? Yang pake jas hitam?" Tanya Ciara.


"Eh, iya. Waktu itu aku ngga sengaja nabrak kamu, soalnya aku buru-buru. Soalnya waktu itu mobil aku mogok, jadinya aku harus jalan sampe ke hotel" ujar Cakra sambil tersenyum kikuk.


"ASTAGA! Jadi yang gue tabrak waktu itu Ciara, duh mampus gue!" batin Cakra.


"Oh, gitu. Ngga pa pa kok, oiya aku mau ngembaliin ini ke kamu"


Ciara merogoh saku roknya dan mengeluarkan gantungan kunci kemudian memberikannya kepada Cakra. Cakra kaget saat menerima gantungan kunci itu, padahal ia sudah mencari gantungan kunci itu dimana-mana ternyata benda itu ada di Ciara.


"Makasih banyak, kamu nemu gantungan kuncinya dimana?"


"Waktu kamu nabrak aku kemarin, kamu ngga sengaja jatuhin gantungan kunci ini di jalan. Jadi gantungan kuncinya aku ambil"


"Makasih banget ya"


Cakra melihat ke luar, ia lalu kembali menatap ke arah Ciara. "Ra, mau ke pantai bareng?" tanya Cakra.


"Boleh, yuk!"


Cakra tersenyum senang, Cakra berdiri lalu menggandeng tangan Ciara dan membawanya keluar dari restoran itu. Mereka berjalan beriringan menyusuri pantai sembari menikmati pemandangan sekitar.


Angin di pantai cukup kencang sehingga membuat rambut Ciara terbang kesana-kemari. Ciara memperhatikan tangan Cakra yang menggenggam erat tangan mungilnya.


"Wah, wah, si Cakra langsung sat set" kata Devan


"Kapan ya gue bisa kayak gitu?" guman Theo


"Kapan-kapan" kata Vino seraya mengapit leher Theo erat.


Teman-teman Cakra memperhatikan mereka dari kejauhan, mereka diam-diam mengambil foto Cakra dan Ciara yang masih asyik berduaan di pantai.


"Cakra!" panggil Ciara.


"Hm?" Cakra menoleh kearah Ciara.


"Kesana yuk!" ajak Ciara seraya menunjuk sebuah ayunan tak jauh dari tempat mereka berada.


Cakra mengangguk, mereka berjalan mendekati ayunan itu. Ciara lalu berlari dan duduk diatas ayunan itu. Cakra tersenyum melihat tingkat Ciara yang seperti anak kecil saat sedang bermain ayunan.


"Cakra! Ayo dorongin ayunannya!"


"Iya, iya"


Cakra menghampiri Ciara dan mendorong ayunan itu agar bergerak lebih kencang, Ciara berteriak kesenangan. Tak jauh dari tempat itu, kedua orangtua Ciara ternyata melihat Ciara dan Cakra yang masih asyik berduaan di ayunan.


"Whoooaaaaaaa!" Seru Ciara kegirangan.


"Ayo Ca! Dorong lagi!" kata Ciara.


"Iya Ra" sahut Cakra.


"Liat tuh pah, anak kamu" ujar Fia, ibu Ciara sambil tersenyum.


"Si Ciara bahagia banget" guman Tian.


"Ya wajar lah, kan mereka dulu teman dekat. Kemana-mana selalu berdua"


"Kak Ciara dan Kak Cakra romantis banget, nanti aku kalo udah besar mau kayak mereka" ujar Elly polos.


"Eh, lly. Kamu tuh masih kecil, jangan mikir tentang pasangan dulu" ujar Fia sembari mengelus kepala Elly.


Setelah bermain ayunan, Cakra dan Ciara lalu membeli gulali dan duduk berdua di tepi pantai sembari menikmati suasana siang hari itu.


Cakra memperhatikan Ciara yang sedang memakan gulali nya, Cakra tersenyum kecil. Ciara yang menyadari bahwa Cakra sedari tadi menatap nya kemudian menoleh.


"Kenapa Ca?" tanya Ciara


Cakra terkejut, dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. "Ngga pa pa"


Ketika Cakra dan Ciara sedang asyik berduaan, tiba-tiba terdengar dari kejauhan seseorang memanggil nama Ciara.


"Ciara!"


Laki-laki itu berjalan mendekati Ciara dan menyapa gadis itu.


"Hai, Ra" sapa Gino.


"Oh, hai"


Gino menatap kearah cowok yang duduk disamping Ciara. Gino dan Cakra saling bertatapan, "Itu siapa Ra?"


"Oh iya kalian belum kenalan ya. Ini Cakra temen dekat aku" ujar Ciara.


"Cakra, ini Gino. Temen aku, dia satu sekolah sama aku"


Cakra menatap tajam ke arah Gino, tentu saja Cakra tidak menyukai laki-laki ini karena sudah mendekati Ciara. Gino membalas tatapan Cakra dengan tatapan sinis.


"Kok malah tatap-tatapan, ayo salaman dulu"


Kedua cowok itu langsung menatap ke arah Ciara karena terkejut.


"Idih, ngga sudi gue jabat tangan sama dia" batin Cakra seraya menatap sinis Gino.


"Amit-amit, mana mau gue jabat tangan sama ni orang" batin Gino kesal.


"Ayo dong" Ciara memegang tangan Cakra dan Gino dan memaksa mereka untuk berjabat tangan. Dengan terpaksa, kedua cowok itu berjabat tangan.


"Ciara, udah makan? Kita makan bareng yuk!" ajak Gino


"Aku-"


"Ciara udah makan tadi sama gue" ujar Cakra


"Gue ngga nanya lo" Gino menatap tajam kearah Cakra, ia lalu kembali tersenyum kearah Ciara.


"Yuk, kita makan siang bareng"


Gino menggandeng tangan Ciara dan hendak membawanya pergi, namun Cakra mencegah cowok itu dan menarik tangan Ciara sehingga Ciara jatuh dalam pelukan Cakra.


"Ciara sama gue, titik!" kata Cakra.


"Lo!" Gino


"Udah! Gue sama Cakra aja, Gin" ujar Ciara


"Ya udah, okey" Gino tampak kecewa dengan jawaban Ciara, cowok itu pun pergi meninggalkan Cakra dan Ciara.


"Emm, Ca" Ciara mendongakkan kepalanya menatap cowok itu.


"Hmm, kenapa ra?"


"Bisa lepasin aku nggak?"


Cakra terkejut, ia sadar bahwa dari tadi ia sedang memeluk Ciara dan banyak yang memperhatikan mereka.


"Eh, sorry" ujar Cakra. Wajah Cakra tampak memerah.


"Ngga pa pa" ujar Ciara.


"Justru aku malah senang" Batin Ciara sambil senyum-senyum sendiri.


Tiba-tiba ponsel Ciara menyala, tampak ada panggilan masuk. Ciara segera mengangkat telepon tersebut.


"Halo Ciara" ujar Fia


"Halo mah"


"Ayo kesini!"


Ciara memperhatikan sekeliling dan melihat Fia dari kejauhan yang sedang melambaikan tangan kearahnya.


"Iya, Ciara ke sana"


Ciara mengakhiri telepon dan menatap Cakra,


"Ca, aku dipanggil sama mama, maaf ya aku pergi dulu"


"Oh, ngga pa pa"


Ciara melambaikan tangan sebelum berlalu pergi meninggalkan Cakra. Cakra menatap punggung Ciara yang semakin menjauh.


"Woii Cakra!!" Seru Devan.


Cakra menoleh kebelakang, tampak Devan dengan sobi-sobi nya melambaikan tangan kepada Cakra. Devan dan teman-temannya lalu menghampiri Cakra dan merangkul cowok itu.


"Gue cariin dari tadi" kata Devan.


"Taunya malah berduaan sama si Ciara" Goda Theo.


"Wih, hebat banget lo. Udah ketemu sama Ciara langsung ngobrol sama orang tuanya, wah wah ini calon menantu yang hebat" kata Vino.


"Heh, ini gara-gara kalian datang terlambat gue jadi gabung makan sama keluarganya Ciara" Ujar Cakra kesal.


"Justru harusnya Lo berterima kasih berkat kita lo jadi deket sama Ciara sekaligus keluarganya!" kata Vino lagi.


"Dah yuk kita makan, dah lapar gue" ajak Theo


"Makan terus!!" ujar Devan, Vino, dan Cakra bersamaan.


"Heran gue, kerjaan lu makan tapi ngga pernah gendut" ujar Cakra


"Dah lah, ayo makan. Ada warung makan deket sini" ujar Vino


Bersambung