Between We

Between We
Bab 10



Hari-hari terus berlalu, Cakra masih larut dalam kesedihannya, entah mengapa setelah bertemu kembali dengan sang ibu ia justru tidak bisa melupakan kejadian 10 tahun lalu yang terus menghantui dirinya sampai sekarang.


Sekarang sudah jam istirahat, dan kelas cukup sepi karena murid-murid sudah berbondong-bondong pergi ke kantin. Kini hanya tersisa dirinya sendiri dalam kelas itu, Cakra memasang earphone di telinga dan menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya sembari melihat ke arah jendela.


"Seandainya waktu itu, mama ngga selingkuh, mungkin papa sama kak bintang masih ada disini ..."


"Kita pasti masih bisa kumpul bareng kayak dulu ..."


"CAKRAAA!"


Cakra tersentak saat mendengar seseorang memanggil namanya dengan keras tepat disamping telinganya. Cakra segera mendongakkan kepalanya dan menoleh, disampingnya sudah ada Theo yang duduk manis di bangku samping tempat Cakra duduk.


"Lo ngapain teriak-teriak? Kalo telinga gue pecah, lo mau tanggung jawab gitu?"


"Yee, tumben lo cuma dikelas, kenapa lo? Lagi galau, putus cinta?" Tanya Theo


"Lagi males gue"


"Ayo ke kantin! Temenin gue, yang lain pada ngga bisa soalnya lagi ada ulangan matematika" Ajak Theo sambil menarik-narik tangan Cakra.


"Ah, lo pergi sendiri aja, gue lagi ngga mood"


"Ayo lah Ca, atau gue traktir nih. Nanti gue traktir lo bakso 3 mangkuk deh!"


Cakra langsung berdiri dan menatap Theo berbinar-binar, "Ya udah ayo!"


Cakra dan Theo beranjak meninggalkan kelas menuju ke kantin, kantin tampak ramai dan semua bangku sudah terisi dengan murid-murid kelas 12 dan kelas 11. Theo dan Cakra kebingungan saat akan mencari tempat duduk, karena hampir semuanya sudah penuh.


"Waduh Ca, ini kita duduk dimana?" Theo mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari tempat duduk yang masih kosong.


"Itu ada yang kosong!" kata Cakra sembari menunjuk salah satu tempat duduk di pojok kantin, satu-satunya tempat duduk yang masih kosong.


Cakra dan Theo berjalan menuju ke arah tempat duduk itu, namun saat Cakra hendak menaruh nampan berisi 2 mangkuk bakso di atas meja itu ada seseorang yang mencegah Cakra.


"Gue duluan!" kata Helen menatap tajam Cakra.


"Ngga kita duluan yang disini, lo ngga liat temen gue udah naruh bakso disini?" kata Theo.


"Gue ngga peduli, ini tempat duduk gue!" tolak Helen.


"Lo gimana sih, jadi orang jangan egois gitu dong!" Balas Theo.


Cakra jadi kebingungan melihat Theo dan Helen yang bertengkar satu sama lain, "Udah, udah, gimana kalo kita gabung aja?"


"NGGA!" Sahut Helen dan Theo bersamaan membuat Cakra kaget.


"Ngomongnya ngga usah ngegas juga kali, sabar bos" Kata Cakra. Cakra melihat salah satu tempat duduk didekat pintu masuk kantin ada yang kosong, ia langsung menarik Theo ke sana sebelum keduanya bertengkar lagi.


"Eh, Ca, kita mau kemana?" Tanya Theo


"Disana ada yang kosong tuh, disana aja, daripada lo ribut terus sama tu cewe"


Helen menatap Cakra dan Theo yang sudah pergi, Helen menggelengkan kepalanya dan segera duduk sambil menikmati mie ayam yang tadi dia pesan. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali menoleh ke arah Cakra.


"Eh, itu cowok yang hujan-hujanan di tengah jalan sore itu kan?" batin Helen.


Disisi lain Cakra juga merasa seperti mengenali cewek itu, Cakra melihat kearah Helen sehingga gadis itu terkejut dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Kenapa lo ngeliatin dia? Suka ya?" Goda Theo.


"Idih, mana mungkin gue suka sama dia. Gue mah sukanya sama Ciara" Kata Cakra.


"Btw, lo kenal sama tu cewek?" tanya Cakra.


"Ya kenal lah, dia kelas XII MIPA 2. Namanya Helen, gue sering ketemu dia di ruang doa" jelas Theo.


Note: Jadi SMA itu, tiap pagi ada kayak tadarus dan buat yang non muslim nanti ada renungan/doa pagi di ruang doa.


Cakra teringat sesuatu, ia menyadari bahwa Cewek itu yang memberikan jaket kepadanya saat ia kehujanan setelah pulang dari rumah Gino.


"Astaga! Gue belum kembaliin jaketnya anjir" guman Cakra sambil menepuk jidatnya.


"Hah? Jaket? Jaket siapa?" Theo menatap Cakra kebingungan.


"Udahlah, nanti aja gue ceritain" balas Cakra.


"Aaaa! So sweet banget!"


Beberapa orang yang suara Ciara langsung menoleh ke arah gadis itu, Ciara menutup mulutnya dan tersenyum kikuk.


"Hai Ra" Sapa Gino.


"Hai" Balas Ciara.


"Sendirian nih? Aku duduk disini boleh ya?"


"Boleh kok"


Gino tersenyum senang dan segera duduk disamping Ciara. Ia menatap gadis itu, cantik batin Gino.


"Ra?"


"Hm?" Ciara menoleh kearah Gino.


"Malam ini sibuk ngga?"


"Ngga kok"


"Jalan bareng yuk!" ajak Gino.


Ciara menatap Gino yang tampak antusias, Ciara agak sedikit ragu menerima ajakan cowok itu. "Em, boleh"


"Oke, nanti malam aku jemput kamu ya" Gino berdiri dan melambaikan tangannya kepada Ciara sebelum berlalu pergi, sebentar lagi istirahat akan berakhir.


Ciara memperhatikan jam yang sudah menunjukkan pukul 09.27, Ciara menghela napas dan mengembalikan novel yang ia baca ke rak buku dan segera pergi dari perpustakaan.


Ciara berjalan melewati koridor kelas 12 agar lebih cepat sampai menuju ke kelas, tiba-tiba matanya tertuju pada seorang gadis yang tengah berdiri didepan kelasnya, dihadapan gadis itu ada Cakra yang memberikan sebuah jaket.


"Makasih buat jaketnya" Kata Cakra.


"Sama-sama, ingat juga lo. Gue kira kita ngga bakal ketemu lagi, ternyata kita satu sekolah haha" Canda Helen.


"Udah, gue duluan ya" Helen berbalik dan berjalan pergi menuju ke koridor kelas 12.


Cakra hendak masuk kedalam kelasnya, namun saat melihat Ciara ia kembali menoleh. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepada Ciara, namun Ciara langsung membuang muka.


"Lah? Kok gitu?" Batin Cakra.


Ciara berjalan dengan wajah cemberut melewati Cakra yang masih berdiri didepan kelas. Cakra menggaruk kepalanya, ada apa dengan Ciara?


"Ra" Sapa Cakra.


"Apa?" jawab Ciara ketus.


"Kenapa? Tumben mukanya cemberut gitu, ada masalah?" tanya Cakra sambil mengikuti Ciara menuju ke bangkunya.


"Ngga ada"


"Kamu kenapa?" Tanya Cakra lagi.


"Iiih, bisa diem ngga sih?" Ciara berbalik dan menatap Cakra kesal.


"Ya kan aku cuma nanya, masa kamu langsung marah?"


"Aku ngga marah!" Ciara melanjutkan langkahnya dan segera duduk di mejanya.


"Mampus lu, si Ciara marah tuh" ejek Gino yang masih fokus membaca buku.


"Diem lu!" sahut Cakra kesal.


Cakra menghampiri Ciara dan duduk disampingnya, Cakra menatap cewek itu sehingga Ciara membalas tatapan Cakra dengan tatapan tajam.


"Astaghfirullah, serem amat muka nya" batin Cakra.


Bersambung......


Haloo semuanya jangan luka like dan vote ya makasih