
"Iya siapa ya?" ucap Ciara ketika membuka pintu rumah.
Sosok wanita dengan rambut pendek itu tersenyum ramah, untuk sejenak mereka saling bertatapan. Ciara merasa ia mengenal wanita yang berdiri dihadapannya itu.
"Saya Devia" ujar wanita itu dengan ramah.
Cakra dengan tatapan horornya masih berdiri dianak tangga menuju lantai satu. Terlambat, Ciara sudah terlanjur membuka pintu tersebut.
Ciara menoleh dan menatap Cakra sejenak. Melihat ekspresi Cakra dengan tatapan horornya itu membuat Ciara tertawa kecil. Tumben mata sipitnya itu melek.
"Silahkan masuk tante" kata Ciara mempersilahkan Devia masuk yang langsung mendapat tatapan tajam dari Cakra.
"Aduh, Ciara" gerutu Cakra dalam hati.
Ciara mengalihkan pandangannya kearah Cakra seolah memberi kode kepada cowok itu untuk segera turun. Cakra hanya menghela napas dan bergegas turun menuju ruang tamu.
"Ayo tante duduk dulu" ucap Ciara.
Ciara dan Devia mengobrol sejenak, sesekali Devia tertawa mendengar lelucon dari gadis itu. Cakra tambah pusing melihat dia wanita itu yang masih asyik berbincang diruang tamu.
"Cakra! Ngapain berdiri disitu? Ayo duduk disini, masa ada tamu malah dibiarin" kata Ciara.
Cakra berjalan dengan malas mendekati Ciara lalu duduk disamping gadis itu. Ia memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat wanita yang tengah duduk dihadapannya. Plak! Ciara memukul kaki Cakra, membuat Cakra terkejut sekaligus meringis kesakitan.
"Apaan sih, sakit tahu!" kata Cakra.
"Ya lagian kamu juga sih, ada tamu malah cuek!" balas Ciara.
Devia hanya tertawa melihat tingkah Cakra dan Ciara, ia lalu meletakkan sebuah kantong plastik yang berisi makanan dan minuman di atas meja.
"Ini saya bawa makanan sama minuman buat kamu Cakra, nanti jangan lupa dimakan ya" kata Devia sambil tersenyum kearah Cakra.
"Iya, makasih" jawab Cakra dengan ketus.
Plak! Ciara kembali memukul Cakra, Cakra melototi gadis disampingnya itu sembari memegang kakinya yang terasa sakit.
"Apa lagi sih?" ucap Cakra.
"Cuma bilang makasih aja gitu? Minimal senyum gitu kek, liat tuh muka kamu kek ngga ada harapan hidup" omel Ciara dengan nada suara pelan.
"Trus aku harus gimana? Harus lompat gitu sambil bilang Wau makasih Tante! Gitu?" kata Cakra sambil memperagakan ucapannya tadi kepada Ciara.
"Ya ngga gitu juga kali. Ya minimal ngasih respon yang ramah gitu ke Tante Devia" kata Ciara.
"Ngga" ucap Cakra dengan datar.
Devia menatap Ciara dan Cakra bergantian lalu menghela napas. Ada-ada saja sikap dua anak ini.
"Ya udah kalo gitu, tante pamit ya" ucap Devia.
"Eh, jangan dulu tante. Kan tante baru datang, masa langsung pulang aja. Aku buatin teh ya" kata Ciara sembari menahan Devia yang hendak pergi.
"Ngga usah, ngga pa pa kok. Lagian tante habis ini masih ada acara" tolak Devia sambil tersenyum.
Devia pun berdiri dan bergegas pergi. Ciara mengantarkan Devia sampai ke depan, setelah Devia benar-benar sudah pergi Ciara kembali masuk kedalam rumah menemui Cakra yang masih berada di ruang tamu.
"Hm?" jawab Cakra singkat dengan tatapan tajamnya.
"Kamu kenapa sih? Harusnya kamu sama tamu itu sopan, ngga kayak tadi. Kasian lho Tante Devia"
"Hm, kasian?" Cakra tersenyum kecut, ia berdiri dan berjalan meninggalkan Ciara.
"Cakra!" panggil Ciara lagi, namun tak dihiraukan oleh cowok itu.
Cakra menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Ciara. Sorot matanya yang tajam menatap lekat kearah gadis itu, membuat Ciara sedikit takut.
"Kamu ngga kenal sama dia, dan kamu ngga tahu dia orang seperti apa. Jadi tolong, jangan pernah bahas tentang dia lagi!"
"Aku benci sama dia!" ucap Cakra dengan penekanan.
Cakra kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju ke kamar. Ciara tak lepas memandangi cowok itu dengan tatapan bingung, apa maksud ucapan Cakra barusan? Mengapa dia sangat membenci tante Devia? Ada apa dengan Tante Devia dan Cakra dimasa lalu, apa yang membuat Cakra sangat membenci wanita itu?
...----------------...
Setelah makan siang di rumah Cakra, Ciara kemudian pulang. Entah mengapa suasana antara Ciara dan Cakra menjadi canggung setelah kedatangan Devia pagi itu.
Sampai di rumah, ternyata ayah dan ibunya belum pulang juga. Ciara mendapat pesan dari ibunya bahwa hari ini sampai besok mereka akan menginap di rumah kakek, jadi hanya Ciara seorang diri di rumah itu.
Ciara membuka pintu rumah dan berjalan masuk menuju ke kamarnya. Gadis itu langsung melompat kearah kasur sambil memeluk guling kecilnya.
"Huft, tumben tadi si Cakra sikapnya kek gitu"
"Emang kenapa sih sama Tante Devia? Perasaan aku liat orangnya baik-baik aja tuh, kenapa Cakra bisa sampai benci sama Tante Devia?"
Ciara melihat bingkai foto yang berada di atas meja belajarnya, tampak ada dua anak kecil dan seorang wanita ditengah-tengah mereka. Ya, itu adalah foto saat Ciara dan Cakra masih kecil. Saat itu mereka sedang jalan-jalan ke Malioboro dan foto bersama disana.
Mata Ciara terbelalak, ia jadi teringat sesuatu saat melihat wanita yang berdiri ditengah Cakra dan dirinya. Wajah wanita itu tampak familiar di mata Ciara.
"Wait, wait. Itu kan yang berdiri ditengah-tengah gue sama Cakra ibunya Cakra. Dan kalo ngga salah nama ibunya Cakra itu .... Devia!"
"Jadi Tante Devia itu ibunya Cakra?"
"Kalo dipikir-pikir wajahnya Tante Devia emang mirip sih sama Cakra"
Ciara berpikir sejenak, "Tapi kalo emang bener, kenapa mereka ngga tinggal serumah? Trus kenapa Cakra bisa benci sama Tante Devia yang adalah ibunya sendiri? Ngga masuk akal banget!"
Ciara semakin bingung, ia menelungkupkan wajahnya dibalik selimut. "Masa iya sih? Tante Devia ibunya Cakra?"
"Ah, ngapain juga gue sibuk ngurusin ibunya Cakra? Males ah, nanti gue tanyain aja besok!"
Ciara menarik selimut sehingga menutupi badannya, ia menutup matanya dan segera terlelap tidur.
...----------------...
Bersambung ....
Halo, jangan lupa buat like ya. Makasih 😇🙏