Between We

Between We
Bab 1



...Aku sadar...


...bahwa kini kita tak bersama lagi...


...Namun bukan berarti kita akan selamanya berpisah bukan?...


...Kamu pergi begitu cepat, namun kenangan mu masih tetap tinggal disini. Waktu berlalu, aku justru tidak bisa melupakan mu, aku semakin merindukanmu. Apa kamu juga merindukan ku? Atau malah sebaliknya? Apa kamu mungkin sudah melupakan ku dan kini kamu sudah bersama dengan gadis lain?...


...Aku merindukanmu dari lubuk hati yang paling dalam, Cakra.......


Cakra, dia adalah teman masa kecil Ciara. Laki-laki itu selalu menemani Ciara dan menjaga dia seperti adiknya sendiri. Namun setelah beberapa tahun menginjak Sekolah Dasar, dia pindah ke New York tanpa alasan yang jelas. Ciara mendengar dari teman-teman Cakra, bahwa dia pindah karena urusan pekerjaan kedua orangtuanya. Setelah hari itu, Ciara tak pernah bertemu lagi dengan Cakra.


Ia merasa kesepian, hari demi hari hingga tak terasa kini sudah 10 tahun semenjak Cakra meninggalkan dirinya. Ciara selalu menunggu laki-laki itu kembali meski itu terasa tak mungkin, rasa rindunya perlahan berubah, kini dia bukan hanya merindukan Cakra tapi juga mencintainya.


Ciara menutup notebook miliknya dan meletakkan buku itu kedalam laci meja belajar.


Ia mengalihkan pandangannya ke arah foto-foto yang ada di dinding samping kamarnya, ia tersenyum melihat sosok dirinya dulu dengan laki-laki itu. Begitu bahagia nya mereka kala itu.


Tiba-tiba Ciara mendengar suara pintu terbuka, ia menoleh dan melihat adiknya sedang berdiri di ambang pintu sembari menatap ke arahnya.


"Kak Ciara!" Ujar Elly manja.


"kenapa lly?"


Elly tersenyum, ia berlari kecil ke arah Ciara kemudian memeluk gadis itu seerat mungkin. Ciara tertawa dan membalas pelukannya.


"Kak, ke supermarket yuk!"


"Ha? Ngapain lly?"


"Aku mau makan cokelat, kakak beliin aku cokelat ya? Yang Silverqueen itu loh"


"Iya, iya. Nanti tak beliin, okey?" ujar Ciara.


"Horee, makasih kak"


Ciara lalu mengganti pakaiannya. Setelah mengganti pakaiannya, Ciara dan Elly kemudian pergi meninggalkan rumah dan menuju ke supermarket.


Pagi itu tampak jalanan sangat ramai, tidak seperti biasanya. Banyak orang berlalu-lalang, terdengar riuh suara klakson mobil dari kejauhan karena pagi itu terjadi kemacetan sehingga sulit bagi kendaraan seperti mobil atau truk untuk lewat.


"Kak nanti beli cemilan lain yuk!" ujar Elly.


"Hmm? Cemilan apa?"


"Yaa kayak biskuit gitu, aku udah lama ngga ngemil hehe"


"Bukannya baru kemarin mama beliin kamu es krim sama 4 tango?"


"Oiya, hehe"


Dari kejauhan tampak seorang laki-laki memakai jas hitam berlari dengan tergesa-gesa. Bruk! Laki-laki itu tak sengaja menabrak Ciara sehingga membuat gadis itu terjatuh.


"Ah!"


"Eh, sorry" ujar laki-laki itu.


Ciara menoleh dan memperhatikan laki-laki itu yang semakin menjauh.


"Minimal kalo jalan hati-hati kek!" batin Ciara.


"Kakak ngga kenapa-kenapa?" tanya Elly.


"Kakak ngga pa pa lly"


Elly membantu Ciara berdiri. Mata Ciara tertuju pada sebuah gantungan kunci yang ada di sampingnya, itu bukan miliknya. Mungkin milik laki-laki tadi. Ciara mengambil gantungan kunci itu dan memperhatikan nya dengan teliti.


"Kayak pernah liat"


"Kak, ayoo! Nanti Cokelatnya habis" ujar Elly sambil menarik-narik tangan Ciara.


Ciara pun memasukkan gantungan kunci itu kedalam saku celananya, mereka kemudian segera menuju Supermarket.


Sementara itu di Hotel Grand Mercure ...


Hari ini diadakan resepsi pernikahan di hotel itu. Banyak tamu undangan yang sudah datang, acara sudah dimulai sejak 20 menit yang lalu. Seorang laki-laki menggunakan jas hitam Tempak berjalan memasuki ruangan resepsi. Laki-laki itu menyapa tamu-tamu undangan.


"Wah Cakra!" Panggil Devan sembari melambaikan tangan ke arah Cakra.


"Devan!"


Dua laki-laki itu berpelukan melepas rindu, sudah 10 tahun mereka tak bertemu. Devan merangkul Cakra dan mengajak nya mengobrol bersama teman-temannya.


"Dah lama kita ngga ketemu Ca" ujar Vino.


"Widiii tambah ganteng nih teman kita" ujar Theo.


"Yaelah, lu kalo nanya pasti itu mulu! Ya jelas lah, belum" Cakra terkekeh.


"Eh, si Ciara mana?" tanya Cakra sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Dia ngga dateng" sahut Vino.


Raut wajah Cakra berubah menjadi murung, padahal ia sudah antusias datang kemari mana sampai lari-lari lagi, ternyata yang diharapkan tidak datang.


"Ngga usah sedih gitu kali, kan masih bisa ketemu lain waktu" ledek Vino.


"Eh, makan yuk! Gue dah laper, kayaknya makanannya enak-enak tuh" ajak Theo.


"Otak lu isi nya makan mulu! Ayoo, gas!" kata Devan.


Mereka berempat mengantri mengambil makanan, antrian nya cukup panjang sehingga memakan waktu cukup lama. Usai mengambil makanan, Devan pergi duluan mencari tempat duduk untuk teman-temannya.


"Gimana Ca? Habis ini lo mau SMA dimana?" Tanya Theo.


"Kayaknya di SMA 2 Yogyakarta" jawab Cakra.


"Wih, beneran? Bagus dong, gue sama yang lain juga SMA disitu" kata Theo.


"Ketemu lagi kita" sambung Vino.


Cakra merogoh saku celananya, ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Laki-laki itu terkejut saat benda yang dicari tidak ada.


"Kenapa Ca?" Tanya Devan.


"Waduh, hilang!" guman Cakra.


"Apa yang hilang? Nyawa lo?" Vino menatap Cakra yang masih gelisah mencari-cari sesuatu dalam saku celananya.


Theo menjitak kepala Vino, "Ngga usah aneh-aneh lu!"


"Yah beneran hilang, kayaknya jatuh tadi dijalan"


"Apa yang lo cari?" kata Devan.


"Gantungan kunci" ujar Cakra.


"Yaelah cuma gantungan kunci, kirain hp atau dompet" kata Theo.


"Heh, ini bukan gantungan kunci biasa"


"Pasti dari Ciara" Goda Vino.


"Tau aja lu"


"Ya iyalah, kan kalian bestie. Dulu kalian kemana-kemana berdua mulu, udah kayak kakak adek" sahut Vino, mengingat dulu kedekatan Cakra dan Ciara.


Vino melirik Theo dan Devan. Vino seperti memberikan kode kepada Theo dan Devan.


"Paham kan?" kata Vino.


"Oh, ngerti" Theo mengangguk.


"Oke, oke" ujar Devan.


Vino mengalihkan pandangannya ke arah Cakra, "Ca nanti habis ini ikut kita ya"


"Mau kemana? Jangan-jangan kalian mau culik gue lagi"


"Ya kagak lah, ya kali kita mau nyulik lu" Vino.


.......


.......


Rumah Ciara


Ciara membaringkan tubuhnya di atas kasur sembari menatap keatas. Ia melirik ke arah laptop miliknya yang masih menyala di atas meja. Naskah ceritanya belum juga selesai, padahal cerita itu harus ditamatkan minggu ini.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu. Ciara mengangkat tubuhnya dengan malas, gadis itu beranjak keluar dari kamar dan membuka pintu.


"Siapa?"


"Hai"


Bersambung


Hai guys ini cerita pertama aku, kalo misalnya ada typo maaf ya. Jangan lupa vote dan like yaa, karena vote dan like kalian sangat berarti. Makasih