Between We

Between We
Bab 12



"Hm, apa?" Ciara menatap Cakra, sepertinya gadis itu mendengar ucapan cowok itu barusan.


"Ngga pa pa" balas Cakra gugup, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Tampak di meja sudah tersaji berbagai macam makanan, seperti rujak Bali, Korean spicy, sate dakara, Piccolo latte, dan choco milky.


"Anjir, ini banyak banget yang kamu pesen. Nanti kalo perut kita meledak gimana" kata Ciara sambil melihat satu-persatu makanan itu.


"Ya sekali-kali kita nyoba Ra, btw kayaknya enak nih. Dah, ayo dimakan, kasian tuh duit aku nanti dia nangis kalo liat kita ngga mau makan" balas Cakra.


"Apa hubungannya sama duit?" Guman Ciara.


Ciara mengambil sendok dan garpu, ia lalu mengambil rujak bali dan sate dakara, kedua makanan itu tampak menarik selera makannya.


Sementara Cakra, ia mengambil Korean spicy dan Piccolo latte. Itu adalah makanan favoritnya di Cafe ini. Dia pernah pergi ke Cafe ini dengan Vino, tentu saja yang membayar semua makanannya Vino, orang dia yang ngajak kok.


Ting! Terdengar suara notifikasi dari ponsel Ciara, gadis itu meraih ponsel yang ada diatas meja dan memeriksa notifikasi. Tampak Gino mengirim pesan kepada Ciara, Ciara segera membaca pesan itu.


"Hai"


"Sore ini, nanti jadi kan?"


"Nanti aku jemput kamu di depan rumah ya"


"Bye, Ciara"


Begitulah isi pesan dari Gino, Ciara tersenyum tipis kemudian membalas pesan cowok itu. Cakra menatap kearah Ciara, ia penasaran Ciara tengah chatting dengan siapa.


"Siapa?" tanya Cakra.


"Ngga pa pa" jawab Ciara yang masih asyik membalas pesan Gino.


"Hmm, mencurigakan" batin Cakra.


Setelah makan siang di Cafe tadi, Cakra lalu mengantar gadis itu pulang. Selama perjalanan menuju ke rumah Ciara, mereka hanya saling diam tanpa mengobrol sedikit pun. Ciara menjadi canggung, begitu juga dengan Cakra.


"Udah sampe" kata Cakra, ia menghentikan mobilnya didepan rumah Ciara.


"Makasih" kata Ciara sambil tersenyum, meski senyumnya tampak kaku.


"Sama-sama" balas Cakra.


Ciara membuka pintu mobil, ia melambaikan tangannya kepada Cakra sebelum berjalan masuk kedalam rumah.


"Ciara" Panggil Cakra, membuat gadis itu berhenti dan menoleh.


"Apa?"


"Aku sama Helen itu ngga pacaran, dia tadi ke kelas aku buat minta jaket dia" Jelas Cakra. Ciara hanya mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Ciara!" Panggil Cakra lagi, membuat gadis itu kesal.


"Apa lagi?" tanya Ciara.


"Jadi kamu ngga usah cemburu, aku sama dia ngga pacaran. Okey?" Ledek Cakra.


"Woi, apa kamu bilang tadi? Cemburu? Siapa juga yang cemburu? Aku ngga cemburu kok!" kata Ciara.


"Tapi tadi kok kamu tiba-tiba marah sama aku? Berarti kamu cemburu kan? Iya kan? Iya kan? Udah ngaku aja Ra" Ledek Cakra yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ciara.


"Aku ngga cemburu! Aku ngga cemburu!" kata Ciara, gadis itu berbalik dan segera berjalan memasuki rumahnya dengan kesal.


"Haha, bilang aja cemburu. Berarti kamu suka kan sama aku, iya kan? Iya kan?" Seru Cakra dari luar yang masih bisa didengar oleh Ciara dari dalam kamarnya.


Plak! Ciara membuka jendela kamarnya lalu melempar boneka sapi kearah Cakra, Cakra terkejut dan melihat Ciara yang tengah berdiri dibalik jendela kamar.


"Wlee" Cakra menjulurkan lidahnya kepada Ciara, ia lalu menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Ciara.


"CAKRAA! AWAS KAMU!" Pekik Ciara sembari melihat mobil Cakra yang berjalan semakin menjauh.


Ciara berjalan ke arah kasur lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur itu sambil melihat ke arah langit-langit.


"Huh, jadi mereka cuma temenan. Bagus deh, jadi mereka bukan pacaran" Guman Ciara.


"Oya, boneka sapi aku" Ciara menepuk jidatnya, ia lalu keluar dan segera mengambil boneka sapinya yang masih tergeletak di depan rumah.


Tak terasa kini jam telah menunjukkan pukul 17.00, sepertinya baru sebentar Ciara membaringkan tubuhnya pas bangun tiba-tiba udah jam 5 aja. Ciara melihat ponselnya memastikan apa ada notifikasi pesan dari Gino.


Dugaannya benar, cowok itu mengirim pesan kepada Ciara sekitar 15 menit lalu. Ciara langsung membuka pesan dari Gino.


"Ra? Aku otw ya" (pesan dari Gino).


"HAAAAA" Ciara terkesiap, gadis itu langsung bangun dari atas kasur dan bergegas menuju ke kamar mandi.


Sekitar 20 menit Ciara mandi, ia lalu mengganti pakaiannya dengan dress hitam selutut. Ciara segera memakai makeup dengan terburu-buru, setelah melihat penampilannya di cermin gadis itu lalu keluar dari kamar dan segera menuju ke depan rumah.


Baru saja Ciara membuka pintu rumah, tampak mobil Gino sudah ada didepan rumahnya. Gino membuka jendela mobilnya seraya melambaikan tangan kepada Ciara. Gino keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan menghampiri Ciara.


"Kamu cantik banget Ra" Puji Gino, matanya tidak lepas menatap gadis itu.


"Makasih" kata Ciara gugup.


"Udah siap kan? Ayo kita pergi" Ajak Gino, cowok itu menggandeng tangan Ciara.


Ciara agak sedikit terkejut saat Gino yang tiba-tiba langsung menggandeng tangannya. Gino lalu membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan gadis itu masuk.


"No, hari ini kita mau kemana?" tanya Ciara.


"Kita ke Malioboro" jawab Gino.


"Malioboro? Beneran? Wah, udah lama aku ngga kesana" kata Ciara.


Gino melirik Ciara, ia tersenyum tipis. Ini untuk pertama kalinya dia pergi berdua dengan gadis itu, sebelumnya gadis itu sempat menolak ajakannya dengan berbagai alasan entah itu urusan keluarga, ngga enak badan, laper, udah ada janji sama temen yang lain, kucingnya sakit, ah pokoknya banyak deh!


Setelah memakan waktu 20 menit, mereka sampai di Malioboro, tepatnya di 0 Kilometer Yogyakarta. Tempat ini cukup ramai pada sore hari, banyak pengunjung yang memenuhi sepanjang jalanan Malioboro. Ciara membuka jendela mobil dan melihat pemandangan Malioboro, gadis itu tersenyum.


Gino lalu memarkirkan mobilnya, ia dan Ciara lalu keluar dari mobil dan berjalan beriringan melewati jalanan Malioboro yang ramai sore itu. Tangan Gino menggenggam erat tangan mungil Ciara, sesekali dia melirik gadis itu.


"Wah, makin rame aja ya" kata Ciara.


"Iya, tapi malah lebih bagus kan?" balas Gino.


"Iya juga sih, apalagi kalo udah sore gini. Wah suasananya bagus banget"


Gino menghentikan langkahnya membuat Ciara yang berdiri dibelakangnya ikut berhenti.


"Lah, kenapa No?" tanya Ciara.


"Ra, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" Gino berbalik dan menatap Ciara lembut. Entah mengapa hari ini Ciara merasa sikap Gino tampak berbeda dari biasanya.


"Hm? Mau ngomong apa No?"


Untuk beberapa saat Gino terdiam sejenak, ia lalu menggenggam erat kedua tangan Ciara.


"Aku suka sama kamu"


"Kamu mau jadi pacar aku?"


.


.


.


Bersambung ....


Haloo maaf ya udah lama ngga update, author lagi banyak tugas. Semoga kalian suka sama bab ini 😆