
...Jangan mudah percaya dengan orang lain, Terkadang orang terdekat adalah musuh dibalik selimut...
.......
.......
Hari ini cuaca sangat panas, Fia meminta Ciara untuk menemaninya berbelanja baju di Pasar Beringharjo. Ciara berjalan malas mengikuti ibunya yang sedari tadi hanya berputar-putar di sebuah toko baju batik di lantai dua Pasar Beringharjo.
"Mah ... Mama mau beli baju apa? Ini kita dari tadi muter-muter terus udah kayak setrikaan aja"
"Eh, bentar mama lihat-lihat dulu"
"Perasaan dari tadi mama lihat-lihat mulu tapi ujung-ujungnya ngga beli" Ciara mendengus kesal.
"Mah, aku ke lantai atas ya. Aku mau beli makanan" kata Ciara lagi.
"Ya udah, nanti mama nyusul"
Ciara tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan toko batik itu. Ia menaiki tangga menuju lantai paling atas, disana banyak kedai makan yang menjual makanan dan cemilan.
Ciara mengambil salah satu meja di pojok belakang dan melihat menu makanan. Tak lama kemudian salah satu pelayan di kedai itu menghampiri meja Ciara.
"Mau pesan apa mbak?"
"Em, saya pesan nasi goreng spesial sama es teh"
Setelah pelayan itu menulis pesanan Ciara, pelayan itu berlalu pergi. Kedai makan ini cukup ramai, padahal kedai makan yang lain tidak begitu ramai. Setelah menunggu beberapa menit, pelayan itu kembali dan membawa pesanan Ciara.
"Ini pesanannya"
"Makasih ya"
Ciara segera menyantap nasi goreng itu, ketika sedang asyik makan tiba-tiba seseorang menepuk bahu Ciara sehingga membuatnya terkejut.
"Ciara"
"Gino?" Gino tersenyum, ia duduk di samping Ciara.
"Kamu sendiri?" tanya Gino.
"Enggak, aku sama mama aku. Tapi mama aku masih lantai bawah, lagi lihat-lihat batik" kata Ciara.
"Aku duduk disini ngga pa pa kan?" kata Gino.
"Oh, ngga pa pa kok"
"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Ciara.
"Aku kesini bareng Tante sama keponakan aku. Mereka lagi beli es krim tuh disana" Gino menunjuk seorang wanita berambut pendek yang tengah menggandeng seorang anak laki-laki di sebuah kedai es krim.
"Wah, keponakan kamu ganteng ya" Ciara melihat wajah anak laki-laki itu, boleh Ciara akui anak itu memang tampan. Rambutnya yang bewarna cokelat, kulitnya sangat putih dan memiliki lesung pipit yang membuatnya imut saat tersenyum.
Setelah membeli es krim, mereka menghampiri Gino yang masih asyik mengobrol dengan Ciara.
"Gino" Panggil Devia.
"Kak Gino" Vano berlari kecil mendekati Gino, Gino tersenyum dan membuka kedua tangannya lebar-lebar memeluk anak kecil itu.
"Eh, keponakan kakak udah dateng. Gimana es krim nya? Enak?"
"Enak" kata Vano
"Halo tante, halo dek" Ciara berdiri dan menyapa Devia dengan Vano.
Note: Jadi Ciara ngga tahu kalo si Devia itu ibunya Cakra, karena dulu orangtuanya Cakra sibuk banget kerja dan jarang bersosialisasi dengan orang-orang sekitar.
"Halo, saya Via, tante Gino. Kamu temennya Gino ya? Pasti satu sekolah" ujar Devia
"Iya tante, kami satu sekolah, satu kelas malahan"
"Wah, Gino cantik banget teman kamu ini" Devia berbisik kepada Gino, membuat cowok itu tersenyum tipis.
"Ayo silahkan duduk tante"
Devia dan Vano duduk bersebrangan dengan Ciara dan Gino. Mereka asyik mengobrol tentang banyak hal, namun ditengah-tengah pembicaraan Ciara mendapat pesan dari Fia untuk menemuinya di toko batik tadi.
"Oya, ngga pa pa nak Ciara"
"Saya duluan ya"
Ciara berdiri dan berbalik pergi meninggalkan kedai makan tersebut. Devia memperhatikan gadis itu yang berjalan semakin menjauh hingga menghilang ditengah ramainya pengunjung.
"Namanya Ciara ya?" tanya Devia sambil menatap Gino.
"Iya, namanya Ciara"
"Cantik ya. Tapi kok, tante kayak familiar sama mukanya. Kayak pernah lihat dimana gitu"
"Tante pernah ketemu sama dia sebelumnya?"
"Enggak sih, tapi entah kenapa tante kayak kenal sama dia"
"Mungkin perasaan tante aja kali"
"Iya, mungkin"
Sementara itu, kini Ciara sedang bersama ibunya menaiki eskalator menuju ke lantai bawah. Sedari tadi ibunya terus mengomel karena harga baju batik yang menurutnya mahal.
"Aduh, masa baju segini harganya 200 ribu. Padahal modelnya juga biasa-biasa aja"
"Ya kalo mahal ngapain mama beli"
"Ya soalnya, ngga ada baju yang bagus kecuali ini"
"Udah yuk, kita pulang. Ciara males banget disini, tempatnya rame banget"
"Eh, jangan dulu! Kita mampir bentar di Malio Gelato, mama mau beli es krim"
"Aduh, mah. Kalo beli es krim kita bisa mampir ke Indomaret di dekat rumah"
"Eh, enggak. Mama mau beli es krim di Malio Gelato!"
"Hmm, ini susahnya ngomong sama emak-emak" batin Ciara mendengus kesal.
Setelah keluar dari Pasar Beringharjo, Ciara dan Fia segera menuju ke Malio Gelato. Ciara berjalan tergesa-gesa mengikuti ibunya yang berjalan sangat cepat didepannya. Begitu banyak orang, hingga Ciara tidak hati-hati dan tersandung.
"Aduh"
"Lo ngga pa pa?"
Seseorang mengulurkan tangannya kepada Ciara, Ciara mendongakkan kepalanya dan menatap orang yang tengah berdiri di hadapannya.
"Woi!"
Ciara tersentak dan menerima uluran tangan dari orang itu.
"Makasih mas" kata Ciara
"Wait, lo bilang apa tadi? Mas?"
"Iya, kan mas nya laki-laki"
"Sorry, gue perempuan"
"Oh, maaf mas. Eh maksudnya maaf mbak, kirain mbak nya laki-laki, soalnya rambut sama style nya mirip kayak laki-laki" Ciara tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lain kali kalo jalan hati-hati" Cewek itu pun berlalu pergi meninggalkan Ciara.
Tatapannya sangat tajam, dan jika dilihat dari nada bicaranya dia orang yang dingin dan cuek. Cewek dengan rambut Pixie Cut, mengenakan jaket baseball, celana jeans hitam, habis itu pakai masker lagi. Gimana orang ngga ngira kalo dia laki-laki? Ciara jadi malu gara-gara tadi, Ciara berbalik dan segera berjalan menyusul ibunya yang semakin menjauh.
Namun sementara cewek yang tadi menolong Ciara, ia menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke belakang melihat Ciara sekali lagi.
"Cewek itu ....."
Bersambung .....
Halo semuanya makasih ya udah support karya aku 😊💐✨ Bye bye 👋✨