Between We

Between We
Bab 13



"Aku suka sama kamu"


"Kamu mau jadi pacar aku?"


Deg! Ucapan Gino barusan membuat Ciara terdiam sejenak, ia tidak salah dengar kan? Baru saja Gino menyatakan perasaan kepada dirinya? Ah, tidak mungkin! Pasti cuma bercanda! Pikir Ciara dalam hati.


"Hah? No, beneran? Ah, kamu pasti bercanda kan?" Ciara menepuk pundak Gino dan tertawa, namun Gino tidak menggubris Ciara. Tampaknya laki-laki itu serius dengan ucapannya tadi.


"Aku ngga bercanda Ra, aku suka sama kamu" Gino meyakinkan Ciara.


"Aku tanya sekali lagi, kamu mau jadi pacar aku?" tanya Gino.


Ciara tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan Gino, sebenarnya ia tidak memiliki perasaan lebih kepada cowok itu, selama ini ia hanya menganggap Gino sebagai sahabatnya tidak lebih dari itu.


"Aku tahu Ra, kamu belum bisa jawab sekarang. Ngga pa pa kok" Gino tersenyum kepada Ciara.


"Aku juga ngga bisa maksa kamu buat bisa nerima aku, kalau kamu emang ngga bisa nerima perasaan aku ngga pa pa Ra"


"Aku ngga akan pergi, aku bakal selalu ada buat kamu" Gino membelai pipi Ciara dan menatap gadis itu lekat. Gino lalu menarik Ciara kedalam pelukannya.


"Aku juga sayang sama kamu No, tapi cuma sebagai teman. Dan perasaan itu ngga akan pernah berubah, maaf Gino" ucap Ciara.


Gino hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Ciara, ia sudah menduga Ciara pasti akan menolaknya. Namun ia tidak menyesal, setidaknya ia sudah menyatakan perasaan kepada gadis itu.


Tidak ada kata akhir dari antara kita


Meski aku tahu bahwa mungkin kamu bukan untukku


Namun bukan berarti aku bisa melupakan perasaan ini begitu mudah


Aku akan tetap menggenggam erat tangan mu


Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah melepaskan kamu


Jika suatu saat nanti kamu bertemu sosok yang benar-benar tepat untukmu


Aku harap kamu bahagia, meski bahagia kamu bukan dengan aku :D


...----------------...


Hujan pagi itu turun begitu deras mengguyur jalanan Yogyakarta yang masih ramai dengan orang-orang berlalu lalang.


Gadis berambut cokelat itu berdiri sembari menatap pemandangan diluar dari balik jendela kamarnya. Pagi ini suasana di luar benar-benar sangat ramai, mungkin karena hari ini tanggal merah.


Ia menghela napas, Ciara masih teringat dengan kejadian beberapa hari lalu di Malioboro saat Gino tiba-tiba menyatakan perasaannya. Ia tidak menyangka bahwa Gino akan memiliki perasaan lebih kepada dirinya.


Namun hal itu tidak membuat hubungan Ciara dengan Gino renggang begitu saja, mereka masih berhubungan baik hingga kini.


Selama beberapa hari ini, Cakra juga tidak ada kabar. Ciara sempat beberapa kali mengirim pesan kepada cowok itu, namun tidak dibaca apalagi dibalas. Ciara agak sedikit kesal dengan cowok itu.


Hari ini kedua orangtuanya pergi untuk mendaftarkan adiknya Elly di sekolah barunya. Ya, adiknya baru saja lulus SD dan sekarang akan menginjak Sekolah Menengah Pertama.


Ting! Ponsel Ciara berbunyi, Ciara segera meraih ponsel itu dan membuka notifikasi. Rupanya tidak ada balasan dari Cakra, sepertinya Ciara terlalu berharap.


"Lo kemana sih? Kok sekarang jarang banget balas chat gue?" guman Ciara.


Cakra membuka matanya dan melihat langit-langit. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah, Cakra memutar bola matanya malas dan segera menuju ke lantai bawah.


"Siapa ya?" Baru saja membuka pintu, mata Cakra langsung terbelalak melihat sosok yang kini berdiri dihadapannya.


"Cakra" kata Devia sambil tersenyum.


"Buat apa anda kesini? Dan dari mana anda tahu rumah saya?" tanya Cakra.


"Cakra, mama cuma mau liat keadaan kamu aja" kata Devia, wanita itu meraih tangan Cakra dan menatap Cakra lekat.


Cakra melepaskan tangan Devia dengan kasar, "Lepasin! Silahkan pergi dari rumah saya, saya ngga mau lihat anda lagi disini!" ucap Cakra penuh penekanan.


"Cakra, mama masih mau ngomong sama kamu. Ada banyak yang harus kita bicarakan nak!" kata Devia.


"Apa yang perlu kita bicarakan? Ngga ada yang perlu yang kita bicarakan!"


"Cakra, mama minta maaf. Mama tahu mama salah, maafin mama Cakra" Devia memegang tangan anaknya dan mencegah Cakra untuk pergi.


"Semua sudah terlambat! Memang anda kira dengan kata maaf bisa mengubah segalanya?! Hidup saya hancur karena anda!"


Cakra melepaskan tangan Devia dengan kasar, ia masuk kedalam rumahnya dan segera menutup pintu.


"Cakra! Buka pintunya nak, mama masih mau bicara sama kamu! Cakra!" Seru Devia dari luar.


"Ngga ada yang perlu dibicarakan, semuanya udah terlambat. Aku kecewa sama mama" Lirih Cakra.


Tanpa Cakra sadari air matanya turun begitu saja membasahi pipinya, ia menyeka air matanya dan kembali kedalam kamar.


Ia tidak menggubris teriakan Devia dari luar rumah yang terus memanggil namanya. Sudah cukup, ia sudah mengubur masalah ini begitu dalam. Ia tidak mau mengingat apapun di masa lalu, itu hanya membuat hatinya semakin sakit.


Triing! Sebuah panggilan masuk, Cakra membuka matanya dan mengambil ponselnya untuk mengangkat telepon tersebut.


"Halo Cakra, akhirnya kamu angkat telepon aku juga. Kamu kenapa sih, sekarang jarang banget online. Chat aku jarang dibales, kenapa Ca? Kamu ada masalah?" Ciara langsung melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada cowok itu.


"Jangan sekarang dulu Ra, aku capek" kata Cakra.


"Ada apa Ca? Tumben kamu kayak gini? Kamu ada masalah?"


"Kamu ngga perlu tahu, ini masalah aku. Untuk sekarang, tolong jangan ganggu aku dulu" Cakra memutuskan sambungan telepon begitu saja lalu melempar ponselnya kearah meja.


Sementara itu Ciara, ia mendengus kesal. Lagi-lagi Cakra bersikap seperti itu kepada dirinya. Apa yang terjadi dengan cowok itu? Apa dia memang sedang ada masalah?


...----------------...


Ada banyak masalah yang hadir dalam lika-liku jalan yang kita lewati.


Namun bukan berarti hal itu membuat kita berhenti begitu saja


Justru masalah itu yang akan membawa kita lebih baik kedepannya


Apa yang kamu alami di masa lalu adalah proses yang akan membuatmu lebih baik di masa depan