
Sudah 4 hari berturut-turut Cakra tidak masuk sekolah tanpa izin, Ciara khawatir dengan keadaan cowok itu. Ia mencoba kembali menelpon cowok itu sepulang sekolah namun tetap saja tidak diangkat.
"Ngga diangkat" gerutu Ciara.
"Apa gue coba kerumahnya aja kali ya?" Guman gadis itu.
Ciara memutuskan untuk pergi ke rumah Cakra dengan menaiki bus. Setelah sekitar 30 menit, Ciara sampai di kediaman cowok itu.
Kediaman itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Namun kediaman itu tampak sepi, tidak seperti biasanya.
"Eh, ngga dikunci"
Gerbang rumah ternyata tidak dikunci, Ciara pun membuka gerbang tersebut dan segera masuk kedalam kediaman itu. Ciara mengetok pintu rumah sembari memanggil nama Cakra dari luar.
"Cakra? Ini aku Ciara"
"Cakra!"
"Cakra!"
"Woi, Cakra! Punya telinga atau engga?"
Ciara berteriak seperti orang kesurupan didepan rumah Cakra, namun tidak ada respon dari pemilik rumah. Ciara mendengus kesal, ia mencoba membuka pintu rumah dan ternyata pintu itu tidak dikunci sama sekali.
"Lah? Lho kok ngga dikunci? Gimana sih Cakra" kata Ciara.
Ciara melihat sekeliling, rumah itu tampak berantakan. Piring-piring tidak dicuci, lantainya tampak kotor, dan juga tv di ruang tamu belum dimatikan sama sekali.
"Anjir, kok malah jadi serem kek gini" Kata Ciara.
Brak! Terdengar suara dari lantai atas membuat Ciara tersentak kaget, Ciara segera berlari menaiki tangga menuju lantai atas untuk memeriksa apa yang terjadi.
"Cakra?" Panggil Ciara.
"Akh!" Terdengar suara dari kamar di pojok dekat jendela ruang keluarga, Ciara mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju ke kamar tersebut.
Saat Ciara membuka pintu kamar, Ciara terkejut melihat Cakra yang berbaring tidak sadarkan diri dengan bercak-bercak darah memenuhi lantai disekitarnya.
"Cakra!"
Ciara menghampiri cowok itu dengan khawatir, "Cakra! Kamu bisa dengar suara aku? Cakra!"
Ciara mencoba mengangkat tubuh Cakra dan membaringkannya diatas kasur. Ia memegang tangan Cakra dengan erat sembari menatap wajah cowok itu yang tampak pucat.
"Cakra, lo kenapa?"
...----------------...
Cakra membuka matanya perlahan, ia melihat sekeliling. Cakra terkejut saat melihat Ciara yang kini tengah tidur sambil menggenggam tangannya dengan erat.
"Ciara?" kata Cakra.
"Kok dia bisa ada disini?" batin Cakra.
Cowok itu mengubah posisinya menjadi duduk, ia memegang kepalanya yang masih terasa sakit. Ciara pun terbangun, ia mengusap matanya dan tersentak saat melihat Cakra yang sudah sadar.
"Cakra? Kamu udah bangun?" tanya Ciara.
"Lha iya, dari tadi malahan" kata Cakra dengan santai.
Ciara memukul bahu Cakra sambil menatap cowok itu dengan kesal, "Kamu tuh ya, bikin orang khawatir aja. Udah ngga masuk sekolah tanpa keterangan lagi!" omel Ciara.
"Aa! Sakit, Ra!" Kata Cakra sembari memegang bahunya yang terasa sakit.
"Kemarin itu aku cuma kecapekan aja, habis makan aku mau minum obat tapi gelasnya malah jatuh trus aku pingsan" kata Cakra dengan jelas.
"Ngga mungkin, trus kok bisa ada bercak darah di lantai kamar kamu?" tanya Ciara lagi.
Cakra menghela napas, "Kemarin aku mimisan, dan darahnya jatuh ke lantai belum sempat aku bersiiin. Kalo ngga percaya coba liat tempat sampah di dekat meja belajar aku, banyak tisu bekas aku mimisan" kata Cakra sambil menunjuk tempat sampah yang berada disamping meja belajarnya.
"Beneran? Ngga bohong?" Ucap Ciara memastikan.
"Beneran Ra, suer deh"
Ciara tersenyum dan menjitak kepala cowok itu. Cakra meringis kesakitan sambil menatap gadis dihadapannya dengan kesal.
"Trus kamu ngapain kesini?" tanya Cakra.
"Ya, aku khawatir sama kamu. Lagian juga chat aku ngga pernah kamu respon, boro-boro dibales dibaca aja ngga" gerutu Ciara.
"Iya, iya maaf" Cakra mengelus kepala gadis itu lembut sambil tersenyum.
"Udah, aku mau buat sarapan dulu. Kamu tunggu disini" kata Ciara beranjak pergi.
Namun Cakra menahan gadis itu dan menarik tangan Ciara. Ciara menoleh dan menatap cowok itu dengan kebingungan.
"Ngga usah, disini aja"
"Cuma bentar doang kok, ngga usah manja" kata Ciara.
Ciara melepaskan tangan Cakra dan segera keluar. Setelah beberapa menit gadis itu kembali dengan membawa sebuah nampan yang diatasnya ada 2 potong roti ditaburi coklat dan segelas susu.
"Cakra, ayo makan dulu!"
Ciara mengambil roti itu dan mengulurkannya kepada Cakra. Cakra menggelengkan kepalanya dengan lesu, "Ngga Ra, aku lagi ngga nafsu makan"
"Yaelah, Ca. Gimana mau sembuh coba? Makan aja ngga mau. Udah ayo makan atau tak gepok nanti kepalamu!" kata Ciara dengan tatapan horornya.
Cakra tertawa melihat ekspresi Ciara yang seperti emak-emak, Cakra lalu mengambil roti itu dan segera memakannya. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda pada hari ini, entah mengapa ia merasa lebih bersemangat daru biasanya.
"Eh, hari ini kita ngga sekolah?" tanya Cakra di sela-sela makan.
"Hari ini hari Sabtu, libur goblok" jawab Ciara.
"Santai bro" kata Cakra.
Setelah sarapan, mereka berbincang-bincang sejenak. Ketika mereka masih asyik mengobrol, terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah. Ciara hendak pergi untuk membuka pintu namun Cakra mencegahnya.
"Ngga usah dibuka, biarin aja" kata Cakra.
"Tapi kan kita ngga tahu itu siapa, siapa tahu temen kamu" kata Ciara.
Cakra menghela napas, pasti wanita itu lagi. Sudah beberapa hari ini dia datang terus ke kediaman ini untuk menemui Cakra, namun Cakra enggan untuk bertemu dengannya.
"Kenapa sih Ca? Tuh, denger, suaranya makin keras. Udah dibuka aja" kata Ciara.
"Ngga usah Ra" cegah Cakra.
Ciara tidak mendengarkan ucapan Cakra, gadis itu pun bergegas keluar menuju ke lantai bawah untuk membuka pintu. Cakra mendengus kesal, ia turun dari tempat tidur dan berjalan menyusul Ciara.
"Iya? Siapa ya?" ucap Ciara ketika membuka pintu rumah.
...----------------...
Okee, semoga suka ya sama bab ini. Jangan lupa dukung terus karya ini, bye bye 😎👋