
Pagi itu hujan begitu deras membasahi jalanan yang tampak ramai dengan orang-orang berlalu-lalang. Seorang gadis dengan jaket hitam melekat di seragamnya berjalan masuk kedalam SMA itu, ya siapa lagi jika bukan Ciara.
Mungkin pagi itu bisa dibilang lumayan sepi, padahal biasanya jam segini sudah banyak siswa berdatangan. Ciara meletakan tas nya dan duduk di bangku sembari memperhatikan suasana diluar. Waktu berlalu hingga bel berbunyi menandakan jam pelajaran pertama sudah mulai.
Seorang wanita dengan baju dinas memasuki kelas, namanya Bu Anita. Dia guru mata pelajaran Matematika, mata pelajaran paling menyeramkan.
"Selamat pagi anak-anak" Sapa Bu Anita.
"Pagi bu" ujar murid-murid
"Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru" ujar Bu Anita.
Murid-murid langsung heboh saat mendengar ucapan Bu Anita, Bu Anita menoleh kearah pintu sembari menatap laki-laki yang berdiri diambang pintu kelas. Murid baru itu berjalan memasuki kelas, sontak murid-murid yang lain terkejut dan heboh.
"Wah Murid barunya cowok gess"
"Mana cakep lagi"
"Waah, itu calon pacar gue"
"Sembarangan, itu pacar gue tuh"
"Anak-anak tolong jangan berisik ya, kasih kesempatan buat teman kalian memperkenalkan diri" ujar Bu Anita.
"Silahkan nak" ujar Bu Anita kembali menatap murid baru itu.
"Selamat pagi semuanya, perkenalan nama saya Cakra, salam kenal semuanya" ujar Cakra sambil tersenyum.
Ciara mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara Cakra, ia terkejut saat mengetahui murid baru itu ternyata adalah Cakra. Cakra tersenyum sembari melihat Ciara yang menatap kearahnya dengan ekspresi terkejut.
"Silahkan Cakra, kamu bisa duduk" ucap Bu Anita.
"Baik Bu"
Cakra berjalan mendekati bangku Ciara dan duduk disamping Ciara karena kebetulan tempat duduk disamping gadis itu kosong.
"Hai Ra, ketemu lagi kita" sapa Cakra.
"H-hai" balas Ciara gugup.
"Ekhem!" terdengar suara dari samping bangku Ciara dan Cakra, Cakra menoleh dan menatap sinis ke arah cowok disampingnya.
"Ni cowok lagi" Batin Cakra sambil melihat Gino.
Jam pelajaran berlangsung, Bu Anita menjelaskan materi sekaligus memberikan kisi-kisi untuk ujian yang akan mendatang. Tak terasa 2 jam berlalu, jam pelajaran berakhir dan istirahat tiba.
"Sekian untuk hari ini, selamat pagi semua" ujar Bu Anita sebelum berlalu pergi meninggalkan kelas.
Ciara menatap kearah Cakra, "Kok kamu ngga bilang kalo kamu pindah ke SMA ini?"
"Ya emang sengaja, biar kamu kaget"
"iiih, dasar kamu tuh" Ciara menjewer telinga Cakra, Cakra teriak kesakitan.
"Aaah, lepasin sakit Ra!" kata Cakra.
"Rasain!" Ciara tersenyum puas kemudian berjalan pergi meninggalkan kelas.
Cakra tersenyum dan berjalan mengejar Ciara yang semakin menjauh, ketika baru saja keluar dari kelas Cakra melihat Gino yang menghampiri Ciara dan mengajaknya ke kantin. Senyum Cakra memudar, cowok itu tampak kesal dengan kedekatan Ciara dan Gino.
"Malah ngambil kesempatan dalam kesempitan, awas lo ya" Guman Cakra
"Woiii Cakra!" Seru Devan dari kejauhan.
Devan tiba-tiba datang dengan teman-temannya menghampiri Cakra dan merangkul erat cowok itu.
"Wah ternyata lo beneran pindah kesini" ujar Vino.
"Iya, gue kira lo bercanda tenyata beneran" Kata Theo.
"Mukanya serem amat dah, udah kayak setan aja lu. Kenapa?" tanya Devan melihat wajah Cakra yang tampak kesal.
"Ga pa pa" ujar Cakra singkat, padat, tidak jelas.
"Yaelah, pasti cemburu kan sama Ciara? Ya kan?" tebak Vino sembari melihat Wajah Cakra yang tampak marah.
"Udahlah ngga usah cemburu, mereka tuh cuma temen ngga lebih. Dah yuk makan!" ajak Theo.
"Waduh Ca, baru juga hari pertama dah banyak yang naksir. Emang ya nasib orang ganteng" ujar Vino sambil melihat cewek-cewek yang tadi menyapa Cakra di kantin.
"Yaelah kita nih juga ganteng, cuma ngga ada yang mau aja" balas Theo.
"Halo Everybody, pesanan kalian sudah datang" Seru Devan sembari berjalan kearah meja dengan membawa nampan yang berisi 4 mangkok bakso.
"Wiih, udah datang nih pesanan kita. Makasih mas" Cakra tersenyum sumringah, ia sudah tidak sabar menyantap bakso itu.
"Woi gue bukan mas-mas bakso" ujar Devan kesal.
Sebelum makan mereka berdoa masing-masing, keempat laki-laki itu memiliki keyakinan yang berbeda. Cakra Islam, Theo Kristen, Vino Budha dan Devan konghucu. Mereka sudah berteman selama 12 tahun, mereka dulu satu TK dan SD, namun saat memasuki kelas 2 SD Cakra pindah ke New York karena urusan pekerjaan orang tuanya. Meski sudah pindah ke luar negeri, Cakra selalu berhubungan dengan ketiga temannya hingga sekarang. Kini dirinya sudah berumur 17 tahun, tepatnya kelas 2 SMA.
Sementara itu tak jauh dari meja Cakra dan teman-temannya, tampak Gino dan Ciara sedang duduk berdua didekat pintu kantin.
"Ra, aku mau tanya" Tanya Gino.
"Hm? Tanya apa?"
"Kamu sama Cakra ada hubungan?"
"Enggak, kami cuma temenan"
Gini tersenyum lega, "Oh gitu. Udah berapa lama kalian temenan?"
"Udah lama sih, sejak aku sama dia masih kecil. Bisa dibilang dulu Cakra itu temen yang paling deket sama aku"
"Oh"
"Tapi kamu ada perasaan sama dia?"
Ciara agak kaget dengan pertanyaan Gino barusan, tidak mungkin dia memberitahu perasaan dia kepada Cakra dengan sembarang orang.
"Em, kalo itu rahasia" kata Ciara sambil tersenyum.
Gino hanya tersenyum tipis, jika mendengar dari ucapan Ciara sepertinya gadis itu mungkin memiliki perasaan kepada Cakra apalagi dulu mereka sangat dekat.
"Gak masalah, mau dia suka sama Cakra atau ngga. Aku bakal bikin kamu suka sama aku" batin Gino.
Cakra yang memperhatikan mereka dari kejauhan tampak sangat emosi, mukanya udah kayak emak-emak aja dah.
"Sabar mas, orang sabar perutnya tambah buncit" canda Theo.
Cakra menatap tajam kearah Theo, sementara Theo malah tertawa terbahak-bahak.
"Sembarangan lu kalo ngomong" Cakra memukul punggung Theo dengan kesal.
"Yee kan cuma bercanda, hidup itu harus bewarna" kata Theo.
"Eh, lu semua pada tahu ngga sih?" tanya Vino.
"Tahu apa?" balas Devan.
"Bentar lagi kan bakal ada pasar malam di alun-alun, pada mau kesana ngga?" ajak Vino.
"Hah, beneran? Emang kapan?" kata Cakra.
"Sabtu depan, mau ngga? Pasti bakal rame alun-alun, siapa tahu disana ketemu jodoh hehe" Vino tersenyum tipis sambil membayangkan pasar malam yang akan diadakan di alun-alun nanti.
"Kalian aja, gue ngga ikut" tolak Cakra.
"Lah kok ngga ikut, harus ikut!" kata Theo.
"Iya tuh, ini kesempatan lho" sahut Devan.
Cakra mengangkat sebelah alisnya dan menatap teman-temannya dengan bingung,
"Hah? Kesempatan buat apa coba?"
"Udah, pokoknya lu datang aja!" kata Devan, Theo dan Vino serempak.
"Iya, iya gue datang!"
Bersambung