
Alun-alun Yogyakarta tampak ramai dengan pengunjung-pengunjung yang baru saja berdatangan.
Ada berbagai macam permainan disana seperti menaiki becak lampu, komedi putar, memancing ikan, dan lain-lain. Ada banyak penjual makanan yang berjualan di tepi jalan sembari menyapa para pengunjung yang baru saja berdatangan agar membeli makanan mereka.
Setelah memarkirkan mobilnya, Cakra keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam alun-alun. Cakra tidak menyangka tempat ini akan seramai itu, ini untuk pertama kalinya Cakra datang ke alun-alun.
"Ramai banget" Guman Cakra.
"Aduh, si Devan sama yang lain pada dimana sih? Jangan-jangan mereka ngga dateng lagi?" gerutu Cakra.
Beberapa anak kecil berlari melewati cowok itu dan melempar tepung satu sama lain dan tepung itu tak sengaja terkena ke celana Cakra. Cakra terkejut melihat celananya yang penuh dengan tepung, ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak-anak itu. Cakra membungkuk dan menepuk-nepuk celananya agar tepung itu menghilang.
Salah satu dari anak-anak itu menghampiri Cakra dan menatap Cakra lekat,
"Nama kakak siapa?" tanya bocah laki-laki itu.
"Em? Nama kakak Cakra" ujar Cakra seraya tersenyum.
"Kakak ganteng"
Cakra tertawa dan mengelus kepala anak itu, "Oya, kakak ganteng? Makasih"
"Aku pengen banget punya kakak, tapi aku cuma anak tunggal. Pasti enak kalo punya kakak" kata anak itu.
"Nama kamu siapa dek?"
"Nama aku Va-"
Belum sempat anak itu menjawab pertanyaan Cakra, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil anak itu. Anak itu menoleh dan berlari menghampiri wanita yang memanggil namanya tadi.
"Vano, dari tadi mama cariin, kirain kamu hilang" kata wanita itu sambil mengelus kepala Vano.
"Hehe, maaf mah" kata Vano.
"Tadi kamu ngobrol sama siapa?"
"Tadi waktu aku main sama temen aku, aku ketemu kakak ganteng banget namanya kak Cakra"
Wanita itu mengalihkan pandangannya kearah cowok yang ditunjuk oleh Vano.
"Kak Cakra!" Panggil Vano sambil melambaikan tangan.
Cakra tersenyum dan melambaikan tangan kepada Vano, saat ia melihat wanita yang menggendong Vano tengah menatap dirinya. Cakra terkejut, matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan bertemu wanita itu lagi.
Wanita itu menurunkan Vano dari gendongannya dan menatap lekat Vano, "Vano kamu tunggu disini ya"
"Mama mau kemana?"
Wanita itu tidak menghiraukan Vano dan berjalan mendekati Cakra. Cakra berbalik pergi meninggalkan tempat itu, dadanya terasa sesak. Semua kenangan buruk itu perlahan kembali memenuhi pikirannya.
"Cakra!"
"Cakra!"
"Cakra!"
Wanita itu mempercepat langkahnya dan memanggil Cakra dari kejauhan, namun Cakra tidak mempedulikan wanita itu. Wanita itu yang membuat hidupnya hancur, dia yang membuat orang-orang yang Cakra sayangi pergi dalam sekejap. Tidak mungkin Cakra bisa melupakan kesalahan dia begitu saja.
Wanita itu berlari hingga semakin dekat dengan Cakra, kemudian memegang tangan cowok itu dan menariknya.
"Cakra! Ini mama!" panggil Devia.
"Saya ngga kenal sama kamu!" kata Cakra melepaskan tangan Devia dengan kasar.
"Cakra, ini mama nak!"
"Jangan pernah anggap saya sebagai anak kamu! Saya ngga sudi menjadi anak kamu!"
"Maafin mama nak, mama tahu kalo mama salah"
"Hanya dengan kata maaf apa bisa merubah segalanya?! Karena kamu! Hidup saya hancur! Saya kehilangan ayah saya dan kakak saya!"
"Maafin mama Cakra"
"Saya ngga butuh maaf dari kamu!! Pergi dari sini, saya ngga mau melihat kamu lagi!"
Hati Devia sangat sakit mendengar ucapan dari anak kandungnya sendiri, ia tak sanggup menahan air matanya. Tapi semua ucapan Cakra itu memang benar, dia sudah bersalah dengan Cakra. Dia telah menghancurkan hidup anaknya sendiri dan membuatnya sengsara selama ini.
10 tahun yang lalu ....
"Devia! Jadi selama ini kamu selingkuh dibelakang aku?!" Haris menatap Devia dengan tatapan tajam sambil melemparkan sebuah berkas yang berisi foto-foto Devia dengan selingkuhannya.
"Memang kenapa mas? Ini semua juga salah kamu!" bentak Devia.
"Apa salah aku? Selama ini aku sudah baik sama kamu, dan ini balasan dari kamu? Dasar perempuan Jal4ng!"
PLAK! Devia menampar pipi Haris karena tidak terima dengan ucapan pria itu barusan. Haris mendekati Devia hingga membuat Devia terpojok, pria itu memegang dagu Devia dan menatap wanita itu dengan kebencian.
"JADI KAMU MULAI BERANI NAMPAR AKU DEVIA?!"
"Kamu perempuan yang ngga tahu terimakasih!"
"KITA CERAI!"
Haris mundur beberapa langkah dan berbalik meninggalkan Devia, Devia melirik meja disampingnya dan mengambil gunting. Ia mendekati Harus dari belakang dan menusuk pria itu.
"Akh!"
Haris kehilangan kesadarannya dan terjatuh, ia menatap tajam ke arah Devia yang tengah tersenyum tipis kepadanya. Devia membungkukkan badannya dan menatap lekat pria itu, ia membelai pipi Haris dan tersenyum.
"Sampai jumpa Haris"
Pandangan Haris perlahan menghilang, semuanya menjadi hitam. Hingga akhirnya Haris menutup kedua matanya dan menghembuskan nafas terakhir.
Dari balik pintu kamar, Cakra melihat kejadian tadi dengan ketakutan. Tangannya gemetar melihat sang ibu yang sudah membunuh ayahnya. Bintang, kakak Cakra, memeluk Cakra dan berusaha menenangkan adiknya.
"Cakra jangan takut ya" kata Bintang.
"Tapi aku tetap takut kak, gi-gimana kalo nanti mama juga kayak gitu sama kita kak?"
"Cakra! Kamu harus keluar dari sini!" kata Bintang.
"Gimana kita bisa keluar? Lewat mana kak?"
"Kamu keluar lewat jendela, cepetan!"
Cakra mengangguk, ia berlari mendekati jendela kamar dan segera membukanya. Cakra berusaha naik ke atas jendela dan berhasil keluar dari kamar itu. Namun ketika hendak pergi, ia kembali menoleh dan memanggil Bintang.
"Kak! Ayo keluar!" seru Cakra dibalik jendela kamar.
"Kamu duluan! Nanti kakak bakal nyusul!"
Cakra dengan ragu-ragu berjalan menuju ke gerbang untuk keluar dari rumahnya, namun baru beberapa langkah ia mendengar suara teriakan Bintang dari kamar tersebut.
"AAAAAH!"
"Kak Bintang!"
Cakra berbalik, ia ingin kembali untuk memastikan keadaan kakaknya namun disisi lain ia juga takut jika bertemu dengan Devia dan perempuan itu melukai dirinya.
Hingga beberapa saat, Devia keluar dari rumah dan berjalan ketakutan menuju ke mobilnya. Cakra segera keluar lewat gerbang dan bersembunyi di luar. Mobil Devia melaju meninggalkan Rumah itu, setelah keadaan benar-benar aman Cakra memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah itu.
"Papa!"
Cakra mendekati sang ayah yang terkapar di lantai ruang tamu dengan tubuh berlumuran darah.
"Papa! Bangun! Jangan tinggalin Cakra!"
Air mata Cakra turun begitu saja membasahi pipinya yang mungil. Cakra tidak menyangka ibunya akan sejahat itu dengan ayahnya.
"Papa ... Hiks, hiks, hiks"
"Oya, kak Bintang!"
Cakra berdiri dan berlari menuju ke kamar tamu, tempat ia dan Bintang tadi bersembunyi. Namun saat ia masuk kedalam kamar itu, ia tidak menemukan siapa pun disana. Kamar itu tampak berantakan, lantai kamar penuh dengan bercak darah, tampak ada sebelah sepatu Bintang di dekat kasur.
"Kak bintang!"
"Kak bintang! Kakak dimana?"
Cakra memeriksa seluruh kamar itu, namun ia tetap tidak menemukan Bintang. Cakra keluar dari kamar itu dan menaiki tangga menuju ke lantai atas, ia memeriksa kamar-kamar dan ruangan kerja orang tuanya. Namun sama saja, ia tidak bisa menemukan Bintang dimanapun.
"Kak Bintang! Kakak dimana? Hiks, hiks, hiks"
Cakra selalu terngiang-ngiang dengan kejadian sepuluh tahun lalu. Setelah kejadian hari itu, Cakra menelpon pamannya, Putra. Putra datang dengan para polisi ke rumah Cakra untuk memeriksa Cakra dan keluarganya. Devia berhasil ditangkap karena kasus pembunuhan kepada Haris dan Bintang. Rupanya setelah Devia memasuki kamar itu ia membunuh Bintang lalu membawa mayatnya lewat pintu belakang dan meletakkannya di dalam mobil yang berada di halaman belakang rumah.
1 bulan kemudian, Putra membawa Cakra ke New York dan menetap disana hingga Cakra SMA. Setelah memasuki kelas 2 SMA, Cakra kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk tinggal di Yogyakarta.
Kini Cakra berada didalam mobil dan berusaha menenangkan dirinya, entah mengapa saat melihat wajah wanita itu dadanya menjadi sesak. Ia tak sanggup menahan air matanya dan menumpahkan semua rasa sedih yang ia pendam selama ini. 10 tahun bukanlah waktu yang mudah bagi Cakra untuk melupakan kejadian buruk itu.
"Kenapa semua ini harus terjadi sama gue?! Kenapa?!"
Tiba-tiba ponsel Cakra menyala, ia mengambil ponselnya dan memeriksa notifikasi. Theo mengirim pesan kepadanya, Cakra membuka pesan itu.
"Woii Cakra, lo dimana?" Theo.
^^^"Gue masih di mobil"^^^
"Ayoo cepetan masuk! Gue sama yang lain udah pada nunggu di depan pintu masuk" Theo.
^^^"Gue ngga ikut dulu ya, gue lagi capek"^^^
"Yaah, kok gitu.
Kan kemarin Lo udah bilang bisa" Theo.
^^^"Iya, iya, gue masuk sekarang"^^^
"Nah gitu dong, gue tunggu Yaa" Theo.
Cakra menutup ponselnya, ia keluar dari dalam mobil dan kembali masuk kedalam alun-alun. Saat sampai disana, ia tidak menemukan Theo dan teman-temannya.
"Katanya nunggu di depan pintu masuk, kok ngga ada?"
"Cakra!" Ciara berlari mendekati Cakra dan belakang dan menepuk bahu cowok itu.
Cakra menoleh, "Lah Ciara? Kok kamu ada disini?"
"Aku disuruh sama temen-temen kamu kesini, katanya kamu mau ngomong sesuatu sama aku"
kata Ciara sambil tersenyum.
"Wah, ini pasti akal-akalan si Theo sama yang lain. Biar gue sama Ciara ketemuan disini" batin Cakra.
"Cakra!" Ciara melambaikan tangan dihadapan Cakra dengan wajah cemberut.
"Eh, iya?"
"Kamu mau ngomong apa? Kok sampe harus ketemuan disini?" tanya Ciara
Cakra menatap Ciara dengan tatapan sendu,
"Ra, aku boleh cerita sama kamu?"
"Kamu mau cerita apa?"
"Banyak banget. Kamu mau kan dengerin cerita aku?"
"Ya pasti mau lah, masa engga"
Cakra tersenyum, ia memeluk gadis itu dengan erat dan mengelus kepala Ciara.
"Makasih ya Ra, kamu selalu ada buat aku"
Bersambung ...
Haii makasih ya buat kalian yang selalu support karya aku, jangan lupa vote dan like