
Alexa berjalan gontai di koridor sekolah. Matanya sembab karena semalaman terus menangis. Unclenya marah saat tahu ia diam-diam menghubungi temannya—Karin. Bahkan ponsel miliknya disita oleh pria itu. Alexa berbelok ke koridor kiri menuju toilet. Ia ingin mengecek penampilannya lagi. Agar nanti orang-orang tidak melihat dirinya yang ia yakini amat berantakan ini.
Menatap wajahnya di cermin. Benar apa yang ia pikirkan kalau saat ini keadaannya begitu kacau. Dirinya terlihat amat lesu dan rasanya matanya ingin segera memejam karena semalam ia terus terjaga sampai pagi. Alexa takut bila semalam ia tertidur pulas nanti unclenya itu akan melakukan hal-hal tidak baik.
"Mommy i miss you."
Air mata menetes. Toilet yang sepi membuat Alexa tidak bisa menahan tangisnya. Ia merasa semakin tertekan memikirkan hari-hari kedepannya bersama Darrel. Alexa tidak tahu harus berbuat apa sedangkan niatnya untuk kabur saja sudah gagal. Ia takut membuat pria itu marah lagi. Alexa rindu Ariane, ia ingin wanita itu ada di sampingnya.
Tidak ingin berlama-lama di dalam sana. Alexa keluar dari dalam toilet setelah memastikan penampilannya sudah lebih baik. Ia naik ke lantai atas di mana kelasnya berada. Baru saja masuk Karin–temannya berdiri dan memperhatikan Alexa.
"Lexa, you okay?"
"Semalam gue datang ke rumah uncle lo, tapi katanya lo udah tidur, terus lo kenapa hubungin gue?"
Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Karin sangat tersirat kekhawatiran terbukti dari nada suara gadis itu. Alexa duduk di bangkunya berusaha untuk menghindari tatapan Karin. Ia takut mata sembabnya membuat temannya itu semakin bertanya-tanya.
"Gue gakpapa, Rin."
"Gakpapa apa, jelas-jelas lo bilang urgent."
"Iya tapi semua udah clear," katanya dengan terus sibuk mengeluarkan buku-bukunya. Sengaja agar Karin tidak curgia mengapa ia terus menunduk. Sedangkan Karin yang tadi berdiri menyambut kedatangan Alexa dari pintu kini mulai ikut duduk tepat di bangku samping Alexa.
"Lo sakit, Le?" tanya Karin memastikan.
"Enggak." Alexa melirik Karin lewat ekor matanya."Kemarin sore gue cuma mau minta tolong sama lo, gue ke kunci di ruang belakang rumah uncle. Gue kira enggak ada yang dengar gue makanya gue hubungin lo buat minta bantuan."
Tidak tahu itu alasan yang masuk akal atau tidak tapi yang terlintas di otaknya hanya itu. Ia menatap dikit-dikit temannya. Berharap Karin percaya dan tidak perlu menanyainya lagi. Jauh di dalam hatinya Alexa berharap Karin bisa membantunya tapi kalau dirinya memberitahu ia takut ancaman Darrel yang mengatakan akan melukai Karin benar terjadi.
Percakapaan berhenti. Karin hanya mengangguk-angguk seolah benar-benar percaya dengan apa yang baru saja Alexa katakan. Keduanya mulai menatap ke depan saat bel masuk berbunyi dan kurang dari 5 menit setelahnya seorang guru wanita masuk ke dalam kelas memulai mata pelajaran pertama.
...
"Crezy."
Darrel terus menenggak minuman berakholnya. Tidak peduli dengan satu kata yang baru saja dilayangkan pria di depannya. Ia memejamkan matanya menikmati minuman itu saat melewati tenggorokannya. Ada kepuasan tersendiri ketika ia menelan minuman itu.
"Lo benar-benar gila, Rel," ujarnya lagi.
Darrel membuka mata lalu menatap lurus temannya yang sudah ia kenal sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Bibirnya terangkat, tersenyum miring dan terkekeh. Ia meletakkan minumannya di meja kerjanya. Lalu memandang santai sosok Raka.
"Yeah, i'm crezy."
"Kalo cara lo gini, ponak kan lo itu akan takut dan akhirnya menjauh dari lo--,"
"She's my girl." Darrel berucap tegas memotong kalimat Raka."Dia enggak akan jauh dari gue karena gue tahu caranya buat dia selalu ada digenggaman gue," lanjutnya.
"Ayo lah, man. Lo enggak mau bersikap lebih baik ke dia?"
"Gue udah cukup baik perlakuin dia."
"Okay."
Raka menenggak sekali lagi coffe-nya. Niatnya untuk datang ke kantor Darrel untuk membahas bisnis. Tetapi temannya itu justru sedang asik menikmati minumannya. Bahkan bisa ia tebak kalau Darrel sebentar lagi akan mabuk. Setelah itu kesadaran dirinya hilang dan merancau tidak jelas. Hal itu sudah biasa Raka saksikan. Jika dibandikan dengannya Darrel memang yang paling suka minum.
"Perusahaan lo nanti gulung tikar kalau pemimpinnya kerjaannya mabuk terus."
Raka berujar lalu memilih pergi dari ruangan pribadi Darrel. Tidak perlu memikirkan bagaimana Darrel setelahnya, Raka hanya perlu meninggalkan temannya itu. Ia malas mendengar rancauan tidak jelas yang keluar dari mulut Darrel.
"Alexa, i want to have you." rancau Darrel tepat setelah Raka menutup pintu.
...
Alexa dan Karin keluar dari kelas. Jam istirahat sudah berbunyi dan saat ini mereka akan mengisi perut dengan makanan yang ada di kantin sekolah. Karin menatap ponselnya lalu melirik ke arah Alexa yang berada di sampingnya.
"Lexa, pulang sekolah ikut gue belanja yuk, temenin gue."
Alexa diam.
"Gue kayanya enggak bisa deh, Rin."
"Why?"
"Hemm gue lagi enggak mood aja untuk pergi, sorry ya," kata Alexa menatap tidak enak sosok Karin. Sedangkan Karin, temannya itu mengangguk mengerti keputusan Alexa.
Mereka menikmati makanannya masing-masing. Hanya ada sedikit pembicaraan yang terjadi namun setelahnya Alexa dan Karin sibuk mengunyah spaghetti pesanannya. Alexa sebenarnya tidak nafsu untuk makan. Ia memikirkan bahwa hitungan jam kedepan ia akan kembali bertemu unclenya. Alexa takut bertemu pria itu setelah semalam yang Darrel lakukan padanya. Ia hanya bisa berharap kali ini Darrel berada di dalam kondisi yang waras.
"Lo sakit ya, Lex?" pertanyaan itu sudah dua kali Karin layangkan pada Alexa.
"Enggak--,"
"Tapi gue baru sadar wajah lo keliatan pucet, lesu juga," ujar Karin.
"Enggak, Rin. Gue kurang tidur aja." Alexa berusaha meyakini temannya itu. Ia memandang wajah Karin lalu buru-buru kembali membuang pandangannya. Alexa rasa Karin mulai menyadari matanya yang bengkak. Meski tidak separah tadi pagi tapi jika dilihat mata Alexa masih sembab.
"Gue gakpapa." Alexa mengatakannya lagi dengan yakin. Karin masih mengamatinya, sepertinya kali ini Karin benar-benar menyadari keadaan matanya. Karena saat Alexa ingin kembali menunduk mengunyah makanannya. Karin justru menahan pipinya.
"Lo nangis?" tanya Karin. Alexa buru-buru menggeleng saat temannya itu menatap tanpa kedip."Gue kurang tidur, Rin."
"Kurang tidur enggak kaya gini."
"Semalam uncle lo juga bilang lo udah tidur," lanjut Karin.
"Iya gue kebangun tengah malam dan enggak bisa tidur sampai pagi, gue cuma kangen mommy."
Ada kejujuran dari ucapannya. Karena ia memang benar rindu pada Ariane. Akhir-akhir ini komunikasi mereka tidak intens. Memang setelah ia memberitahu Ariane atas perlakuan Darrel. Wanita itu selalu mengabari dan memastikan keadaannya. Namun sekarang Darrel membatasi apa yang Alexa lakukan bahkan untuk sekedar menghubungi Ariane ia tidak boleh mengatakan apa pun tentang pria itu.
"Bilang tante Ariane deh, biar lo nginep aja di rumah gue. Pasti lo kesepian kan enggak ada teman cerita."
"Perlu gue yang izinin ke tante Ariane?" tanya Karin dan hal itu membuat Alexa kesulitan untuk sekedar membuka mulutnya.
...