Bastard Uncle

Bastard Uncle
Bab 18. Kemana?



Alexa baru saja ingin merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Tetapi pintu kamarnya dibuka tiba-tiba oleh Darrel yang melangkah lebar menghampiri dirinya. Jangan lupakan sorot mata tajam yang terus dilayangkan unclenya. Sedangkan Alexa menegakkan tubuhnya untuk duduk dan menatap bingung sosok Darrel.


"Pacarmu?"


Keningnya berkerut saat Darrel menyodorkan ponsel miliknya yang beberapa hari pria itu sita seiring dengan satu kata yang Darrel lontarkan.


"Lucas?" lanjut Darrel."Your boyfriend?" Lexa menggeleng cepat menyadari pertanyaan unclenya setelah melihat notifikasi yang baru masuk 5 menit lalu dari Lucas—kakak kelas Alexa.


"Tidak berbohong?"


"Tidak, dia kakak kelas Alexa di sekolah."


"Good. Karena jika dia pacarmu uncle sendiri yang akan membuat dia menjauhimu." Darrel berujar tegas tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Alexa."Tapi sepertinya dia baru berniat untuk mendekati kamu dan jangan berharap dia berhasil pada niatnya itu."


"Uncle akan mengganti nomor teleponmu--,"


"Jangan uncle, tidak perlu."


"Bukankah kamu yang bilang sendiri akan menurut pada uncle?" Mendengar itu Lexa hanya mampu diam dan menundukkan kepalanya semakin dalam. Ucapannya ternyata menyulitkannya sendiri.


"Hanya nomor mommymu dan uncle yang boleh kamu simpan." Lexa bisa melihat kaki Darrel melangkah semakin mendekat padanya, lalu berdiri dengan jarak dekat di depan Alexa yang terduduk di pinggir tempat tidur."Ingat, Alexa. Komunikasi kamu dengan mommymu akan tetap uncle pantau." Darrel mengangkat kepalanya dengan memegang dagunya. Membuat tatapan keduanya bertemu. Tidak lama Lexa bisa merasakan bibirnya dikecup oleh bibir unclenya. Hanya sebatas menempel karena setelah melakukan itu dan mengucapkan selamat tidur Darrel berbalik badan melangkah pergi dari dalam kamarnya.


Salah jika saat ini Alexa salah tingkah karena perlakuan Darrel. Karena nyatanya yang ia rasakan adalah ketakutan dan rasa khawatir yang semakin besar. Mungkin ucapannya yang bilang akan menurut pada Darrel justru akan semakin membuatnya terkekang oleh pria itu. Sekarang Alexa menyesali ucapannya sendiri.


Soal Lucas, kakak kelasnya itu ternyata sudah menghubunginya dari kemarin. Mengajaknya jalan di hari weekend sesuai perkataannya beberapa hari lalu. Ia pikir Lucas tidak serius karena sebelumnya keduanya memang tidak dekat. Sekarang ia tidak tahu bagaimana anggapan Lucas kepadanya karena tidak membalas pesannya. Sebab Darrel kembali membawa ponsel miliknya.


Tidak ingin larut memikirkannya karena kepalanya juga sudah sakit menerima segala perlakuan Darrel, Lexa memilih tidur. Secara perlahan unclenya membuat orang-orang menjauh dari kehidupannya. Ia juga tidak tahu bagaimana kabar Ariane. Apa wanita itu khawatir dan mulai cemas karena tidak ada kabar darinya. Namun sebelum jauh kesana ia yakin Darrel sudah lebih dulu mengatur semuanya.


...


"Morning, sweeties."


Alexa berhenti di ujung tangga ketika suara Darrel terdengar. Unclenya itu tengah duduk di sofa ruang tengah dengan memangku laptopnya. Sepertinya Darrel sedang menyelesaikan pekerjaannya. Sebab ada beberapa berkas yang tergeletak di atas meja. Dari kemarin pun pria itu terlihat sibuk, pulang larut malam dari kantor.


"Maaf Lexa kesiangan uncle," cicitnya


"Tidak apa-apa. Sarapanmu sudah disiapkan, silahkan sarapan setelah pekerjaan uncle selesai kita akan pergi."


"Kemana?" Lexa melangkah mendekat pada Darrel, berdiri tidak jauh dari sofa tempat unclenya duduk.


"Beritahu Lexa sekarang saja, uncle."


"Sarapan lalu bersiap-siap," kata Darrel tegas seolah kalimatnya mutlak. Alexa tidak lagi mengeluarkan suaranya ketika wajah Darrel berubah datar. Ia membawa kakinya untuk sampai ke meja makan. Sekarang sudah hampir pukul 08.00 dan Alexa baru bangun entah kenapa ia bisa telat. Padahal sejak tinggal di rumah unclenya, ia selalu bangun pagi. Mungkin karena semalam turun hujan dan cuacanya sangat pas untuk dipakai tidur dengan hari weekend seperti ini.


Alexa sibuk mengunyah makanannya. Sesekali melirik Darrel yang keberadaannya masih bisa ditangkap oleh matanya. Ia benar-benar tidak tahu unclenya itu akan membawanya kemana. Namun Lexa berharap untuk kali ini Darrel tidak bersikap aneh-aneh.


"Ini ponselmu dengan nomor baru, sudah ada nomor uncle dan mommymu." Alexa menatap benda yang Darrel sodorkan, ponsel miliknya. Lexa mengambilnya dengan perasaan sebal. Ia sebenarnya senang karena bisa kembali memegang benda itu. Tetapi ia juga kesal karena Darrel sudah mengatur semuanya. Sampai ucapannya yang akan mengganti nomornya benar Darrel lakukan.


"Bukan berarti kamu bisa bebas menghubungi mommymu. Uncle tetap bisa mengawasi kegiatanmu di ponsel itu, ingat perkataanmu yang akan menurut pada uncle, Alexa." Lexa hanya diam. Hingga Darrel melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah. Ia menyalahkan ponselnya. Tidak ada notifikasi apa-apa di sana. Biasanya selalu ada notif pesan dari grup kelas atau bahkan dari Karin. Ponselnya dibuat seperti tidak ada kehidupan oleh Darrel.


Soal Karin, apa temannya itu benar tidak khawatir padanya yang tidak masuk sekolah. Apalagi hampir 2 hari mereka tidak berkomunikasi. Seharusnya hal itu sudah membuat Karin mencemaskannya. Ia dan Karin sudah cukup dekat dan saling mengirim pesan menjadi kegiatan keduanya yang tak terlewatkan. Apa pun mereka bahas sekali pun hal tidak jelas.


Alexa kembali mematikan ponselnya. Merasa tidak bebas memainkan benda itu sekarang karena Darrel terus meliriknya dari ekor mata pria itu. Ia menatap jalanan yang padat di pagi hari ini. Lexa memikirkan banyak hal sejak tinggal di rumah Darrel. Ia tidak tahu kapan dan bagaimana semuanya berakhir.


"Tidur saja kalau masih mengantuk dari pada keningmu berkerut seperti itu, memikirkan apa?"


"Tidak ada."


"Perjalanan akan memakan waktu 2 jam. Uncle lebih suka melihatmu terlelap dari pada melihatmu berpikir keras dan sialnya uncle sudah bisa menebak kamu memikirkan tentang apa," kata Darrel.


"Kita akan kemana, uncle?"


Lexa mencoba mengalihkan percakapan. Tetapi sebenernya ia juga masih penasaran Darrel akan membawanya kemana.


"Jalan-jalan."


"Kenapa harus jauh?" tanyanya.


"Biar tidak ada yang mengganggu." Darrel mengambil satu tangan Alexa lalu digenggamnya. Bisa Lexa rasakan punggung tangannya dikecup oleh Darrel. Dengan mata Darrel yang meliriknya, disertai senyum tipis yang justru membuat Lexa cemas. Bisakah ia menyebut Darrel sebagai om-om pedofil. Meski sebenarnya unclenya tampan namun tetap saja baginya menyeramkan. Mengapa Darrel tidak berpacaran saja dengan perempuan lain. Bukan jadi hidupnya yang dibikin rumit karena perasaan tidak wajar Darrel pada dirinya.


Tangannya masih terus Darrel genggam. Tidak dilepaskan meski ia sudah mencoba menariknya. Kalau saja ia punya keberanian mungkin kini ia akan membanting stir kemudi. Membuat keduanya terlempar jauh dari mobil, sampai tidak bernapas lagi mungkin. Agar ia berhasil keluar dari segala kerumitan. Tapi jika dipikir dengan logika Lexa juga tidak ingin pergi meninggalkan Ariane. Alexa tertekan, masa remajanya berhasil pria itu kendalikan hingga perasaan takut terus menghantuinya. Ia selalu cemas ketika akan tertidur. Lexa takut Darrel khilaf dan melakukan perbuatan tidak pantas padanya saat ia tidur. Hal seperti itu yang membuatnya tidak tahan hidup bersama Darrel.


"Uncle sangat mencintaimu Alexa."


...