
Darrel menjatuhkan tubuh Alexa ke atas tempat tidur. Pria itu menahan berat badannya agar tidak benar-benar jatuh ke atas Alexa. Tanpa ingin membuang waktu. Darrel langsung menciumi bahu putih milik gadis itu. Ia menjilatnya mencoba menggoda Alexa. Tangannya juga kembali bermain di bagian dada Alexa, meremasnya kuat. Darrel tidak peduli dengan tangisan gadis itu. Ia justru merasa semakin bergairah saat kegiatannya diiringi suara tangis Alexa.
"Uncle stop-p."
"Alexa harus sekolah uncle."
Alexa memukul punggung unclenya. Namun dengan cepat Darrel menahan kedua tangannya ke atas. Membuat Darrel semakin leluasa menciuminya. Darrel kembali ******* bibirnya, membungkam tangisan Alexa. Perlahan ciuman itu turun ke leher meninggalkan bekas yang basah.
"Lexa mohon uncle, berhenti." suaranya lirih, mencoba mengiba pada unclenya.
"Diam, sweeties. Nikmati saja." Darrel berbisik tepat di telinga Alexa dan menjilat sensual setelahnya.
Merasa tidak tahan Darrel berdiri tegak dari atas tubuh Alexa. Membuka kancing dipergelangan tangannya. Ia menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku. Lalu tangannya bergerak membuka ikat pinggangnya. Sesuatu dibawahnya meminta untuk dibebaskan dan Darrel ingin Alexa yang membantunya. Darrel melempar ikat pinggangnya asal. Baru saja ingin membuka risletingnya tubuhnya terdorong ke belakang saat Alexa menendangnya. Gadis itu lari memasuki kamar mandi dengan tubuh bagian atasnya sudah tidak tertutupi apa pun.
Darrel menyeringai. Suara pintu kamar mandi yang dikunci membuatnya melangkah mendekat ke sana."Berani menghentikan permainan, baby?" Darrel berujar datar setelah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi yang Alexa kunci.
"Okey, ini belum saatnya uncle memilikimu. Bersiap untuk nanti, sweeties."
Darrel pergi dari kamar Alexa setelah merapihkan penampilannya. Darrel bisa saja membuka pintu kamar mandi yang Alexa kunci. Tapi ia masih ada jadwal meeting 1 jam lagi. Darrel sebenarnya tidak berniat melanjutkan kegiatan panas itu dengan Alexa. Niatnya datang ke kamar Alexa hanya untuk memastikan keadaan Alexa. Namun saat mendapati gadis itu masih menggunakan dress hitam yang sama seperti semalam. Hasrat lelakinya menjadi begitu tinggi.
Sedangkan Alexa. Ia duduk dilantai kamar mandi yang dingin, memeluk tubuhnya yang gemetar. Kalau saja ia tidak mendapat kesempatan lari mungkin saat ini hal berharganya akan hilang. Alexa tidak tahu dari mana ia mendapat kekuatan untuk menendang Darrel. Padahal ia merasa lemas setelah tadi Darrel bermain kasar dikewanitaannya.
Tangisnya semakin kencang dan menyedihkan. Ia takut dengan unclenya. Alexa tidak mau terus berada di rumah ini. Ia menyalakan shower, membiarkan air mengguyur tubuhnya yang lemah.
"Bibi Anna buka pintunya!"
Alexa menatap nanar pintu kamar yang di kunci dari luar. Ia baru saja selesai mandi lalu mendapati Anna yang membawakan sarapan untuknya. Namun setelah wanita itu meletakkan makanan di meja belajarnya. Anna dengan tiba-tiba menguncinya. Alexa yakin itu atas permintaan Darrel.
Hari ini masih jadwalnya ia sekolah. Namun dengan tega unclenya malah melakukan hal tidak pantas padanya di pagi hari seperti ini. Membuat ia tidak bisa mengikuti pelajaran. Alexa yakin pasti Karin akan bertanya-tanya. Apalagi tanpa kabar seperti ini. Karena sebelumnya Alexa tidak pernah absen tanpa kabar. Alexa berharap Karin datang ke rumah unclenya lalu menolongnya keluar dari sini.
Ia melirik balkon kamarnya dan hanya bisa menghela napas. Kalau saja ia bisa keluar dari balkon itu mungkin sekarang Alexa akan nekat loncat. Tapi nyatanya semua celah di kamarnya benar-benar rapat. Entah Darrel memang sudah mempersiapkan semuanya membuat kamarnya seperti penjara atau memang nasibnya jeleknya.
Tidak ada yang bisa ia harapkan sekarang selain Darrel berbaik hati membuat kehidupannya menjadi normal lagi dan membiarkan Alexa hidup tanpa rasa takut atas perbuatan pria itu.
...
Setelah menyelesaikan meeting. Darrel masuk ke dalam ruangannya. Ia mengacak rambutnya, membuka jasnya kemudian Darrel sampirkan ke sandaran kursi. Selama meeting berjalan Darrel dibuat tidak fokus karena terus memikirkan gadisnya. Ia terus membayangkan tubuh indah milik Alexa yang tadi pagi membuatnya gila.
Darrel duduk di kursi kerjanya. Ruangannya sudah ia kunci rapat. Bahkan Darrel meminta pada sekretarisnya untuk jangan ada yang mengganggunya dulu. Tubuhnya panas hanya karena membayangkan Alexa. Apalagi tadi kegiatan keduanya berhenti disaat hasrat Darrel berada diujung.
"Ah." Darrel memejamkan matanya ketika ia mulai memegang pusat intinya. Telapak tangannya yang kiri mengelus perlahan miliknya. Ia kembali dibawa jauh pada tubuh Alexa yang terbaring di atas kasur, menggeliat seksi dan mendesah. Darrel ingin menyaksikan lagi Alexa yang seperti itu. Ia terus mengurut miliknya kuat ketika pikirannya membayangkan tangan Alexa yang memegang pusat intinya. Darrel tidak sabar Alexa memuaskannya.
"Arghhh ****!"
"Baby i miss you." Darrel merancau dengan terus bermain pada miliknya. Ia tersiksa tidak bisa menuntaskan hasratnya bersama Alexa. Hanya bisa memusakan dirinya sendiri dengan membayangkan gadis itu. Ia ingin cepat pulang ke rumah dan bertemu Alexa. Tangannya masih terus bermain dibagian bawahnya, mengelus dan mengurutnya cepat saat miliknya menegang.
"Alexa, i want you, baby."
"Ahhh!"
Sesuatu keluar dari miliknya mengenai celana dan baju kemejanya. Darrel cukup menikmati orgasmenya meski hanya bermain sendiri. Setidaknya ia tidak lagi tersiksa seperti beberapa jam lalu. Ia segera membersihkan dirinya. Darrel bersumpah nantinya Alexa yang akan melakukan semua ini. Ia ingin tangan dan mulut mungil gadis itu yang memuaskan miliknya.
...