
Alexa menatap mobil jemputan Karin yang melaju pergi dari parkiran sekolah. Sekarang hanya ada dirinya yang menunggu kedatangan Darrel. Jam pulang sekolah sudah dari 10 menit yang lalu bahkan Karin sempat menemani dirinya untuk menunggu unclenya. Tapi karena merasa akan lama, ia menyuruh Karin untuk pulang lebih dulu. Apalagi gadis itu ingin pergi belanja dengan sepupunya yang sudah menunggu di salah satu mall. Jadi Alexa membiarkan Karin pergi dan menunggu sendirian di kursi tunggu yang tidak jauh dari area parkiran.
Ia melirik jam pada jam tangannya. Tumben pria itu telat menjemputnya. Biasanya Darrel selalu stay di depan gerbang sekolah. Seolah tidak membiarkan Alexa untuk pulang sendiri. Namun kali ini keberadaan unclenya itu tidak tahu di mana. Alexa bisa saja nekat ikut dengan Karin. Tapi peringatan yang tidak pernah absen pria itu lontarkan kepada dirinya saat mengatarnya ke sekolah lebih Alexa pikirkan. Ia tidak mau jika harus kembali membuat Darrel marah. Kalimat bahwa ia harus pulang dengan unclenya selalu tercatat di otaknya.
Alexa memandang lingkungan sekolah yang mulai sepi. Dulu jika dengan mommynya ia masih bisa pulang sendiri atau ikut dengan Karin. Tapi sekarang saat tinggal dengan Darrel. Ia harus menunggu di sekolah entah untuk waktu berapa lama, Alexa bosan. Belum lagi ia tidak memegang ponsel. Benda penting itu berada pada Darrel. Hidupnya sejak tinggal dengan pria itu rasanya begitu terkekang. Ia sulit mengendalikannya sendiri.
"Belum pulang, Lexa?"
"Menunggu jemputan, kak," jawabnya sopan saat seorang cowok yang tidak lain kakak kelasnya berdiri dihadapannya. Dia Lucas, ketua club basket. Saat ini pun Alexa bisa lihat penampilan Lucas yang sudah tidak menggunakan seragam. Sepertinya club basket hari ini akan melakukan latihan mengingat bulan depan akan ada pertandingan antar sekolah.
"Gue temenin lo ya." tanpa basa-basi Lucas duduk di samping Alexa. Mereka memang tidak dekat, hanya saling kenal karena saat awal masuk sekolah Lucas menjadi kakak pembimbingnya di masa pengenalan lingkungan sekolah. Tapi pria itu pernah sekali mengantarnya pulang saat acara kegiatan mereka selesai di waktu yang begitu sore.
"Kakak bukannya ada latihan?" tanya Alexa.
"Masih 5 menit lagi, tunggu anak-anak yang lain."
Alexa mengangguk-angguk. Bingung untuk berkomunikasi pada kakak kelasnya itu. Baru saja Lucas ingin kembali berbicara. Suara klakson mobil yang dibunyikan cukup kencang membuat keduanya menatap ke arah gerbang sekolah yang masih bisa mereka lihat dari posisi keduanya duduk. Alexa yang menyadari kehadiran unclenya langsung berdiri.
"Gue udah di jemput, kak, duluan ya."
"Tunggu Alexa." Lucas ikut berdiri, menatap Alexa."Weekend ada acara?" tanyanya.
Alexa menggeleng, merasa memang benar bahwa liburan minggu ini akan free.
"Nomor lo masih sama kan? Nanti gue hubungin ya." Kalimat-kalimat itu terus diiringi oleh klakson mobil yang terus dibunyikan oleh Darrel dan karena itu Alexa lagi-lagi hanya mengangguk lalu cepat-cepat menghampiri unclenya.
"Merasa dapat kesempatan untuk berpacaran karena uncle telat menjemputmu?"
Alexa diam, ia tidak ingin menanggapi ucapan pria di sebelahnya yang menurutnya terlalu aneh.
"Jangan dekat-dekat dengannya lagi, Alexa."
"Dia cuma kakak kelas Lexa--,"
"Tetap, jangan dekat-dekat dengan dia lagi," ujar Darrel penuh penekanan. Mobil mulai pergi dari lingkungan sekolah. Sejak masuk ke dalam mobil milik unclenya itu ia sudah merasakan suasana yang tidak mengenakkan. Apalagi mendapati raut wajah datar dari Darrel. Rasanya ia ingin melewati waktu yang berjalan sekarang. Belum lagi perkataan asal dari Darrel. Pria itu menuduhnya yang tidak-tidak.
"Ponsel Lexa bisa Alexa ambil sekarang?"
"Tidak."
"Alexa butuh, uncle. Banyak informasi soal sekolah di grup chat," katanya mencoba protes dan memberitahu kalau apa yang pria itu lakukan sangat merugikannya.
Alexa melotot tidak suka.
"Tidak perlu, Alexa hanya butuh ponsel Lexa kembali, tidak perlu beli yang baru."
"Uncle dapat apa jika mengembalikan ponselmu sekarang?" senyum miring bisa Alexa lihat dari bibir Darrel. Mobil tengah berhenti karena lampu merah. Hingga pria itu bisa leluasa menatapnya. Bahkan dengan berani Darrel meletakkan tangannya di atas paha Alexa.
"Itu ponsel milik Alexa, uncle. Jadi uncle tidak berhak meminta imbalan--,"
"Ah." Alexa melenguh saat tangan Darrel masuk ke dalam roknya. Pria itu mengelus pahanya dengan terus menatap Alexa dalam.
"Ingin ponselmu kembali?" Alexa mengangguk."Maka puaskan uncle," lanjutnya gila.
Alexa berusaha menjauhkan tangan Darrel. Jantungnya sudah berdetak cepat karena ketakutan atas perbuatan unclenya. Ia menyerongkan badannya menjadi sedikit membelakangi Darrel. Sedangkan Darrel, pria itu baru saja ingin kembali mengganggu Alexa. Tetapi lampu lalu lintas sudah berganti warna dan membuatnya mengurungkan niatnya itu.
Mobil kembali melaju dan Alexa ingin segera sampai di rumah. Syukur-syukur bisa mengunci diri di kamar. Soal ponselnya ia hanya berharap pria di sampingnya berbaik hati mengembalikannya dengan cuma-cuma karena benda itu memang hak miliknya.
...
"Nanti malam ikut uncle dinner."
Alexa yang baru saja ingin menaiki anak tangga untuk ke kamarnya. Menoleh sejenak sosok Darrel yang memilih duduk di sofa ruang tengah. Pria itu nanti akan kembali ke kantor. Kadang Alexa selalu dibuat geleng-geleng kepala oleh unclenya. Ia bisa pulang sendiri dan dengan begitu Darrel tidak perlu repot bolak-balik.
Tapi tetap saja. Mau Alexa memberitahu pria itu pun Darrel tidak akan mendengarkannya. Unclenya itu bilang kalau menjemputnya adalah keharusan.
"Alexa di rumah aja."
"Itu bukan pertanyaan kamu ingin ikut atau tidak, tapi itu pernyataan dan kamu tidak bisa menolak," kata Darrel.
"Uncle bisa tidak biarin Alexa tentuin yang jadi maunya Lexa?" tanyanya kesal menyindir Darrel yang selalu memaksa Alexa ini itu. Ia memilih melangkah mendekat pada unclenya yang masih duduk di sofa tanpa menatapnya.
"Alexa ingin di rumah," lanjut Alexa tegas.
Darrel yang duduk bersandar hanya mengangguk-angguk santai mendengar ucapan Alexa yang mulai berani bersuara atas ketidaksukaannya atas sikap Darrel. Ia memandang datar wajah Alexa yang berdiri di samping sofa.
"Ingin di rumah?" Alexa mengangguk cepat."Baik, tapi setelah uncle pulang dari acara dinner kantor. Kamu siap-siap tidak bisa jalan seminggu."
Alexa bukan gadis polos yang tidak mengerti maksud ucapan pria itu. Ia cukup paham apa makna kalimat Darrel. Apalagi akhir-akhir ini Darrel selalu melakukan hal-hal tidak pantas padanya. Alexa melayangkan tatapan kesalnya. Menghentakkan kakinya ia meninggalkan unclenya yang menyeringai puas. Baginya cukup mudah untuk membuat gadisnya berada di dalam kendalinya.
...