
"Cantik."
Darrel masuk ke dalam kamar Alexa tanpa mengetuknya lebih dulu. Ia menatap tubuh gadis itu dari atas ke bawah. Dress hitam setinggi lutut dengan lengan tipis adalah pemberian darinya. Ia sengaja membeli dress itu untuk Alexa. Karena membayangkan bahwa gadisnya akan sangat cantik berada di dalam balutan dress hitam itu.
Darrel tersenyum menatap wajah Alexa lewat cermin full body. Kedua tangannya mulai melingkar di pinggang gadis itu. Alexa yang merasa tidak nyaman berusaha lepas dari rengkuhan unclenya. Tapi bukannya melepaskan. Darrel justru menjatuhkan kepalanya di atas pundaknya dan mengelus sensual perut rata miliknya.
"Lexa lagi bersiap, uncle. Boleh uncle tunggu di luar?"
Kalimatnya tidak ditanggapi. Darrel membalikan tubuh Alexa hingga keduanya berhadapan. Bisa Alexa lihat tatapan dalam dari pria di depannya. Ia tahu apa yang terjadi pada unclenya karena di detik selanjutnya Darrel langsung mencium bibirnya. Tangan Darrel masih berada di pinggangnya. Seolah tidak membiarkan untuk Alexa lepas darinya.
Alexa memejamkan matanya. Bukan karena menikmati, tapi ia ingin menangis karena kembali mendapat perlakuan tidak pantas dari unclenya sendiri. Darrel terus asik ******* bibir tipis miliknya. Perlahan ciuman itu menjadi kasar dan menuntut. Ringisan lolos dari mulut Alexa saat Darrel menggigit bibirnya karena Alexa tidak membalas ciuman itu.
Tengkuknya mulai ditahan dengan tangan kiri pria itu. Darrel tidak mempedulikan pukulan-pukulan dari Alexa. Setelah lebih dari 3 menit, Darrel melepaskan pangutan keduanya. Lalu menghapus saliva keduanya yang tertinggal dan mengelus bibir Alexa yang tampak memerah.
"Uncle ingin lebih," katanya."Tapi mungkin setelah kita pulang dinner," lanjut Darrel menyeringai.
Alexa menatap kepergian unclenya dengan tatapan benci. Ia berbalik kembali menghadap cermin. Bibirnya yang sudah ia poles liptin kembali berantakan. Napasnya belum sepenuhnya stabil, pasokkan oksigennya cukup terganggu saat Darrel terus menciumnya dengan kasar. Jika ia benci pada unclenya maka ia lebih benci pada dirinya sendiri karena tidak bisa melawan saat diperlakukan buruk.
Alexa memilih duduk di kursi meja riasnya. Menetralkan napasnya. Ia takut atas ucapan pria itu sebelum pergi dari kamarnya. Alexa berharap nanti Darrel akan berlaku baik selayaknya uncle pada keponakkannya.
...
"Selamat malam, tuan Darrel."
Darrel menyambut uluran tangan dari seorang pria yang tidak Alexa kenal. Setelah mereka berjabat tangan, pria berjas yang umurnya Alexa tebak berada di atas Darrel itu mulai menatap dirinya.
"She's my girlfriend, Alexa."
"Selamat malam, mrs Alexa," sapa Pria itu dan Alexa dengan canggung melayangkan senyum tipisnya sebagai balasan. Alexa sangat amat terkejut saat Darrel memperkenalkan dirinya sebagai pacar dari pria itu. Kemana akal waras unclenya?
Tetapi protes di waktu sekarang bukan hal yang tepat. Ia masih mampu untuk menempatkan diri. Alexa sadar jika ia protes saat ini maka itu hanya akan menurunkan harga dirinya dan juga Darrel dihadapan orang lain. Bisa ia lihat Darrel sempat tersenyum puas sebelum akhirnya mereka melangkah masuk ke dalam ruang restoran VIP.
Mereka duduk di meja panjang di mana saat ini ada sekitar 8 orang termasuk dirinya dan juga Darrel. Unclenya bilang ini adalah acara dinner biasa untuk mempererat hubungan bisnis mereka. Pria tadi bernama William–ia yang mengundang Darrel dan 2 rekan bisnis yang lainnya. Seharusnya Alexa tidak berada di sini. Meski 2 orang yang lainnya juga membawa pasangannya. Tapi Alexa risih, karena statusnya berbeda.
"Saya pikir anda tidak suka perempuan, tuan Darrel." celetukkan tiba-tiba itu datang dari rekan bisnisnya yang sudah terjalin 3 tahun belakangan ini. Darrel terkekeh, tidak merasa tersinggung karena ia tahu itu hanya candaan.
Apalagi Darrel memang jarang terlihat dekat dengan perempuan. Sebelum Alexa tinggal bersamanya, ia benar-benar menghabiskan waktunya untuk pekerjaan.
"Kalau dengan yang ini, i love it," sahutnya melirik Alexa yang duduk di kursi sampingnya. Kalimatnya disambut tawa dari yang lain. Sedangkan Alexa semakin tidak nyaman duduk di kursinya.
"Baguslah, bahaya kalau tidak suka perempuan."
Suasana di meja itu jadi mencair. Tidak seperti saat mereka sedang membahas masalah pekerjaan, serius, tegas dan sulit melempar gurauan. Tidak lama dari itu menu makanan datang dan mulai dipersiapkan dengan baik. Mereka makan saat William mempersilahkan mereka menikmati hidangan. Alexa bisa sedikit lega ketika pembahasaan berhenti. Ia ikut makan walau nafsunya untuk makan sudah hilang. Namun tetap berusaha menghargai William.
"Jadi apa kalian ada rencana menikah?" pertanyaan itu terlontar dari Sonya–istri dari William. Diantara tamu undangan lain, hanya Darrel yang memang belum menikah.
"Tentu. Akan ada undangan yang datang untuk mrs. Sonya dan yang lainnya."
"Jangan lama-lama, tuan Darrel. Memang mau tidur sendiri terus?"
Rasanya Alexa ingin pergi dari hadapan mereka ketika lagi dan lagi tawa itu terdengar. Sebenarnya mereka sadar atau tidak kalau Alexa masih duduk dibangku SMA dan ia hanya seorang keponakkan Darrel. Alexa menelan kue coklat sebagai dessret dengan susah payah. Ia tidak tahu harus berada di sini berapa lama lagi.
...
Alexa masuk ke dalam mobil setelah Darrel membukakan pintunya. Mereka sudah menyelesaikan acara dinnernya. Kini jam menunjukkan pukul 21.05 tadi Darrel, William dan rekan bisnis yang lainnya sempat mengobrol perihal pekerjaan. Jadi baru sekarang mereka bisa pulang.
Alexa membawa pandangannya ke luar jendal mobil. Tidak peduli yang ia tatap hanya mobil-mobil yang sedang terparkir. Rasanya itu lebih baik dari pada ia berhadapan dengan Darrel.
"Kamu terlihat semakin sexy dengan wajahmu yang seperti itu--,"
"Uncle bisa tidak sekali saja berpikir normal?!" sadar suaranya begitu keras, Alexa menunduk.
"Ingin uncle robek dressmu sekarang, Alexa?" Darrel memandang datar gadis di sampingnya. Ia tidak pernah suka jika Alexa berani padanya sampai berteriak di depannya. Darrel hanya ingin gadis itu menjadi gadis penurut yang tidak banyak melawan.
"Alexa tidak suka dengan sikap uncle."
"Sayangnya kamu harus bisa menerima sikap uncle ini."
Mesin mobil mulai menyala. Darrel melajukan mobilnya keluar dari area restoran. Alexa tidak lagi bersuara sebab seberani apa pun ia mengeluarkan suaranya. Maka akan selalu ada sikap tidak mau dibantah dari sosok Darrel. Sekarang pun ia bisa merasakan kalau Darrel marah padanya. Bukankah pria itu begitu egois, seharusnya di sini ia yang marah. Ia kesal saat Darrel harus memperkenalkan dirinya sebagai seorang pacar pria itu. Belum lagi mengatakkan akan segera menikahinya.
"Sebelum sampai di rumah, tidak ingin diskusi posisi seperti apa yang kamu mau untuk bercinta?"
"Stop mengatakan hal memalukan, uncle, Lexa mohon," katanya dibuat takut dengan apa yang Darrel katakan. Bohong jika jantungnya tidak berdetak cepat. Ia takut Darrel benar-benar melakukan perbuatan itu padanya.
"Tidak ada yang memalukan, sayang."
"Alexa masih sekolah, Lexa juga keponakkan uncle!"
"Uncle tidak peduli itu."
Darrel puas melihat raut wajah takut dari Alexa.
"Buah dadamu menggoda uncle, sayang," kata Darrel serak. Ia benar-benar merasa tergoda menatap dua buah dada milik Alexa yang terlihat menyembul karena potongan dress itu memang pendek dibagian dadanya. Alexa merasa semakin tidak nyaman mendengar penuturan unclenya. Ia mencoba menutupi bagian atasnya. Tetapi tetap saja tangannya tidak bisa sepenuhnya menutupi.
"Bermain di dalam mobil bukankah seru, sweetie?"
Darrel membuka sabuk pengamannya. Ia semakin menyeringai puas saat Alexa menatap sekitarnya dengan gerakkan panik. Jalanan yang sepi dan gelap, jika Alexa sadar maka gadis itu seharusnya paham kalau Darrel tidak menggunakan jalanan biasanya yang digunakan untuk pulang ke rumah. Darrel sengaja memilih lewat jalur lain yang jaraknya lebih jauh. Ia sudah merencanakan ini saat sedang makan malam, sepanjang acara ia begitu tergoda menatap penampilan Alexa.
"Uncle jangan." Alexa menahan tangan Darrel yang mencoba membuka sabuk pengamannya. Pria itu terus memandanginya, bisa Alexa lihat kabut gairah di kedua mata milik Darrel.
"Jangan uncle, Alexa mohon," lirihnya.
Tenaga Darrel tentunya lebih besar darinya. Seatbelt berhasil pria itu lepas dari tubuhnya. Tanpa mendengarkan permohonannya yang penuh ketakutan. Darrel mendekatkan dirinya pada Alexa. Bibir pria itu jatuh ke atas bibir tipis Alexa lalu menciumnya penuh nafsu. Tangan Darrel bermain di tubuh Alexa. Ia menyingkap dress yang digunakan gadis itu lalu tangannya masuk ke dalam balik dress.
"Ah." Alexa menggenggam pergelangan tangan Darrel yang bermain di bagian bawah tubuhnya. Ciuman turun ke leher, Darrel menjilat dan membuat tanda kepemilikan di sana.
"Please uncle, berhenti."
"Uncle, ah!" Alexa menatap nanar dengan tangisan yang mulai terdengar. Tubuhnya gemetar saat tangan milik unclenya di bawah sana semakin bermain liar. Bisa Alexa rasakan jari-jari Darrel mengelus sensual kewanitaannya yang masih tertutup celana.
"Siap untuk mendapat kenikmatan, sayang?" Alexa menggeleng cepat dan air mata mengalir melewati pipinya. Darrel berhasil menarik celananya hingga turun sebatas paha. Sebisa mungkin Alexa merapatkan kedua pahanya agar unclenya tidak semakin bertindak jauh.
"Alexa mohon uncle jangan lakuin ini."
"Tidak ingin uncle marah kan?" Alexa mengangguk."Maka menurutlah pada uncle, buka pahamu dan biarkan uncle bermain di sana."
...