Bastard Uncle

Bastard Uncle
Bab 17. Ucapan Alexa



Alexa bergerak tidak nyaman di atas pangkuan Darrel. Usahanya untuk melepaskan diri dari unclenya selalu gagal. Satu tangan Darrel menahan tengkuknya dan satu tangan yang lain tetap melingkar di pinggangnya.


"Maaf uncle--,"


"For what?" tanya Darrel datar dengan terus menatap Alexa dalam.


"Lexa tidak kabur, uncle. Lexa hanya ingin pergi ke rumah Karin untuk tanya soal tugas sekolah karena Lexa tidak masuk kemarin."


"Apa Anna tidak memberitahumu kalau uncle melarang kamu bertemu dengannya?"


"Karena itu Lexa coba pergi diam-diam," katanya menggebu berharap alasannya ini bisa membela dirinya."Lagi pun untuk apa uncle melarang Lexa bertemu Karin--,"


"Uncle lebih tahu isi pikiranmu, Alexa. Ingin mencari perlindungan dengan temanmu itu?"


Alexa menggeleng seiring dengan jari-jari Darrel mengusap sensual pinggangnya. Ia menahan kepalanya ketika Darrel mencoba mendekatkan wajah keduanya.


"Stop uncle!" Lexa teriak tepat di depan wajah Darrel. Napasnya memburu dengan sorot mata yang emosi."Jangan apa-apain Lexa, uncle tidak boleh berlaku seperti ini sama Alexa," lanjutnya.


"Berlaku seperti apa baby?"


"Ini tidak wajar dan uncle tidak seharusnya memperlakukan Lexa seperti ini.",


"Uncle sudah pernah menatap tubuhmu tanpa tertutupi apa-apa, jadi menyadari kalau perbuatan uncle wajar atau tidak itu sudah terlambat." Lexa menjauhkan tangan Darrel saat ibu jari unclenya menyentuh bibir tipis miliknya."Uncle menginginkanmu, Alexa," ucap Darrel.


Alexa bisa mendengar nada suara unclenya memberat dan ia tahu apa yang kini terjadi pada Darrel. Untuk kesekian kalinya Lexa mencoba menjauh dari pangkuan Darrel. Tetapi lagi-lagi pria itu lebih mampu mengukungnya.


"Di sini atau kamar baby?"


"Tidak uncle, please." Lexa menggeleng cepat berharap unclenya mengerti dengan ketakutannya.


"Okay here." Darrel mendekatkan bibir keduanya hingga Lexa yang tidak siap dibuat terkejut dengan aksi Darrel. Ia melayangkan pukulan kencang ketika dirasa napasnya akan habis karena Darrel terus ******* bibirnya dengan kasar.


"Hentikan uncle, Alexa minta maaf."


"Lexa takut, jangan seperti ini uncle."


Nyatanya terlalu sulit mengiba pada pria itu. Darrel tidak mendengarkan ucapannya. Unclenya itu justru menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Membuat Lexa kini berada di bawah Darrel.


"Berhenti," lirihnya namun suaranya dibungkam Darrel. Lexa menahan mulutnya agar lidah Darrel tidak bisa masuk ke dalam. Pergerakkan Darrel semakin tidak bisa Lexa kontrol. Pria itu menahan tangannya ke atas kepala. Terus ******* bibirnya kasar. Mencium penuh nafsu bibir tipis miliknya. Napasnya akan habis membuat Lexa terpaksa membuka mulutnya. Bisa ia rasakan lidah Darrel bermain di sana, seolah mengabsen deretan giginya. Hingga ciuman itu pindah bermain di area lehernya. Lexa tidak diam, ia berusaha memberontak atas perlakuan Darrel. Namun tenaga unclenya lebih besar.


Lexa menangis. Ia tidak bisa melawan Darrel, satu tangan bebas Darrel menyelusup masuk ke dalam baju tidurnya dan mengusap perut rata miliknya. Seharusnya ia bisa menendang tubuh unclenya. Tapi hal itu tidak bisa membantunya kali ini. Karena Darrel benar-benar mengunci pergerakannya. Perlahan tangan besar Darrel menyentuh buah dadanya yang masih tertutupi bra. Lexa membuang pandangannya dari Darrel ketika pria itu terus menatapnya dalam dan tersenyum puas.


"Punya cara apalagi untuk kabur, Alexa?"


"Apa cara uncle kurang untuk membuatmu mengerti kalau kamu tidak akan bisa kemana-mana?" tanyanya datar."Kamu akan selalu hidup bersama uncle dan tidak ada yang bisa membawamu pergi." Lexa memejamkan matanya ketika Darrel meremas buah dadanya kuat. Itu cukup sakit tapi Darrel dengan santainya kembali melakukan hal yang sama secara bergantian pada buah dadanya yang lain.


"Uncle mencintaimu."


"Tidak. Lexa mohon uncle berhenti bersikap seperti ini sama Alexa. Ini salah Lexa keponakannya uncle."


"Jangan mengharapkan itu karena uncle tidak akan pernah berhenti."


Darrel mengeluarkan tangannya dari balik bajunya. Lexa tadinya bisa bernapas lega. Tapi tidak lagi ketika tangan besar itu justru membuka kancing piyamanya satu-persatu.


"Uncle stop Lexa tidak mau!" teriaknya panik, takut kegiatan keduanya disaksikan oleh para pelayan Darrel. Lexa berusaha keras melepaskan tangannya yang masih Darrel tahan. Semua kancing piyamanya sudah terbuka. Kenapa tiap kali Darrel memperlakukan dirinya dengan tidak pantas ia malah menjadi lemah. Tidak seperti ia yang memiliki keberanian saat ingin kabur. Kemana sifat berani itu?


Tubuh atasnya sudah terlihat dengan piyama yang setengah terbuka dan bra yang untungnya masih mampu menutupi miliknya. Lexa tidak bisa apa-apa ketika kepala Darrel turun dan menciumi perutnya. Meninggalkan basah di sana karena lidah pria itu ikut bermain di atas perut ratanya. Alexa terpejam dan tubuhnya terus bergerak tidak santai. Ia tidak berbohong kalau apa yang dilakukan Darrel cukup membuat rasa asing itu datang. Namun Lexa tidak bodoh sampai tidak tahu apa yang ia rasakan.


Sedangkan Darrel, pria itu tersenyum miring memandang Alexa yang melenguh dan terus meliukan badannya. Mungkin gadis di bawahnya bisa untuk terus mengatakan tidak atas segala perlakuannya. Tapi tubuh Alexa tidak mampu menolaknya. Darrel kembali menjilat sensual perut gadisnya. Tangannya terbawa ke punggung mulus Alexa lalu membuka pengait branya.


"Ah jangan-n uncle." Lexa berusaha menahan tubuhnya agar penutup buah dadanya tidak terbuka. Membuat tangan Darrel tertahan di bawah sana. Ia menatap mengiba pada unclenya, air matanya jatuh dan Lexa harap untuk kali ini Darrel mengasihani dirinya.


"Lexa akan nurut sama uncle, tapi please berhenti," ucapnya terpaksa tidak tahu harus mengatakan apalagi pada pria berhati keras di depannya.


"Tidak. Uncle tidak mudah mempercayai ucapanmu setelah berkali-kali kamu mencoba untuk kabur--,"


"Alexa janji uncle, lexa akan menurut sama uncle. Tapi berhenti jangan perlakuin Lexa kaya gini." Lexa menatap Darrel mencoba meyakinkan unclenya."Alexa takut, uncle," lanjutnya.


Tidak lama dari itu Lexa bisa melihat Darrel menjauhkan dirinya dari Alexa. Pergerakannya yang tadi dikunci oleh Darrel, kini tidak lagi. Kedua tangannya pun sudah tidak Darrel tahan.


"Uncle tidak suka dibohongi, Alexa. Jadi setelah ini bersikaplah baik pada uncle kalau kamu ingin uncle memperlakukanmu dengan baik." Lexa mendengar jelas kalimat Darrel seiring dengan dirinya yang sibuk merapihkan pakaiannya.


"Tapi jika ucapanmu tidak kamu lakukan, siap-siap uncle akan merebut milikmu dengan cara yang tidak akan pernah kamu sukai," tegas Darrel melayangkan tatapan tajam dan ancaman pada Alexa. Setelah mengatakan itu unclenya pergi meninggalkan dirinya yang terdiam di atas sofa. Lexa bersyukur karena aksi Darrel terhenti. Tapi jantungnya tetap saja berdetak tidak tenang karena ucapan yang ia lontarkan sendiri pada Darrel. Semoga saja dengan ia menurut pada unclenya, pria itu akan bersikap sedikit lebih baik padanya.


...