
Alexa terdiam ketika mobil memasuki area gedung hotel. Ia tidak mengerti mengapa Darrel harus membawanya ke sana. Dibayangannya adalah jalan-jalan ke tempat wisata atau tempat-tempat lainnya yang menarik untuk didatangi di hari weekend. Tapi Darrel justru membawanya ke salah satu hotel yang terlihat cukup besar. Nyatanya pria itu selalu berhasil membuatnya cemas.
Mobil berhenti di depan loby. Sebelum membuka pintu Darrel menatapnya sebentar sampai akhirnya unclenya turun tanpa mengatakan apa pun. Alexa masih bergeming di tempatnya. Datang hanya berdua dengan Darrel apa tidak membuatnya takut. Pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana. Hingga keterdiamannya disadarkan oleh Darrel yang mengetuk kaca mobil meminta Alexa turun.
"Di sini akan sangat menyenangkan." hanya itu yang Lexa dengar dari mulut unclenya. Karena setelahnya Darrel memasuki hotel itu bersamaan dengan mobil milik Darrel dibawa oleh petugas valet. Kakinya kaku untuk sekedar mengikuti langkah Darrel. Jika tahu tujuannya ke sini mungkin ia akan memohon pada Darrel agar tetap di rumah.
"Tidak perlu berpikir yang macam-macam, Alexa. Uncle memang berniat mengajakmu jalan-jalan. Tidak jauh dari sini ada tempat bagus yang harus kamu datangi. Uncle sengaja menyewa kamar hotel hanya untuk tempat istirahat," jelas Darrel ketika Alexa mulai mengikuti langkahnya.
"Istirahat di mobil tidak apa-apa sebenarnya uncle."
"Lalu apa uncle harus mendengarkan maumu itu? Uncle tidak mau nantinya kamu kelelahan."
Darrel terus mendekat pada meja resepsionis sedangkan Alexa memilih duduk di sofa tunggu yang tidak jauh dari jangkauan Darrel. Ia menatap punggung unclenya. Rasanya Lexa ingin mengumpati pria itu berkali-kali. Akal pikirnya sepertinya memang tidak sejalan dengan Darrel. Bagi Alexa masih banyak tempat lain yang bisa dikunjungi dengan jarak yang tidak jauh. Dari pada harus melakukan perjalanan selama 2 jam hanya untuk tempat yang bahkan belum Lexa tahu dan entah nantinya membayar rasa lelahnya atau tidak.
"Hanya satu kamar?"
"Untuk apa memesan banyak kamar?" tanya balik Darrel ketika pintu kamar terbuka.
"Maksud Lexa 2 kamar, satu untuk uncle dan satunya lagi untuk Lexa."
"Satu kamar cukup, Alexa."
Alexa belum berniat untuk membawa kakinya lebih masuk ke dalam kamar yang Darrel pesan.
"Kalau kamu tidak masuk. Uncle wujudkan pikiran tidak-tidakmu itu sekarang," ancam Darrel."Kita hanya akan istirahat, nanti sore baru uncle membawa kamu jalan-jalan." meyakinkan diri kalau unclenya memang tidak akan berbuat macam-macam. Lexa masuk mengusul Darrel yang duduk di sofa. Ia hanya berdiri dengan kedua mata berusaha tidak memandang Darrel yang kini menatapnya.
"Lihat di sini tidak hanya ada satu kamar. Kamu terlalu khawatir dan ketakutan jika bersama uncle Alexa." bisa ia lihat tatapan Darrel datar. Seperti ada sorot kesal yang berusaha Darrel sembunyikan.
"Sana istirahat, satu jam lagi waktunya makan siang."
Tidak ada yang Alexa katakan lagi sebagai jawaban atas segala kalimat Darrel. Ia merasa hanya perlu diam. Tubuhnya juga cukup lelah meski hanya duduk diam di dalam mobil selama 2 jam. Alexa masuk ke dalam satu ruangan kamar. Alasan memilih kamar itu karena jaraknya yang dekat dari tempatnya berdiri tadi. Ia tidak lagi mempedulikan unclenya walau tatapan Darrel tidak beralih sedikit pun.
...
"Dari dulu uncle tidak pernah berpikir mencari perempuan lain, Alexa."
Keduanya sudah sampai di tempat wisata yang kata Darrel bagus. Alexa mengakuinya karena ia dibawa Darrel ke dalam pertunjukan tari balet. Tidak hanya pertunjukan, masih banyak lagi sesuatu yang bisa Lexa nikmati di sana. Namun kini ia dan Darrel tengah duduk setelah memesan ice crime yang Alexa inginkan. Alexa berusaha tidak menanggapi ucapan Darrel yang sebenarnya ia terlalu bingung harus menjawabnya seperti apa. Lagi pun kalimat itu terdengar aneh di pendengarannya.
"Kamu tahu, uncle selalu menunggu moment di mana uncle bisa denganmu terus. Tidak peduli saat grandma grandpamu selalu menanyai kapan uncle menikah, bertanya soal kekasih uncle, uncle hanya ingin kamu."
"Uncle tahu kalau kamu tidak pernah bisa menerima ini. Tapi kamu akan bisa menerimanya nanti--,"
"Tidak," tegas Lexa memotong ucapan Darrel.
"Kenapa uncle tidak terus mencoba mencari perempuan lain, Alexa hanya anak sekolah yang belum lulus, uncle." ia memberanikan diri melirik Darrel."Kalau uncle bilang nanti Lexa bisa terima semuanya, uncle salah."
"Seharusnya memang perasaan uncle padamu tidak ada. Tapi apa uncle bisa menolak, ketika uncle merasa berbeda tiap kali menatap bola mata coklatmu. Dulu kamu Alexa, gadis kecil yang selalu uncle datangi setiap uncle pulang sekolah, keponakan pertama uncle. Uncle pikir semua wajar karena rasa sayang. Tetapi tidak ketika uncle mulai tumbuh remaja, uncle mulai mengerti perasaan yang uncle punya untukmu."
"Kepindahan kamu mengecewakan uncle. Di mana uncle selalu bisa mendatangimu kapan pun, saat itu sudah tidak bisa lagi. Papamu sengaja membawa kalian pindah karena menyadari sikap uncle tidak wajar, uncle remaja sering diam-diam mengecup bibirmu."
"Papa tahu soal perasaan uncle?" bisa Lexa lihat Darrel mengangguk."Hanya papa, mommy?"
"Mommymu tidak tahu apa-apa, makanya ia tenang saja menitipkan kamu pada uncle. Dulu pun perasaan uncle belum jelas. Keputusan papamu membawa kalian pindah terlalu cepat--,"
"Keputusan papa sudah tepat dan seharusnya uncle tidak ganggu Lexa seperti ini!" ucapnya, mood menikmati ice cream strawberry-nya hilang.
"Keputusan papamu tidak tepat, Lexa. Kalau saja dulu dia tidak membawamu pergi. Uncle masih bisa menyangkal kalau perasaan uncle padamu tidak ada. Hanya sebatas paman dan keponakannya. Bisa saja dulu perasaan uncle padamu menjadi tidak nyata."
"Berjauhan saja membuat uncle jadi seperti ini sama Alexa. Bagaimana kalau Lexa tetap berada di dekat uncle?"
"Berjauhan membuat uncle menyadari perasaan uncle yang sebenarnya. Jika dulu kamu tidak pergi dari uncle, mungkin uncle masih bisa berpikir normal dan menyadarkan diri uncle sendiri kalau kamu hanya keponakan uncle."
Atmosfer diantar keduanya sudah tidak baik. Alexa yang mulai kesal atas segala perkataan yang Darrel keluarkan dan juga soal papanya yang ternyata menyadari sikap tidak wajar Darrel tetapi tidak memberitahukan Ariane. Kalau saja Ariane tahu ia tidak mungkin terjebak di dalam kurungan unclenya sendiri. Begitupun dengan Darrel, napasnya memburu sebab Lexa berani membalas segala perkataannya dengan nada meninggi.
"Kamu tidak akan pernah mengerti betapa tersiksanya uncle berjauhan denganmu dan hanya tahu kabarmu lewat mata-mata uncle," kata Darrel menatap dalam mata Alexa."Sekarang saat kamu sudah berada di dekat uncle, tugas uncle adalah membuatmu tidak kemana-mana."
...