
Alexa menoleh saat suara knop pintu terdengar. Ia menatap cemas berharap agar yang datang ke kamarnya bukan unclenya. Lexa membuang napasnya lega ketika yang muncul adalah Anna. Wanita itu terlihat membawa nampan di mana di atasnya terletak makanan dan juga minuman.
Alexa buru-buru berdiri dari tempat tidur. Ia mendekati Anna yang tengah memindahkan sepiring makanan juga segelas air putih ke atas meja belajarnya.
"Bibi Anna kenapa mengunci Alexa di kamar?"
"Maaf non, saya hanya menjalankan perintah Tuan Darrel." Anna menunduk tidak menatap Alexa.
"Bantuin Alexa keluar dari rumah uncle, bi--,"
"Tidak bisa, non. Jangan melakukan hal yang bisa memancing amarah tuan Darrel," kata Anna.
"Tapi bibi Anna taukan kalau uncle jahat sama Alexa, tolong bantu Alexa."
Alexa memberikan puppe eyesnya pada Anna saat wanita itu sedikit meliriknya. Ia tidak tahu harus apa lagi di rumah ini. Aktivitasnya mulai dibatasi oleh Darrel. Alexa takut kalau ia tetap tinggal dengan unclenya. Nanti akan semakin jauh perlakuan pria itu. Sekarang Alexa tidak peduli bila Darrel akan marah saat nanti mengetahuinya lagi-lagi pergi dari rumah. Ia hanya ingin bebas lalu melaporkan semua perbuatan Darrel pada Ariane.
"Bibi Anna, please bantu Alexa."
"Sebaiknya non makan siang, makanan tadi pagi tidak non makan kalau tuan Darrel tahu beliau akan marah." Anna mengambil kembali sarapan tadi pagi yang ia bawakan untuk Alexa. Makanan itu masih utuh sama sekali tidak Alexa sentuh.
Sepertinya berharap dengan Anna akan sulit. Anna tidak mungkin lagi membantunya. Alexa menatap wanita di depannya yang masih sibuk. Merasa memiliki kesempatan ia berlari keluar dari kamar. Alexa yakin pasti Anna akan menguncinya lagi. Jadi sebelum Anna melakukan itu lebih baik ia yang pergi dari kamar.
"Non Alexa!"
Alexa tidak mempedulikan terikkan Anna. Ia menuruni satu-persatu anak tangga. Hatinya semakin yakin saat menatap pintu keluar. Saat akan membuka pintu jantungnya dibuat berdetak cepat. Pintu tinggi di depannya tidak bisa ia buka. Alexa menoleh ke belakang, Anna berjalan menghampirinya dengan tenang.
"Bibi Anna tolong buka pintunya," ucapnya memohon. Perasaannya yang tadi menggebu-gebu karena merasa akan bebas kini kembali dibuat putus asa.
"Bibi tidak bisa, non." Anna berujar lirih."Tuan Darrel sudah memerintahkan saya untuk menjaga non. Tuan Darrel juga mengawasi rumah ini non Alexa," lanjut Anna.
"Jadi lebih baik non kembali ke kamar dan membatalkan niat untuk pergi. Tuan Darrel pasti akan marah kalau non nekat tetap ingin pergi."
"Maaf non bibi tetap tidak bisa membantu non Alex."
...
Darrel menatap datar layar tap-nya. Ia tidak sabar untuk pulang dan bertemu gadisnya. Sepertinya Alexa rindu ancaman dari Darrel. Alexa tampak berani saat dirinya tidak ada. Ia sudah menyuruh Anna dan pelayan lainnya untuk menutup semua akses masuk keluar ke dalam rumah. Bahkan penjagaan di depan gerbang ia perketat. Darrel memantau keadaan rumah dari cctv yang tersambung ke tap-nya. Ia cukup mengapresiasi keberanian gadis itu saat berusaha kabur.
Darrel menyeruput kopi miliknya yang belum lama datang. Bibirnya tersenyum miring ketika ia melihat Alexa berjalan kembali menaiki anak tangga. Ia pikir Alexa akan tetap nekat pergi dari rumah apa pun caranya. Entah apa yang Anna katakan hingga membuat Alexa dengan mudahnya menyerah. Atau mungkin memang sebenarnya Alexa tidak benar-benar memiliki keberanian untuk kabur, Darrel tidak tahu tapi ia puas menyaksikan layar di depannya. Hampir saja Darrel kembali meluapkan emosinya. Kalau saja Alexa tetap nekat, detik itu juga ia akan langsung pulang dan menghukumnya.
"Good girl."
Darrel menyandarkan dirinya di kursi kerjanya. Tubuhnya menegang hanya karena melihat aksi pembangkang Alexa. Namun kini ia bisa kembali tenang. Darrel lupa bahwa ia lebih mampu mengendalikan gadis itu, membuat Alexa tetap dengannya. Sebab segala rencana sudah lebih dulu ia pikirkan untuk membuat Alexa tetap bersamanya. Harusnya ia cukup menonton Alexa dengan perasaan tenang dari layar tap-nya. Karena Alexa tidak akan berhasil kabur.
Darrel kembali fokus pada pekerjaannya. Masih ada beberapa berkas yang harus ia pelajari. Ia akan pulang lebih larut sepertinya. Karena kemarin ia terlalu sering pulang sore hari dan tidak fokus pada perusahaannya. Semua karena Alexa, sejak adanya Alexa Darrel hanya ingin terus berada didekatnya.
"Maaf ya non bibi enggak bisa bantu non Alexa. Sebaiknya non makan dulu dan istirahat."
Alexa diam menatap kepergian Anna. Ia tidak tahu harus apa. Anna kembali mengunci pintu kamarnya. Kalau begini apa artinya kehidupannya memang tidak pernah bisa bebas. Alexa membuang napasnya kasar. Ia menatap makanan yang tadi Anna bawa. Perutnya tidak bisa berbohong, ia cukup lapar karena tidak makan dari pagi. Sejenak ia mengesampingkan niatnya untuk kabur. Mungkin benar harapan satu-satunya adalah kedatangan Karin. Semoga saja temannya datang dan mengkhawatirkannya karena tidak masuk sekolah.
Alexa mengunyah makananya. Hanya melamun menatap keluar jendela kamar. Hidupnya harus terkekang seperti ini karena Darrel. Semakin hari ada saja cara yang Darrel lakukan untuk membuat dirinya tetap berada di bawah kendali pria itu. Jika hari ini saja Darrel menguncinya di kamar dan membuatnya tidak berangkat sekolah. Lalu esok, apa mungkin Darrel membuat Alexa selamanya tidak bisa kemana-mana.
Ia menghentikan kunyahannya. Kalau bukan Darrel yang menyadari perbuatannya salah. Maka hanya temannya—Karin harapan satu-satunya untuk lepas dari Darrel saat ini. Ariane entahlah, mommynya itu sepertinya sudah terlalu percaya pada Darrel. Sampai tidak curiga ketika ia memberitahu perbuatan Darrel. Meski Darrel menyuruhnya untuk bilang kalau ia sedang berbohong pada Ariane. Tetapi seharusnya Ariane tidak boleh langsung percaya begitu saja. Seharusnya Ariane kembali memastikan keadaan Alexa. Bukan seperti ini, wanita itu jauh darinya bahkan ia sudah sulit berkomunikasi dengan mommynya. Apa Ariane tidak curiga dan khawatir sedikit pun dengan kondisi Alexa?
Padahal Alexa berharap Ariane cepat pulang. Tapi mungkin Ariane memang sudah percaya pada Darrel. Hingga wanita itu biasa saja saat ia mengabari perbuatan Darrel. Jika ponselnya ada dengannya sekarang, ia akan kembali menghubungi Ariane dan bilang semuanya. Ia akan bilang kalau Darrel benar-benar melecehkannya. Tidak peduli pria itu murka. Alexa ingin kembali hidup tenang bersama Ariane, berdua. Kehidupannya masih panjang. Ia tidak mungkin terus bersama Darrel di bawah kendali pria itu. Alexa ingin sekolah, kembali jalan-jalan, tanpa perlu cemas perihal dirinya. Ia takut masa depannya di rusak Darrel.
Ia melangkah kembali ke kasurnya. Makanannya tidak ia habiskan. Rasa tidak nafsunya ternyata lebih besar dari pada rasa laparnya.
...