
Alexa hanya diam menatap keluar jendala mobil. Keduanya akan kembali pulang setelah tadi menikmati waktu jalan-jalannya. Sejak obrolannya dengan Darrel beberapa jam lalu. Alexa menjadi semakin tidak nyaman berada di dekat unclenya. Ia lebih banyak diam meski dari awal pun ia tidak banyak bicara saat bersama Darrel. Namun kali ini keinginannya untuk menanggapi kalimat Darrel benar-benar tidak ada.
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Jalanan malam ini lancar dan mungkin keduanya akan tiba sekitar pukul dua belas malam. Alexa memilih memejamkan matanya. Membiarkan Darrel fokus menyetir. Ia butuh mengistirahatkan pikiran dari ucapan unclenya tadi.
"Uncle ngapain?"
Alexa berusaha menyesuaikan pandangannya. Ia menatap sekitarnya yang bisa Lexa kenali, kamarnya. Alexa bangun dari tidurannya lalu berusaha mengumpulkan nyawanya. Ia sedikit bergeser posisi saat sadar kalau jarak antara dirinya dan juga Darrel begitu dekat.
"Sudah sampai, uncle hanya bermaksud menggantikanmu pakaian--,"
"Tidak perlu." Lexa langsung memotong kalimat Darrel dengan cepat. Ia tidak suka dengan sikap unclenya yang seperti ini.
"Lexa bisa sendiri, sebaiknya uncle pergi ke kamar uncle, sudah malam," katanya.
Bukannya mendengarkan perkataan Alexa. Darrel justru dengan santainya membuka kaos yang pria itu gunakan. Membuat perut pria itu terpampang nyata dihadapan Alexa. Sebisa mungkin Lexa mengalihkan pandangannya.
"Uncle akan tidur denganmu."
"Lexa ingin sendiri, uncle," ujar Alexa jujur.
"Lupa perkataanmu yang akan menurut pada uncle?" Darrel memandang Alexa."Jangan lupakan itu, Alexa."
Ia mengumpati dirinya sendiri dalam hati.
"Kalau gitu Lexa ingin bersih-bersih dulu." Alexa berdiri, lalu meninggalkan Darrel yang duduk di atas tempat tidur. Sampai di kamar mandi Alexa menghela napasnya kesal. Ia memandang cermin di depannya. Di sana Alexa melayangkan kata-kata kasar pada dirinya sendiri. Ia benar-benar menyesal telah mengatakan akan menurut pada Darrel. Karena sekarang unclenya jadi lebih mudah mengaturnya.
Alexa mendudukan dirinya di atas closet. Hanya berdiam diri, berharap Darrel tertidur lebih dulu. Ia capek jika harus terus berhadapan dengan unclenya dan pastinya waktu 2 jam di dalam perjalanan tadi cukup membuat Darrel kelelahan. Apalagi Darrel menyetir mobil sendiri.
...
"Good morning, sweeties."
Alexa merasakan pipinya dikecup oleh seseorang dan ketika ia mulai sadar dari tidurnya ia tahu siapa yang melakukan itu. Darrel masih merebahkan dirinya di samping Alexa. Unclenya juga belum menggunakan bajunya sama seperti semalam.
"Uncle tidak ke kantor?" Lexa baru saja ingin bangun tetapi Darrel sudah lebih dulu menahan pinggangnya.
"Kalau gitu Lexa mau siap-siap sekolah," katanya mencoba memindahkan tangan Darrel dari pinggang miliknya."Misi, uncle."
"Masih terlalu pagi, Alexa."
Memang ini masih jam setengah 5 kurang. Tapi Alexa hanya ingin cepat-cepat pergi dari hadapan unclenya.
"Tidak apa-apa. Alexa takut telat, kemarin juga sudah tidak masuk sekolah."
"Uncle masih ingin dengamu." Darrel menarik Lexa lebih dekat."Bagaimana dengan morning ***, baby?" Lexa dibuat melotot dengan perkataan tiba-tiba Darrel. Belum lagi kalimat itu diucapkan tepat di telingannya. Membuat Lexa bergeding merinding.
"Alexa harus ke sekolah uncle."
"Ingin sekolah?" Lexa mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Darrel."Turuti uncle dulu."
"Lexa akan menurut tapi tidak yang satu itu."
"Kamu hanya perlu diam, biar uncle yang melakukannya."
"Tidak mau." ia berhasil bangun saat tangan Darrel mengendur di pinggangnya. Namun belum sempat lari, Darrel berhasil menarik tangannya membuat Lexa terjatuh ke atas tempat tidur. Darrel dengan cepat sudah berada di atasnya. Mengurung Alexa dengan kedua tangan Darrel berada di sisi kepalanya.
"Hanya cukup menurut, Alexa." setelahnya wajah Darrel mendekat pada wajah Alexa. Mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Alexa. Hingga Lexa bisa merasakan bibir itu bergerak mencoba menguasai bibirnya. Ia tidak melakukan perlawanan apa-apa. Alexa kali ini terlalu takut jika berontak. Darrel akan sangat marah kalau ia tidak menurut sesuai apa yang telah Lexa katakan sendiri pada Darrel.
Ciuman itu semakin kasar. Dari awal memang Darrel tidak pernah melakukannya dengan lembut. Napasnya serasa akan habis namun untungnya ciuman itu berhenti. Salah jika menganggap itu benar-benar berhenti karena nyatanya bibir Darrel turun menjelajahi lehernya. Jilatan demi jilatan terus unclenya lakukan hingga lehernya terasa basah. Alexa hanya mampu terpejam. Hatinya sakit mendapati perlakuan Darrel.
Tangan Darrel bergerak membuka kancing piyama Alexa bersamaan dengan pria itu yang tetap sibuk menciuminya. Ia mencoba menahan pergerakan Darrel. Tapi tidak ada apa-apanya ketika tangan Darrel sudah berhasil membuka semua kancing. Ciuman Darrel semakin turun ke bawah. Mulai mendekati belahan dadanya.
"Jangan uncle, Lexa harus sekolah." ia berusaha menggunakan caranya, yaitu mengiba. Namun kali ini Darrel tidak mendengarkannya. Unclenya justru membuka pengait branya membuat buah dadanya kini terpampang jelas di hadapan Darrel.
"Nikmati, baby."
Lidah Darrel bermain di atas dadanya. Mengecup menggoda di sana. Bisa Lexa lihat beberapa kali tatapan Darrel tertuju padanya, menatap Alexa dengan kabut gairahnya. Alexa meremas seprai saat merasakan lidah milik unclenya menjilat putingnya. Jantungnya semakin berdetak kencang. Ia menangis mendapati kenyataan bahwa semakin hari Darrel semakin menguasai dirinya.