Bastard Uncle

Bastard Uncle
Bab 8. Hukuman



"Diam Alexa, ini hukuman karena kamu tidak mendengarkan perkataan uncle."


Tangan pria itu terus mengelus pipinya lembut. Beberapa detik lalu Darrel baru saja melepaskan ciuman bibirnya dari bibir Alexa. Membuat gadis itu terus berontak agar bisa lepas dari kungkungan unclenya. Alexa menggerakan wajahnya ke kanan dan kiri untuk menghindar saat pria di depannya kembali berusaha mendaratkan ciuman di bibirnya.


"Jangan menangis." Darrel mengusap air mata yang mengalir melewati kedua pipi Alexa. Di atas pangkuannya Darrel bisa merasakan kalau tubuh Alexa mulai melemah dan terlihat ketakutan.


"Lepasin uncle," lirih Alexa.


"Lexa keponakan uncle, uncle tidak boleh melakukan ini sama Alexa."


Pria itu terkekeh, menatap dalam Alexa.


"Boleh, sayang. Uncle mencintaimu--,"


"Itu omong kosong uncle! Uncle hanya terobsesi, uncle bisa cari pacar tapi jangan Alexa yang uncle perlakukan seperti ini."


"Shut up, Alexa!"


Tanpa mempedulikan ketakutan Alexa. Darrel menahan tengkuk gadis itu dan kembali mencium kasar bibir Alexa. Lama menikmati bibir tipis gadisnya. Ciuman Darrel mulai turun ke leher jenjangnya. Membuat Alexa mati-matian mencoba menghentikan aksi unclenya. Tapi hasilnya selalu sama, ia tidak bisa untuk sekedar lepas dari pria itu.


Alexa memejamkan matanya hingga air mata terus menetes. Ia merasakan tangan milik Darrel menyentuh kulit pahanya. Tangan yang tadi menahan tengkuknya pun kini beralih melingkar dan menahan pinggangnya. Hingga Darrel leluasa bermain di area bawah milik Alexa. Ia menatap unclenya memohon.


"Jangan uncle," ucapnya tertahan karena tangan pria itu semakin berani menyentuh paha bagian dalam miliknya. Darrel seolah tidak peduli, ia terus menciumi leher Alexa dan sesekali bermain di telinga gadis itu.


"Ah stop uncle." Alexa menggenggam tangan Darrel, menahan pergerakan pria itu yang akan menyentuh bagian privasinya hingga hampir saja menarik celananya.


"Uncle jangan!"


Darrel menghentikan perbuatannya saat sadar gadis di pangkuannya sudah gemetar ketakutan. Ia tersenyum miring lalu mencengkram rahang Alexa. Hingga wajah yang cukup berantakan itu juga memandang ke arahnya.


"Berani membantah uncle lagi?" Alexa menggeleng cepat. Tidak sanggup untuk mengeluarkan suara.


"Ini tidak ada apa-apanya Alexa. Mulai sekarang turuti uncle karena uncle akan bertindak baik kalau kamu juga menjadi gadis yang baik."


"Paham?" Lagi Alexa hanya mengangguk namun Darrel tidak puas dengan itu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Alexa dan mengancam akan kembali melakukan perbuatannya kalau gadis itu tidak juga menjawab ucapannya dengan benar.


"I-iya uncle."


"Good girl."


Darrel menurunkan Alexa dari pangkuannya. Pria itu melangkah ke arah kamar mandi. Entah apa yang unclenya akan lakukan Alexa tidak peduli. Ia memilin jari-jari tangannya dan menunduk. Sekarang sudah pukul 19.05 di mana mereka tidak keluar dari kamar dari siang hari. Darrel mengunci keduanya di dalam ruang kamar pria itu. Bahkan saat makan malam pun Darrel meminta para pelayan mengantarkan makanan ke dalam kamar.


Alexa menahan tangisannya. Ia merasa tertekan tinggal bersama Darrel. Alexa rindu Ariane dan ia ingin menceritakan semuanya pada wanita itu. Mendapatkan perlakuan tidak pantas seperti tadi membuat ia harus bisa lebih berhati-hati kepada unclenya. Hatinya sakit dan terluka. Ia melempar bantal disekitarnya tidak peduli Darrel akan mendengarnya dan marah. Saat ini ia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melawan unclenya.


"Berhenti menangis, Alexa."


Pria itu keluar dari kamar mandi. Memandang Alexa yang duduk di lantai beralaskan karpet berbulu. Darrel mendekat pada gadis itu. Namun baru saja berjongkok Alexa dengan cepat menghindar darinya. Membatalkan niatnya Darrel memilih duduk di atas kasur. Ia mulai sibuk pada laptop di pangkuannya.


"Perlu uncle mengangkatmu--,"


Kalimat Darrel terpotong saat pintu kamar diketuk dari luar. Keduanya menoleh tapi hanya Darrel yang bergerak ke arah pintu dan membukanya.


"Permisi Tuan maaf mengganggu, saya cuma mau kasih tahu saja kalau di bawah ada temannya non Alexa." Mendengar itu dari Anna membuat Alexa dengan cepat menghapus air matanya. Ia ingin berdiri tapi dari depan pintu Darrel sudah menatapnya tajam.


"Ready for the second punishment?"


...


"Malam om."


Darrel mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi sapaan dari seorang gadis yang tidak lain adalah Karin–teman Alexa. Ia duduk di sofa setelah mempersilahkan Karin untuk kembali duduk.


"Ada apa malam-malam seperti ini berkunjung?" Tidak peduli pertanyaannya terlalu to the point dan dianggap tidak welcome. Karena ia sudah tahu apa tujuan gadis itu datang.


"Saya ingin bertemu Alexa, om. Tadi Lexa meminta saya datang ke sini dan katanya urgent. Saya baru membaca pesannya tadi. Apa Alexa baik-baik aja om?" Kalimat panjang itu terucap sesuai dengan apa yang sudah ia tebak. Darrel memandang tenang sosok di depannya.


"Alexa baik-baik saja. Kebetulan dia juga sudah tidur, jadi mungkin kamu bisa bertemu Alexa kembali besok," ujarnya.


"Begitu ya om, tapi maaf apa benar Alexa tidak apa-apa karena dia terus menghubungi saya om, saya khawatir?"


"Dia baik-baik saja dan besok kamu juga bisa memastikan kalau Alexa memang baik-baik saja."


Karin diam sejenak. Matanya sesekali melirik ke lantai atas. Cukup khawatir karena pesan yang Alexa kirimkan dan salahnya Karin ia baru membaca pesan Alexa satu jam yang lalu. Ia sempat kembali menghubungi Alexa tapi nomor temannya tidak aktif. Hingga membuatnya tanpa berpikir lagi pergi untuk menghampiri Alexa.


"Ya sudah kalau begitu om, saya permisi."


Darrel menggeretakkan rahangnya. Ini kedua kalinya ia hampir kecolongan karena diam-diam Alexa ingin memberitahu perbuatannya pada orang lain. Setelah memastikan teman keponakkannya pulang. Pria itu melangkah lebar kembali ke lantai atas.


"Perlu uncle menyita ponsel kamu, Alexa?" tanya Darrel mengunci pintu lalu memandangi Alexa yang berdiri di pintu balkon berusaha mengetuk-ketuk pintu yang terbuat dari kaca itu. Alexa membalikan badanya kaget. Ia gagal membuat Karin menolongnya karena mobil gadis itu sudah pergi meninggalkan halaman rumah milik unclenya. Tidak tahu apa yang pria itu ucapkan pada temannya tapi yang pasti Darrel berbohong dan menutupi perbuatannya. Sampai temannya memilih pergi sebelum bertemu dengan Alexa.


Darrel maju dengan terus menatap datar Alexa. Membuat tubuh gadis itu kembali bergetar. Alexa menggeleng menjawab pertanyaan pria itu sebelumnya.


"Tidak uncle, maaf."


"Berharap temanmu itu bisa menolong?" Darrel terus maju hingga benar-benar berada dihadapan Alexa. Gadis yang tingginya hanya sedadanya menunduk takut dan berusaha menghindar.


"Dengar ya Alexa, kalau kamu melibatkan orang lain uncle tidak akan diam saja. Jadi jangan berpikir untuk memberitahu temanmu itu, mengerti?"


"I-iya uncle." Belum selesai menjawab bibirnya sudah dibungkam oleh ciuman pria itu. Darrel mengigit pelan bibir tipis Alexa. Sampai gadis itu bisa merasakan rasa asin di bibirnya.


"Tidak akan ada siapa pun yang bisa menghentikan, sweeties," bisik Darrel tepat di telinga Alexa lalu menjilat sensual leher samping gadis itu.


...