
Darrel membuka pintu kamar Alexa. Sekarang sudah tengah malam. Ia baru saja pulang dari kantor setelah menyelesaikan pekerjaan yang cukup banyak. Kakinya melangkah semakin masuk ke dalam kamar Alexa saat ia berhasil membukanya dengan kunci cadangan. Bibirnya tersenyum tipis mendapati Alex sudah tertidur dan menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut tebal.
Darrel duduk dengan gerakkan pelan di sisi tempat tidur. Berusaha agar tidak membangunkan Alexa. Gadis itu tidur membelakanginya. Ia sudah mengurung Alexa di dalam kamar seharian. Pasti keponakkannya itu merasa sangat bosan. Belum lagi ponsel milik Alexa masih berada ditangannya. Darrel menyimpan benda itu di laci kamarnya. Mungkin esok ia akan mengembalikannya pada Alexa karena sepertinya Alexa sudah bisa menurut padanya. Sebab ia menyita ponsel Alexa hanya untuk memberinya ancaman.
Tangan Darrel terangkat menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Alexa. Meski ia hanya menatap dari belakang sisi wajah Alexa. Namun Darrel masih mampu melihat kecantikan pada wajah gadis itu. Darrel lagi-lagi tersenyum, seharian berada di kantor ternyata cukup membuatnya merindukan Alexa. Jari-jarinya baru saja ingin mengelus pipi gadisnya. Namun bersamaan dengan itu Alexa bergerak merubah posisi menghadapnya.
Darrel tidak menyingkir. Justru ia tetap diam di tempatnya saat melihat kedua bola mata Alexa terbuka. Mata Alexa berkedip mencoba menyesuaikan kembali pengelihatannya. Saat sadar, Alexa duduk tegak dan menjauh dari Darrel. Jantungnya berdetak cepat begitu juga kepalanya yang merasakan pusing karena terbangun dengan keadaan kaget.
"Uncle ngapain?" tanyanya menatap takut-takut sosok unclenya. Sepertinya Darrel baru pulang, karena yang Alexa lihat unclenya masih menggunakan kemeja lengkap dengan jas kerjanya yang tadi pagi. Seharusnya jika memang iya. Lebih baik Darrel pergi ke kamarnya untuk istirahat. Bukan datang ke kamarnya sampai menggangu tidurnya.
"Melihat kondisi kamu."
"Lexa gakpapa. Uncle baru pulang kan, lebih baik uncle istirahat--,"
"Uncle memang ingin istirahat." Darrel berdiri dan hal itu sedikit membuat Alexa bernapas lega."Tapi di sini, uncle ingin tidur dengan kamu."
Alexa diam menatap pergerakkan Darrel. Baru saja ia ingin mengucap syukur karena Darrel tidak melakukan apa-apa padanya. Namun semuanya tidak sesuai harapannya. Darrel berdiri dan membuka jam tangannya lalu meletakkan benda itu di atas nakas. Unclenya juga menanggalkan jasnya dengan terus menatap lekat Alexa.
"Tidak keberatan bukan jika uncle tidur bersamamu?" Lexa tidak menjawabnya. Jika memang itu pertanyaan yang butuh jawaban. Dan Alexa menjawabnya dengan jujur ia yakin kalimatnya akan membuat Darrel marah. Jadi lebih baik ia diam hanya menganggukkan kepalanya dengan terpaksa. Meski ia tidak tahu nantinya Darrel akan apa di kamarnya.
"Lanjut tidur Alexa, uncle ingin bersih-bersih dulu."
Setelahnya Darrel melangkah memasuki kamar mandi miliknya. Bagaimana bisa ia melanjutkan tidurnya dengan nyenyak jika di kamarnya kini ia tidak lagi sendiri. Alexa menghembuskan napasnya kesal. Lebih baik ia di kunci di kamar seharian. Asal tidak ada kehadiran Darrel. Lexa menyenderkan tubuhnya pada kepala kasur. Ia masih memegang selimut dengan erat untuk menutupi tubuhnya. Meski Alexa tidak lagi memakai mini dress saat tidur seperti kebiasaannya dulu. Tapi tetap saja ia harus hati-hati agar menjaga pandangan Darrel pada tubuhnya. Ia tidak ingin membuat unclenya melakukan hal tidak-tidak malam ini.
Alexa memandang sekitar kamarnya. Matanya berhenti pada jam yang menujukkan pukul 00.45. Sudah lebih dari 4 jam ia tertidur. Sejujurnya Alexa cukup kecewa mendapati kenyataan kalau Karin tidak datang ke rumah unclenya. Padahal ia sudah berharap kalau Karin bisa membantunya. Tapi Alexa juga tidak bisa sepenuhnya marah dan mengharapkan temannya itu. Namun apa Karin tidak khawatir seperti Ariane. Tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Ponselnya juga sedang tidak aktif. Apa hal itu tidak cukup membuat Karin bertanya-tanya?
Lexa memejamkan matanya merasakan kepalanya yang pusing. Tetapi tidak lama karena suara pintu kamar mandi terdengar. Ia kembali menegakkan tubuhnya saat Darrel keluar hanya dengan mengenakan bathrobe putih yang memang sudah berada di dalam kamar mandinya.
"Tidak tidur?"
"Alexa tidak bisa tidur lagi," jawabnya tidak menatap Darrel yang berjalan ke arah tempat tidur. Jawabannya tidak sepenuhnya bohong. Walau ia memang masih mengantuk. Namun untuk kembali tertidur ia enggan, takut karena keberadaan Darrel.
"Uncle temani kamu tidur--,"
"Hem sebaiknya uncle pakai baju dulu." Lexa menunduk memejamkan matanya. Khawatir kalau Darrel berpikir ucapannya barusan secara tidak langsung mengizinkan pria itu tidur dengannya.
"Lexa haus, Alexa ambil minum dulu di bawah."
"Bukankah itu segelas air putih, Alexa?"
Alexa mengikuti arah pandangan Darrel. Di atas meja belajarnya ada segelas air putih tertutup masih utuh yang memang disiapkan Anna tadi. Lexa membuang pandangan salah tingkah. Seingatnya air putihnya sudah habis ia tenggak.
"Lexa lupa kalau masih ada minum," ujarnya setenang mungkin agar unclenya tidak marah. Alexa buru-buru melangkah menuju meja belajarnya lalu duduk di kursi dan meminum air itu dengan cepat. Seolah perkataan ia bilang haus memang benar. Lexa melirik sedikit sosok Darrel yang pergi menuju walk in closet miliknya. Setelah mengambil pakaian yang terletak di atas tempat tidur. Sepertinya Darrel memang niat untuk tidur di kamarnya. Sampai sudah menyiapkan pakaian ganti.
Lexa kembali ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut sampai menutupi lehernya. Menghadap ke kanan agar nanti ketika Darrel memang tidur di satu tempat tidur dengannya, ia jadi membelakangi pria itu. Kurang dari 3 menit Alexa bisa merasakan tempat tidurnya bergerak dan berbunyi pertanda Darrel sudah kembali dari kegiatannya memakai pakaian. Kini unclenya sudah ikut merebahkan tubuhnya, Lexa semakin memejamkan matanya takut. Ia terus berharap agar Darrel benar-benar hanya tertidur di sampingnya.
Namun sebuah tangan yang melingkar memeluknya dari belakang berhasil mematahkan harapannya. Unclenya mendekat lalu memeluknya. Memang hanya sebatas memeluk tapi hal itu membuat Lexa semakin tidak tenang untuk melanjutkan tidurnya.
"Have a nice dream, sweeties."
...
Alexa menggeliat dari tidurnya. Matanya menyipit ketika sinar matahari menusuk bola matanya yang masih butuh penyesuaian setelah bangun dari tidur. Ia menatap sisi tempat tidurnya yang kosong. Darrel sudah tidak ada di atas tempat tidur. Sepertinya unclenya itu sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Lexa merenggangkan tubuhnya sebelum bangkit untuk pergi ke kamar mandi. Ia bersyukur karena semalam Darrel benar hanya istirahat. Darrel tidak melakukan apa pun padanya. Hanya memeluknya yang sebenarnya itu cukup membuatnya takut. Tapi setidaknya unclenya itu tidak bertindak lebih.
"Tuan Darrel sudah berangkat ke kantor non, katanya ada meeting pagi." Anna berujar setelah meletakkan segelas susu dihadapannya."Tuan Darrel juga berpesan kalau non ingin jalan-jalan, belanja sudah tuan siapkan, non dibolehkan keluar rumah."
Mendengar itu Lexa bersorak senang di dalam hati. Sekarang memang hari Sabtu di mana sekolahnya libur dan mendengar Anna berbicara seperti itu membuat otaknya seketika bekerja.
"Tetapi dengan syarat tidak sendiri. Nanti ada saya, pengawal pribadi tuan Darrel dan juga supir yang akan mengantar," ujar Anna melanjutkan ucapannya. Lexa mendengus pelan, ia pikir dirinya akan bebas keluar rumah tanpa pengawasan. Baru saja dirinya memiliki rencana untuk benar-benar pergi dari rumah Darrel. Namun belum terjadi niatnya itu sudah dipatahkan oleh syarat Darrel.
"Kalau dengan supir saja, bi?"
"Tidak bisa, non. Perintah tuan Darrel seperti itu."
"Lexa ajak teman deh."
"Maaf non tuan Darrel tidak membolehkan--,"
Lexa mengkerutkan keningnya. Tidak percaya dengan apa yang Anna katakan. Apa benar Darrel mulai membatasi kehidupannya. Pergi dengan temannya pun Lexa dilarang. Kalau memang Darrel akan mengurungnya di rumah pria itu. Lebih baik ia memilih pilihan untuk pergi apa pun resikonya nanti.
"Tuan Darrel sendiri yang bilang untuk tidak mengantarkan non bertemu teman non itu," kata Anna jujur sesuai perkataan Darrel kemarin. Karena sebenarnya kemarin Karin sudah datang untuk menemui Alexa. Tetapi kembali lagi kalau Darrel yang mengatur semuanya. Karin tidak berhasil menemui Alexa dengan alasan rumah Darrel kosong dan satpam bilang sedang pergi ke luar kota, itu akal-akalan Darrel dan Karin percaya itu.
"Kenapa bibi Anna?" tanya Alexa kesal.
"Saya tidak tahu non, sudah lebih baik non sarapan." Anna memperhatikan sekali lagi meja makan, mengabsennya dengan matanya karena takut ada yang terlewatkan."Kalau memang non ingin jalan-jalan keluar. Non bisa bilang ke saya."
Setelah kepergian Anna. Alexa memandang roti di depannya dengan tidak nafsu. Ia dibuat tidak habis pikir dengan unclenya. Sekarang Lexa tidak dibolehkan bertemu Karin—temannya sendiri. Lalu bagaimana hari-harinya berikut?"
...