
Darrel menatap lurus kedepan. Saat ini ia sudah berada di gedung sekolah tempat Alexa menuntut ilmu. Ia sengaja datang lebih awal sebelum jam pulang gadis itu tiba. Sebab Darrel tidak ingin jika nanti Alexa kembali kabur. Meski sekarang ia tidak tahu apa gadis itu masuk sekolah hari ini.
Senyum miringnya terbit. Ketika suara bel terdengar dan murid-murid terlihat mulai berbondong-bondong keluar dari kelas. Lingkungan sekolah yang tadi sepi kini mulai ramai. Darrel terus mengamati dari dalam mobil. Matanya menjelajah dan sesekali memandang parkiran mobil disekitarnya. Barangkali gadis itu pulang bersama temannya.
Sampai 5 menit setelahnya. Ia baru bisa melihat keberadaan gadis yang ia cari. Alexa tengah berjalan bersama seorang gadis yang Darrel ingat itu orang yang sama yang kemarin akan pulang bersama Alexa. Keduanya terlihat akrab dan Darrel bisa lihat jelas senyum manis Alexa beberapa kali muncul disela-sela pembicaraan keduanya.
Tidak ingin lama-lama, ia turun dari dalam mobil. Matanya terus mengamati pergerakkan Alexa yang semakin dekat ke arah parkiran. Saat jaraknya tinggal 10 langkah lagi. Alexa yang sedang fokus mengobrol dengan temannya baru menyadari saat matanya menatap kedepan. Darrel–unclenya yang baru saja ingin ia hindari sudah ada di hadapannya.
"Ready to go home?"
Alexa menahan napasnya. Raut wajahnya yang tadi tampak baik-baik saja kini sudah berubah dan hal itu disadari oleh Darrel yang senang menyaksikan keterkejutan Alexa.
"Uncle Darrel." suaranya bergetar saat menyebutkan nama itu. Ia mulai berpikir cara seperti apa yang bisa dirinya gunakan agar tidak kembali pulang ke rumah unclenya.
"Ayo pulang, Alexa."
"Lexa harus ambil baju yang masih tertinggal di rumah Karin, uncle," katanya melirik Karin yang berdiri di sebelahnya mengamati keduanya.
"Jadi gakpapa uncle pulang duluan."
"Iya om Alexa gakpapa biar pulang sama Karin aja."
Alexa mencoba tenang dan berharap Karin berhasil membawanya pergi dari hadapan Darrel. Ia menatap takut-takut unclenya. Pria itu justru sedang memandang Karin dan Alexa bisa lihat tatapan tidak suka itu muncul.
"Tidak apa, urusan baju tidak perlu dipikirkan."
"Tapi uncle--,"
"Uncle tunggu di mobil ya."
Kalimat terakhir dengan tatapan yang seolah mengancam berhasil membuat Alexa menghembuskan napasnya cemas. Ia melirik Karin lalu mengatakan akan pulang dengan unclenya. Setelah mendapat persetujuan dari temannya. Alexa melangkah gontai menuju mobil milik Darrel yang terparkir di parkiran sekolah.
"Good. Uncle kira kamu nekat memilih pergi bersama temanmu itu," ucap Darrel saat Alexa masuk dan sudah duduk di sampingnya.
"Jadi, bagaimana acaranya semalam?"
Alexa tahu itu bukan pertanyaan sungguhan yang terlontar karena pria itu ingin tahu jawabannya. Tapi unclenya itu sedang menyindirnya karena pergi secara diam-diam.
"Baik kalau tidak ingin menjawab. Uncle juga akan buat acara bersama kamu malam ini yang pastinya jauh lebih seru, ready sweeties?"
"Maaf uncle--,"
"Maaf untuk apa, memangnya kamu sedang melakukan kesalahan?" Darrel lagi-lagi tersenyum miring. Merasa terhibur dengan wajah Alexa yang mulai takut. Ia hanya sedang memancing gadis itu. Ingin tahu apa Alexa menyadari perbuatannya atau malah bersikap biasa saja setelah pergi dari rumah semalam.
"Alexa terpaksa, karena sudah lama Lexa tidak BBQ-an dan nginap di rumah Karin, maaf Lexa pergi secara diam-diam."
"Tidak apa-apa. Malam ini uncle buatkan acara yang lebih seru ya, let's play baby."
...
"Jangan berpikir untuk kabur Alexa karena pergerakkan kamu selalu uncle awasi."
"Buka uncle, Lexa capek ingin istirahat," katanya tidak mempedulikan kalimat pria itu.
"Baik, kita istirahat bersama."
Darrel buru-buru turun dari dalam mobil. Lalu membukakan pintu samping di mana Alexa berada. Pria itu seolah tidak mengizinkan Alexa untuk menjauh darinya. Karena saat Alexa turun Darrel langsung menarik pergelangan tangannya.
"Alexa mau ke kamar."
"Tidak untuk hari ini, ikut ke kamar uncle," ucap Darrel terus membawa Alexa.
"Lepasin uncle!" Kakinya terus menahan agar unclenya tidak berhasil membawanya. Sebisa mungkin ia menahan tubuhnya dari tarikkan Darrel.
"Lexa bisa teriak sekarang dan semua pelayan uncle akan bantu Alexa."
"Sayangnya pelayan uncle selalu menurut pada tuanya."
Tenaganya tidak sebanding. Alexa menatap marah unclenya saat pintu kamar di kunci dan Darrel memasukkan kuncinya ke dalam saku celana pria itu.
"Tenang Alexa, sekarang kamu bisa istirahat karena nanti malam uncle akan menyita waktumu." Sehabis mengatakan itu Darrel pergi ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Alexa yang mulai diselimuti rasa takut. Kalau saja semalam ia berhasil menceritakan semuanya pada Karin. Mungkin kini ia tidak perlu lagi berada di dalam rumah unclenya karena Karin akan membantu melindunginya. Namun sayangnya semalam ia tidak bisa menceritakan semuanya karena ada sepupu-sepupu Karin yang terus berada di dekat mereka.
Alexa menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Ia yakin unclenya akan bertindak tidak pantas lagi padanya dan sebelum itu terjadi ia harus bisa keluar dari dalam kamar Darrel. Alexa menuju balkon, lagi-lagi mengumpat saat pintu balkon tidak bisa ia buka. Sadar bahwa ponselnya masih bisa berfungsi. Alexa buru-buru mengambil benda itu di dalam tas. Jari-jarinya dengan cepat bermain di atas layar ponsel dan mencoba menghubungi temannya. Panggilan pertama tidak diangkat ia lalu mengetikkan pesan untuk Karin agar menjemputnya. Bersamaan dengan itu suara pintu kamar mandi terbuka membuat Alexa meletakkan ponselnya ke samping tubuhnya.
"Kamu bisa ganti baju, nanti Anna akan bawakan baju ganti untukmu," kata Darrel yang melangkah ke arah walk in closet hanya dengan menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
Alexa tetap diam pada posisinya. Tidak peduli apa yang pria itu ucapkan. Ia akan diam dan tidak mendengarkan unclenya. Alexa tidak suka diperlakukan seperti ini oleh Darrel.
"Ganti bajumu Alexa atau ingin uncle yang membantu menggantikannya?"
"Buka pintunya uncle, Lexa tidak ingin di kamar ini," ujarnya berani pada Darrel yang sudah duduk di sofa setelah berganti pakaian.
"Ganti bajumu, uncle tidak main-main dengan ucapan uncle yang akan menggantikan kamu baju kalau kamu tidak juga mendengarkan uncle."
"Uncle tidak berhak atur-atur Lexa!"
"Buka pintunya! Biarin Alexa keluar dan tinggal sendiri!"
"Kesabaran uncle tidak banyak Alexa, ingin bermain sekarang?"
Menghentakkan kakinya kesal. Alexa menutup pintu kamar mandi dengan kencang. Ia bertekad jika kali ini Darrel melakukan aksi bejatnya. Maka ia harus bisa melawan pria itu.
...