
Alexa menatap unclenya yang tengah fokus menyetir. Mereka sudah ada dalam perjalanan pulang setelah menjemput Alexa di sekolah. Syukurnya kali ini ia tidak lagi di bawa untuk ikut ke kantor pria itu. Namun yang membuatnya tidak berhenti melirik Darrel, dirinya tidak tahu harus bilang seperti apa agar dibolehkan datang ke rumah Karin malam ini.
"Ada apa, Alexa?"
"Tidak."
Darrel menyempatkan menoleh ke arah Alexa.
"Dari sekolahmu sampai kita sudah di jalan uncle bisa mengamati kalau kamu terus menatap uncle, ada apa?" tanya Darrel mengulangnya lagi.
"Alexa akan datang ke acara teman Lexa malam ini dan menginap."
Akhirnya kalimat itu keluar dari mulutnya. Tepat saat lampu merah, Darrel sepenuhnya menatap Alexa. Pria itu terus mengamatinya dengan tatapan tajam. Sedangkan Alexa hanya mampu memandang lurus ke depan. Menghindar dari pandangan Darrel.
"Tidak, uncle tidak mengizinkan."
"Lexa tidak minta izin, Alexa hanya memberitahu," katanya cepat.
"Kamu sedang tinggal bersama uncle, artinya semua urusanmu harus dapat izin dari uncle."
"Mommy tidak pernah larang Alexa. Jadi uncle juga tidak bisa larang Lexa--,"
"Sayangnya saat ini kamu sedang tidak tinggal bersama mommymu, jadi peraturan ada di tangan uncle."
Alexa yang kesal mulai menatap berani pria itu."Mommy hanya menitipkan Alexa, karena itu uncle tidak bisa seenaknya atur hidup Lexa," ujarnya tegas.
"Sebaiknya kamu batalkan niatmu itu, uncle tidak akan pernah merubah keputusan uncle, tetap di rumah jangan berani pergi tanpa izin dari uncle."
Jalanan kembali lancar. Mobil kembali melaju namun Darrel menambahkan kecepatan mobilnya. Membuat Alexa diam memejamkan matanya. Ia kesal atas sikap unclenya. Kalau saja kemarin ia tetap mempertahankan keinginannya untuk tinggal sendiri mungkin saat ini ia tidak perlu menghadapi pria di sebelahnya.
Tidak ada lagi percakapan yang terjadi. Darrel terus fokus ke depan. Raut wajahnya sudah berbeda dan Alexa menyadari kalau saat ini unclenya tengah menahan emosi. Tidak peduli, ia juga ikut diam sampai keduanya sampai di halaman rumah besar milik Darrel.
"Alexa ingin ke kamar."
Alexa berusaha melepaskan genggaman tangan Darrel di pergelangan tangannya. Ia baru saja ingin berbelok ke arah kiri di mana letak kamarnya berada. Tetapi unclenya itu menahan pergerakannya dan mencoba menarik Alexa pelan.
"Ke kamar uncle."
Ia menggeleng."Lexa tidak mau, Alexa ingin istirahat," ucapnya berharap Darrel melepaskannya.
"Istirahat di kamar uncle, Alexa."
"Alexa tidak mau uncle, lepasin!" Berhasil lepas, ia dengan cepat berlari ke arah kamarnya diiringi teriakan Darrel yang memanggilnya. Namun tanpa menghiraukan itu Alexa benar-benar masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu. Sedangkan Darrel, pria itu tersenyum miring menatap keberanian gadisnya.
...
"Gue udah di depan rumah uncle lo."
Suara di seberang telepon itu menyapa pendengaran Alexa saat ia mengangkat panggilan dari temannya. Ia sudah rapih menggunakan rok pendek seatas lutut dan baju rajut tebal yang membalut tubuhnya. Alexa masih di dalam kamar sejak tadi siang lepas dari unclenya.
"Tunggu, 5 menit gue keluar."
"Lagian emang kenapa gue enggak boleh masuk?"
"Pokoknya lo tunggu aja, gue matiin ya."
Alexa memasukkan ponselnya ke tas. Ia sudah membawa baju seragam dan juga baju ganti dengan tas jinjing berukuran sedang untuk menginap di rumah Karin. Biasanya di jam-jam menuju makan malam seperti ini Anna–pelayan yang diperintahkan mengurus Alexa akan datang mengetuk kamarnya. Jadi ia hanya perlu menunggu itu lalu meminta bantuan Anna agar ia bisa pergi malam ini tanpa sepengtahuan unclenya.
Tidak lama dari itu sesuai dugaannya, pintu kamarnya diketuk dan suara seorang wanita yang memintanya untuk bersiap-siap makan malam terdengar. Alexa membuka pintu lalu menarik Anna untuk masuk lebih dalam ke kamarnya.
"Bibi Anna, uncle Darrel ada di rumah?" tanyanya langsung tidak menghiraukan tatapan penuh tanda tanya dari wanita di depannya.
Ia mengumpat dalam hati. Padahal ia berharap unclenya itu pergi dan meninggalkan rumah. Tetapi sepertinya memang ia harus berusaha keras agar bisa pergi ke rumah Karin.
"Bibi bantu Alexa ya, Lexa harus pergi ke rumah teman tapi uncle tidak mengizinkan--,"
"Saya tidak bisa non, maaf."
"Please bibi Anna," ucap Alexa memohon.
Wanita itu diam beberapa detik dan hanya menunduk bingung. Tapi setelahnya Anna memandang Alexa dan dengan ragu mulai membuka suaranya.
"Saya tidak bisa membantu non Alexa keluar. Saya takut tuan Darrel akan marah dan memecat saya. Tapi kalau non ingin pergi non Alexa bisa menggunakan pintu samping yang biasa digunakan para pelayan."
...
"Past five minutes."
"Sorry sorry."
Alexa masuk ke dalam mobil Karin. Temannya itu sudah menunggu hampir setengah jam lamanya dan itu cukup menjadi hal yang menyebalkan pastinya. Mobil melaju meninggalkan kediaman Darrel. Alexa bisa bernapas lega kini saat ia berhasil keluar dari rumah unclenya berkat saran dari Anna. Sebab ia masih baru di rumah Darrel dan ia belum tahu seluk-beluk bangunan itu.
"Emang kenapa sih gue gak boleh masuk?" tanya Karin membuat Alexa yang baru saja bernapas lega kembali dibuat tercekat.
"Uncle gue galak."
"Segalak apa, gigit emang?"
"Enggak gitu, Rin. Nanti deh gue ceritain gimana dia," ujarnya dan Karin menyetujui itu.
Keduanya membutuhkan waktu 15 menit lamanya untuk sampai di rumah Karin. Mobil terparkir di halaman rumah. Alexa bisa melihat bahwa kini ada beberapa mobil lain yang terpakir. Apa acara BBQ'an yang diadakan keluarga Karin akan seramai yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya? Ia pikir hanya keluarga inti Karin saja namun sepertinya tidak karena saat keduanya sudah benar-benar masuk ke dalam area belakang rumah. Alexa bisa melihat sendiri kalau ternyata ada anggota keluarga Karin yang lainnya yang sebelumnya tidak pernah ia kenal.
"Alexa apa kabar, tante sudah lama tidak melihat kamu?"
Ia tersenyum saat sapaan pertama kali dirinya dapat dari Dinda–Ibunya Karin. Alexa menyambut pelukan itu."Baik, tante," jawabnya.
"Terima kasih ya sudah datang, jadi semakin ramai acaranya."
"Alexa yang terima kasih tante karena udah di ajak untuk seru-seruan di sini."
"Kalau gitu nikmatin acaranya ya."
Alexa mengangguk sopan.
"Lo enggak bilang acaranya seramai ini," protesnya menatap Karin yang sedari tadi masih setia di sebelahnya. Karin hanya menggedikkan bahunya, seolah tidak mempedulikan protesan Alexa.
"Ayo gue kenalin ke sepupu-sepupu gue."
Ia mengikuti langkah Karin. Sampai keduanya berhenti di dekat area kolom renang di mana 4 orang perempuan dan 3 orang laki-laki remaja tengah berkumpul. Alexa memasang senyum terbaiknya saat mereka meyadari kehadirannya.
"Hello, i'm coming."
Jika Alexa merasa berhasil pergi dari dalam rumah milik Darrel. Maka pria itu mempersilahkan saja untuk gadis itu menikmatinya. Karena sebenarnya Darrel menyaksikan aksi Alexa kabur. Setiap sisi rumahnya terpasang cctv dan cctv yang berada di dekat kamar Alexa tersambung ke layar tabnya.
Saat tadi siang gadis itu mengatakan akan pergi dan ia melarangnya. Darrel sudah menaruh curiga kalau Alexa tidak akan mendengar ucapannya. Lalu ketika gadis itu memilih mengunci dirinya di kamar. Dari sana Darrel mulai memantau pergerakan Alexa sebab diam-diam ia juga menaruh cctv di dalam kamar gadis itu. Katakan ia gila, tapi memang itulah kenyataan yang ia lakukan agar Alexa selalu ada di bawah kendalinya.
Darrel sengaja tidak menghentikan aksi Alexa. Sebab ia ingin melihat seberani apa gadis itu padanya sampai tidak mendengarkan larangannya dan ia akan membuat Alexa tidak lagi berani membantahnya setelah ini. Darrel memasang smirik di wajahnya, tidak sabar menjemput gadisnya besok.
...