
Alexa tidak mampu lagi menahan tangisnya. Isakkannya terdengar memenuhi mobil, namun Darrel seolah tidak peduli. Pria itu dengan paksa membuka kedua kakinya. Sudah berkali-kali ia melakukan perlawanan tapi Darrel berhasil membuatnya tidak berdaya di dalam kendali pria itu. Darrel menahan kedua tangannya hingga yang bisa ia lakukan hanya menggerakkan tubuhnya terus-menerus untuk berontak.
"Jangan uncle," lirihnya masih berusaha agar unclenya berhenti dan menyadari perbuatannya.
Bisa Alexa rasakan jari-jari Darrel menyentuh kewanitaannya yang sudah tidak terhalang apa pun. Alexa memejam saat satu jari unclenya mengelus bagian intinya. Darrel semakin menatap dalam sosok Alexa.
"Ah." Darrel tersenyum puas mendengar suara yang keluar dari bibir Alexa. Jarinya hanya mengelus pelan kewanitaan gadis itu. Tapi apa yang ia lakukan sudah berhasil membuat Alexa mendesah.
"Nikmat, sweeties?" tanyanya.
"Sebut nama uncle jika ini memang nikmat." Lalu setelahnya Darrel mencoba memasukkan satu jarinya, Alexa menggeliat, pinggangnya terangkat ketika Darrel bermain di bagian intinya. Ia berusaha merapatkan kembali pahanya. Namun sekuat itu juga unclenya membuka lagi hingga ia mengangkang.
"Stop-p uncle."
"Jangan." Alexa berteriak ketika satu jari milik Darrel benar-benar masuk ke pusat kewanitaannya. Air matanya terus jatuh. Ia menggigit bibirnya untuk menahan ******* yang akan lolos. Tapi bukan hanya itu, Alexa marah pada dirinya sendiri. Ia benci Darrel dan Alexa tidak percaya unclenya tega melecehkannya seperti ini.
"Uncle suka melihat wajahmu sekarang, pretty."
Senyum puas itu semakin ditunjukkan Darrel. Pria itu memandang penuh nafsu Alexa yang penampilannya kini terlihat berantakkan. Dress hitam yang tadi membalut tubuh gadis itu dengan rapih kini justru membuat Alexa terlihat sexy. Bagian bawah dress sudah tersingkap karena ulah Darrel.
"Basah. Apa ini benar-benar nikmat, sweeties?" Alexa berusaha tidak menatap unclenya. Pandangannya juga memburam karena air mata masih menutupi pengelihatannya. Ia merasa tidak nyaman pada bagian intinya saat Darrel sudah menarik jarinya keluar. Tubuhnya sempat bereaksi aneh ketika pria itu bermain di kewanitaannya.
"Uncle jahat--,"
"Kamu akan lihat kejahatan uncle yang lebih nanti, ini tidak ada apa-apanya, kamu juga menikmatinya, sayang." Darrel menahan tengkuk Alexa lalu kembali mencium bibir gadis itu dengan kasar. Tidak ada kelembutan yang unclenya lakukan sedari tadi. Darrel hanya mementingkan hasratnya. Puas menyesap bibir tipisnya, Darrel kembali duduk dengan tegak di kursi kemudinya.
"Kita lanjutkan di rumah."
...
Sudah tidak terhitung berapa kali air matanya jatuh. Tapi yang ia tahu saat ini dirinya amat sakit mendapati sikap tak senonoh unclenya. Alexa mengunci pintu kamarnya. Tidak peduli Darrel bisa membuka pintu itu dengan kunci dupplikat kapan saja. Namun kini ia hanya ingin menghindar dari Darrel dan berharap pria itu membiarkannya mengunci diri di kamar.
Alexa duduk di kursi meja rias tepat di depan cermin yang memperlihatkan kekacauannya. Mata sembab, ada beberapa tanda kepemilikan di lehernya belum lagi dress hitam yang digunakannya sudah berantakkan. Bayangan yang unclenya lakukan di dalam mobil tadi kembali berputar di kepalanya. Ia menjambak rambutnya sendiri dan memukuli tubuhnya, merasa putus asa.
Jauh dari Ariane ternyata membuat hidupnya tertekan. Ia hanya bisa menangis sekarang. Alexa tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap ia bertindak lebih dengan cara melawan Darrel. Pasti pria itu akan marah dan melakukan pelecehan padanya. Ponselnya masih berada pada Darrel. Jadi ia tidak bisa menghubungi siapapun untuk mengadu. Alexa tidak tahu harus apa selain mengumpati dirinya sendiri.
"Mommy, Lexa takut."
Alexa memeluk tubuhnya. Sesekali masih melayangkan pukulan ke dirinya sendiri, mencoba menyalurkan amarahnya. Tubuhnya bergetar sejak Darrel melecehkannya di dalam mobil. Ia tidak tahu kapan semua ini berakhir. Alexa butuh Ariane sekarang. Ia takut untuk terus berada di dekat Darrel. Sebab pria itu semakin berani menyentuhnya. Jika kemarin Darrel hanya sebatas menciumnya. Sekarang unclenya itu sudah berani bertindak lebih dan Alexa tidak bisa membiarkan itu.
Untuk sekarang mungkin ia bisa tenang karena Darrel tidak melanjutkan aksinya sesuai apa yang tadi pria itu ucapakan sebelum mereka pulang. Ada kerjaan deadline yang harus Darrel siapkan. Ia sempat melihat raut emosi unclenya. Namun setidaknya Alexa berterima kasih karena kerjaan itu ia bebas dari aksi bejat Darrel. Semoga saja malam ini Darrel akan benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya itu. Hingga tidak ingat pada dirinya.
"Apa sangat melelahkan semalam. Sampai kamu tidak mengganti bajumu?" tanya Darrel dengan semiriknya.
Sadar bahwa di kamar bukan hanya dirinya. Alexa buru-buru bangun lalu menarik selimut sampai sebatas dadanya. Ia bisa melihat sosok Darrel menatapnya dengan senyum menakutkan. Alexa memang masih menggunakan dress hitam yang semalam. Ia tidak memiliki tenaga untuk sekedar mengganti baju karena terus menangis sepanjang malam, sampai ia tidak sadar tertidur masih menggunakan baju yang sama.
"Perlu uncle membantumu untuk ganti baju?"
"Tidak." Alexa berujar tegas dan dengan cepat menggeleng."Uncle sebaiknya keluar, Alexa bisa ganti baju sendiri," lanjutnya belum menatap pria itu, ia hanya menunduk takut.
"Semalam uncle sangat tersiksa tidak bisa menuntaskannya, apa kita melanjutkannya saja pagi ini?"
Darrel mendekatkan dirinya pada Alexa. Membuat gadis itu semakin merapatkan dirinya ke sandaran kasur. Tubuhnya kembali gemetar takut seperti semalam. Ia menggeleng dan menatap mengiba agar Darrel tidak melakukannya lagi. Namun tangan pria itu justru malah terangkat menarik selimut yang ia genggam erat. Kini bisa terlihah tubuh Alexa yang masih terbalut dress hitam pemberian Darrel.
Alexa kembali ingin menangis saat unclenya terus melayangkan tatapan lapar kepadanya. Belum lagi kedua mata Darrel turun dan terus memperhatikan bagian dadanya. Alexa yang merasa tidak nyaman langsung menutupinya dengan bantal yang masih bisa ia jangkau. Tidak seperti selimut yang telah Darrel tarik dan disingkirkan ke belakang tubuh Darrel. Nafasnya terdengar tidak beraturan. Apalagi ketika satu tangan besar milik Darrel menyentuh buah dadanya yang masih tertutup. Setelah lagi-lagi pria itu melempar bantalnya.
"Semalam kamu berhasil orgasme hanya dengan satu jari uncle, jadi jangan coba menolak uncle sekarang."
"Please uncle, jangan." Darrel semakin maju hingga jarak antara keduanya semakin sempit. Tangan Darrel mulai bergerak meremas dadanya. Lalu wajahnya juga bergerak mendekat ke wajah Alexa. Hingga bisa Alexa rasakan pria itu mencium bibirnya.
Alexa memukul-mukul dada Darrel. Berusaha menghentikan ciuman keduanya. Namun hasrat unclenya begitu besar. Membuat Alexa hanya mampu menangis karena untuk sekedar lepas pun ia tidak bisa. Tubuhnya sangat lemas karena menangis dan baru tidur di jam 3 pagi. Bibirnya terus dilumat kasar, Alexa tidak membalas ciuman itu. Bahkan dari kemarin pun ia tidak pernah ikut bermain. Tangan Darrel masih terus meremas kuat buah dadanya. Sesekali merangsang putingnya yang berhasil membuat Alexa menggigit bibirnya.
"Ah, uncle." Desah Alexa setelah Darrel melepaskan ciuman keduanya. Namun pria itu justru semakin fokus bermain di bagian dadanya. Tidak puas karena Alexa masih menggunakan baju. Darrel merobek dress hitam itu dengan tiba-tiba.
"Uncle!" teriak Alexa menatap nanar dress itu yang kini sudah robek tepat dibagian dadanya sampai sebatas perut. Ia mencoba menutupi tubuh depannya yang sudah terbuka. Hanya tertutupi bra yang masih melindungi buah dadanya.
"Uncle jangan, uncle."
"Tidak perlu banyak bicara, sayang. Cukup menurut pada uncle," kata Darrel dengan suara beratnya.
Pria itu dengan mudah mengangkat Alexa ke atas pangkuannya. Dress hitam yang Darrel robek sudah jatuh dan tertahan di pinggang Alexa. Darrel membuka pengait bra milik Alexa lalu membuangnya ke kasur dengan asal. Sekarang bibirnya semakin tersenyum puas menatap keindahan tubuh Alexa.
Alexa berontak dan menangis saat Darrel mengulum putingnya, menyesapnya kuat seperti bayi yang kehausan. Alexa meremas rambut unclenya berharap dari sana ia bisa membalas rasa sakit hatinya. Namun pria itu sama sekali tidak terusik. Rangsangan Darrel semakin membuatnya menggeliat. Alexa memejamkan matanya, menggigit bibirnya untuk menahan desahanya.
"Uncle tahu ini sangat nikmat." Darrel mengusap pipi Alexa. Ia menatap wajah gadis di pangkuannya dengan sangat puas. Keringat dan air mata yang menjadi satu amat jadi pemandangan yang membahagiakan bagi Darrel.
"Mendesahlah, Alexa. Uncle akan membuatmu kenikmatan dengan permainan uncle."
...