Bastard Uncle

Bastard Uncle
Bab 16. Gagal



Alexa memilih pilihan untuk pergi jalan-jalan. Ia bosan jika harus terus berada di dalam rumah milik Darrel. Dan soal perkataan Anna, ternyata wanita itu tidak berbohong. Karena saat ini setiap langkahnya selalu diikuti oleh Anna dan juga satu bodyguard pribadi Darrel. Baru 5 menit ia berada di dalam mall. Namun pergerakkannya sudah dipantau begitu ketat.


"Bibi Anna apa tidak bisa ia tunggu saja di mobil?" tanya Lexa berbisik pada Anna yang berada di sampingnya. Anna melirik pria tinggi yang sedari tadi setia di belakang keduanya, Anna menggeleng."Tidak bisa non, ini sudah pesan dari tuan Darrel," jawaban Anna membuat Lexa lagi-lagi mendengus sebal.


Alexa memilih memasuki salah satu toko pakaian. Ia ingin mencari stok baju tidur yang lebih tertutup. Masih kurang dari 2 minggu ia tinggal di rumah unclenya. Jadi Alexa harus bisa memperhatikan penampilannya. Bukan untuk menarik perhatian Darrel tapi agar Darrel tidak menatapnya lapar karena pakaian terbukanya. Matanya menjelajah seiring dengan kakinya yang melangkah menyusuri seisi toko pakaian, mencari yang cocok untuknya.


Sebenarnya Alexa risih terus diikuti seperti ini. Tetapi usahanya selalu gagal untuk meyakinkan Anna kalau ia tidak apa-apa sendiri. Lexa mengambil 2 setel baju tidur berwarna peach dan abu-abu. Hanya piyama polos sederhana berlengan panjang begitupun celananya. Ia harus bisa mengatur keuangannya yang Ariane kirimkan. Merasa hanya itu yang Lexa butuhkan. Kakinya pergi menuju kasir untuk segera melakukan payment.


"Pakai ini, non."


"Tidak perlu bibi Anna, Lexa ada uang," ujarnya menolak uluran tangan Anna yang memberikannya kartu debit.


"Lagi-lagi ini perintah tuan Darrel non. Kalau non menolaknya nanti tuan marah pada saya."


Menatap sejenak benda tipis itu. Lexa mengambil alih dari tangan Anna. Mungkin nanti ia akan menggantinya. Dari pada harus beradu argumen panjang dengan Anna di tempat yang bukan hanya ada mereka berdua saat ini.


"Bibi Anna sudah berapa lama bekerja dengan uncle?" tanya Lexa seiring mereka pergi meninggalkan toko pakaian.


"Saya sudah dipekerjakan dengan orangtua tuan Darrel sejak tuan berumur 5 tahun non. Sekarang tuan Darrel yang meminta saya untuk ikut bekerja dengannya sebagai kepala pelayan di rumah."


Lexa cukup terkesima mendengar itu. Pantas saja Darrel seperti sudah amat mempercayai Anna dan begitupun Anna yang sangat patuh pada Darrel.


"Kalau gitu bibi banyak tahu tentang uncle?"


"Iya non. Bahkan saya amat tahu bagaimana dulu tuan Darrel marah mengetahui non pindah--,"


"Maksud bibi?"


"11 tahun lalu saat non sekeluarga memutuskan pindah. Umur tuan Darrel 17 tahun saat itu, di sana pertama kalinya saya melihat sosok tuan yang berbeda. Sebelumnya tuan tumbuh jadi anak laki-laki yang baik, penuh kelembutan, senang berkomunikasi."


Lexa terus mendengarkan dengan baik setiap kalimat yang keluar dari mulut Anna.


"Semua berubah sejak non tidak lagi tinggal di kota yang sama. Tuan jadi mudah marah. Bibi pikir tuan hanya merasa kehilangan keponakkannya karena dulu tuan sangat sering berkunjung ke rumah non."


"Tapi tidak saat tuan sudah lulus sekolah dan mulai mengenal dunia luar. Bibi mulai menyadari kalau tuan memiliki perasaan tidak wajar pada non. Tuan sering mencari tahu kehidupan non, apa pun tuan Darrel lakukan untuk kembali dekat dengan non."


Alexa benar-benar dibuat diam dengan segala kalimat Anna. Apa memang benar perasaan tidak wajar Darrel tumbuh ketika umur Lexa masih sangat muda. Bagaimana bisa pria itu tertarik pada ponakkannya sendiri?


"Apa grandma dan grandpa tahu soal itu?"


"Tidak. Saya rasa tidak ada yang menyadari hal itu, bahkan kedua orangtua non pun tidak menyadarinya bukan?"


"Bibi Anna benar, uncle pintar menutupinya. Mommy rasanya juga sudah begitu percaya pada uncle."


"Tuan Darrel tidak pernah terlihat membawa seorang gadis, non. Sepertinya perasaan tuan pada non Lexa tidak main-main."


"Tapi bibi Anna tahu kan kalau itu hal yang salah. Lexa takut bi terus berada di dekat uncle." Lexa memandang lesu kedua bola mata Anna. Berharap agar wanita itu iba dan mau membantunya untuk keluar dari situasi rumit yang dibuat Darrel.


"Sayangnya saya hanya pelayan yang sudah diberi kepercayaan oleh tuan Darrel. Saya tidak bisa membantu non dan merusak kepercayaannya," kata Anna seolah paham niat ucapan Alexa.


...


"Bagaimana jalan-jalannya, sweeties?"


"Uncle jangan seperti ini, nanti ada yang lihat," ujarnya risih ketika Darrel ingin mendaratkan kecupan di pipinya.


"Uncle bertanya, bagaimana jalan-jalanmu?"


"Tidak ada sesuatu yang istimewah, hanya saja seru setidaknya tidak mati bosan di rumah ini."


"Jadi kamu bosan berada di sini?"


Alexa terdiam. Ia menyumpah serapahi dirinya sendiri. Sepertinya Lexa sudah benar-benar muak berada di rumah milik unclenya. Sampai mulutnya bisa mengeluarkan kalimat sejujur itu.


"Kalau memang bosan mari buat kegiatan yang menyenangkan dengan uncle--,"


"Tidak maksud Lexa, Lexa hanya tidak tahu harus apa lagi di rumah uncle. Jadi dengan jalan-jalan bisa membuat Lexa senang," katanya memejamkan matanya, alasannya sungguh berantakkan. Tapi Alexa berharap Darrel tidak memperpanjangnya.


Jantungnya dibuat terkejut saat secara tiba-tiba Darrel mengangkat tubuhnya ke atas pangkuan pria itu. Lexa ingin kembali pada posisinya semula. Namun tubuhnya ditahan begitu kuat oleh Darrel. Lexa berusaha menjauhkan wajahnya ketika jari-jari Darrel mulai mengelus pelan pipinya.


"Senang jalan-jalan?"


Lexa mengangguk ragu.


"Senang jauh dari uncle dan berniat kabur, Lexa?"


"Maksud uncle?" tanyanya gemetar.


"Uncle mengizinkan kamu pergi keluar untuk menikmati waktumu, uncle juga bermaksud menebus rasa bersalah uncle karena sudah mengurungmu seharian di kamar kemarin. Tapi kamu malah memanfaatkan keadaan dengan memiliki niat untuk kabur."


Jika tadi elusan di pipinya terkesan lembut. Kini tidak lagi, Darrel sudah mencengkram kuat rahangnya. Membuat kepala Alexa mendongak ke atas. Matanya berkaca-kaca merasakan sakit di tulang pipinya.


"Apa segala ancaman uncle tidak cukup, baby?"


"Kamu ingin uncle benar-benar menyetubuimu?"


"Tidak," jawabnya dengan susah. Tangannya mencoba melepaskan tangan Darrel dari pipinya."Sakit, uncle."


"Uncle tidak memberimu hukuman kemarin saat tahu kamu ingin pergi dari rumah ini. Sekarang apa perlu uncle menghukummu karena tingkahmu yang selalu kamu ulangi ini?"


"Tidak uncle, Lexa tidak memiliki niat untuk kabur--,"


"Sengaja pergi diam-diam dari pengawasan Anna dan Bram. Apa namanya Alexa jika bukan berniat untuk kabur?"


Lexa sudah tidak bisa menyangkal setiap kalimat Darrel. Karena apa yang pria itu jabarkan memang benar. Saat di mall tadi ia memiliki rencana untuk pergi dengan cara mengalihkan pengawasaan Anna dan Bram—bodyguard pribadi Darrel. Ketika keduanya lengah. Lexa turun ke lantai bawah untuk segera pergi menggunakan taksi. Namun rencananya itu gagal saat Bram lebih dulu menemuinya dan menariknya paksa dari dalam taksi.


Padahal ia ingin segera bebas dari Darrel. Ia ingin cepat-cepat bertemu Karin lalu meminta bantuan pada temannya itu. Namun sepertinya akan sulit.


Dan Alexa pikir aksinya itu tidak sampai diketahui Darrel. Sebab Anna bilang wanita itu akan berusaha menutupinya dari Darrel asal Lexa bisa bersikap lebih baik kedepannya. Tetapi sepertinya Lexa lupa kalau selain Anna ada juga Bram yang sudah ditugaskan oleh unclenya. Pasti pria itu yang memberitahu.


"Punishment, baby."


...