ARGANA

ARGANA
Part 4 (Masih marah)



Kursi taman


"Kenapa sih kak, kok tiba tiba pindah kesini?" tanya Nasya.


"Gak apa apa, pengen aja" ucapnya.


"Kalau ada apa apa tuh cerita, jangan kayak gini, kalau kak Arga kayak gini aku gak tau apa yang sedang kakak pikirin" ucapku.


"Yang harus cerita bukannya kamu ya? aku selama ini berusaha buat bisa bikin kamu suka, dan respon kamu ke aku seakan akan kamu menerima sikap sikap ku selama ini, ya aku pikir kamu udah suka, tapi apa? ternyata kamu masih aja masih belum bisa suka ke aku, kamu anggep aku pelampiasan gitu? atau bahan gabut?" tanya kak Arga menggebu gebu.


"Kak, aku butuh waktu dulu, untuk sementara kayak gini dulu. Iya, tau aku memang egois, tapi plissssss ngertiin aku, nanti ada saatnya aku jelasin ke kak Arga" ucapku.


"Kamu pernah ngertiin aku gak Sya? aku bertahan bertahan tapi makin kesini kamu kayak biasa aja ke aku, seakan akan aku gak dianggap, aku harus gimana lagi supaya kamu bisa suka balik ke aku? aku tau rasa gak bisa di paksa, setidaknya ada jawaban jelas iya atau enggak, supaya aku tau harus maju atau mundur, dan supaya sikapku itu gak akan buat kamu ilfil" ucap kak Arga panjang lebar.


"Maaf kak, semoga yang tadi aku jelasin ke kakak, kak Arga paham ya, dan maaf udah bikin kakak harus di posisi bimbang seperti ini" ucapku lalu pergi meninggalkan kak Arga sambil mengusap air matanya yang membasahi pipinya.


"Arrrrrgghhhhhhh, kenapa harus gini sih Ga, kenapa?" tanya kak Arga pada dirinya sendiri, sambil menarik rambutnya frustasi.


"Qil, kak Zidan aku pamit duluan yaa" ucapku lalu pergi mengambil sepeda ku.


"Kakak cantik kenapa nangis kak?" tanya anak itu.


"Gak apa apa kok kakaknya" ucap Qila dan tak lama orang tua dari anak tersebut pun datang menjemput.


"Terima kasih yaa dek, sudah menolong anak saya, di kasih es krim juga" ucap Mama anak kecil itu lalu berpamitan.


"Sama sama juga Bu" ucap Zidan.


"Kak, ayok nyamperin kak Arga" ucap Qila.


Mereka berdua pun menghampiri kak Arga yang sedang melamun.


"Bro, kenapa sih sama Nasya, kok kayaknya lagi berantem" ucap kak Zidan.


"Nasya masih aja gak bisa balas balik perasaan ku, apa dia cuman gabut ke aku sampai saat ini. Aku udah berusaha terus untuk bisa meyakinkan dia suka balik ke aku, tapi apa? dia melihatkan sifatnya yang seolah olah aku juga sama kayak yang lain" ucap kak Arga.


"Nasya ada alasannya kak" ucap Qila pelan.


"APA APA ALASANNYA BAHAN GAB- " plak suara tamparan dari Qila lolos ke pipi kak Arga.


"Jangan seenaknya kalau ngomong, Nasya itu ada alasan yang belum bisa ia kasih tau kak Arga, selama ini Nasya juga kepikiran dengan itu, tapi dia mencari waktu yang tepat. Jangan mikir yang enggak enggak kalau gak tau apa apa, jangan egois kak jadi orang, gak semua orang harus bisa memenuhi keinginan mu, tapi kamu gak mikir orang lain gimana? lain kali introspeksi diri sendiri dulu" ucap Qila panjang lebar lalu pergi meninggalkan mereka.


"Arrggggghhhhhh, harus apa aku harus apa" ucap kak Arga frustasi sambil memukul kepalanya.


"STOP, gak ada gunanya kamu kayak gini, sekarang lebih baik kamu pulang, tenangin diri kamu. Saran ku jangan kayak gini sama Nasya, yakin kan dia supaya dia juga bisa ngejelasin kenapa dia kayak gini" ucap kak Zidan pergi mengejar Qila meninggalkan kak Arga.


Kak Arga mengambil ponsel menelfon seseorang di sebrang sana.


📞 "Di rumah?"


📞 ...........


📞 " Aku kesana" lalu mematikan telfon dan pergi menuju rumah yang dituju.


Tak lupa ia mampir membeli kue kesukaan Nasya.


...****************...


Rumah Nasya


Nasya POV


"Kak Arga jahat banget, kenapa dia gak bisa ngertiin aku" ucapku sambil menangis masuk ke dalam rumah.


Beruntung mama dan papa lagi ada di taman belakang rumah, jadi gak tau kalau aku sudah pulang, aku langsung menuju kamarku untuk bersih bersih.


Tiba tiba ponsel ku berdering, tanpa melihat siapa yang menelfon aku lalu mengangkat nya.


📞 ..................


Ternyata kak Arga, belum aku menjawab ia sudah mematikan telfon.


Terdengar suara bell rumah di pencet oleh seseorang, aku pun bergegas turun membuka kan pintu, ternyata kak Arga.


...****************...


Ruang tamu


"Mau apa ke sini?" tanyaku to the point.


"Mau minta maaf, maafin aku yang tadi udah egois ke kamu, udah bikin kamu nangis juga" ucap kak Arga minta maaf.


"Gak perlu minta maaf, gak salah, dah sana pulang aja" ucapku lalu ingin membalikkan badan.


"Aku harap besok kamu datang ke pertandingan futsal antar sekolah, ini ada kue kesukaan kamu, salam buat Mama Papa, aku pamit" ucapnya lalu pergi meninggalkan rumah ku.


"Siapa Nak?" tanya Mama yang dari arah taman.


"Kak Arga Ma, tadi gak sempet ngobrol sama Mama, katanya buru-buru" ucapku lalu pergi ke dapur menaruh kue di kulkas.


"Sini dulu Nak" ucap Papa saat melihat ku ingin menaiki tangga.


"Iya Pa kenapa?" tanyaku pada Papa.


"Kamu kenal Arga kan?" tanya Papa.


"Iya kenal Pa" ucapku.


"Dia anak dari sahabat baik Papa, dia anak yang baik juga banyak prestasi, dia juga mandiri, di umur yang terbilang cukup muda ia bisa membeli restoran dengan uang tabungannya sendiri tanpa bantuan kedua orang tuanya" ucap Papa panjang lebar.


"Emm gitu, terus Pa?" tanyaku.


"Papa harap kamu bisa mempunyai cowok seperti Arga" ucap papa.


"Kan mereka memang pacaran Pa" ucap Mama.


" E-enggak Ma beneran" ucapku.


"Halah masak, kemarin kemarin aja perhatian banget Arga ke kamu, kayaknya Arga memang beneran suka kamu deh Nak" ucap Mama.


"Syukurlah kalau memang begitu, niat Papa dan Papanya Arga juga ingin sekali bisa besanan" ucap Papa.


"Ih Papa, masih kecil Nasya" ucapku lalu pamitan pergi ke atas namun "Ma, Pa, itu di kulkas ada kue dari kak Arga" ucapku kepada Mama dan Papa.


"Widih calon mantu emang baik" ucap Mama meledek ku dan aku langsung pergi ke kamar.


...****************...


Di lapangan futsal


"Arga fokus, kamu ini kenapa sih, gak kayak biasanya" ucap Coach.


"Iya maaf Coach" ucap Arga tapi masih saja sama.


"Latihan cukup sampai disini, Coach harap besok bisa lebih baik lagi, supaya bisa mengharumkan nama sekolah, dan kamu Arga kamu sebagai kapten harus bisa membimbing anggota mu, fokus ingat fokus, Coach harap kalian besok bisa menang" ucap Coach lalu meninggalkan kami.


"Bro, masih mikirin Nasya?" tanya Zidan.


"Hem, dia masih belum maafin aku" ucapku lesu.


"Mungkin dia butuh waktu, udah ayok kita pulang istirahat" ucap Zidan lalu kami pun pulang.