
"Kak aku takut, aku takut" ucapku sambil menangis.
"Udah gausah takut, kamu pegangan sama kakak, bentar lagi juga bisa kok ini" ucap kak Arga menenangkan.
Aku tetap saja menangis, karena kak Arga gak tau kalau Nasya takut ketinggian. Melihat Nasya yang bener bener sudah takut akhirnya Qila membuka suara.
"Sebenarnya Nasya itu takut ketinggian kak" ucap Qila.
"Kok gak ngomong sih dari sebelum naik kalau takut ketinggian, yaudah sekarang tarik nafas buang pelan pelan" ucap kak Arga sambil mencoba menenangkan Nasya sambil mengusap punggungnya.
Tak lama akhirnya mesinnya sudah kembali berputar dan kami sudah turun dari wahana tersebut dengan keadaan sehat.
"Kita mampir ke cafe terdekat dulu yuk, sambil ngisi perut, udah laper banget nih gw" ucap kak Zidan.
"Gimana Sya, masih kuat kan?" tanya kak Arga sambil melihat kearah Nasya.
"Iya masih kok kak, yaudah ayok aku juga laper" ucapku yang sudah mulai tenang.
Kami pun menuju cafe terdekat di area pasar malam itu, Cafe baru yang baru saja dibuka belum lama, namun pengunjung yang disana sudah sangat ramai,. karena Cafe itu termasuk Cafe yang setiap orang melihatnya pasti ingin kesana.
______________________________________
Di Cafe
"Mau pesen apa?" tanya kak Arga.
"Samain aja" ucap ku.
" Pesen apa Qil?" tanya kak Zidan.
"Samain aja deh" ucap Qila.
Tak lama pesanan pun datang, kami langsung melahap nya hingga habis tak tersisa.
"Ouh iya, senin ada tanding futsal lawan SMA sebelah, kamu lihat yaa supaya nanti aku semangat" ucap kak Arga kepadaku.
"Lihat aja besok Senin deh gimana" ucapku.
"Kalau kamu Qil? lihat gak?" tanya kak Zidan.
"Aku mah sama kayak Nasya kak" ucap Qila.
"Besti poreper ini sangat cocok erat sekali" ucap kak Arga.
"Iri bilang bos" ucapku dan Qila.
Setelah berbincang bincang akhirnya kami memutuskan untuk pulang, karena waktu juga menunjukkan hampir larut.
______________________________________
Dirumah Nasya
"Terima kasih yaa kak, udah nganterin, udah ajak jalan-jalan, pake di bayarin lagi" ucapku sambil terkekeh.
"Di balasnya pake hati aja ya" canda kak Arga.
"Hadeh mulai, eh bdw itu wallpaper nya kok fotoku sih, mana fotoku pas kecil lagi, ada namanya juga" ucapku.
"Cantik kan cewek ku" ucap kak Arga sambil mengacak acak rambut ku.
"Ihh kak Arga, awas yaa aku gak mau ngomong sama kak Arga" ucap Nasya bercanda.
"Eh eh gitu aja ngambek, sini tak rapiin" ucap kak Arga dan merapihkan rambut Nasya.
"Mumpung besok hari Minggu ayok sepeda an ditaman, kan jarak rumah kita juga gak jauh, rumah Qila sama kak Zidan juga" tawar Nasya.
"Kuyyy gas ngeng, apa sih yang enggak" ucap kak Arga.
"Mau mampir atau enggak nih?" tawar Nasya.
"Kapan kapan aja deh, udah malam ini, salam buat mama ya" ucap kak Arga dan menyalakan motornya.
"Siapp, hati hati kak" ucapku lalu kak Arga menjalankan motornya hingga tak terlihat.
Aku berjalan masuk ke dalam rumah, menyapa mama yang sedang menonton TV, lalu aku menuju kamarku .
______________________________________
Aku mengganti pakaian ku dengan baju tidur, tak lupa juga membersihkan wajah dan juga merebahkan tubuhku ke kasur king size yang berwarna biru kesukaan ku.
"Apa aku harus jujur yaa sama kak Arga, kasian kalau dia terus terusan kayak gini" ucapku lalu memejamkan mata, hingga sudah terlelap jauh ke alam bawah sadar.
_______________________________________
Hari Minggu
"Hoaammmm, jam berapa ini" ucapku lalu melihat jam dinding yang berada dikamar ku, ternyata masih jam 05.00 wib.
Aku langsung membereskan tempat tidur, tak lupa aku mandi dan berganti pakaian untuk bersepeda nanti.
Saat aku menuruni tangga, bell rumah ada yang memencet.
"Coba kamu buka dulu yaa nak" ucap mama dari arah dapur.
"Iyaa ma" ucapku lalu membuka pintu, ternyata itu kak Arga, Qila juga kak Zidan.
"Masuk dulu sini" tawar ku dan ke tiga nya pun masuk.
"Tumben udah bangun" ledek kak Arga.
"Masih pagi jangan bikin badmood" ucapku bercanda.
"Yaudah ayok, keburu siang nih, soalnya nanti mau latihan futsal bareng anak anak" ucap kak Zidan.
"Bentar mau pamitan dulu sama mama" ucapku ingin pergi ke arah dapur, namun mama sudah menghampiri kami diruang tamu.
"Ma, Nasya, Qila, Zidan, dan Arga pamit mau sepeda an dulu, ditaman" ucap kak Arga.
"Yasudah, hati hati yaa Nak" ucap mama lalu kami menuju taman tersebut.
Taman cukup rame karena hari ini hari Minggu, banyak sekali muda mudi juga yang berkeluarga bersepeda juga.
"Waw rame juga ya" ucapku.
"Namanya tempat umum, kuburan aja rame" ucap kak Arga.
"Shhhttt, udah udah kalian ini, ayok keliling taman " tawar Qila dan kami pun berkeliling taman sambil bersepeda.
Tiba tiba di tengah asik asiknya kami berkeliling, kami melihat anak kecil jatuh dari sepeda, lalu kami berempat pun menghampiri.
"Sini sini kakak bantu" ucap Nasya. Namun ternyata anak kecil itu tidak bisa berdiri karena luka yang berada di dengkul lumayan banyak.
Akhirnya kak Arga menggendong menuju kursi dekat mereka berada.
"Huaaaa mama atit, atit banget" ucap anak kecil itu sambil menangis.
"Cup cup cup, kakak obatin dulu yaa, tapi kalau perih nanti ditahan yaa, ntar kak Nasya beliin es krim deh" ucap Nasya memberikan jari kelingking nya dan di balas jari kelingking anak kecil itu.
Untung saja di sepeda Nasya ada p3k di bagian depan, saat mengobati anak tersebut kelihatan meneteskan air mata namun di tahan agar tidak bersuara.
"Nah udah deh, pinter banget sih kamu" puji Nasya sambil memegang pipinya yang tembem.
"Atu kan memang pintel kata mama" ucap anak kecil itu "mana kak es klim nya?" tagih anak tersebut.
"Sebentar yaa kakak beliin dulu" kini kak Arga yang menjawab sambil pergi ke toko terdekat.
Tak lama kak Arga datang membawa 5 es krim yang banyak berbagai macam rasa.
"Ini coba di pilih mau yang mana, tapi jangan banyak banyak, nanti gigi nya abis" ledek kak Arga sambil tertawa kecil.
"Atu mau yang setlobeli" ucap anak itu lalu kak Arga memberikan yang rasa stroberi "hemm enak es klim nya" ucap anak kecil itu.
"Nih buat kamu" sambil memberikan 2 es krim rasa coklat dan yang 2 si berikan ke Qila dan kak Zidan.
"Loh kok aku semua, kamu mana kak?" tanya Nasya.
"Gak usah, buat kamu aja itu" ucap kak Arga lalu pergi ke arah kursi yang cukup jauh dari mereka.
"Qil, kak Zidan, titip dulu ya adek nya, sampai orang tua nya kesini" ucap ku lalu menyusul kak Arga di kursi yang di tempati.