ARGANA

ARGANA
Part 14 (Markas)



Dari rumah Nasya, Arga dan Zidan langsung saja menuju markas mereka.


Sesampainya di sana mereka berdua di sambut baik oleh anak buahnya, mereka sudah menyiapkan kursi kebesaran Arga.


"Zidan" panggil Arga yang sebenarnya mengkode Zidan untuk menyuruh anak buahnya membawa si pria bertopeng itu.


"Kalian bawa kan dia ke sini sekarang" ucap Zidan pada salah satu anak buahnya.


"Siap bos" ucap nya lalu pergi dari hadapan Zidan dan Arga.


Tak lama kemudian ia membawa pria bertopeng itu, lalu Arga mengkode untuk mengikat pria bertopeng itu di kursi.


Arga langsung saja menghampiri 1 pria bertopeng itu, ia mendekat lalu mebisikkan sesuatu.


"Siapa yang menyuruh mu? Apakah kau ingin aku bantu untuk menemui ajal mu itu? Apa kau sudah bosen hidup?" tanya Arga yang membuat nyali pria itu menciut namun ia tahan.


"Buka penutup mata dan mulutnya" perintah Arga.


Setelah di buka ia melihat dalam pria itu, saat ia mengamati pria itu, ia melihat di salah satu lengan pria itu ada gambar tengkorak. Tengkorak itu menandakan bahwa ia adalah anak buah dari Bayu, kenapa Arga bisa menyimpulkan seperti itu? Karena semua anak buah Bayu wajib memiliki gambar tengkorak di bagian lengan nya.


"Gimana? Masih gak mau ngaku? Tapi gak perlu sih, karena gw udah tau siapa sebenarnya bos lo" ucap Arga menatap sinis pria itu.


"Tolong lepaskan saya, saya terpaksa melakukan ini semua karena saya punya hutang dengan pak Bayu" ucap Pria tersebut.


"Kalau begitu jelaskan kenapa kamu melakukan ini semua, dan apa yang akan di lakukan selanjutnya. Kalau kamu menjawab jujur, saya akan melepaskan kamu, dan kamu akan saya jadikan anak buah saya" ucap Arga.


"Baik, saya akan menceritakan semuanya, tapi tolong bantu saya, soalnya ibu saya sedang kritis di rumah sakit. Saya melakukan ini supaya setelah itu saya mendapatkan uang untuk membayar rumah sakit, dan ibu saya segera di operasi" ucap Pria itu menunduk.


"Kasih tau nama RS nya" ucap Arga to the point.


"RS xxxx atas nama ibu dari Dika" ucap pria tersebut. Ternyata nama pria tersebut adalah Dika.


"Zidan, telfon RS xxxx, lunasin semua biaya operasi, dan bilang ke mereka untuk segera menyiapkan operasi" ucap Arga.


"Siap laksanakan" ucap Zidan lalu keluar dari ruangan itu.


"Kamu tinggal menunggu sebentar" ucap Arga, lalu Dika pun mengangguk paham.


Tak lama kemudian setelah Zidan keluar dari ruangan, ia kembali lagi menghampiri Arga juga yang lain.


"Biaya operasi sudah selesai semuanya sudah lunas, dan juga untuk ibu anda malam ini juga akan di operasi, kebetulan ada dokter profesional yang tadi sempat datang ke RS itu. Sepertinya anda juga beruntung" ucap Zidan sambil memperlihatkan bukti sudah lunas biaya RS dan foto di mana para dokter sedang berada di luar operasi.


"Syukurlah, terima kasih banyak tuan, sudah membantu saya" ucap Dika.


"Jangan senang dulu, cepat ceritakan apa yang sebenarnya mau Bayu lakukan ke Nasya? sampai sampai Bayu berniat untuk menculik Nasya" tanya Arga.


Flashback On


Di RS tiba tiba ada pria berbadan besar dan juga berpakaian hitam mengajak aku ke suatu tempat.


Kenapa aku tidak menolak? Karena tadi aku sempat berbicara dengan seseorang di sebrang sana, suara itu adalah suara yang ia kenali, maka dari itu aku ikut dengan pria itu.


Sesampainya di tempat yang mereka tuju, aku keluar dari mobil dan di arahkan ke sebuah ruangan yang cukup rapi.


"Sudah datang rupanya" ucap seseorang itu yang masih dalam posisi membelakangi mereka.


"Sudah bos, ini orang yang bos suruh kepada kita" ucap salah satu anak buah.


"Siapa anda?" tanya Dika.


"Jangan pura pura lupa, ingat keluarga mu pernah ber hutang pada perusahaan saya yaitu PT Bayu company" ucap Bayu sambil menatap pria itu dari bawah sampai atas.


Tubuh pria itu kalau yang Bayu lihat, ia adalah pria yang gagah, dan juga sedikit polos.


"M-maf pak, ia saya ingat" ucap Dika.


"Baguslah kalau ingat, kapan mau bayar???" tanya Bayu dengan mengeluarkan nada tinggi.


"M-maf pak, untuk sekarang saya belum punya uang, soalnya ibu saya juga masih di rawat di RS" ucap Dika.


"Saya bisa saja membuat hutang hutang mu itu lunas dan juga bisa membantu biaya untuk pengobatan ibu mu" ucap Bayu.


"Kalau boleh tau, apa yang harus saya lakukan pak? Supaya hutang hutang saya lunas dan bisa membantu biaya ibu saya, saya pasti akan melakukannya" ucap Dika bersungguh sungguh.


"Jadi kamu terima penawaran dari saya?" tanya Bayu.


"Iya pak, saya terima tawaran dari bapak" ucap Dika.


"Baiklah, tugas kamu adalah menculik perempuan yang ada di foto ini, supaya si Arga nanti bingung terus frustasi, dan jika sudah kamu culik saya akan membawanya jauh dari Arga" ucap Bayu dengan menunjukkan foto Nasya yang sedang tersenyum gembira.


"Apa tidak ada penawaran lain pak?" tanya Dika.


"Tidak, keputusan saya sudah bulat, dan saya gak akan mengubah keputusan saya" ucap Bayu dengan tegas.


"Saya boleh bertanya satu hal lagi pak?" tanya Dika yang sedikit ragu jika di perbolehkan.


"Silahkan" ucap Bayu.


"Apakah Pak Bayu akan membayar biaya rumah sakit ibu saya menunggu saya selesai melakukan tugas ini terlebih dahulu?" tanya Dika.


"Menurut mu gimana? Saya membayar biaya rumah sakit ibu kamu, tetapi kamu belum melakukan tugas dari saya, apakah begitu adil?" tanya balik Bayu.


"Siap tidak pak" ucap Dika lalu mengangguk.


"Jangan senang dulu, jika kamu gagal melakukan ini semua, saya tidak akan membantu kamu juga, kamu paham maksud dari saya?" tanya Bayu sambil menatap Dika.


"Siap paham pak" ucap Dika.


"Jika kamu atau anak buah saya tertangkap, jangan membocorkan tentang ini, jika sampai saya tau, kamu dan keluarga mu gak akan selamat" ancam Bayu lalu pergi.


Setelah kepergian Bayu, Dika sedikit menunduk sambil memikirkan bagaimana nasib ibunya, ibunya harus segera di operasi.


"Hey anak baru, cepat laksanakan tugas dari bos" ucap orang yang tadi membawanya ke sini.


Mereka pun bergegas menuju rumah Nasya untuk melaksanakan tugas. Bayu terpaksa melakukan ini karena tak ada jalan pilihan lain.


Flashback Off


"Jadi ceritanya begitu tuan ceritanya, saya tidak melebihkan atau mengurangi cerita sebenarnya" ucap Dika.


"Baik, saya harap kamu benar begitu, terima kasih atas kerjasamanya, dan selamat bergabung bersama Arga Company, saya harap kamu tidak menghianati kami, kalau tidak tau akibatnya" ucap Arga lalu pergi.


Dika bernafas lega karena biaya operasi ibunya sudah di tanggung, apalagi sekarang ia bertemu dengan Arga dan diajak gabung. Sungguh hari itu Dika sangat beruntung.