ARGANA

ARGANA
Part 15 (Di tempat lain)



Markas Bayu


"Bagaimana bisa dia ketangkap oleh anak buah Arga? Kalian ini gak b***s sama sekali, cuman menjalankan tugas seperti ini saja tidak bisa" ucap Bayu marah.


"M-maaf bos, kami tadi sudah berhati-hati, kami tidak tau kalau dia tertangkap, kami kira dia sudah ada di depan tadi" ucap salah satu anak buahnya.


Bugh bugh bugh


"Lain kali di liat dulu a****g, apa gunanya kalian dapat bayaran kalau kerja kalian saja tidak b***s seperti ini, membuang buang uang ku" ucap Bayu.


"Ya kami sudah berusaha bos, wajar kalau ada di masa gagal, kami juga manusia pasti ada yang seperti itu, gak selamanya berhasil terus" ucap salah satu anak buah.


Bayu yang sedang keadaan marah langsung saja menghampiri anak buah itu, lalu di tariknya kerah bajunya dan


Bugh bugh bugh bugh


"Wah wah, sudah ada yang berani menjawab ternyata, mau saya kirim ke m******t maut kamu? Dengan senang hati saya bisa mengabulkan itu" ucap Bayu.


"M-maaf bos" ucapnya dengan lesu karena sudah di hajar Bayu habis habisan.


"Untuk kalian yang gagal seperti dia, akan habis dan akan ku kirim langsung ke malaikat maut, kalian paham?" tanya Bayu dengan suara yang sangat marah.


"Paham bos" ucap semua anak buah yang berada di sana.


...****************...


Markas Arga


Arga masih berada di meja kebesarannya, ia sedang menghisap r***k nya sambil menghadap ke arah jendela.


Zidan mengetuk pintu dari luar, setelah di persilahkan untuk masuk oleh yang pemilik, ia pun masuk sambil melihat ke arah Arga yang sedang menghisap r***k.


"Ada apa?" tanya Arga to the point, entahlah saat ini Arga sangat tidak ingin di ganggu, pikirannya sedang memikirkan ke mana mana.


"Jadi gini, saat ini Dika kan sudah bergabung bersama kita, suatu ketika jika anak buah Bayu melihat Dika atau bertemu Dika dengan anak buah kita apa yang harus kita lakukan?" tanya Zidan.


Mendengar pertanyaan seperti itu, Arga langsung membalikkan kursinya jadi menghadap Zidan yang masih berdiri.


"Jika mereka mengetahui Dika bersama anak buah kita, yasudah apa yang harus di pikirkan, jika mereka menyerang ya kita lawan, beres kan?" tanya Arga.


"Kalau Dika tiba tiba di culik, terus di suruh mengakui apa saja yang di tanyakan kita kepada dirinya itu bagaimana?" tanya Zidan.


"Sebelum itu terjadi kita harus memberitahu Dika untuk berhati hati, jangan sampai ia bocorkan apa yang ia katakan, walaupun ia di pukuli jangan sampai itu semua bocor" ucap Arga.


"Oke baiklah kalau begitu" ucap Zidan.


"Gw mau pulang dulu" ucap Arga.


"Ya sudah pake mobil gw aja, mobil lu di tinggal di markas aja" ucap Zidan.


"Ya terserah" ucap Arga berjalan keluar dari ruangannya menuju pintu keluar dan langsung masuk ke dalam mobil Zidan.


"Gak sopan lu tiba tiba masuk ke mobil orang" ucap Zidan protes.


"Ahhh diem lu, jangan banyak omong, buruan anterin gw pulang" ucap Arga. Lalu Zidan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Arga.


Sesampainya di sana, Arga langsung keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata ataupun terima kasih.


"Hadeh, untung gw sabar" ucap Zidan mengelus dadanya lalu menjalankan mobilnya menuju rumahnya.


Di kamar, Arga lalu membuka ponselnya itu, ternyata banyak sekali notif dari Nasya dan ada panggilan yang tak sempat ia jawab karena ponselnya tadi mati.


Nasya call


📞 : "Haiii" sapa Arga lewat panggilan video itu.


📞 "Haiii juga, kenapa tadi gak angkat telfon ku?" tanya Nasya.


📞 "Maaf ya, tadi ponselku mati" ucap Arga


📞 "Em okedeh" ucap Nasya.


📞 "Udah makan?" tanya Arga.


📞 "Udah tadi" ucap Nasya.


📞 "Tidur gih, udah malem juga ini, maaf ya karena nungguin aku jadi belum tidur" ucap Arga.


📞" Besok aku ke rumah yaa, mau kasih tau sesuatu" ucap Arga.


📞 "Iyaa, datang aja" ucap Nasya.


Setelah itu Arga tidak mendengar lagi suara Nasya, hanya dengkuran halus yang ia dengar saat ini, ternyata Nasya sudah terbawa ke alam bawah sadar.


Ternyata Qilla dan Zidan juga melakukan panggilan video, tetapi hanya sebentar karena Qilla yang sudah mengantuk.


Keesokan paginya


Saat ini pukul 9 pagi, Arga dan Zidan sudah berada di rumah Nasya sambil membawakan sarapan.


"Kok tumben pagi pagi banget ke sini nya kak?" tanya Nasya.


"Kangen" ucap Arga yang menyender di bahu Nasya.


"EHEM" deheman dari Qila dan juga Zidan yang melihat dua sejoli itu dengan sangat sopannya pagi pagi sudah bucin.


"APA?" tanya Arga sambil menoleh ke arah mereka berdua.


"Inget masih pagi, belum juga sarapan" ucap Zidan.


"Iri bilang aja kalik" ucap Arga.


"Siapa juga yang iri" ucap Zidan yang menerima piring dari Qilla.


"Sstttt udah udah, ayo sarapan dulu" ucap Nasya.


"Suapinnnn" ucap Arga kepada Nasya.


"Sini aaaa" ucap Zidan.


"Bukan lu a***r" ucap Arga yang kesal.


"Tumben banget sih" ucap Nasya.


"Emang gak boleh? Sama pacar sendiri gak boleh manja?" tanya Arga.


"Ya gak apa apa sih, yaudah buka mulutnya" ucap Nasya yang dengan telaten menyuapi Arga, Arga sudah seperti bayi besar, ya memang bayi besarnya Nasya sih.


"Manja" ucap Zidan pelan yang masih di dengar Arga.


"Gak usah gerutu, gw masih denger, mau gw pecat lu?" tanya Arga.


"GeEr" ucap Zidan.


"Kak, udah deh makan dulu, dari tadi kok ngomong terus, makan di habiskan baru ngomong" omel Qilla yang dari tadi hanya menyimak percakapan mereka.


"Yahahhaa di marahin kasian" ledek Arga.


"Tuh lihat, yang mulai duluan itu Arga" adu Zidan.


"DIAM BISA GAK SIH" ucap Nasya dan Qilla.


Mendengar itu, Arga dan Zidan tak berani lagi membuka suara, karena kalau mereka berdua sudah marah itu sangat serem melebihi singa.


Setelah makan dan membereskan semuanya, mereka berkumpul di depan ruang TV sambil melihat film lucu.


"Katanya semalam mau ngomong kak? Ngomong apa?" tanya Nasya.


"Jadi gini, setelah melihat kemarin anak buah Bayu yang nekat mau menculik kamu, sebaiknya untuk beberapa saat ini kamu juga Qilla di rumah aja, demi keselamatan kalian juga" ucap Arga yang diangguki Zidan.


"Terus sekolah kami kak?" tanya Qilla.


"Kalian tenang aja, sekolah itu kan milik Arga, jadi sementara kalian home schooling aja sampai situasi benar benar seperti biasanya" ucap Zidan.


"Gimana setuju enggak dari apa yang di sampaikan aku dan juga Zidan?" tanya Arga.


"Kalau aku setuju aja kak, kan ini juga demi kebaikan bersama" ucap Nasya di angguki Qila.


"Berarti deal ya?" tanya Arga memastikan.


"DEAL" serempak mereka bertiga.