
Andromous benar-benar menghabiskan waktu semalaman ini. Mereka bercanda, bercerita dan saling menjahili satu sama lain. Bahkan Yaffa yang masih cukup lemas ikut bercanda bersama kakak-kakak kesayangannya.
"Kenapa kalian ngga pacaran aja?" tiba-tiba saja Terra berceletuk ditengah candaan Andromous. Sontak saja tatapan anggota lain berpindah pada Terra yang sedang mengambil sepotong ayam dengan santainya.
Carel dan Shanaya saling bertatapan sebentar, keduanya baru akan berbicara tapi Terra terlebih dahulu menghentikan ucapan mereka, "Kalian berdua ngga diajak jadi shh, diem aja ya." serobot Terra. Jari telunjuk perempuan itu ditaruh didepan bibirnya meminta pasangan itu diam sebelum mengunyah potongan ayam yang sudah diambilnya tadi sambil menunggu jawaban anggota Andromous lain.
Anggota Andromous mulai berpikir tentang apa alasan masing-masing mereka tidak berpacaran kecuali anggota yang sudah memiliki pasangan. Dari sudut pandang Terra, Carel, Abian dan Shanaya, mereka menyadari bahwa ada beberapa anggota yang saling melirik atau bahkan hanya salah satu yang melirik sedangkan yang lain benar-benar memikirkan apa alasan dirinya tidak berpacaran.
"Friend zone ini." ucap Carel tiba-tiba. Kekasih Shanaya itu paham beberapa alasan bagi anggota Andromous yang tidak memiliki pasangan. Benar, kenyataannya banyak dari mereka yang terjebak friendzone.
Hanya keheningan yang tercipta sampai tiba-tiba Jeremy menjawab dengan nada santai, "Kalau bisa temenan kenapa engga?" hal itu membuat beberapa dari mereka mengangguk menyetujui jawaban dari lelaki yang mengambil jurusan teknik tersebut. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapan Jeremy tapi entah apa alasannya, Jesselyn merasa kesal dan sedih disaat yang bersamaan.
Orabelle dan Ayyara yang berada disamping Jesselyn tentu menyadari perubahan ekspresi dari yang lebih tua. Keduanya menggenggam tangan Jesselyn, membuat perempuan yang biasa dipanggil Aurora oleh keluarganya itu menoleh kearah kanan dan kirinya secara bergantian. Jesselyn dapat melihat senyum khas dari Ayyara dan Orabelle yang sangat menenangkan bagi banyak orang.
Disaat bersamaan, Saguna bertatapan dengan Winola begitu pula Richard dan Hikaru. Kalau bisa menjadi teman kenapa harus menjadi kekasih? Ini menjadi patah hati terbesar bagi hampir sebagian besar dari anggota Andromous. Faktanya hanya sedikit dari mereka yang sedang menjalin hubungan. Tak hanya gagal dari segi keluarga, tapi juga hubungan. Itulah yang di rasakan hampir seluruh anggota Andromous.
Suasana mulai sedikit tidak enak karena jawaban Jeremy. Hening menyelimuti kebersamaan mereka lagi selama beberapa saat.
"Kak, tolong ambilin tissue." suara Yaffa membuat semua anggota menoleh kearah bed rumah sakit tempat Yaffa terbaring. Kala menyadari apa yang terjadi pada Yaffa, satu ruangan menjadi panik. Darah kembali keluar dari hidung Yaffa, darahnya cukup banyak hingga alat bantu pernapasan yang menjadi pengganti masker pernapasan itu terkena darah.
Kirei dengan sigap berlari kearah bed rumah sakit dengan tissue yang selalu dia bawa di dalam tasnya. Sedangkan Brian menekan tombol diatas sandaran tempat Yaffa terbaring.
Tak lama seorang dokter dengan beberapa perawat datang. Sang dokter meminta seluruh anggota Andromous untuk keluar terlebih dahulu, meminta waktu untuk memeriksa Yaffa secara mendalam.
Andromous benar-benar tidak tahu penyakit apa yang menyerang Yaffa saat ini. Sebelumnya Yaffa ditemukan tak sadarkan diri oleh Mahesa dalam keadaan terdapat darah di bawah hidung hingga dagu Yaffa sudah mengering dan setelah diperiksa dokter malah menyatakan Yaffa dalam kondisi kritis sampai koma selama satu minggu lebih. Cemas menyerang mereka. Anggota Andromous tidak ingin Yaffa kembali mempertaruhkan nyawa dengan gejala awal mimisan seperti tadi.
...----------------...
Dia menghubungi sang kakak karena Galen baru ingat jika kakaknya, Michael adalah seorang dokter professional. Anggota lain duduk di depan ruangan Yaffa sambil menunduk dan berdoa untuk bungsu kesayangan mereka.
"Kalau ga penting gue matiin ya, Pin." Michael lebih dahulu menyela sebelum Galen berbicara yang tidak penting seperti sebelum-sebelumnya. Sebagai dokter, Michael masih memiliki banyak kesibukan terlebih dia memiliki empat orangtua, dua selalu menuntut dan dua lainnya selalu memperhatikan dirinya dan Galen.
Galen panik kala mendengar ucapan Michael, "Serius bang, gue mau nanya ini." sahut Galen. Setelah Michael mengiyakan dan mengizinkan Galen untuk melanjutkan ucapannya, sang adik mulai menceritakan kejadian yang dialami oleh Yaffa dari saat dia ditemukan tak sadarkan diri dan sampai hari ini Yaffa kembali mengeluarkan darah dari hidungnya. Michael mendengarkan dengan seksama. Sesekali Michael membalik lembaran kertas, "Nah, jadi bang. Ini adek kesayangan gue kenapa ya?" seusai bercerita, Galen menanyakan inti dari alasan dia menelepon Michael.
"Aduh Pin, ini gue nemu banyak diagnosis yang memungkinkan. Tapi gue gamau asal diagnosis aja Pin, lo tanya langsung dah ke dokter yang nanganin adek-adekan lo itu." jelas Michael pelan-pelan. Sedari Galen mulai bercerita, buku diagnosis tak lepas dari genggaman Michael jadi sembari mendengarkan Michael juga mencari kemungkinan penyakit apa yang di derita Yaffa.
Hasil dari diagnosis Michael sangat banyak. Diantaranya leukemia, limfoma, karsinoma nasofaring dan hemophilia.
Michael tidak ingin membuat sang adik sedih dengan hasil diagnosis nya yang belum pasti. Maka dari itu, Michael mencari aman dengan menyuruh Galen untuk menanyakan langsung pada dokter yang menangani bungsu kesayangan Galen tersebut. Karena pastinya, orang-orang yang memeriksa langsung kondisi Yaffa pasti akan jauh lebih tau keadaan anak itu dibanding Michael yang masih menduga-duga dengan Galen mewakili Yaffa untuk menjawab keluhan yang dialami oleh Yaffa sendiri.
"Lo jahat banget sumpah bang." itu dialog terakhir sebelum Michael memutuskan sambungan teleponnya karena malas meladeni Galen yang malah menjadi-jadi saat ini.
Bukannya apa, setiap mereka bertanya tentang penyakit apa yang menyerang Yaffa, dokter-dokter disana lebih memilih untuk diam dan tersenyum sambil mengganti topik pembicaraan.
Hal tersebut terjadi bukan sekali dua kali saja, melainkan selama Yaffa dinyatakan koma pun dokter tidak menjawab pertanyaan itu sama sekali. Niat Galen untuk mencari tahu lewat Michael juga gagal karena Michael malah meminta Galen menanyakan langsung. Sungguh diluar kendali dan tidak terbayang oleh Galen kalau dia harus kembali berbincang dengan dokter dengan topik yang kurang penting menurutnya.
Saat dokter keluar dari ruangan Yaffa, disanalah nyawa mereka kembali merasuki raga masing-masing. Winola sampai melompat dari kursi tunggu, Shanaya yang reflek melempar cushion miliknya dan teriakan singkat Abian serta Zayden.
Dihadapan dokter, mereka berdiri berjejer rapih. Berharap kali ini sang dokter mau menjawab pertanyaan Andromous. Tapi dokter perempuan dengan usia sekitar 30an itu hanya tersenyum tipis. Matanya terlihat lelah dan sedih disaat yang bersamaan.
"3 minggu lagi. Tolong buat kenangan manis dengan ananda Yaffa ya?"