ANDROMOUS

ANDROMOUS
SEVENTEEN



Dikarenakan Ayah tiri Galen dan omelan Jeremy, pada malam harinya laki-laki itu menangis.


Galen menangis sendiri di kamarnya karena Saguna sedang bermain game bersama yang lain. Tangisan laki-laki itu semakin menjadi hingga menarik Shanaya untuk masuk ke dalam kamar Galen.


Mendapati Galen yang menangis di kamarnya seorang diri, Shanaya menghela nafas sebelum mendekati Galen dan duduk di samping Galen yang masih menunduk sambil menangis. Sesekali Galen menarik lendir yang hampir keluar, hidungnya memerah, matanya membengkak dan wajahnya penuh air mata membuat tampilan Galen terlihat sangat lucu.


Galen menyadari keberadaan Shanaya setelah hampir 4 menit Shanaya memperhatikannya. Melihat Shanaya yang hendak menyemburkan tawanya Galen merasa ingin kabur dari sini.


"Lo ngapain elah kak." suara Galen terdengar sangat sumbang, menandakan bahwa dia telah menangis cukup lama. Galen mengusap wajahnya kasar kemudian kembali menarik lendir yang lagi-lagi hampir keluar.


Shanaya menggeleng singkat, dia mendekat dan memeluk Galen dan menepuk lembut kepala yang lebih muda, "Ngga masalah, nangis aja. Kakak temenin." kalimat Shanaya membuat Galen menangis dengan suara yang lebih kencang dari sebelumnya. Shanaya tertawa tapi tetap menepuk kepala dan punggung Galen agar laki-laki yang lebih muda 2 tahun darinya merasakan kehadiran dirinya.


Nyatanya tangisan Galen terdengar sampai luar kamar, Kirei, Abian dan Keenan tertarik hingga masuk ke dalam kamar Galen. Mendapati Shanaya yang memeluk tubuh laki-laki itu, dan Galen menenggelamkan wajahnya di dekapan Shanaya sambil menangis dengan badan yang bergetar.


Mereka melangkah mendekati kasur dan dengan cepat Galen menyadari hal itu, "Ah lo pada ngapain dateng pas gue lagi jelek sih!" kesal Galen setelah melepas pelukannya dengan Shanaya.


Abian refleks berdecak malas yang tentu disadari oleh lainnya. Keenan mencubit lengan Abian singkat dan kembali menatap Galen yang kondisi wajahnya bisa dibilang sangat kacau tapi entah kenapa hal ini menjadi sangat lucu dan membuat anggota Andromous yang berada disana gemas. Kapan lagi mereka bisa melihat seorang Galen yang biasanya akan memasang wajah konyol, selalu bercanda, usil, dengan kelakuan diluar nalar berubah seketika karena hidungnya memerah gemas.


Tapi jika Galen sudah menangis hingga wajahnya sembab artinya kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja dan memerlukan tempat bersandar serta cerita juga butuh hiburan. Karena tak selamanya seorang penghibur tersenyum lebar bagai tidak ada beban. Ada kalanya mereka membutuhkan penghibur lain bagi dirinya. Seperti Galen, setiap manusia pasti akan mengalami kejadian seperti ini.


Lain halnya dengan kondisi di kamar Galen yang menertawai wajah anak itu, di ruang tengah justru hanya terdengar suara dari speaker ponsel dan televisi yang saling bersahutan.


Tidak ada yang memulai pembicaraan setelah game dimulai. Mereka semua serius dengan layar alat elektronik yang ada dihadapannya.


Begitu pula dengan Yaffa yang sudah jarang bermain game karena kegiatannya selama di rumah rata-rata hanya belajar lalu, belajar lagi, dan kembali belajar. Sudah seperti seorang professional, jari jemari Yaffa menari di layar ponselnya yang masih menampilkan cuplikan game yang dia mainkan saat ini. Satu, dua dan tiga. Yaffa memenangkan game secara berturut-turut sampai Richard dan Jeremy yang merupakan seorang gamers berdecak kagum melihat skill si bungsu Andromous.


Sontak saja seluruh perhatian beralih kearah Zayden yang masih fokus pada laptopnya.


Laki-laki itu memang jarang berbicara tapi sekalinya berbicara Andromous dibuat merenung karena makna dibalik kata-kata Zayden. Nah sekarang mereka kembali merenungkan maksud dari kata-kata Zayden dan teringat kejadian 1 tahun lalu. Tahun dimana Andromous berbahagia namun mendapat kesedihan secara bergantian.


"Lu kali ah yang biasanya diem-diem doang." Saguna menyahuti setelah kembali dari dapur dengan tangan yang penuh jajanan titipan Orabelle dan Winola. Saguna duduk di sebelah Winola kemudian menatap Zayden yang masih terfokus pada laptop laki-laki itu dengan layar yang menampilkan angka-angka tidak aneh bagi Saguna, "Sekali-kali gitu lu yang cerita." lanjut Saguna sambil membuka bungkus plastik jajanan yang disodorkan Winola.


Zayden melirik Saguna dan menggeleng singkat, "Ngga ada yang penting sih di hidup aku. Orang tua yang satu sibuk sama selingkuhannya, satunya lagi sibuk sama Koko. Udah kan. Lah aku mah apa, ngga diperhatiin sama mereka." jawabnya. Tangan Zayden bergerak untuk melepas kacamata. Menyibak rambut yang menutupi pandangannya dan kembali pada laptop.


Zayden memang salah satu tipe orang yang sulit bercerita jika tidak dipancing, namun sekalinya dia terpancing untuk bercerita maka orang yang ada disekitarnya harus siap menyiapkan telinga dan mendengarkan setiap perkataan Zayden dengan serius.


Anggota Andromous yang berada di ruang tengah menghentikan kegiatan mereka. Memberikan seluruh atensi pada Zayden yang kini kembali fokus pada laptopnya sebelum Saguna berjalan mendekat, menyimpan file Zayden dan men-shut down laptop tersebut sebelum menutup layar laptopnya.


Tatapan serius Saguna membuat anggota lain diam tidak bersuara. Mereka membiarkan Saguna melakukan entah apa yang dia ingin lakukan, "Gue ngerti kok gimana jadi lu, lu boleh ngeluh Zay. Ngga selamanya lu harus diem. Lu boleh langsung ngeluh ke orangtua lu atau ke kita dulu biar ada jalan keluarnya. Lagian lu punya kita kan? Ya walau ngga sama kayak keluarga kandung, seengganya kita beneran saling sayang satu sama lain kayak keluarga." nasihat Saguna dibalas anggukan pelan oleh Zayden.


"Ngga cuma Zayden, lu pada juga harus kayak gitu. Cari solusinya, entah bareng keluarga lu, sumber masalah atau sama kita-kita ini." tatapan Saguna beralih dari satu anggota ke anggota lain. Berucap serius dengan tangan yang bergerak menepuk bahu Zayden pelan. Dia menoleh dan tersenyum jenaka, "Kalau minta peluk sama Rei aja ya. Gue khusus buat Wino." candanya.


Hal tersebut membuat suasana sedih yang perlahan terbangun sejak Zayden membuka suara runtuh seketika. Saguna menghancurkan suasana sedih hanya dengan ucapannya yang sebenarnya juga tidak terlalu lucu. Tapi hanya dengan itu, Winola tersipu. Mengundang ledekan dan siulan dari anggota Andromous baik yang berada di ruang tengah maupun yang tadi berada di kamar Galen. Mereka menonton dari lantai 3 sambil tertawa.


"Terima Win. Lo anak orang digantung mulu. Kasian udah tua itu." suara Keenan yang menyebalkan membuat Saguna kesal. Namun Keenan tak berhenti menggodanya dan Winola meski dari jarak yang cukup jauh.


Winola menggeleng heran, tangannya menangkup kedua pipinya sendiri. Menyembunyikan pipi memerahnya dari pandangan anggota lain yang terus menggoda mereka.


Hari ini mereka kembali melewati hari dengan kesedihan dan kebahagiaan secara bersama. Andromous kembali berjalan melewati semuanya dengan seluruh anggota yang saling membantu.