ANDROMOUS

ANDROMOUS
TWELVE



Hari yang membahagiakan bagi Andromous itu ada banyak. Diantaranya hari dimana Andromous secara resmi terbentuk, hari ulang tahun setiap anggota, hari dimana Galen dan Richard berhasil masuk ke Universitas favorite mereka, dan hari-hari biasa ketika mereka lalui bersama dengan candaan dan kasih sayang.


Namun jika mereka ditanya hari apa yang merupakan hari penuh kesedihan bagi mereka maka jawabannya adalah hari ini. Tepat pukul 03.25 Jesselyn menghembuskan nafas terakhirnya setelah kondisinya yang terus dikabarkan menurun selama di rawat.


Terasa seperti mimpi bagi mereka, karena Andromous mengira Jesselyn akan segera sembuh. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.


Yaffa jatuh pingsan di dalam dekapan Galen, Brian yang menenangkan Orabelle, Richard yang sampai berjongkok karena tak sanggup untuk menatap tubuh Jesselyn yang telah kaku di peti putih dan tangisan serta raungan yang tak henti bersautan dari anggota Andromous. Hanya Jeremy yang tidak meneteskan air matanya. Jeremy justru terlihat paling tegar namun murung disaat yang bersamaan. Baru dua hari lalu dia meminta sang Kakek untuk tidak memberinya syarat karena ingin tetap bersama dengan Jesselyn tapi hari ini harapannya dihancurkan begitu saja.


Oleh sebab itu Jeremy memilih diam menatap wajah Jesselyn yang nampak sangat tenang. Tangan Jeremy membelai wajah Jesselyn lembut kemudian berbisik pelan, "Jiě Cassi, terimakasih sudah berjuang sejauh ini, Jere janji Andromous akan selalu bersama." usapan terakhir Jeremy berikan sebelum menjauh dari peti Jesselyn.


Jeremy melangkah keluar dari rumah keluarga Jesselyn dan menunggu di taman yang sudah di penuhi oleh teman juga kerabat Jesselyn. Jeremy tidak sanggup melihat Jesselyn yang kini tak lagi dapat menyunggingkan senyuman indah perempuan itu.


Selama beberapa saat Jeremy menunggu di luar tanpa satupun orang disampingnya, Papa dari Jesselyn datang menghampiri Jeremy. Menepuk pundak Jeremy dan menatap laki-laki yang ternyata sering diceritakan oleh sang anak. Mata Papa Jesselyn sangat bengkak, berbeda dengan Jeremy yang benar-benar tidak menangis sehingga kelopak matanya tidak membengkak. Tapi keduanya sama-sama terlihat sedih, dan hancur.


"Nak Jeremy, terimakasih ya?" dengan senyum tipis, Jeremy mengangguk pelan, "Kalau tidak ada nak Jere dan teman-teman mungkin anak saya tidak akan hidup sampai fajar tadi." lanjut Papa Jesselyn sambil merangkul pundak Jeremy yang masih diam dengan pandangan kosong.


"Maaf." hanya kata itu yang terucap dari mulut Jeremy. Intonasi Jeremy yang biasanya sangat jelas dan tegas bahkan terkesan berisik kini hilang. Berganti suara pelan dengan pengucapan yang sedikit tidak jelas karena bibir Jeremy yang bergetar. Terlalu sulit untuk berbicara bagi Jeremy saat ini.


Papa Jesselyn mengangguk paham, "Ndak apa-apa nak. Jangan minta maaf." sahut Papa Jesselyn lembut. Tangan yang sedikit menunjukkan kerutan itu meletakkan air putih gelas di pangkuan Jeremy. Menatap rupa wajah dari Jeremy dan tersenyum, "Ikhlasin pelan-pelan ya? Om masuk dulu." itu menjadi penutup dari pembicaraan keduanya. Jeremy yang termenung menatap air yang diberikan Papa Jesselyn sedang kan laki-laki baya tersebut sudah masuk ke dalam rumahnya.


Tempat Papa Jesselyn yang baru saja kosong langsung ditempati oleh Terra. Dibelakang Terra, beberapa anggota mengikutinya dan duduk di belakang Jeremy dan Terra.


"Jere, kaget ya? Sedih kan? Nangis aja ngga apa-apa." benar saja setelah Terra berucap demikian, Jeremy langsung menunduk menyembunyikan tangisnya. Membuat Terra tertawa pelan sebelum menarik tubuh Jeremy untuk di dekap erat, "Jangan ditahan, jelek tau." ledek Terra sambil menatap Jeremy jahil dengan matanya yang bengkak.


"Gue belum jujur ke Jié Cassi."


Jawaban Jeremy membuat dekapan Terra semakin mengerat. Kepergian Jesselyn yang terlalu mendadak meninggalkan luka yang sangat dalam bagi mereka.


Masih teringat jelas wajah Jesselyn saat mengomeli anggota lain. Masih terekam jelas suara Jesselyn yang tidak pernah naik satu oktaf pun. Masih teringat nasihat-nasihat yang Jesselyn berikan bahkan ocehan perempuan itu terus saja terdengar di kepala mereka.


Jesselyn, anggota tertua di Andromous yang menjadi dewasa bagi mereka padahal dia merupakan anak bungsu di keluarganya. Kakak terbaik bagi seluruh anggota. Tempat cerita yang sangat sempurna bagi teman-temannya, tempat yang sangat dipercaya oleh seluruh orang. Seorang perempuan yang sering merasa tertekan karena keinginan sang Nenek. Meninggalkan keluarganya dalam penyesalan yang sangat mendalam karena tidak pernah mendengarkan keinginan dan ucapan Jesselyn. Mereka yang menyebabkan Jesselyn celaka dengan memaksa Jesselyn pergi dengan laki-laki yang dipilih oleh sang Nenek. Mereka yang mengantar Jesselyn pada jurang kematian.


Andromous, rumah Jesselyn yang terakhir setelah Jeremy. Tempat dimana Jesselyn menjadi pengayom bagi anggota-anggota Andromous yang jauh lebih muda daripada Jesselyn. Tempat dimana Jesselyn belajar menjadi dewasa untuk anggota lain, rumah dari segala rumah yang menyembuhkan Jesselyn secara perlahan walau sebelum dia sembuh sepenuhnya, maut terlebih dahulu menemani.


Anggota Andromous, adik kesayangan Jesselyn dengan karakter yang berbeda-beda begitu pula dengan masalah yang mereka miliki. Selain Jesselyn, anggota lain juga belajar dari perempuan itu. Belajar bagaimana menjadi dewasa, belajar bagaimana mengayomi orang lain, belajar bersabar dan belajar menjadi pendengar yang baik. Semua itu mereka dapat kan dari Jesselyn.


Andromous tak akan berhenti untuk memanggil Jiě Jesse setelah ini. Mereka tak akan berhenti untuk bercerita tentang Kakak kesayangan mereka. Mereka tak akan melupakan perjuangan Jesselyn hingga akhir nafasnya. Semua ini akan menjadi kenangan terindah bagi Andromous. Mereka akan terus mengingat Jesselyn sebagai Kakak dan keluarga mereka.


Brian dan Hikaru akan membantu Saguna serta Keenan menjaga Andromous. Sebagai pembuktian mereka mengikuti permintaan Jesselyn kala itu. Andromous tak akan berhenti bersama. Mereka akan kembali berjuang meski telah kehilangan salah satu berlian mereka.


Andromous akan membuka lembaran baru, tapi bukan dengan buku yang berbeda melainkan hanya halaman lain dari buku yang sama. Andromous akan terus mengukir cerita di buku yang sama sampai akhir. Karena menurut mereka, tidak akan ada akhir dari perjuangan mereka. Bagai kan buku, Andromous tidak akan menghentikan coretannya meski sudah mencapai beribu series. Meski sudah melewati banyak cobaan saat menulis, mereka tetap melanjutkan. Meski banyak rintangan dalam hidup mereka, Andromous berjanji akan berjalan bersama melewati rintangan tersebut.


Hari ini, Andromous bersumpah bahwa mereka benar-benar tidak akan kelepasan lagi. Andromous tidak ingin ada lagi yang pergi diantara mereka, cukup Jesselyn dan Yaffa akan menjadi fokus mereka selama beberapa minggu kedepan.


Jesselyn cassiopeia aurora nama itu akan tetap diabadikan Andromous sampai kapan pun.