ANDROMOUS

ANDROMOUS
ELEVEN



Jeremy membawa tasnya seraya berjalan keluar dari ruangan yang cukup membosankan. Kelasnya baru saja selesai, biasanya Jeremy akan menetap di kantin fakultas lain selama beberapa saat tapi sore ini dia tidak melakukan kebiasaannya itu.


Jeremy sudah mendapat telepon dari orangtua dan keluarganya bahkan sebelum kelas Jeremy dimulai tadi. Makanya mau tak mau Jeremy mengikuti perintah orangtuanya. Dia tidak mau di terror oleh beribu pesan dari sang om, sepupu hingga orangtuanya. Jeremy mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membiarkan motornya melesat membelah ramai jalanan di sore hari.


Rumah keluarga Jeremy terlihat penuh oleh orang. Saat kakinya melangkah masuk, Jeremy baru menyadari bahwa keluarga besarnya tengah berkumpul dengan kakek dari keluarga Ayah dan nenek dari keluarga sang Bunda menjadi pusat dari posisi mereka.


Melihat kedatangan Jeremy, sang Bunda berdiri dan memeluk erat anak tunggalnya sambil mengecup kepala sang anak. Tanpa ada perlawanan dari Jeremy, sang Bunda turut mencium pipi anaknya itu. Tapi setelah melihat ekspresi Jeremy yang hanya datar tanpa senyuman membuat sang Bunda berhenti. Sang Bunda nampak canggung setelahnya tetapi dia menutupi dengan merangkul sang anak.


"Bu, ini Jere udah tambah tinggi kan? Aku aja jadi pendek banget kalau disamping si adek." canda Bunda pada nenek dan keluarga lain yang ikut tertawa, "Duduk yuk, Bunda udah masakin udang kesukaan kamu loh!" ucapan antusias Bundanya membuat Jeremy hanya bisa menghela nafas. Dia tidak dapat menolak saat ini jadi pilihan terbaik adalah ikut duduk tanpa mengeluarkan sepatah kata jika dia ditanya.


Suasana benar-benar canggung. Beberapa kali keluarga mereka membuat candaan dan berusaha membuat Jeremy tertawa tapi hasilnya nihil. Sampai sepupu perempuan yang memang sering menempel pada Jeremy kesal sendiri karena tidak di gubris oleh lelaki pecinta warna hijau tersebut.


Jeremy tidak menghabiskan makanannya, dia menaruh sendok dan garpu di sisi meja sebelum menatap kearah nenek dan kakeknya dengan serius, "Ada apa? Kenapa kalian minta Jere buat pulang?" itu adalah kalimat pertama yang keluar setelah Jeremy menginjakkan kaki di rumah keluarganya sendiri. Tidak ada basa-basi dan langsung menerobos dengan menekan poin jelas yang dia tanyakan.


"Ngga sopan ih! Aku tadi kan ngajak kamu ngobrol Jer—"


"Jere ngga punya banyak waktu." saking tidak ingin berlama-lama di rumah ini, Jeremy sampai memotong keluhan tidak penting dari sang sepupu yang sangat mengganggu dirinya.


Sang Nenek tersenyum tipis, berbeda dengan Kakek yang menatap Jeremy serius, "Kakek mau kamu jadi penerus Kakek nantinya. Tanpa kata penolakan." Kakek berucap tegas, membuat keluarga Jeremy lainnya hanya dapat terdiam karena merasa takut dengan aura sang Kakek yang masih saja kuat dan menyeramkan seperti dahulu kala.


Jeremy mengangguk-anggukan kepala kemudian memainkan garpu yang ada di dekatnya, "Kakek mau tanpa penolakan jadi Jere mau tanpa syarat. Deal Kek?" demi kesejahteraannya selama menjabat nantinya, Jeremy mengajukan perjanjian pada sang Kakek. Karena Jeremy tidak mau jika kedepannya dia akan dipaksa menikah oleh sang Kakek maupun Nenek seperti Bunda dan Ayahnya dulu. Jeremy hanya ingin menikah dengan orang yang dia cinta.


Beruntung sang Kakek mengangguk mengerti. Perjanjian dengan saksi keluarga besarnya membuat Jeremy lega.


Itu artinya dia tidak harus meninggalkan Jesselyn kan?


...----------------...


Keenan berlari masuk dan menemukan saudara kembarnya, Kieran memeluk tubuh sang Mommy dengan mata yang menghunus tajam mantan suami Mommy mereka, alias Daddy kandung keduanya. Tatapan sang Daddy tidak jauh berbeda dari tatapan yang diberikan Kieran.


Makian terus keluar dari belah bibir Daddy mereka yang ditunjukkan kepada Kieran. Keenan melihat bagaimana tubuh Kieran yang bergetar mendengar hal tak pantas seperti itu kepada anaknya sendiri. Kaki Keenan dengan yakin melangkah lebar kearah Kieran berada. Perubahan ekspresi itu nyata adanya. Dari yang semula terlihat sangat marah terganti dengan senyum lebar seolah menyambut kehadiran Keenan.


Saat sang Daddy maju untuk memeluknya, Keenan segera menghindar. Dia tidak mau di peluk oleh orang yang sudah membuat kakak kembarnya sakit. Tangannya bahkan tidak mau untuk sekedar menyentuh tangan Daddy-nya, "Kalau anda tidak menganggap kembaran saya, maka anda juga tidak perlu menganggap saya. Biasakan adil. Kembaran saya selalu menjadi korban anda. Jadi saya harap anda pergi sekarang karena saya tidak ingin melihat anda berada disini lagi." kenyataannya ucapan Keenan yang tajam memang selalu melekat. Terlebih setelah dia terbiasa dengan perilaku Daddy yang memperlakukan Keenan dan Kieran berbeda.


Keenan mengubah dirinya yang semula sibuk dengan dunianya sendiri menjadi berfokus pada dunia orang lain dan terus berusaha membantu orang tersebut, sekali pun dia lah yang seharusnya dibantu.


...----------------...


"Kamu udah pertimbangin lagi?" Shanaya yang semula sedang mengerjakan tugas kuliahnya menoleh kearah sang Mami yang baru saja datang dengan segelas susu untuk Shanaya.


Shanaya menatap segelas susu yang baru saja di taruh sang Mami diatas meja kemudian kembali menatap Mami-nya dengan tatapan yang terlihat kecewa. Shanaya paham sekali tentang apa yang dibahas oleh sang Mami. Yakni jurusan yang dia ambil saat ini.


Melihat sang Mami yang duduk di space kosong dekat dengan dirinya, Shanaya sedikit bergeser sambil terus berusaha fokus untuk mengerjakan design pakaian yang akan digunakan sebagai nilai UAS nya. Mengabaikan sang Mami yang menatapnya lekat, "Mèimèi ini buat kebaikan kamu." ternyata sang Mami masih berusaha untuk membujuk dirinya, "Nanti kamu pasti jadi seorang pengusaha terkenal, Jadi mau ya?" sekarang malah berusaha membuatnya membayangkan betapa enaknya pekerjaan idaman sang Mami.


Shanaya kembali menatap buku yang memperlihat kan sketsa rancangan Shanaya, "Itu kan mimpi Mami, bukan aku. Lagi pun kenapa harus pengusaha?" sahut Shanaya dengan tangan yang terampil menyematkan pin di beberapa titik kain yang dipakai kan ke sebuah mannequin.


"Karena itu pekerjaan yang menjamin, Mèi." mendengar jawaban sang Mami, Shanaya tertawa pelan meski tangan dan matanya tetap fokus pada tugasnya.


Sebuah jawaban yang selalu Mami-nya lontarkan. Pekerjaan yang menjamin katanya. Padahal ada banyak pekerjaan lain yang cukup menjamin selain dari pengusaha. Ya contohnya saja pekerjaan yang Shanaya impikan sedari dia berada di sekolah dasar yakni seorang designer. Pekerjaan yang sangat menarik bagi Shanaya padahal di awal-awal pendaftaran tak banyak yang memilih jurusan ini. Itu juga penyebab sang Mami tidak menyukai cita-cita atau impian sang anak.


Shanaya berdecak kesal, "Ya kalau itu bukan yang Shanaya mau kenapa Mami harus maksa? Cukup Koko yang jadi korban ya Mi, Shana ga mau." disaat seperti inilah Shanaya harus mensyukuri telinganya yang sering di relakan untuk mendengar celotehan pedas Saguna maupun Keenan. Must try it.


Di segala waktu hanya ini yang Shanaya pikirkan. Dia takut orangtuanya kecewa tapi dia juga tidak mau mengorbankan diri seperti sang Koko di masa lalu. Sampai Koko-nya mengakhiri hidup dengan menegak obat dalam jumlah besar. Shanaya tidak ingin hal ini terjadi lagi baik di kehidupannya maupun kehidupan orang lain, cukup sekali Shanaya merasakan kesedihan mendalam karena kehilangan Koko yang selalu men-support dirinya.